Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Mardi Luhung

PUISI MARDI LUHUNG

with 2 comments


Gresik: Telur Bebek dan Leher

 

Ada amsal tentang kenangan awal. Kenangan pada jajaran rumah yang

berubin tebal dan bertembok tinggi. Serta patung kilin yang bersiaga di

tempat ibadah. Patung kilin yang menyimpan wujud mustika di delapan-

belas bagian tubuhnya. Juga tentang telur-telur bebek yang tergeletak di

sepanjang got kering sebelah trotoar. Telur-telur bebek yang dipunguti oleh

tangan si kanak. Tangan yang kini telah dewasa. Yang diam-diam juga ingin

memetik matahari sebelum lingsir. Atau mewarnai kulit delima agar tetap

merona. Semerona ibu yang telah jadi bidadari. Bidadari yang setiap bersedih,

berziarah ke makam Tuan Maulana. Dengan air mata berlinang.

Juga dengan kerudung yang berjuntai menawan.

 

Dan ada amsal tentang kenangan berikutnya. Kenangan pada aroma yang

memberat. seberat napas yang membau sengak. Yang mengingatkan bau

asap yang mengepul dari sekian cerobong. Sekian cerobong, yang jika

gerhana tiba, bergerak dan berjalan tegap. Seperti seregu sedadu yang

berbaris-baris. Berderap. Berderap. Berderap. Dan sesekali memeragakan

kerancakan jalan di tempat. Kerancakan yang membuat permukaan pantai

jadi bergoyang. Sampai tiga ikan buntal yang berenang, pun seketika

membuntalkan perutnya. Sebab menganggap, ada musuh yang akan

menyergap. Musuh yang mungkin terang. Mungkin gelap. Atau malah

mungkin samar. Tapi amat dekat. Sedekat urat leher.

 

(Gresik, 2016) Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Agustus 22, 2016 at 12:23 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARDI LUHUNG

with one comment


Telur Asin

Aku memakan telur asin. Dengan kuning yang berminyak.
Dan aku teringat padamu. Yang pernah berseloroh: “Kau
tahu, waktu lahir, aku menetas dari telur asin. Telur asin
yang kebiru-biruan. Agak lonjong. Dan bercangkang kuat.”
Dan ketika telur asin telah habis, aku juga teringat, kau
memang lentur. Dan bagi yang ingin menelisiknya, mesti
diterawangkan ke sinar lampu. Agar terlihat gurat tipis atau
tebalnya urat. Lain itu, pada setiap desirmu, aku mendengar debur
lautan yang riang. Debur lautan yang tak pernah lelah
mengusung bakal garam. Sambil merentangkan apa saja
yang ada. Lalu berkebatan di ujung-ujung ombak:
“Tangkaplah aku, tangkaplah juga asin yang abadi yang melekat
di langit-langit mulutku!” Dan waktu itu, betapa aku (juga
mereka yang sempat melihatmu) menduga, jika kami berani
memasuki mulutmu, pasti keluarnya akan terurai dalam
butiran garam yang mutih. Butiran garam yang kelak
tersaput di setiap kerahasiaan rasa telur asin yang
terhidang. Seperti tersaputnya kabut dalam asap.

(Gresik, 2014)

 

 

Nyala

Di laptop ada yang selalu memanggil nama kita. Dan suara
panggilannya seperti denah rabun. Kadang lurus. Kadang
tebal. Dan kadang tak jelas. Apakah itu garis untuk rel
kereta, arah sungai atau halte bis. Dan di laptop,
sepertinya ada wajah yang nongol. Wajah yang penuh
warna. Dengan rambut kelimis tipis. Terus menyela: Apa
kalian mau menjawab balik atau tidak. Dan menambah:
Sehat juga kan? Memang, ada sebatang lorong. Dan
Wajah yang penuh warna itu berlagak di tengahnya.
Sesekali kukuh berkacak pinggang. Dan sesekali yang lain
pun berlarian ke sana ke mari. Tak lelah menaburkan
noktah pelangi di layar monitor. Agar yang pintar menata
pun dapat menatanya untuk jadi siapa saja. Juga apa saja
yang senantiasa mengawasi tanpa henti. Tanpa kedip. Dan
di laptop, memang ada yang selalu memanggil nama kita.
Dan kita pun jadi terpana, ketika pusat listrik dimatikan.
Tapi layar monitor tetap saja menyala. Dan sebentang
lorong yang ada tadi pun tiba-tiba menyeruak. Gesit, lincah
dan tangkas. Seperti ketangkasan sang tafsir atas
bergulirnya telur-telur unduh yang tak pernah terduga
begitu adanya. Bagaimana ini semua nanti direhatkan?

(Gresik, 2014)

 
Sedak

Penonton gelap. Latar gelap. Lantai panggung mengkilat.
Dan si penari berbaju tipis tersenyum. Mengibaskan
selendangnya yang juga tipis. Dan bibirnya? Bibirnya yang
menyala itu menembangkan sesuatu. Sesuatu bagi si
pengembara. Si pengembara yang baru saja pulang.

Si pengembara yang mengusung karung yang penuh
dengan buah tangan. Bagi siapa saja yang dulu ditinggal di
lubang sumur. “Tapi. Ibu.” kata si pengembara, “mengapa
semua yang ada kini tinggal bekas?” Dan si ibu (yang tak
lepas dari geser sandal itu) cuma terdiam.

Tapi terus mengelus kening si pengembara. Elusan yang
entah kenapa dan untuk apa. Lalu sepasang laron dan tiga
codot terbang. Sedang, lima kambing di kandang seperti
bantal keriting yang bergerak. Tak ditengok. Hanya bibir
si penari menembangkan sesuatu yang kembali terdengar.

Dan kembali pula penonton gelap. Latar gelap. Dan si
waktu, ya, si waktu, tiba-tiba mengurai wujudnya sendiri.
Untuk kemudian menyusunnya balik. Dalam bentuk ember
yang penuh kelenjar ungu. Yang sebelum panggung ditutup,
setiap penonton mencelupkan kakinya ke ember itu.

“Ibu, Ibu, aku melihat, ada jejak-jejak ungu yang tiba-tiba
bertebaran,” potong si pengembara dengan sedikit tersedak.

(Gresik, 2014)

 
Tutul

Dulu, setelah dibersihkan, bumi tampak elok. Air pun
mengalir. Gunung berjejak. Angin bertiup pelan. Dan
yang jalan, terbang dan berenang dibiarkan bertempat.

Dulu, setelah hari berganti, ada juga yang membuang
warna. Semula cuma tutul kecil. Lalu membesar. Dan
berpusaran. Mengingatkan pusaran kaki badai dan topan.

Dulu, setelah pusaran kaki badai dan topan reda, bumi
elok jadi kelabu. Malam jadi agak berat. Relung terbuka.
Dan gua dan terowongan jadi memanjang dan telanjang.

Dulu, yang berdiri tegak, pun segera belajar menunjuk.
Menggaris. Memetak. Lalu menjinakkan si mamalia
untuk dihela dan ditunggangi. Juga dinikmati susunya.

Dulu, dan dulu, dan dulu, mulailah perembutan itu. Dan
bumi elok pun disergap gerhana, gempa, bandang. Juga
bergantinya yang awal menitah dan yang dititahkan.

Atau yang mesti terusir dan mengusir. Atau yang tidak lalai
mengetuki pintu-rumah-depan sebagai pengingat. Tapi,
sayangnya, kami selalu acuh tak acuh, seperti hasrat kisut.

Yang pelan-pelan mengerut. Dan perputaran di punggung
kura-kura tua yang oleng.

(Gresik, 2014)

 
Weton
: cerita mirammastra

Jika esok malam laut pasang datang, tolong pandanglah
dengan jelas. Sebab, pada laut pasang, aku akan
menyerahkan umurku. Umur yang telah terpakai. Umur
yang berkibar. Seperti kibaran bendera yang tertancap di
karang. Karang keling yang disorot cahaya. Cahaya kuning
keemasan.

Dan jangan terkejut, jika di saat yang tak terduga, akan ada
si buaya putih yang menyembul dari laut pasang. Si buaya
putih yang punya kelebat aneka warna. Si buaya putih yang
bahagia ketika memasuki meja pengorbanan. Meja sesaji.
Meja yang penuh dengan bunga, beras, buah dan bumbu.

Seperti kebahagiaan si wanita ketika menyerahkan
miliknya pada si lelaki impian. Meski (setelah itu), arah-
arah ombak tetap saja terambing dan terguncang. Dan para
pelayar, para pelayar yang hebat sekali pun, hanya bisa
melayari sambil menjambaki rambut sendiri.

Padahal, si empu batas-muasal-lautan selalu demikian
dekat. Seperti dekatnya urat pada leher. Urat yang selama
isi perairan dan perabotannya dijaga, tak lelah meniupkan
denyut. Lalu, seperti penanti yang melabaikan sapu
tangannya di pantai, tolong lambaikan juga sapu tanganmu.

Biar nanti setelah aku serahkan umurku pada laut pasang,
selalu ada ingatan: “Jika apa yang ada, tidaklah pernah
cuma-cuma. Meski itu, untuk sebuah penyerahan.”

(Gresik, 2014)

 
Gandum

Dia adalah keturunan kedua-belas dari si penjaga kitab.
Kitab yang mengajari siapa saja agar mempercayai yang
gaib. Juga meluruskan arah kiblat agar sampai pada hasrat.
Dan dia juga yang menyambung bisik. Tentang sepiring
gandum bagi si buta yang galak. Yang tak bosan mencaci
maki si hati dunia. (Padahal, si hati dunia telah menyamar
jadi si lain. dan menyuapinya setiap pagi dengan penuh
adab). Sepiring gandung yang akan ditukar air mata. Ketika
si hati dunia wafat. Dan ketika si buta galak tahu, jika si
lain, yang telah menyuapinya setiap pagi itu, tak lain adalah
si hati dunia sendiri.

Dan aku bertemu dia pada sebuah siang. Di sebuah pantai
tradisional. Dan dari jenggotnya yang lembut, aku merasa,
dia juga yang dulu membuat perahu yang teberkahi. Lalu
mewarnainya dengan hijau, biru dan kuning. Dan
membiarkan buritan agak lapang. Tempat sujud bagi kening
setelah dihantam ombak. Akh, betapa rahasianya jika
sudah di tengah keluasan? “Apakah kau juga suka berburu
ikan?” itu tanyanya padaku. Dan aku mengernyit. Mengapa
kok berburu? Mengapa tidak menjaring atau memancing?
Entahlah. Tapi, aku tetap mengangguk.

Lalu, dia tersenyum. Dari senyumnya, aku melihat seekor
ikan raksasa melompat. Perutnya yang lebar terlihat
tembus-pandang. Dan terlihat apa-apa yang ada di
dalamnya. “Berburulah. Dan cari tahu apa yang ada di
dalam perut ikan itu,” tambahnya. Terus lenyap.
Meninggalkan aku yang sendiri. Aku yang tercekat. Dan
aku yang langsung menebak: Apa sebenarnya yang ada di
dalam perut ikan itu? Makhluk hidup ataukan sekerumunan
renik? Atau cuma semacam sisa makanan yang tak terurai?
Atau malah sebaris doa ampuh, yang dulu pernah
Dilantunkan oleh pelari?

Hmm, ini tentunya tebakan yang tak biasa. Dan barangkali,
si buta yang galak yang dapat menjawabnya. Si buta yang
kini kerap aku temui di sudut kampung. Dengan air mata
terurai. Dan dengan kepiluan seperti ini:

“Wahai, si hati dunia, kapan lagi kau datang padaku dengan
sepiring gandum?”

(Gresik, 2014)

 
Mardi Luhung tinggal diGresik, Jawa Timur. Buku Puisinya, Buwun (2010). Mendapat Khatulistiawa Literaty Award 2010.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 23 Maret, 2014

 

Written by Puisi Kompas

Maret 29, 2014 at 1:45 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARDI LUHUNG

with 2 comments


Bukit Gelap

 

Ada bukit gelap yang muncul di perumahan itu. Bukit gelap

yang tak bisa diam. Bukit gelap yang rasanya ingin berjalan.

bukit gelap yang gelisah.

 

Dan ada kaki yang ke luar di bawahnya. Kaki berjumlah tiga.

Kaki panjang yang lentur. Bergerak-gerak seperti gerakan

belalai gajah.

 

Dan ada sekian orang melihatnya. Salah satunya malah

berkata: “Apa ini yang disebut hari akhir. Ketika yang baik

akan diangkat. Yang buruk disisakan.”

 

Dan sekian orang itu mencari matahari. Menelisik dan

menduga: “Jangan-jangan matahari nanti akan selurup di

sebelah timur. Jangan-jangan.”

 

Ada perdebatan yang tiba-tiba menebah. Tapi bukit gelap

telah berjalan. Tiga kaki panjangnya bergeliyutan. Tapi tak

merusak.

 

Lalu ada sekian orang yang mengikutinya. Menyapa dan

melambai. Dan sesekali mengiba: “Pemilik hari akhir

selamatkan kami dengan sukacita!”

 

Bukit gelap tak menggubris. Tetap berjalan. Bentangan

angkasa pun ditutupinya. Burung-burung yang terbang

digusahnya.

 

Dan waktu itu, sekian orang yang mengikutinya makin

berhasrat. Malahan, ada yang berkotbah. Berkotbah tentang

keselamatan dan kesengsaraan.

 

Juga pahala dan dosa yang tak terduga. Serta sorga dan

neraka yang segera dijelang. Segera dibuka atau ditutup.

Dengan kunci yang mesti dicari.

 

Dan ketika sore tiba, ternyata matahari tetap saja selurup di

sebelah barat. Bukit pun tetap berjalan. Sekian orang

yang mengikutinya bertambah panjang.

 

Padahal, di perumahan yang ditinggal itu, kembali muncul

bukit gelap yang lain. Bukit gelap yang lebih mungil. Dan

berjumlah sebanyak yang kau ketahui.

 

(Gresik, 2013)

 

Maret

 

Pada batu yang bertulis satu nasibnya sendiri

Aku letakkan satu nasibku yang juga sendiri

 

Waktu adalah pipi lautanmu yang membentang

Yang menjadikan aku menyelam dan berenang

 

Dan pada batu itu aku kelupas sekujur kulitku

Juga daging, otot, lemak dan dua-puluh kukuku.

 

Kau: mengapa selalu menjadi jejak-yang-sia

Mengapa pula selalu nganga-lubang-perkasa?

 

Dan bintang-bintangmu yang terbaur di angkasa

Bintang-bintang tang tak mempan diubah paksa.

 

(Gresik, 2013)

 

 

 

Menyapa Mardi

Kembang ganjil yang berkelopak seperti pedang. Merah

merekah di tanah. Di sisinya rumput. Di sisinya lagi kembang

ungu agak wangi. Lalu di atasnya kembang berduri di dalam

pot. Digantung kawat. Dan di atas kawat, ram-raman besi

dirambati anggur.

 

Kembang ganjil menetap anggur. Segera saja menulis sajak

pengharapan. Lalu si peri mungil sekecil kumbang datang.

Sayapnya bening. Punggungnya menyala. Seperti mengusung

nyala lilin. Si peri mungil hinggap di kembang ungu.

 

Juga di kembang berduri. Tapi tak di kembang ganjil.

Waktu itu, angin bertiup agak kencang. Si peri mungil pergi.

Dan waktu itu juga, si empu anggur lewat. “Ahai, menggoda

benar.” Terus dipetiklah anggur. Dipetik sampai habis.

 

Sejurus kemudian, kembang ganjil (yang baru saja selesai

Menulis sajak pengharapan) melihat anggur sudah tak ada.

Terkesiap. Dan kelopaknya yang seperti pedang pun

Menusuk dirinya sendiri. Sekaligus sajak

pengharapan.

 

Dan sajak pengharapan yang tertusuk itu melesat ke angkasa.

Diurai oleh udara: “Hiruplah!”

 

(Gresik, 2013)

 

 

Nanti

 

Kau mendirikan rumah. Aku mendirikan rumah. Rumahmu

dan rumahku berhadapan. Seperti kekasih yang saling tatap.

Dan sesekali merajuk dan melengos. Lumrah.

 

Pintu dan jendela rumahmu terbuka. Begitu juga pintu dan

jendela rumahku. Dan dari sana aku mengintip dirimu. Apa

kau memasak, membaca atau memasang foto? Sayangnya tak

jelas.

 

Dan pernah di suatu pagi rumahmu terkunci. Lampunya mati

sejak malam. Guguran daun dan sampah bertebaran. Kenapa

tak kau sapu? Apa kau sakit atau berpergian? Rasa cemasku

menebal.

 

Ah aku, begitu liar menggambarkan setiap depa dirimu.

Dirimu yang diam-diam ingin aku masukkan ke kotak kaca.

Aku pajang di beranda rumahku. Lampunya aku biarkan

kedap-kedip.

 

Dan aku memutarinya sambil menebak. Tentang waktu

mendatang. Waktu aku sudah tua. Dan selalu gagal menulis

sajak kenangan. kenangan tentang kita. juga tentang

rumahmu dan rumahku.

 

Yang kerap membuat aku menceburkan kepala sendiri ke bak

mandi. Agar dapat melepaskan semua hal yang ada

tentangnya. Sebab nanti, pastilah, akan ada yang menjadi

perhitungan yang tak meleset.

 

(Gresik, 2013)

 

 

Sedap Malam

 

Semalam aku bermimpi memakan sekantung manisan.

Paginya aku benar-benar memakannya dengan lahap dan

hati-hati. Semalam yang lain aku bermimpi pergi ke pasar.

Paginya aku berdesakan di los kecambah dan bawang. Dan

semalam yang lain lagi aku bermimpi mendaki bukit. Paginya

aku melepas penat di antara cemara dan tanda untuk terus

mendaki. Dan semalam, semalam yang lain lagi aku

bermimpi yang lain dan lainnya. Dan paginya semua itu aku

alamai. Memang begitu banyak mimpiku. Begitu banyak yang

terjadi. Semuanya saling terbuka dan terbentang. Dan

semuanya seperti kawan sejalan. Ada yang setia. Ada yang

jauh. Dan ada yang diam-diam membuntut. Tapi seketika

segera menyerimpung ketika ada tempat. Seperti kisah si

pecinta yang menyerimpungi yang dicintai sampai tiga kali.

Padahal sebelumnya berkata: “Aku ingin bersamamu ke

mana saja. Seperti asap yang mengikuti api. Atau api yang

mengikuti minyak.” Semalam, ya semalam aku bermimpi

lagi. Dan kali ini, mimpiku itu juga bermimpi dan bermimpi.

Dan di dalam mimpi-mimpinya mimpiku itu, aku mendengar

sebaris bisik: “Izinkanlah kami terus bermimpi. Sebab di luar

semuanya, kami telah mencucuk kedua mata kami, agar tak

lagi terbangun.”

 

(Gresik, 2013)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik,

Jawa Timur. Buku puisinya,

Buwun (2010), mendapat

Khatulistiwa Literary Award 2010.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 7 April 2013

Written by Puisi Kompas

April 8, 2013 at 4:35 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MARDI LUHUNG

leave a comment »


Mentari

 

Aku tak pernah mencintai dan dicintai. Sebab,

sebagian hatiku telah hangus. Sebagian yang lainnya ratak dan bolong.

Sedangkan, apa yang menjadi urat-urat pendukungnya pun

tak lebih semacam saluran yang mendengung. Yang ketika

kupingmu kau dekatkan keujungnya, terdengarlah napas itu.

Napas berat yang mendesak-desak. Napas berat yang begitu

menggiriskan. Dan begitu membuat siapa saja yang turut

mendengarnya, akan merasa mendengar lenguh ternak

sebelum dijegal. Dan aku juga tak akan tersenyum. Sebab,

senyum bukanlah bagian dari bibirku. Bibir yang terus

mengetam dan mengeram. Mengeram ketika depa garis

aku tambahkan ke peta siasat itu. Atau ketika depa garis

lawan yang ada di depanku merengsek. Sambil tak lupa

merenikkan apa yang telah aku pasang dengan 20 jari. Terus

menerbangkannya seperti terbangnya serbuk-serbuk mandul

yang akan jatuh di tanah kering. Tanah yang dulunya pernah

menjadi pijakan si ular saat menggoda si pertama untuk

berbelok-belok. Terus menghujah: “Tuanku, Tuanku, betapa

sepinya dirimu. Dan betapa sendirinya apa yang kau miliki.

Tapi mengapa tetap saja kau lemparkan dadu ke arah

mangkokku?”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Raja

 

Dan inilah aku si tuanmu! Si duna dunia. Dunia darah: “Hitam

dan putih.” Dua dunia arah yang saling berkacak-pinggang.

Juga saling memanggil dan mengerdip. Melambai dan

berkirim kabar. Tapi tak saling belai. Hanya menjelaskan:

“Jika di antara keduanya terbentang bengawan yang lebar.

Begawan dan dangkal.”

 

Bengawan dengan gelombang tinggi. Juga ikan-ikan

persegi jangkung yang saling selip. Dan saling membuka apa

yang telah terbekas sebagai luka. Sebagai hal yang selalu dan

selalu minta perhatian. Sebab, tak ada yang akan mengobati.

Kecuali diri sendiri. Kecuali apa yang telah lama menjadi

ingatan.

 

Ingatan: “Jika salah satu dari dua dunia arah itu runtuh. Maka

melesap ke udara. Dan meski tak tampak, tetap saja akan

terasa.” Dan tetap menghadirkan batu gelap, di malam gelap,

di bangsal yang gelap. Batu gelap tempat siapa saja bakal

telentang. Dan jika ada untung akan mampu memilih mimpi.

Mimpi apa saja.

 

Juga mimpi ketika Maut mesti datang lebih cepat. Atau

malah menunda sampai semua semuanya bersiap dan siaga. Sambil

memejamkan mata. Dan membau aroma sekian kembang

yang tumpang-tindih. Aroma melati, mawar, kamboja dan

kenanga. Aroma yang tak bosan menyelip ketika tetes air

jatuh di wajahmu.

 

Wajah yang untuk pertama kali tak mau becermin.  Cuma

berharap menghadap ke arah kedalaman. Kedalaman tanah

dan lumpur yang begitu rapat tak berlorong. Begitu sesak tak

berjendela.

 

(Gresik, 2012)

 

 

Empat Kuda

 

Di pelataran milikku yang berdegup kau geserkan benderamu.

Cuaca mendukung. Dan juru ramalmu yang bertopi dan

berteropong kerucut pun menyurut. Seperti akan meminggir.

Seperti akan menyingkir. “Aku bukan ingin menyergapmu!”

teriakmu dari arah yang entah. Dan aku merasa, ini adalah

awal mula kita akan berangkulan dan berkecupan: Memang,

sudah terlalu lama kita menyiagakan apa-apa yang menjadi

siasat. Sampai tak tahu, jika Maut yang bergelantungan di

angkasa itu telah bosan. Dan ingin segera berlalu. Sebab sabit

besar yang selalu diusungnya sudah terlalu kelabu. Perlu

segera dicuci dan dibilas agar balik mengkilat.”Ayo, kemari,

kemarilah dengan kepolosan!” teriakku balik padamu. Dan

bertepatan dengan itu, entah mengapa, pembukaan empat

kuda yang telah lama kita siapkan (dua kuda milikku dan dua

kuda lainnya milikmu), seperti ingin melepaskan tali-tali

kekangnya. Terus menari, mengecak dan meringkin di seputar

unggun yang tersisa. Memanggil siapa saja yang sedang

merapikan denyut-denyut jantungnya. Denyut jantung yang tak bosan

meminta: “Agar langkah rahasia yang akan datang, yang

tersimpan di amplop itu tak akan terbuka. Dan tak akan

terbaca sebagai takwil kejutan yang miring. Semiring tengkuk

si terpilih di hari perayaan korban yang tergenapi.”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Sekak Mati

 

“Sekak mati!” katamu. Dan itu membuat dadaku berdegup.

Dan itu juga membuat jantungku mengerut. Terus memipih.

Mengeliat dan menjulur seperti tali yang luwes. Yang jika

boleh disebut, lebih dekat ke ular daripada ke belut.

 

Dan sebagai yang lebih dekat ke ular, jantungku yang

menjulur itu memasuki setiap lubang yang ditemuinya.

Seakan mencari sesuatu. Sesuatu yang dianggap dapat

mengembalikan wujudnya ke sediakala. Tapi apa itu mungkin

bisa?

 

“Sekak mati!” katamu lagi. Dan untuk kali ini perkataanmu

memantul di antara tembok, tiang dan menara. Menimbulkan

kebisingan yang bertumpuk. Yang membuat jantungku yang

menjulur itu tergeriap.

 

Dan berpikir: “Kebisingan apa ini? Mengapa begitu

mendorongku untuk melenggokinya?” Tapi, sebelum antara

melenggoki dan sebaliknya terjadi, jantungku yang

menujulur itu malah melirik ke atah rajaku.

 

Rajaku yang kini sudah seorangan. Rajaku yang membasuh

semua luka ditubuhnya. Rajaku yang telah melepaskan

mahkota dan jubahnya. Juga keyakinan dan segenap

pengetahuan yang telah menjaganya.

Dan pelan-pelan, seperti ada yang mengatur, gerimis pun

Di seputar tempat rajaku berdiri. Berdiri dengan kedua

kakinya yang telanjang. Dan demi waktu, sekak matimu yang

telah dua kali kau katakan itu, segera menggilasnya.

 

(Gresik, 2012)

 

 

Rehat

 

Tak ada yang bisa menduga. Apalagi meramal atau menebak.

Kapan kau akan memainkan lagi permainan caturmu.

Memegang tengkuk cumcum atau punggung benteng. Terus

menyelipnya di lorong yang berkelok dan berkabut.

 

Hanya kabar yang datang-pergi yang menjelma maket.

Dengan garis-garis putus. Dengan petak hitam dan putih.

Petak yang besar atau kecil. Petak yang sendiri atau

bertumpuk. Dan sebuah tanda-tempat: kamar bawah tanah.

 

Dan di bawah kamar bawah tanah itu kau berdoa dan berbicara. Tapi

pada siapa? Mungkin pada hatimu sendiri. Atau pada hati

yang lain. Yang kata sebagian orang, milik para penantang

yang menantang permainan caturmu.

 

Para penantang yang kau libas. Sampai apa yang dipersiapkan

Pun berjatuhan. Seperti berjatuhannya sekian patung berkaki

lempung. Patung dan kepala berhelm dan dada

berseragam. Tanda siaga. Tanda lengah. Tanda jengah.

 

“Aku di kamar ini saja. Biar tak bertambah yang kau libas!”

selamu. Dan di kamar bawah tanah itu, semua pion (tentunya

pionmu) pun merubungmu. Mata mereka meletup. Seperti

letupan matahari yang cuek. Matahari yang melintas.

 

Matahari yang dulunya adalah medali yang disihir. Sebab

membuat setiap yang melihat ingin merebutnya. Lewat siasat

yang gesit. Yang sengit. Yang sengit. Dan yang setiap

menunding selalu ada saja yang terbanting dan terguling.

 

“Sekali lagi, aku di kamar ini saja!” selamu lagi. Dan kamar

bawah tanah tempat kau berada pun terguncang. Seperti ingin

melayang. Seperti ingin menghilang. Seperti ingin melenyap.

Dan seperti ingin tak menempati apa-apa.

 

Padahal, setiap yang di luar kamar (pengagum atau

Pengintai), telah lama menantimu. Dalam antrian yang

Memanjang . yang ketika dilihat dari ketinggian, tampak

begitu warna-warni. Sewarna-warni ular-langit yang turun

dan menggelosor.

 

Ular-ular yang juga berhasrat pada tanya: “Kapan, kapan

kau akan memainkan lagi permainan caturmu?”

 

(Gresik, 2012)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Tengah.

Buku puisinya, Buwun (2010), mendapatkan Khatulistiwa Literary Award 2010.

 

KOMPAS, MINGGU, 23 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 28, 2012 at 12:38 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: