Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Desember 2012

PUISI OOK NUGROHO

leave a comment »


Di Ruang Itu

 

Di ruang itu

Kami bertiga saja

Bapa, dia dan saya

Adapun Bapa

Diam dan rahasia

Sebagai biasa

 

Adapaun dia

(Dan saya)

Saling mereka

Lelakon apa

Tema apa kiranya

Dalam jeda ini

Layak bagi kita

Yang tak muda lagi

 

Guna kami mainkan

Selaku selingan

Di antara kisa utama

Telanjur ada

Menambahinya warna

Hijau dan merah jingga

Di antara coklat

Dan abu-abu

Layu dan gugur

Daun-daun

 

Sayangnya tapi

Ini bab terlarang

Tiada tercatat

Dalam halaman

Resmi liturgi

Kabarnya sarat jeruji

Serupa hutan suaka

Teraling bagi dia

Dan saya

 

Dua pemburu

Gelisah di sampin tabu

 

2012

 

 

Dunia Tak Begitu Buruk

 

Dunia tak begitu buruk

dalam sebuah sajak. Tapi kau harus

bergulat lebih dulu, merebutnya.

Menyudahi sekat-sekat bahasa

 

yang menjebakmu dalam sempit

kamar-kamat tak berjendela.

Sesudah itu, sebuah jalan pulang berkelak-kelok

membawamu pada ambang yang bimbang,

 

hari tanpa almanak. Musti

kau putuskan sendiri kapan kau terlahir

kembali ke dunia. Namamu yang lama

telah terhapus di bawah musim

 

yang pelan mengembang dari balik

sepuluh jari-jemari anganmu hijau ungu

berganti-ganti. Yakinlah, tiada jadwal

resmi yang dulu merongrongmu,

 

menderamu dengan tanda-tanda

yang tak ada. Sebab kini kau hanya lengang ruang,

lapang seleganya, bukan lagi sesiapa apa.

Tanpa kiblat selain jagat.

 

2012

 

 

Aku Hanya Perlu

 

Aku hanya perlu secangkir kopi

Untuk menulis sebuah sajak, katanya

Dan segores luka, guna lebih

Menajamkan huruf-hurufnya

 

Dan segurat luka lagi

Sekadar memastikan ini semua

Bukan pura-pura, bukan cuma tema

Dan gerimis di atas kertas

 

2012

 

 

Gawang

 

Bergantian nasib buruk

Dan mujur menerpa masuk

Saya tak menampiknya

Pun tak menyetujuinya

 

Nasib buruk dan mujur

Bagi saya sama belaka

Keduanya pintu selebarnya

Agar sempurna jalinan kisah

 

Begitulah, di atas segi empat waktu

Sabar saya menantikan

Menguak pintu selebarnya

Merentang peluang selapangnya

 

Menunggu nasib mujur

Memastikan nasib buruk

Bergantian menyambangi

Merampungkan takdir saya

 

2012

 

 

Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April

1960. buku puisinya adalah Hantu Kata (2010)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 30 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 31, 2012 at 2:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARIO F LAWI 2

leave a comment »


Perjamuan

 

Sehelai kafan membungkus rotimu. Kami berlatih

Menjinakkan berpasang sumpit demi mangkuk-mangkuk mi

Yang pasrah di hadapan kami. Tiga botol selai berdebar

Di hadapanmu. Coklat. Nanas. Anggur. Tutup pertama

Tersentuh telunjukmu, hatinyalah yang berhak

Bersamamu mengakrabi derita sekaligus keabadian.

Mangkuk-mangkuk kami turut bergetar, menumpahkan

Sedikit kuahnya ke pangkuan kami. Bersitatap kami satu

Sama lain meski telah kuajarkan doa untuk

Menaklukkan muslihat lidah kami yang tiada bertulang.

 

(Naimata, 2012)

 

 

Ruang Tunggu, 1

 

Menahan godaanMu,

Eva dan Ular bersihadap.

Kami mengelus-elus dada.

Entahkah senyum Ular

Ataukah kerling Eva

Mengetarkan belulang!

 

(Surabaya, 2012)

 

 

Ruang Tunggu, 2

 

Buah terlarang ranum

Seperti biskuit hancur

Di lidah anak-anak.

 

Sedang Adam tersedu sendiri

Menyaksikan Eva

Melahirkan bayi-bayinya.

 

(Manado, 2011)

 

 

Roa

 

Sesungguhnya aku ingin terhidang sebagai mataairmu ketika menyembul.

Karena batu di Selatan telah pecah dan Tuhan tak lagi lengkap mengucapkan

kabul. Kecuali pernah kau saksikan pertarunganku melawan musuhmu

bernama Beelzebul. Kuharap kau paham jalan cerita stigmataku timbul.

 

Lalu perahu-[erahu yang kaulayarkan di ujun teluk tak perlu tahu bagaimana

ia kaubentuk. Lautan jiwamu mungkin menjelma aliran yang lekuk. Dan sesajen

yang akan kita labuhkan dalah sumbat segala ceruk. Agar dosa tak terkatakan

terbenam jauh di ufuk, tempat matahari menyembunyikan kelam segalak lubuk.

 

Kematian kita tak akan diingat Mone Kerai, karena sejatinya telinga Mahera

terlampau awas mendengarkan segala doa. Bahkan ketika kita lupa mengurai

kegembiraan dalam Padoa. Kau tahu, telah kutatah namamu dengan gemetar

di pucuk lontar belakang rumahmu enampuluh tahun silam: saat senyummu masih

berupa ikan yang dengan susah payah menyelami lubuk hatiku yang agak dalam.

 

Engkau tujuh, aku sembilan. Waktu seakan berjalan begitu pelan. Tapi kita

mesti berpisah di ujung perjalanan. Bolehkan aku bersamamu mencari Selatan?

Jika inilah masa penantian, kubiarkan kau menyanyikan Pater Noster atau

Kyrie eleison, sebelum usiaku yang habis kaubenamkan ke dalam dadamu:

hulu tempat anak-anak kita menyusu dan menenun keselamatan yang dijanjikan.

 

(Naimata, 2012)

 

 

Mario F Lawi lahir di Kupang, Nusa

Tenggara Timur, 18 Februari 1991.

Mahasiswa Jurusan Komunikasi

Universitas Nusa Cenda. Bergiat di

Komunnitas Sastra Dusun Flambora.

 

KOMPAS, MINGGU 20 DESEMBER 2012.

Written by Puisi Kompas

Desember 31, 2012 at 1:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARDI LUHUNG

leave a comment »


Mentari

 

Aku tak pernah mencintai dan dicintai. Sebab,

sebagian hatiku telah hangus. Sebagian yang lainnya ratak dan bolong.

Sedangkan, apa yang menjadi urat-urat pendukungnya pun

tak lebih semacam saluran yang mendengung. Yang ketika

kupingmu kau dekatkan keujungnya, terdengarlah napas itu.

Napas berat yang mendesak-desak. Napas berat yang begitu

menggiriskan. Dan begitu membuat siapa saja yang turut

mendengarnya, akan merasa mendengar lenguh ternak

sebelum dijegal. Dan aku juga tak akan tersenyum. Sebab,

senyum bukanlah bagian dari bibirku. Bibir yang terus

mengetam dan mengeram. Mengeram ketika depa garis

aku tambahkan ke peta siasat itu. Atau ketika depa garis

lawan yang ada di depanku merengsek. Sambil tak lupa

merenikkan apa yang telah aku pasang dengan 20 jari. Terus

menerbangkannya seperti terbangnya serbuk-serbuk mandul

yang akan jatuh di tanah kering. Tanah yang dulunya pernah

menjadi pijakan si ular saat menggoda si pertama untuk

berbelok-belok. Terus menghujah: “Tuanku, Tuanku, betapa

sepinya dirimu. Dan betapa sendirinya apa yang kau miliki.

Tapi mengapa tetap saja kau lemparkan dadu ke arah

mangkokku?”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Raja

 

Dan inilah aku si tuanmu! Si duna dunia. Dunia darah: “Hitam

dan putih.” Dua dunia arah yang saling berkacak-pinggang.

Juga saling memanggil dan mengerdip. Melambai dan

berkirim kabar. Tapi tak saling belai. Hanya menjelaskan:

“Jika di antara keduanya terbentang bengawan yang lebar.

Begawan dan dangkal.”

 

Bengawan dengan gelombang tinggi. Juga ikan-ikan

persegi jangkung yang saling selip. Dan saling membuka apa

yang telah terbekas sebagai luka. Sebagai hal yang selalu dan

selalu minta perhatian. Sebab, tak ada yang akan mengobati.

Kecuali diri sendiri. Kecuali apa yang telah lama menjadi

ingatan.

 

Ingatan: “Jika salah satu dari dua dunia arah itu runtuh. Maka

melesap ke udara. Dan meski tak tampak, tetap saja akan

terasa.” Dan tetap menghadirkan batu gelap, di malam gelap,

di bangsal yang gelap. Batu gelap tempat siapa saja bakal

telentang. Dan jika ada untung akan mampu memilih mimpi.

Mimpi apa saja.

 

Juga mimpi ketika Maut mesti datang lebih cepat. Atau

malah menunda sampai semua semuanya bersiap dan siaga. Sambil

memejamkan mata. Dan membau aroma sekian kembang

yang tumpang-tindih. Aroma melati, mawar, kamboja dan

kenanga. Aroma yang tak bosan menyelip ketika tetes air

jatuh di wajahmu.

 

Wajah yang untuk pertama kali tak mau becermin.  Cuma

berharap menghadap ke arah kedalaman. Kedalaman tanah

dan lumpur yang begitu rapat tak berlorong. Begitu sesak tak

berjendela.

 

(Gresik, 2012)

 

 

Empat Kuda

 

Di pelataran milikku yang berdegup kau geserkan benderamu.

Cuaca mendukung. Dan juru ramalmu yang bertopi dan

berteropong kerucut pun menyurut. Seperti akan meminggir.

Seperti akan menyingkir. “Aku bukan ingin menyergapmu!”

teriakmu dari arah yang entah. Dan aku merasa, ini adalah

awal mula kita akan berangkulan dan berkecupan: Memang,

sudah terlalu lama kita menyiagakan apa-apa yang menjadi

siasat. Sampai tak tahu, jika Maut yang bergelantungan di

angkasa itu telah bosan. Dan ingin segera berlalu. Sebab sabit

besar yang selalu diusungnya sudah terlalu kelabu. Perlu

segera dicuci dan dibilas agar balik mengkilat.”Ayo, kemari,

kemarilah dengan kepolosan!” teriakku balik padamu. Dan

bertepatan dengan itu, entah mengapa, pembukaan empat

kuda yang telah lama kita siapkan (dua kuda milikku dan dua

kuda lainnya milikmu), seperti ingin melepaskan tali-tali

kekangnya. Terus menari, mengecak dan meringkin di seputar

unggun yang tersisa. Memanggil siapa saja yang sedang

merapikan denyut-denyut jantungnya. Denyut jantung yang tak bosan

meminta: “Agar langkah rahasia yang akan datang, yang

tersimpan di amplop itu tak akan terbuka. Dan tak akan

terbaca sebagai takwil kejutan yang miring. Semiring tengkuk

si terpilih di hari perayaan korban yang tergenapi.”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Sekak Mati

 

“Sekak mati!” katamu. Dan itu membuat dadaku berdegup.

Dan itu juga membuat jantungku mengerut. Terus memipih.

Mengeliat dan menjulur seperti tali yang luwes. Yang jika

boleh disebut, lebih dekat ke ular daripada ke belut.

 

Dan sebagai yang lebih dekat ke ular, jantungku yang

menjulur itu memasuki setiap lubang yang ditemuinya.

Seakan mencari sesuatu. Sesuatu yang dianggap dapat

mengembalikan wujudnya ke sediakala. Tapi apa itu mungkin

bisa?

 

“Sekak mati!” katamu lagi. Dan untuk kali ini perkataanmu

memantul di antara tembok, tiang dan menara. Menimbulkan

kebisingan yang bertumpuk. Yang membuat jantungku yang

menjulur itu tergeriap.

 

Dan berpikir: “Kebisingan apa ini? Mengapa begitu

mendorongku untuk melenggokinya?” Tapi, sebelum antara

melenggoki dan sebaliknya terjadi, jantungku yang

menujulur itu malah melirik ke atah rajaku.

 

Rajaku yang kini sudah seorangan. Rajaku yang membasuh

semua luka ditubuhnya. Rajaku yang telah melepaskan

mahkota dan jubahnya. Juga keyakinan dan segenap

pengetahuan yang telah menjaganya.

Dan pelan-pelan, seperti ada yang mengatur, gerimis pun

Di seputar tempat rajaku berdiri. Berdiri dengan kedua

kakinya yang telanjang. Dan demi waktu, sekak matimu yang

telah dua kali kau katakan itu, segera menggilasnya.

 

(Gresik, 2012)

 

 

Rehat

 

Tak ada yang bisa menduga. Apalagi meramal atau menebak.

Kapan kau akan memainkan lagi permainan caturmu.

Memegang tengkuk cumcum atau punggung benteng. Terus

menyelipnya di lorong yang berkelok dan berkabut.

 

Hanya kabar yang datang-pergi yang menjelma maket.

Dengan garis-garis putus. Dengan petak hitam dan putih.

Petak yang besar atau kecil. Petak yang sendiri atau

bertumpuk. Dan sebuah tanda-tempat: kamar bawah tanah.

 

Dan di bawah kamar bawah tanah itu kau berdoa dan berbicara. Tapi

pada siapa? Mungkin pada hatimu sendiri. Atau pada hati

yang lain. Yang kata sebagian orang, milik para penantang

yang menantang permainan caturmu.

 

Para penantang yang kau libas. Sampai apa yang dipersiapkan

Pun berjatuhan. Seperti berjatuhannya sekian patung berkaki

lempung. Patung dan kepala berhelm dan dada

berseragam. Tanda siaga. Tanda lengah. Tanda jengah.

 

“Aku di kamar ini saja. Biar tak bertambah yang kau libas!”

selamu. Dan di kamar bawah tanah itu, semua pion (tentunya

pionmu) pun merubungmu. Mata mereka meletup. Seperti

letupan matahari yang cuek. Matahari yang melintas.

 

Matahari yang dulunya adalah medali yang disihir. Sebab

membuat setiap yang melihat ingin merebutnya. Lewat siasat

yang gesit. Yang sengit. Yang sengit. Dan yang setiap

menunding selalu ada saja yang terbanting dan terguling.

 

“Sekali lagi, aku di kamar ini saja!” selamu lagi. Dan kamar

bawah tanah tempat kau berada pun terguncang. Seperti ingin

melayang. Seperti ingin menghilang. Seperti ingin melenyap.

Dan seperti ingin tak menempati apa-apa.

 

Padahal, setiap yang di luar kamar (pengagum atau

Pengintai), telah lama menantimu. Dalam antrian yang

Memanjang . yang ketika dilihat dari ketinggian, tampak

begitu warna-warni. Sewarna-warni ular-langit yang turun

dan menggelosor.

 

Ular-ular yang juga berhasrat pada tanya: “Kapan, kapan

kau akan memainkan lagi permainan caturmu?”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Tengah.

Buku puisinya, Buwun (2010), mendapatkan Khatulistiwa Literary Award 2010.

 

KOMPAS, MINGGU, 23 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 28, 2012 at 12:38 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ALIZAR TANJUNG

leave a comment »


Rokok, Asap, Api

 

rokok;

asap, kau si senang,

lahir dari tubuhku,

dari tiada jadi ada,

bebas mengembara ke udara,

yang kau inginkan,

aku si celaka,

perlahan-lahan membakar diri sendiri,

lenyap jadi abu.

 

asap;

rokok, kau si senang,

dipakai dan digunakan penghilang suntuk,

pada kepalamu cahaya,

pada pangkalmu ciuman.

aku si sakit yang tak diterima,

dikibaskan dari abu

dan pandangan mengganggu,

terbang ke udara,

lenyap begitu saja.

 

api:

asap, kau si beruntung,

tak perlu sampai ke pangkal bibir,

telah bebas jadi angin,

seperti rokok yang setia,

pada tubuhnya dia menikmati tubuhku,

aku si malang dipaksa hidup

tidak pada tubuh sendiri,

panasku tak sampai,

dinginku tak pucat,

belum samapi ke bibir dimatikan dalam asbak.

 

2012

 

 

Api Pulang ke Suluh

 

api meminta pulang ke suluh,

suluh meminta pulang ke bilah,

sabuk terbuang dari buluh,

buluh terbuang dari bahasa kata.

 

api angin terang jalan pulang,

seterang alif sampai tubuh ya,

tetapi titik ya segelap arang sabuk,

jalan melintang di tubuh alif,

sabuk jadi abu sepanjang pulang.

 

2012

 

 

Pitatah dan Pemiliknya

 

si pemilik pitatah

telah puas belajar pitatah,

“si tuli peletus senapan”

letus itu tak perlu membuatnya menutup telinga,

“si buta peniup salung api”

besar api di tungku tak perlu masuk ke matanya,

“si lumpuh penghalau ayam”

duduk di rumah berselonjor kaki.

 

tapi si pemilik pitatah telah jadi pemilik murung

di jantung yang sesak,

“si tuli telah jadi pelomba lari”

hilang peletus senapan,

“si buta jadi penerka bentuk warna”

siapa penghidup api di tungku,

“anak ayam sudah datang”

hilang sudah pekerjaan si lumpuh..

 

pemilik petitak beralih profesi

pemilik sunyi, bahasa kata tidak pulang ke lidah,

seperti perantau yang merantau seputar di luar

lingkaran dirinya, di sana-sana saja.

 

2012

 

 

Lima Kuku Si Pincang

 

di dalam kamar itu kau menonjok dengan kaki pincang,

lima kuku kakimu menacap daging, menanam gigil,

lima kuku kakimu satu lagi tidak menentu,

sepuluh kuku tanganmu di angkuh yang tak mau tahu.

 

tetapi sebelah matamu mengatakan lima kuku itu

melompat keluar jendela yang kacanya pecah

tepat di depanmu,

sebelahnya lagi hanya mengatakan seperti melihat,

tentu kau tidak ingin berpegang pada si ragu dungu.

 

Mencangkung dengan kaki pincang tak serta merta

membuatmu menjadi si sakit yang dilupakan,

ada sakit yang tidak tertanggungkan di sebelah kakimu yang lain

dan di bibir jendela yang pecah, pada kuku mencakam daging

itu juga.

 

(Karangsadah 2012)

 

 

Benang Celana Robek dan Dengkul

 

benang celana robek:

terlepas dari dengkul itu tidak membuat aku

terlepas dari daging sakit,

pucatnya dingin,

aku si tubuh yang ditanam dalam benang sajak,

lahir  dan gugur dalam sakit sajak.

 

dengkul:

selain tubuh ini apa yang aku miliki

selain pangkal rambut yang sakit,

aku si daging yang dilecuti tubuhmu,

lahir dan gugur dalam ngilu sajak.

 

(Karangsadah 2012)

 

 

Alizar Tanjung lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Saat ini ia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan

Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 16 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 17, 2012 at 6:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI Nezar Patria

leave a comment »


Malin Kundang

 

Bahkan saat dikutuk menjadi kepompong batu, engkau kalahkan suntuk panjang itu dengan menggambar kembali dirimu. Titik demi titik, lalu garis, dan sebuah bentuk. ”Ini bukan metamorfosis yang sulit,” katamu. Mereka tak tahu. Sebelum menjadi batu, jiwamu adalah kupu-kupu.

2012

 

 

Kutaraja, 1874

 

Di Kuala, ada lagu serdadu kumpeni
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”

Pada laras senapan yang ria
Ayat-ayat sembunyi
di arus kali,
Lidah naga menari.

Dari Kuala, ya dari Kuala
Kapal-kapal bergerak,
Dari mulut kanon
bau mesiu merambat.

Di Kutaraja, ada doa bergema
”Tuwanku, kami bersiap mati.
Jiwa merdeka, berkalung kenanga.”

Langit gelap
dalam mimpi yang kedap.

Bulan runcing,
berlari di ujung lembing
Pedang kelewang bersijingkat,
dalam khianat.

Siapa menukar sangkur
dengan dusta sungai anggur?

Di jantung Kutaraja
pada subuh hitam itu,
Kumpeni ria bernyanyi
”Jayalah Willem, sebelum pagi.”

2010

 

 

Cinta dalam Setengah Blues

 

Cinta, katamu, adalah tangga nada
dan kau pun mulai menyusun not buta

Kudengar piano itu berdenting, garing
Ada suara saksofon, monoton

Mungkin kau tak mengerti
Cinta bukan partitur biasa

Tak bisa dimainkan dari la
Lalu berhenti sebelum si

2012

 

 

Nezar Patria lahir di Sigli, 5 Oktober 1970.
Ia bekerja sebagai wartawan, dan berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.

KOMPAS, MINGGU, 16 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 17, 2012 at 2:31 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ESHA TEGAR PUTRA

leave a comment »


Pada Retakan Patung Singa

 

Pada retakan patung singa, pada porselin gambar naga, pada jendela
sirah penghisap cahaya, pada ambin yang tiap sebentar menjatuhkan
serbuk kayu, aku kenang kau dalam gerak udara masih serupa itu.

Di sini orang-orang masih berdendang tentang sepertiga gunung
diruntuhkan ombak gadang, tentang belasan anak gadis yang hilang
di jalan bersimpang lima, tentang jodoh serta maut yang tak
boleh disebut apabila malam sudah larut, dan kita berembut tempat
berdiam di setiap babakan dendang itu dihentikan.

Pada retakan patung singa. Aku pandang matamu masih sirah begitu
juga, aku rasakan di dadamu masih berisi gemuruh ombak gila.

 

Kandangpadati, 2012

 

 

Melawat Pagu, Merawat Hari Lalu

 

Yang terletak di atas pagu. Cincangan kayu gaharu, patahan tulang
kaki rusa, tebaran biji kapulaga, dan mantera ibu menanak nasi
dengan sugi tersangkut di geraham tepi.

Yang terletak di atas pagu. Pedas bubuk lada hitam, dendeng kering
dari rabu sepi, aroma gula gardamunggu dan pisau berkarat buat
mengerat putus leher ayam jantan.

Aku melawatmu, yang terletak di atas pagu, sisa demam pada hari lalu
seperti gaduh magrib penuh cerita hantu dan peria pahit yang terus
dipaksa untuk digigit. Aku melawatmu, yang terletak di atas pagu, sisa
mimpi buruk pada jalur ladang tempat orang hilang dan rimbun
batang tebu udang yang tak kunjung manis sampai sekarang.

Aku terbayang dentang bunyi sendok panjang beradu dengan kuali
Para ibu dengan lengan jilah sedang menari. Gelakak santan panas
Bergelumbai menyimpan dusta air susu dari bekas uap air menanak nasi.

Aku melawatmu lagi, hari-hari penuh air pencucian perut ikan, hari-
hari penuh dengan patahan senapang pelepah pisang.

 

Kandangpadati, 2012

 

 

Oslan dan Lagu Palinggam

 

Palinggam adalah orkes lama,
dalam lagu berdayung sampan, dalam joget angin selatan.

Bandarnya berair hitam, tepian dengan bangkai kapal dagang
apabila bulan susut dinding gudang-gudang tempah di seberang muara
merupa dahi kulit angkut tua dengan kerutan panjang kait-berkait.

Aku tergiang dendang lama, Oslan memainkan gitarnya, ombak menari
bersibantun di karang bukit Palinggam. Sampan sedang bertaut tenang.

Duhai, tengah hari pekak dalam panas sedang berdengkang
Gadis-gadis bertali kutang genting mencuci periuk nasi. Seakan hari
dada jilah mereka pepaya masak sedang berbuai.

Serasa sampai, serasa sampai

– Kalau Oslan sudah memainkan gitar, pasir basah bakan berderai.

Di Palinggam, roman percintaan 1000 tahun sudah lama dikalahkan
tebing bukit landai berpengang-gadai dengan sisik ikan karang, patahan
tulang ekor pari, dan isi dada penarik pukat yang terbelit selusin peniti.

Duhai, apabila malam naik maka angin samudera mendesir, seakan
serunai dibunyikan tukang dendang paling mahir, seakan dukun pulau
sedang memiuh jantung-hati dengan pukau, “Oslanm mainkan gitar
lagu getar selangkang kuda jantan penarik bendi…”

– Kalau Oslan memainkan gitar, air susut bakal meninggi.

 

Kandangpadati, 2012

 

Di Pagaruyung

 

Di Pagaruyung
langit dengan retakan tempurung

aku mimpi
kerumunan sialang mematahkan kayu gadang
tiga-empat-mungkin lima burung balam
serentak jatuh limbung.

“Asah pisau, anak, asah pisau.
Sampai punggung jadi mata, sampai
mata jadi jantung.”

Di Pagaruyung
barangkali ini semacam permainan tukang tenung

aku mimpi memanjat dinding
bertopangkan kuku sebentuk mata lembing
lima ribu bisa lipan bunting menaikkan bisa
dari tungkai kaki hingga lambung.
“Raut bilah, anak, raut bilah.
Jika tajam pisau akan menusuk ke dalam, jika
ke dalam tangis sudah diperam.”

 

Pagaruyung, 2012

 

 

Makan Gulai Tembusu

 

Telanlah gulai tembusu pedas itu, Abigail
di sini malam akan terus berasap
orang-orang duduk bersila.
sambil meremas kantung kemih dipenuhi uap air

mereka saling berbagi cerita, tentang
kuda besi hitam melintasi kota, naga belang sirih-hijau
bergelung di tiang rumah duka, kucing bermata juling
mencuri ikan kering dari satu kedai ke kedai lain.

Dan tentang lengkisau angin petang
yang merobohkan ketapang gadang
di sepanjang muara jalur peranakan udang.

Tenggaklah air perasan empedu lembu itu, Abigail
sebab apabila jam malam sudah diketuk
dan lampu-lampu sepanjang jalan bergelabau
angin pun tak akan berani mendesau.
Tenggaklah, Abigail, sebelum bulan mengayunkan sabit
dan segerombolan kelelawar berhenti menjerit.

Maka yang termakan bakal mendaging,
yang terminum belum tentu bikin usus mendingin.

 

Kandangpadati, 2012

 

 

ESHA TEGAR PUTRA lahir di Solok, Sumatera Barat,
29 April 1985. Buku puisinya berjudul Pinangan
Orang Ladang (2009)

KOMPAS, MINGGU, 9 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 10, 2012 at 3:54 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI F AZIZ MANNA

leave a comment »


Perempuan Tanggul

 

/I/
perempuan yang berdiri di pinggir tanggul malam-malam,
adakah yang kau tunggu, pangkalan telah sepi, pengemudi
berselonjoran dan bermimpi dalam lagu fangdut yang sedih,
pemanggul dan penarik melengkung dalam sarung yang penguk,
adakah yang kau tunggu, hai, perempuan yang berdiri di pinggir
tanggul malam-malam, angin mengalir seperti lumpur mencair,
menepuki pipimu nyempluk, nggegoyang rambutmu pirang,
nyenyusup di kekain penutup tubuhmu yang siap meletup,
adakah yang kau tunggu, seorang malaikat merayap, hinggap
mendekap, pada mulut setengah terbuka kau berkata: aku tidak
sedang bekerja, apakah yang kau tunggu, hai, perempuan yang
berdiri di pinggil tanggul malam-malam, kau merekok, kau
pandang hamparan hitam dalam sesedotan begitu dalam,
hembusan kencang dan panjang dengan mata memejam:
seseorang telah mengambil hatiku, aku tak tahu namanya, di
mana tinggalnya, apakah shalat, apakah bejat, kami hanya
bertemu begitu saja dan tawa pecah di mana-mana dan hanya
ada pesan setelah persetubuhan: akan selalu ada waktu, akan
selalu ada bagi yang setia, segera, secepatnyam entah kapan
waktunya, entah di mana

 

/II/
matahari angslup seperti matamu yang surup, angin membuat
bayangan rambutmu kian panjang, aku sekarang bersama
tanggul melayang di depan rumahmu, rasanya ingin jatukan
di ke hamparan berbayang hitam, aku ingin menyati
denganmu seperti gerbong kereta yang dilahap terowongan,
tapi apakah lelahku kan sudah, kau berkata seperti bertanya
sepertu berkeluh-kesah, bibirmu bergetar menahan sumpah-
serapah, hanya tuhan yang tahu dan hana tuhan yang punya
jawab bagi yang ingin tahu dalam keluh, air matamu jatuh
seperti embun subuh, aku merindukanmu, sangat, demi masa-
masa sulit yang kulalu tanpamu, aku merindu, sungguh, dan aku
cuma bisa berlari, lari, jauh, menjauh, matamu seperti
pancuran, lembab dan sembab, langanmu putus asa, pijakanmu
kian lemah, ingin saja lungkrah, aku ingin ke arahmu, sungguh,
tapi pintu tak pernah terbuka untukku, kau yang di dalam, apa
mendengar suaraku, apa menangkap teriakanku

 

 


Percakapan dalam Lumpur

 

ketika hujan badai menerpa, kau tak perlu sembunyi, tak perlu
menggali, hujan tak akan menggedor dengan lembing
gelagarnya di atas genting pintu, dan jendela, bukankah tak ada
itu semua di rumah, hujan hanya merembes dan mengusap,
seperti sapu tangan yang menyesap keringat dan sisa isak, kau
tak perlu berteduh, tak perlu, matahari selepas badai tak akan
mampu membakarmu, lengan apinya tak akan mencapaimu, dia
akan padam dibiakkan rerumput dan bebatuan, hanya
menguapkan berbintik lembab jadi hangat, seperti pelukan, tapi
mengapa kami tak bisa melihat apa-apa, ibu, apakah mata kami
buta, ataukah dunia gelap gulita, pandangan bisa menipu, bisa
menipu, dengarlah: bulan hitam mengelinding dihembus angin,
beburung berayun di bebayang rimbun pohonan, kami tak lagi
bisa mendengar, ibu, seluruh suara telah kehilangan telinga,
dengarlah dengan pikiranmu, dengan pikiranmu dengarlah:
bulan hitam mengelinding dihembus angin, beburung
berayun di bebayang rimbun pohonan, pikiran, di mana
pikiran kami, ibu, di mana kami temukan pikiran, mata yang tak
melihat, telinga yang tak mendengar, ini kelapa bukan kepala,
ibu, dunia ini tak seperti dunia itu, dengarlah dengan pikiranmu
jangan dengar pikiranmu dan lihatlah dunia baru di mana bulan
hitam menggelinding dihembus angin, beburung berayunan di
bebayang rimbun pohonan

 

 

F Aziz Manna bermukim di Sidoarjo, Jawa Timur. Buku puisinya berjudul
Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang (2010) dan Wong Kam Pung (2010)

KOMPAS, MINGGU, 2 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 3, 2012 at 6:05 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MASHURI

leave a comment »


Hantu Kolam

 

: plung!

di gigir kolam
serupa serdadu lari dari perang
tampangku membayang rumpang

mataku berenang
bersama ikan-ikan, jidatku terperangkap
koral di dasar yang separuh hitam
dan gelap
tak ada kecipak yang bangkitkan getar
dada, menapak jejak luka yang sama
di medan lama

segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai
matahari
aku terkubur sendiri di bawah timbunan
rembulan
segalanya tertemali sunyi
mungkin…

“plung!”

aku pernah mendengar suara itu
tapi terlalu purba untuk dikenang sebagai batu
yang jatuh
kerna kini kolam tak beriak
aku hanya melihat wajah sendiri, berserak

Banyuwangi, 2012-12-03

 

 

Hantu Musim

 

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas – yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti…

Magelang, 2012

 

 

Hantu Dermaga

 

mimpi, puisi dan dongeng
yang terwarta dari pintumu
memanjang di buritan
kisah itu tak sekedar mantram
dalihmu tuk sekedar bersandar bukan gerak lingkar
ia serupa pendulum
yang dikulum cenayang
dermaga
ia hanya titik imaji
dari hujan yang berhenti
serpu ruh yang terjungkal, aura terpenggal dan kekal
tertambat di terminal awal

tapi ritusmu bukan jadwal hari ini
dalam kematian, mungkin kelahiran
kedua
segalanya mengambang
bak hujan yang kembali
merki pantai
telah berpindah dan waktu pergi
menjaring darah kembali

Sidoarjo, 2012

 

 

Mashuri lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1987. Alumnus Sastra
Indonesia Universitas Airlangga. Buku puisi terbarunya yang akan segera
Terbit adalah Munajat Buaya Darat

KOMPAS, MINGGU, 2 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 3, 2012 at 4:59 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: