Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Ferdi Afrar

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »


Getik Ikan Bethik

                     di kali jambe

 

mataku genangan mata air tawar

sirahku kuncung mekar merengkuh luar latar

 

sisikku mantel silap penyamar pandang

punggungku pun hijau ganggang pengecoh

 

senar para penjoran. getik manggar,

getik pelepah gedang, getik batang merang

 

getik apung kiambang, getik kangkung lanjaran

getik lumut akar poh bapang, sebab lagakku Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Agustus 1, 2016 at 12:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »


Luweng

 

berilah kami sepasang kaki, sergahmu

sebelum kau kian berkibar-kibar menjilat

pantat dandang dan asapmu meninggi

di bedeng utara.

 

menyalalah sebagai api pediangan,

saat remang perlahan langsir ke huma

dan berudul awan itu membuat

dahan dan pedukuhan tampak sekedar

bayang-banyang.

 

maka setiap muslihat hawa buruk

akan begitu mudah masuk dan menyamar

sebagai lelaki budiman dengan karung

dan gunting terkapit di pinggang.

 

bila sunyi kerlip lintang tersunggi di pelataran

dan rembulan seperti pijar kekunang,

tiba saatnya bocah-bocah mengitari pokok gayam

sebagai ular naga penunggu rumah.

 

sebelum para pengusung itu tiba

menuruni lembah sebelah barat dengan

sepasang kaki tunjang, melintasi rincik ngarai

dengan langkah goyah.

 

dua puluh tiga depa sebelum beranda

ketika sepandang pepohonan, reranting daun

tampak seperti kalibut, akar menjuntai

seperti pukat waktu. tanah merekah seperti

lindu. maka berkobarlah membakar setiap

sangsi di pelintasanku.

 

Resapombo, 2013

 

 

 

Sangkal Tulang

dari eyag wage

 

aku memasuki duhai pemilik lara, rebahlah

bayangkan dirimu seolah gombal terhampar

teguhkan badan senikmat kesiur daun pandan

 

ihklaskan sepenuhnya, kau dan aku tertangkup

berpilin ngilu dalam jerit tulang beradu

memiuh lebam, menyelaraskan yang sempal

 

mula urut ini berkisaran pada pangkal cedera,

pada segala yang memuntir dan patah. selingkaran

hitam-getar yang tak lagi berurat pada akar

 

pokok yang telah lama purna tunaikan kodratnya,

pun susunan yang telah remuk muasalnya

goyahlah! genjurlah!

 

suwuk ini tak sekedar berpantang gerak

dan kau seolah menerima sabda mustajab

dari arah kertap atap yang bergoyangan.

 

kau dan aku akan terus sabar terjaga,

menjaga damar yang kian bimbang

antara meredup atau cerlang perlahan

 

dan pekikmu makin aus tersedak

di kerongkongan. aku pun terus membalik

dan memutar menggenapi daya kekar kesembuhan.

 

Resapombo, 2013

 

 

Sambiloto

resep untuk meyda

 

peram tekam seluruhku, resap perih pahitku

hingga cerlang perlahan dalam wadahmu

rupa lumut hibuk terjerang ruap angus.

 

kucak peramuku, kucak segantang pesona

setugal kunyit dan menir moyang susup sudah,

sekuyu seduh sedesir bimbang di dadamu.

 

akan luruh, merupa dahi kuali tanah

dijenjang batu bata berpagut gelembung

membumbung ke udara.

 

lekas gayung siapa yang limbung,

sesap setakar tiga perempat cawan

setelah bersantap riang.

 

diamkan segala yang telah melumat

menyusup redup ke lambung.

susut jadi getah, menanjak jadi tulah.

 

dendang gending pelafal mantra

hadang yang hendak menugal tulang,

menghalau urat sempal.

 

Sumokali, 2013

 

 

Kobra

            Menonton film The Indian Tomb 1959

 

keluarlah dari buntelan gombal tuanmu, merayaplah

pun menyelinaplah ke amben pekebun itu

tunaikan kodratmu menggembur-hangatkan kedalamanku.

 

aku sarang peraduanmu, dengan lebar kepung sisik kerang

pun rerumbai cadar menyimpan rahasiaku terdalam

 

aku ada dua gundukan kembar dengan celah karang yang menghempas

tariklah, tariklah kekang kuda pacuanmu yang trengginas

 

jangkar kencang tampar, bukankah kau kerlap lantang

sesiku kursi temali kusir bendi pejantan pilihan

 

dedangkan bebunyian ritmis kendang dan seruling putih gading

itu membikin malam kian agung. aku pasrah menerima dua kuncup

cucupmu yang libas.

 

Sumokali, 2013

 

 

Tapak Liman

resep dari mbah gito

 

akulah gulma, karib liar tak menjalar

nektar yang mengudup rahasia.

 

batangku mendongak lantak

dendang lebah pantunkan hikayat.

 

pucukku mewiru ungu

si pelantun peruwat nafsu

 

tanganku helai terjerembab tanah

seperti pendoa yang merapal khasiat.

 

genggamlah aku, secupak daun secupak madu

perut aku bersama lesung alu,

 

pelan-pelan seliat sekebat adukan terjaga

bauran kuning telur, adas, dan gula merah.

 

ramu padu, lumat hasrat

dalam setiap ulekan peramunya.

 

peramut terwelu, peramut lembu

siapa merawat pegal di ladang dan bunga

 

cukupkan taguk aku, si pahit-sejuk ramuan lampau

yang akan membuatmu giras, tangkas, dan bergairah.

 

Sumokali, 2013

 

 

 

Nanas Kerang Ungu

setelah berkebun

 

seperti gerumbul penusuk bermata ungu

yang berjubah hijau di sekitar taman.

 

pembiak kuntum berparas kerang

berkulit putih melati semirip helai induk nenas,

 

petiklah bila kamu mengindap rasa panas

demam dengan goncangan di dada.

 

nyeri di hulu paru dan kerongkonganmu

yang membuatmu megap-mengkis,

 

mulut yang tak lagi merawi manis

mulut yang meliurkan aroma amis.

 

segeralah cukil daun dan bunga lantak buluhnya

segera potong-potong melintang,

 

kemudian cebur-kuyupkan di kuali tanah

dengan gelembung sedak air terjaga.

 

hingga matang pulen syaratnya

hingga khasiat tersadap sempurna.

 

sajikan selagi suam kuku,

kucurkan perlahan dengan bauran madu alam.

 

di atas ranjang, di atas talam

panjatkan bismillahisy syafi

 

sebelum kamu menyeruput perasannya

sebelum memamah daun,

yang mencairkan berudul dahaknya.

 

Sumokali, 2013

 

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Kini ia tinggal di Sumokali, Sidoarjo.

 

PUISI KOMPAS MINGGU, 6 APRIL 2014

Written by Puisi Kompas

April 8, 2014 at 11:47 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »


Taksidermi Kata

 

–          Meminjam Lukisan Berburu Banteng-nya Raden Saleh

 

keributan dalam celah kalimat sebuah sajak:

 

belum menutup benar matanya yang binal,

ketika kami menohokkan sebuah tumbak

ke pundaknya yang berlemak, seketika badan

segarnya terjungkal ke arah kanan.

dengan gemetar kami seret dagingnya

dari gelanggang, saat petang lenggang itu.

 

dengan kesabaran petapa, antara diam dan mendaras

kami menunggu yang hendak tampak bergegas.

menguar keras dalam bahasa. berkelebat dalam

benak, yang tersembunyi dalam alam rasa.

yang tiba-tiba menyerunduk ke arah muka,

kami mengelak-menjeratnya dengan kelihaian

pencak, sigap kuda-kuda.

 

di pendapa, badan sintanya kami gantung.

kami garit lambungnya agar pisah jeroan dengan

kulitnya. kami samak tampangnya agar bertengger

sangar dalam kaca. mengkilap dalam kalimat,

berkacak dalam sajak.

 

2012

 

 

 

 

Tualang Kopi

 

di lengan dedahan pokok

kami pentil tersabar, mendongak

dan melogok pada tingkap petang atariksa.

sambil merapal doa dan tafakur – akan segera tiba,

akan segera tiba meninggalkan muasal menuju tualang.

sungguh ini tak sekedar perjalanan ketertundukkan.

seperti suratan pengembara tersedak buah

pada jakun dan payudara. atau ngilu leher

kambing kurban pada meja persembahan.

 

akan segera tiba mereka menjemput,

yang mengasah taring dan pisau kuku

dan memburaikan liur geraham.

yang berkelebat pada gelap samar bulan,

seperti mekar kelelawar yang menawar rasa lapar

atau cakar musang mengintip daging merah pilihan.

mencicipi manis-getir sari sari.

 

maka kami jalani kodrat tamasya

dalam kerongkongan dan jeroan.

atau kami akan tengadah dalam jemuran pekebun,

merelakan sebagian dari badan disesap matahari

hingga kisut-kusut langsai. hingga sampai-sampai,

 

di tangan pekebun itu kami tergelincir

di pinggir tubir ujung jari asap limpahan

penuhi wajan penggorengan dan seisi bedeng.

masak-masak! gulingkan gulingkan.

agar bara blarak hantarkan gurih menir,

dan cukilan kambil merasuk ke daging.

sutil yang meratakan uap panas tungku

menguningkan kuku dan mencoklatkan kami,

yang kian renyah terpanggang dan meronggong.

 

adakah gosong telah menjadikan kami hamba

bebijian tabah yang terpilah dalam tampah,

akan sempurna dalam penggilingan atau

tumbukan lesung alu.

 

sungguh kami telah girang terhidang dalam perjamuan,

bersamamu, ketela goreng dan serbuk susu

dan seseorang di seberang yang bersikeras

menulis sajaknya yang kian gagu.

 

2012

 

 

Genduk

 

engkau yang kerap membuat cemas,

gumukmu menyaji lugas

 

kami yang tertahan di ujung ubun,

yang mengencangkan panggul

 

engkau sabetan kuas nan lancip

melengkung ke tingkap birahi

 

kami pemain harpamu,

menyentil senar ke ujung susup

 

engkau gerigi yang diselipi kantil,

juga kenanga yang merawat rahasia

 

kami perajin gerabah,

mengaduk liat hasrat ke ujung mega

engkau selapis ketan,

yang tersaji klimis dengan parutan

 

kami jemari yang mengelus pelan,

lembah bakung mahkotamu

 

engkau irisan pepaya,

yang menghenyakkan watas purba

 

kami pengendara tersesat,

di ujung sempit alis matamu

 

2012

 

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Buku puisinya

adalah Sepasang Bibirmu Api. Bermukim dan bekerja di Sidoarjo,

Jawa Timur.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 3 MARET 2013

Written by Puisi Kompas

Maret 5, 2013 at 5:00 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: