Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘ISWADI PRATAMA

PUISI ISWADI PRATAMA

with one comment


Lanskap

di rumpun perdu

mimpi sebutir batu

warna jernih pagi

datang kepada tepi

tak berkata,

tercerap cuaca

 

 

di bentang laut malam

bulan berenang

cahaya keperakan

kegelapan pecah

empasan gelombang

sayap-sayap api

 

 

lalu biru kembali

seperti pagi.

 

 

Jalan Setapak

engkau jalan setapak di pinggiran tanjungkarang

meliuk di pinggang bukit, lempang di landai pantai

rumpang-lesuh di kampung kumuh

 

 

di minggu pagi,

orang-orang, sebagian kecil orang di kota ini

merayakan akhir pekan, melintasimu sambil menduga-duga

 

 

seberapa dekat ujungmu pada tanjung

seberapa hampir tubirmu pada pasir

seberapa hirap harapmu pada lanskap

 

 

tapi bagi para peronce perih

engkau tak lain rima di runcing lidah

syair yang gampang menggerung getir

 

 

umpama buku, sampul mereka kuning belaka

terlalu ricu pada sandi sebab takut terduga

bila luka, merah mereka meraih rona

 

 

maka datang lagi aku ketika mereka lelah-jemu

di hari-hari sibuk, di terik tarikh

mengetam kerak ngilu sekujurmu

 

 

engkau jalan setapak yang mengantarku

ke hutan di pinggiran tanjungkarang

hutan yang belum pernah mereka temukan

 

1 Agustus 2012

 

 

 

Hermes-Inggit

 

Apakah yang telah memautkan kita selain kata

Seperti darah ketika mengungkapnya

mengoyak tabir tubuh; celah bagi seberkas cahaya

Huruf demi huruf disepuh

api pemanggang dinyalakan

 

 

Bagi penyair, setiap kata prahara belaka

Pengembara jalang menjelajah

Lebih jauh dan lebih hancur

Sebab hanya dalam wujud remuk redamnya

Menjadi patut diucapkan

 

Bandar Lampng, April 2012

 

 

Gunduk

aku pati pohon jati yang padu

tak lunak namun belum batu

coklat yang hampir gelap

terkucil di kebun ini

 

 

aku hampir dihapus humus

lalu dikemas para rangas

diberi rongga dan ruas

 

 

tapi entah mengapa

rerayap itu pergi

ke bawah pohon turi

 

 

lalu aku kosong

 

 

sesekali semut putih dan ular datang

cuma numpang bermalam

atau mampir dalam perjalanan

 

 

engkau kelembak

dulu bermukim di sini

ketika masih kepompong

 

 

tapi seperti ana-anai

engkau pergi setelah lengkap sayap

dan aku abai

 

 

aku terlanjur mengasihimu duhai kupu-kupu

sebab kukira engkau selonsong semata

rupanya selubung itu hanya selimut

bagi bapakmu yang lagi beringsut

 

 

kepak yang seperti sepasang layar

membawa perahu jauh

dari bocah ditepi telaga itu

 

 

tetapi lelaki kecil itu tahu

biduk akan kembali

dan ia menunggu

 

 

dan aku tak mengerti

bagaimana menanti

sayapmu indah di atas sana

meski waktumu singkat belaka

 

 

tak ada nektar padaku

selain bau getah kayu

dan busuk perdu

 

 

dan lihatlah,

pemilik kebun ini tengah merambah tanah

ia sangat berhasrat oada setiap gunduk

ingin seluruh permukaan tampak rata

 

 

demi buah buah

demi bunga bunga

 

 

dan engkau memang cemerlang di sana

 

Juli 2011

 

 

Kurban

 

1.

makin putih engkau kini

pisau yang peran berjaya

menciptak liang luka di tubuhku

 

 

kukira telah pada hasratmu

setelah punah darah

setelah belulang belaka padaku

 

 

betapa bersinarnya engkau ketika itu

betapa terbujurnya aku

 

 

engkau tangkas mengupas

fasih mengemas

nyeri hingga ke ulu hati

 

 

memang pernah aku cemas

rasa sakit tak mau tuntas

tapi tak sekali gentar aku

pada sangar hasratmu

 

 

terhadap meling-runcingmu

sungguh, tak kutundukkan mataku

 

 

berilah aku jeda sebentar

hendak kuterangkan kulitku

akan kupejalkan daging-dagingku

agar lebih mujur nasibmu

 

 

2.

Kami tahu,

ini bukan pertarungan

melainkan pembantaian

 

 

kami hanya akan menetapkan suatu ukuran

tentang seberapa keji sebuah tikaman

seberapa perih sayatan

 

 

ia akan terseok seperti dulu

bersimbah luka melulu

tapi ia akan sembuh dan kembali dipersiapkan

 

 

kami datang untuk selalu memastikan

masing-masing makin matang

 

 

3.

Jangan gegabah menduganya

ia tak belajar sabar semata

tak cuma mahir bertahan atas luka

ia makin waspada dan tak terkira

 

 

setelah berulang kali kurajang ia

tak kudengar lagi raung regang

atau sekedar sedu

hanya hening menggema

 

 

kukira ia akan tak tersentuh kini

meski aku telah sehalus cahaya

 

 

Juli, 2011

Iswadi Pratama lahir di Tanjungkarang,

Lampung, 8 April 1971. Buku puisinya ber-

Tajuk Gema Secuil Batu (2007)

 

KOMPAS, MINGGU, 16 SEPTEMBER 2012

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 17, 2012 at 5:09 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: