Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI AFRIZAL MALNA

with 10 comments

para pengungsi dalam tenda yang terlalu tenang

 

aku ingin bercerita padamu

suara rendah dan hati-hati di lantai goyah

wajahku tak berani menatapmu

agar kau tidak berada dalam lampu sorot siaran berita

atau sebuah titik sunyi dari sejarah yang patah

mencari bentuk akhir dari pelarian yang terus pecah

goyah, lalu setiap berita sibuk

membersihkan lantai yang berantakan

 

aku ingin bercerita tanpa lampu

dalam kegelapan yang terus membantah suara yang sibuk

mencari bentuk – dan tanah yang dijarah

selimut yang basah oleh air laut – angin dingin

dan bintang-bintang sirna dalam cahayanya

 

lampu aku matikan.                 hanya suara

apakah bahasa ikut padam.     aku berbaring

mata aku pejamkan.                apakah kau telah padam

 

suara mobil melintas datang lagi dan pergi lagi

kenangan tanah ibu di bawah mesin perampokan masakini

suara serangga terdengar dalam gelombang konstan

telinga membuat struktur dari keributan di luar

menjadi di dalam keributan

aku buka mataku

cahaya bulan mengabaikan bingkai jendela terakhir

membuat batas gelap dan terang

gerombolan-gerombolan di luar dan di dalam kematian

 

lampu aku nyalakan.               udara mengirim kenangan

lampu aku matikan.                 apakah cerita bisa padam

aku berbaring.                         mata aku pejamkan

 

tetapi bisik-bisik terus menyala

gerombolan bertopeng terus merampokku

penunggang kuda dengan pedang menikam bahasa

bahkan merampok kebisuanku

apakan ruang ketika angin berhembus – (tetapi tak terlihat)

ketika waktu terus bergerak maju – (entah kemana)

 

aku ingin bercerita padamu, persis seperti email yang kau tulis

untuk kami: “sebuah tempat untuk berhenti telah hilang

malam ini. dan kita siapa waktu tidur.”

 

 

 

 

 

 

 

karung merica heinrich heine dan jangkar tambora

 

kau pakai tubuhku untuk berdiri di sini, tubuh dari bengkel ingatan.

sekarang, 200 tahun berputar ke belakang, pamanku, saudagar “si

karung merica” itu, berdiri di balkon villanya, di pinggir sungai elbe

belum malam. berulang kali, apa itu? jaring laba-laba di antara arah

mata angin: layar kapal-kapal barang, kibaran bendera di bawah bau

batu bara; melempar tambang ke depan dan ke belakang, menjerat

pasar. melintas seperti pisau lipat dalam teropong, berulang kali. kau

sedang menimbang beratnya waktu? lada, merica, kopi, tembakau

dan impian dari tenggara. bau rempah-rempah yang tidak bisa

dibekukan ke dalam robekan kata. rasa heran pada sambal dan kulit

duren. berbelok, sebuah meriam seperti korek api dalam selimut,

menatap garis kaki langit antara awan tebal dan kabut bergaram:

“dusseldorf, hamburg, berlin, paris, batavia … puisi di bawah bising

bengkel bahasa.”

 

laut pasang – kesunyian jadi buas dal liar – masuk ke perut sungai.

air mengepung kota. sungai elbe mencakar tubuhku, melewati batas

bernapas. bias cahaya pada pantulan air, pantat kapal, reruntuhan

ekonomi dan ringkik kuda napoleon. “si karung merica” itu

tenggelam, tetapi terus mengintai dengan teropongnya. berulang kali:

lompatan air pada dinding sungai, kayuhan kaki-kaki bebek

meluncur menembus terbang: cahaya matahari seperti tebaran emas

tak bisa digenggam. dan air surut. sebuah bungkusan hitam terapung-

apung di sungai. terus memuntahkan asap dari tambora, 1815,

setelah 200 tahun (sekarang yang berulang). sebuah gunung dari

tenggara – melompat – menghentikan perang. jangkar dari material

vulkanik yang mengubah waktu, dijatuhkan di wina. pintu-pintu asia

tenggara terbuka dan lepas.

 

“si karung merica” kembali muncul di permukaan sungai. berulang

kali, apakah ini? sebelum masakini digital. kapal-kapal konteiner,

pesawat udara dan kamar chatting. yang bebek teruslah bebek, yang

sungai teruslah sungai. setelah 200 tahun jangkar diturunkan, sebuah

teropong gila antara yang melihat dan dilihat. berdiri, seperti bengkel

ingatan setelah lupa. di pinggir sungai elbe, setelah log out.

 

 

 

 

 

 

 

 

filologi datangnya pulang

 

30 mei. 12:10 berlin-amsterdam

 

16:45 amsterdam-jakarta

 

31 mei. 15:45 satu koper ditelan perut pesawat

membatalkan kenangan

membatalkan waktu

1 kg = 20 usd

garuda di balik monitor penerbangan internasional

 

genggaman yang melawan tangan

bayangan tergelincir dalam cahaya

birokrasi ambruk di depan drama formulir kehilangan

 

ribuan bayi menunggu badai makna dalam rumah

 

sebuah negeri yang kehilangan koper

terjepit dalam reruntuhan faktur pengeluaran

teks kehilangan bahasa – sejajar kata kehilangan cerita

pengeras suara melawan frekuensi – menyayat afmosfir

iklan melawan kenangan – mesin cetak pasar beringas

rakyat membuat warung di mana-mana

memasang nama toko – membatalkan bahasa ibu

apakah kita stres, tuan?

membeli motor di mana-mana – mengejar kecepatan

kecepatan tetap di depannya, menukarnya dengan kemacetan

bising. panas. nyamuk. pantat ac membatalkan kota

relijiusitas dalam fashion kontemporer

menjual batu akik di mana-mana

apakah kita stres, tuan?

menggali tambang liar – membatalkan tanah leluhur

roh kehilangan arsip: ladang-aku yang bergetar

simbol masakini yang membatalkan paduan cerita

  • negara dalam bagai kwitansi kosong

 

20 agustus 07:25                     jakarta-dubai

 

ibu-ibu tki mencari dering telpon dalam padang gurun pasir

 

15:00                      dubai-hamburg

 

aku peluk buah kelapa

dengan kunci koper di dalamnya

 

 

 

 

 

der platz

 

kami sedang berjalan ke rumahnya. Seraya berjalan ke rumahnya

kami mencari alamatnya. antara kata “rumah” dan “alamat” ada

masalah dengan kata ganti “nya”. sebuah tempat tak tersentuh dalam

bahasa. mungkin kita bisa mencium bau ladang jagung di balik kata

ganti ini. lupakan tata-bahasa. alamatnya ada di sana, ketika kita

mulai mencium bau jagung di pagi hari.

 

apakah kata ganti itu mengenakan huruf “n” kecil atau “N” besar?

tunggu, kita melihatnya lebih dekat melalui teropong-yang-lain:

apakah kata ganti “nya” itu nyata atau sebuah keributan dalam

bahasa? seperti orang ngamuk mencari rumah dalam kata rumah.

atau: apakah huruf besar lebih tepat dipasang untuk kata Berjalan.

mungkin kata rumah juga ingin huruf besar. lihatlah perubahan

kalimat yang jadi sempurna ini: “kami sedang Berjalan ke

RumahNya.” tentu, kami tidak membutuhkan mahkota huruf “K”

besar di depan sebutan kami. setiap aku di sini sedang berlibur jadi

sang majemuk tanpa huruf besar dalam sebutan kita.

 

kami sedang berjalan ke rumahnya: der platz. tetapi bagaimana

dengan sebutan “der” di antara sebutan “nya” untuk tempat der

platz-nya? sebentar untuk artikel tentang perbedaan interliterer ini.

dengar, dengan kuping biasa-biasa saja: rumah itu terdengar sebuah

tempat. sebuah komunitas dengan kotak-kotak surat seperti susunan

batu nisan. sebuah danau. jalan kecil berkelok seperti sedang menuju

ke sebuah dunia yang terbuat dari batu kerikil. ladang pertanian

solidaritas. rumah-rumah dari gerbong kayu. pohon-pohon rimbun.

tembok tanah liat untuk tidur sebagai serangga bahasa. pompa air

dan anak-anak bermain. bau tubuh yang menghemat air. barang-

barang bekas dengan bekas kenangan. kompos kotoran manusia:

 

semua yang secukupnya, seperti keramahan tanpa huruf besar.

mereka membantah pemukiman formal di kota yang hampir selalu

lapar dan kekurangan. letaknya tidak terlalu jauh dari sini. di lesum –

pinggir kota bremen. bagaimanakah caranya berjalan antara tubuh

kami ke rumah ini? sejauh kau menyamar sebagai peradaban,

katamu. jarak antara daun yang tumbuh, berubah warna, kemudian

layu, rontok dan – menjadi apa pun yang tak terlihat lagi.

 

ya, kita sedang berjalan di sini.

selamanya di sini.

 

 

 

 

 

 

 

 

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957.

Berlin Proposal (2015) adalah buku

puisinya yang terbaru.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 15 NOVEMBER 2015

 

 

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
<!– Ad #1 –>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:inline-block;width:336px;height:280px”
data-ad-client=”ca-pub-1217358385912843″
data-ad-slot=”2898553413″></ins>

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Iklan

Written by Puisi Kompas

November 21, 2015 pada 3:30 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

10 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Terimakasih.. 😃😉😉☺

    Sent from Yahoo Mail on Android

    Suka

    dedew unique

    November 21, 2015 at 3:35 pm

  2. Salam.Saya ingin mengirim karya saya ke kompas, bagaimana prosedurnya?

    Suka

    putraniron

    November 22, 2015 at 7:41 am

    • Contoh pengantar pengiriman.

      .
      Dari : Saroni Asikin
      Kepada : sastra@jawapos.co.id Jawapos
      Dikirim : Kamis, 15 September 2011 5:25
      Judul : Cerpen STRIPTEASE DI JENDELA–Saroni Asikin
      .

      Semarang, 15 September 2011

      Kepada
      Yth. Redaktur Cerpen Jawa Pos
      di tempat.

      Dengan hormat,
      Bersama ini saya kirimkan sebuah cerpen saya bertajuk “STRIPTEASE DI JENDELA” (dalam Lampiran). Saya sangat berharap cerpen ini Anda baca dan kelayakan pemuatannya sepenuhnya hak Anda. Atas pembacaan dan pertimbangan Anda, saya ucapkan terima kasih.

      Hormat saya,

      Saroni Asikin
      saroniasikin@yahoo.co.id
      Tlp. 08xxxxxxxxxx
      Rekening Bank Xxxxxxx Nomor Xxxxxxxxxxxxx a.n. Saroni Asikin

      Kompas

      opini@kompas.co.id, opini@kompas.com

      Ada konfirmasi pemuatan cerpen/puisi dari redaksi via email.

      Honor cerpen Rp. 1.400.000,- (tanpa potong pajak), honor puisi Rp. 500.000,- (tanpa potong pajak–referensi Esha Tegar Putra), biasanya 2-3 hari setelah pemuatan, honor sudah ditransfer ke rekening penulis.

      Suka

      puisi kompas

      November 26, 2015 at 1:27 am

  3. akhirnya update juga 🙂

    Suka

    Anteng Isnanto

    November 25, 2015 at 9:55 pm

  4. Ketahui mata anginku, wislannasadi.wordpress.com

    Suka

    Wislan Nasadi

    November 27, 2015 at 9:47 pm

  5. keren keren puisinya gan, sukses selalu .

    Suka

    Kemeja Flanel murah

    Desember 9, 2015 at 2:31 pm

  6. kalau tidak punya rekening bagaimana

    Suka

    ghafardomani

    Mei 15, 2016 at 11:09 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: