Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Oktober 2012

PUISI AVIANTI ARMAND

with one comment


Tentang Sebuah Rumah

 

Perempuan itu masuk ke dalam ruang yang kosong dan berkata:

Mari kita mulai tinggal di sini.

Laki-laki itu menggelang dan menjawab:

Ruang ini bahkan belum menjadi ruang, ia hanya sesuatu yang

kosong.

*

Perempuan:

Mengapa kamu membangun dinding di sekeliling rimah kita?

Laki-laki:

Agar ia jadi sebuah rumah. Bukan dua buah.

*

Setelah dinding di sekeliling rumah beridiri, laki-laki itu merasa aman.

Di dalam, ia tak harus melihat kebenaran.

*

Perempuan:

Katakan sesuatu.

Laki-laki:

Aku tak punya apapun yang bisa kukatakan.

Perempuan:

Kamu bisa mengulangi apa yang pernah kamu katakan.

Dengan lebih sopan.

Laki-laki:

Dengan lebih sopan.

*

Laki-laki:

Aku akan menaruh kursi di dekat jendela agar aku tahu bila

hari telah malam.

Perempuan:

Aku akan menaruh malam di jendela agar aku tahu kapan

harus menaruh kursi.

*

Di ambang antara luar dan dalam, perempuan dan laki-laki itu berdiri,

Menghindari tatapan satu sama lain. Cuma di ruang tak bernama itu,

mereka bisa tinggal bersama,

*

Di balik selimut keduanya mematungm

Perempuan:

Aku ingin kita bersembunyi di sini dan berpelukan erat. Lalu

kita menangis.

Laki-laki:

Kita tak pernah memilih hidup yang seperti itu.

*

Jam kukuk. Kursi goyang. Matahari musim hujan. Karpet tua. Suara

burung hantu. Ruas-ruas jahe. Harum terpentin. Sungai kecil. Humus.

Layang-layang putus. Gerimis. Tawa anak-anak.

*

Lelaki itu menyingkirkan daftar panjang “perabot”:

Rumah ini sudah sesak untuk kita berdua.

*

Setelah rumah itu ada teras, halaman, jalan setapak yang menembus

belukar, dan kesepian.

*

Ia berdiri menempel di dinding pagar dengan tangan laki-laki itu

Menempel ke pipinya.

 

Laki-laki:

Kamu bisa merasakan tanganku?

Perempuan:

Ya.

Laki-laki:

Kamu tahu kalau ini aku?

Perempuan:

Tidak.

Laki-laki:

Sekarang kamu mengerti maksudku.

*

Hampir jam empat pagi dan keduanya masih terbangun. Ketika

kedengaran suara truk di kejauhan, sekali lagi mereka tahu, mereka telah

jadi tamu.

*

Apakah kita telah melupakan sesuatu yang penting?

 

Keduanya terbaring, menatap langit-langit, mencoba mengingat siapa

yang telah bertanya.

 

September, 2012.

 

 

Di Cafe

 

Di mejaku secangkir teh tersedu.

Teh itu sepanas matahari.

Aku menggunakan kacamata hitam untuk menahannya.

Seandainya di luar ada sebatang pohon peneduh,

tentu aku bisa pulang.

 

Oktober, 2012.

 

 

Di Patio Itu

 

Patio itu punya segala hal yang dia butuhkan

untuk bisa hidup dengan baik:

oksigen, cahaya, dan sudut yang tepat

untuk menunggu.

Ingatan yang negatif telah dicetaknya

jadi lembar-lembar positif di pangkuannya.

Tatapan murung. Expresi bosan.

Tak ada yang akan percaya.

Katanya:

“Kita perlu latihan untuk bisa bersedih

dengan menyakinkan.”

 

Oktober, 2012.

 

 

Seperti Biasa

 

Seperti biasa,

kita terdampar lagi

pada chorus terakhir sebuah karusel

dan satu malam sepia;

 

Tempat ini mungkin telah memilih

memorinya sendiri;

bulan di kubangan

dan deret bohlam kusam,

kuda-kuda kayu letih

dan rasa perih mimpi

yang mengelupas

dari tidur

musim panas.

 

“Yang hilang dari pagi

adalah mimpi kehilangan,”

 

tulismu, pada sebuah pesan pendek.

 

Barangkali kamu, aku,

belum bosan berotasi.

Poros ini memang pernah

melontarkan kita

ke dingin dinding batu

lorong-lorong medina

yang tertahan dalam

sepasang sepatu.

Dan kita tersesat

sambil berpelukan

di gumam doa

tengah malam.

 

Tapi pada cermin yang berkarat

cuma ada pantulan

dari sebuah

titik berangkat.

 

“Cinta,” katamu,

“lebih baik tidak diucapkan.

Atau dia akan

Lenyap.”

 

Seperti biasa,

kita akan segera lupa

bahwa kita selalu pulang

pada luka

yang sama.

 

“Apakah pernah kukatakan

Aku mencintaimu?”

 

00:32, 29 Desember 2011

 

ARVIANTI ARMAND menulis karya

sastra dan ulasan arsitektur. Buku

puisinya, Perempuan yang Dihapus

Namanya (2010), mendapat peng-

hargaan Khatulistiwa Literaty

Award 2011.

 

KOMPAS, MINGGU, 28 OKTOBER 2012.

Written by Puisi Kompas

Oktober 31, 2012 at 3:12 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI Zeffry Alkatiri

leave a comment »


Ternate dan Tidore, 2000-2004

 

Berabad-abad pulau-pulau, seperti tertidur tengkurap

Di atas bulu-bulu permadani biru.

Waktu mentari meninggu, mereka bagai punggung kura-kura mati

Yang malas beranjak dari tempatnya.

Kabut sepertinya sengaja menutupi tubuh Gamalama

Yang menyimpan misteri cinta bagi pengelana

Yang sempat pulas dipeluknya

Di sini:
pernah tinggal selama sebulan di tahun 1521

Juan Sebestian de Elcano.

Berlabuh menunggu kapal penuh.

Sudha berabad-abad, Lisabon, Madrid, dan Barcelona

Jadi kota istana.

Mungkin juga berkat mereka

Yang meninggalkan sisa tapaknya oada puing benteng:

Di Kalamata

Castela

San Pedro

Dan di Tulako

Sudah berabad-abad, pulau-pulau tertidur, seperti penghuninya

Waktu mentari ingin menutup diri

Mereka tetap tak beranjak dari tempatnya

Seperti pura-pura mati.

2011

 

 

 

Di Bawah Permukaan Laut

 

Pernahkah kau mencoba untuk melihat di bawah permukaan laut?

Mungkin ada sesuatu yang dapat kau perlihatkan kepada kami.

Konon menurut para Datuk,

Dulu di bawah laut itu pernah ditemukan:

Pecahan persolen yang dibuat oleh budak dari negeri seberang.

Mungkin kau juga akan temukan:

Bola-bola peluru bertebaran seperti kerikil

Yang dulu sengaja dibuat untuk memusnahkan saudaramu.

Ada juga batok tengkorak kepala yang seakan ingin mengatakan sesuatu

Bahwa mereka adalah pahlawan dan bukan zeerover ataupun waterganzen.

Dan tulang rusuk yang rontok bersama tulang lengan yang berpisah.

Atau meriam yang telah berkarat

Yang tak mampu mengangkat dirinya

Untuk menyataka bahwa mereka telah menyelesaikan tugas beratnya.

Di samping puluhan peti uang logam

Beserta tumbak kelewang milik para petualang dan pendatang.

Yang konon membawa misi peradaban

Yang telah dibekukan oleh lumut dan air garam.

Bisa jadu kau akan menyentuh

Tulang-tulang kaki dan tangan, yang sebagian masih terikat oleh rantai besi

Yang bukan hanya karena alasan Tuhan

Milik saudaramu yang sengaja ditenggelamkan

Oleh dendam kebencian dan kerakusan.

Kau pun mungkin akan menemukan reruntuhan keangkuhan masa silam

melalui peralatan navigasi yang menjadi tak berarti ketika melawan alam.

Nanti kau juga akan mendengar suara-suara,

Yang menurut para Datuk dulu pernah terdengar

Meminta tolong seperti Peri Sirene kepada nelayan.

Tulang belulang menjadi karang

Kayu dan besi kembali menjadi debu bumi.

Tanda-tanda nenek monyang kita masih berserakan

Di bawah permukaan lautmu

Atau di bawah permukaan laut milikku?

 

2012

 

 

Jeffry Alkatiri lahir dan bermukin di Jakarta. Ia

bekerja sebagai pengajar dan peneliti di Fakultas

Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Buku puisinya

Berjudul Dari Batavia sampai Jakarta 1619-1999:

Peristiwa sejarah dan Kebudayaan Betawi

Jakarta Dalam sajak (2001).

 

(KOMPAS, MUNGGU, 21 Oktober 2012)

Written by Puisi Kompas

Oktober 30, 2012 at 8:01 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI KIKI SULISTIYO

leave a comment »


Mata Hijau Anjing Danau

 

terang yang sepasang bila tiba air

taring yang bimbang antara berjaga atau menerjang

mereka melihat lidah danau menjilat paras cadas

melam pelarian dan kelam berhimpitan di sela pepohonan

 

bulan tak bulat saat mereka berhadap-hadapan

lapar, gemetar, dan gusar. bau pertempuran berpendar

tepi ini seperti teritori bagi yang menolak mati

sebab keduanya pantanglah kembali, enggan memulai lagi

 

bila kabut surut para penakut turut beringsut

mata itu semakin hijau, semakin kilau bagai mata pisau

tenang dan dalam seakan maut yang datang

begitu terkaman pertama termakan tipudaya lawan

 

danau sedikit amis, bau kematian tercium dari gerimis

tanah melepaskan debu ke udara, getah terkelupas di batang tua

perlahan hijau matanya meredup seperti terbalut selaput lembut

lalu berubah pucat dan pecah seperti serat pada jubah orang dulu

2012

Kemidi Rudat

 

lewat gerak rampak dan music rancak kita bacakan hikayat

musafir persia yang tiba pertama di pelabuhan kota

berdagang sembari bermain gambus dengan topi tarbus

kita tak tahu siapa nama abah yang tabah itu. barangkali seorang habib

orang yang semar berharum dan beriman pada yang gaib

 

kita sebut dia saudagar saja, sebab tak banyak pula yang mau bertanya

para hadirin hanya memperhati kaki-kaki yang tak bersandal,

kilau rumbai emas pada ujung baju yang sebenarnya sudah kumal

sesegera mungkin kita lunaskan syair supaya tak kentara ini getir

kacamata hitam telah sempurna menyembunyikan luka di mata kita

 

bila telah rampung semua dan sorak mebahana ke udara

kita rapikan lagi semua kesedihan yang berserak di jalan-jalan kota

sebagai penyapu jalan, penjaga malam, buruh pelabuhan, juga pedangang asongan

talah kita perankan segala hanya dalam satu jam

semalam di pasar malam saat serombongan otang berusaha lari dari diri sendiri

 

atas nama kemidi dan makam gaib saudagar habib

kita akan datang kembali

dengan hikayat yang terus diulang

seperti berulangnya azan.

2012

 

 

Zirah Adawiyah

 

terbuat dari kelembutan musim semi, tipis dan lentur seperti janji

aku menjahitnya untukmu, dengan tangan seorang penimbang

setiap kali tubuh langsingmu menyingsing di ufuk mataku

 

kau selalu berkemas, seakan ada perang yang tak mungkin lunas

hanya dengan keramas atau berbincang di bawah cecabang

tentang kekasih yang sama sekali tak mengerti bagaimana cara bersedih

 

cincin batang rumput, ikat rambut sewarna kabut, aku cukup salut

pada caramu memainkan jurus, seperti penakhluk pura-pura mabuk

agar tak bersalah jika lancang mencium pipimu yang ranum

 

aku jahit dengan sedikit niat jahat

untuk kau pakai nanti manakala mata panah dari mata lelaki

semakin deras meluncur ke dadamu yang subur

2012

 

KIKI SULISTYO lahir di Ampenan, Lombok Barat, 16 Januari 1978.

Ia bekerja pada Departemen Sastra, Komunitas Akarpohon,

Mataram, Nusa Tenggaa Barat.

 

 

(KOMPAS, MUNGGU, 21 Oktober 2012)

 

Written by Puisi Kompas

Oktober 30, 2012 at 7:57 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ZAIM ROFIQI

leave a comment »


Seperti

–          A N N

I.

Seperti sebuah buku purba

yang dicari begitu lama.

Suatu senja kau menemukannya:

tiga halaman pertama dan terakhir

sirna entah ke mana.

 

Sendiri, kau pun harus menuliskannya

rela, atau tak rela.

 

II.

Seperti sebuah rumah megah, berempat jendela.

Jendela pertama: hamparan padang begitu luas, mungkin

tanpa batas. Sepanjang jalan, pepohonan meranggas,

berdaun debu dan debu.

Jendela kedua: sebuah taman, berjalan setapak

bercecabang. Masing-masing menghamparkan cecabang

lain, mungkin tak terhingga.

Jendela ketiga: bentangan laut, di ujung pandang, gunung-

gunung berjajar. Angkasa penuh gegumpal awan hitam

keabuan. Badai mungkin menyapa, kapan saja.

Jendela keempat: tembok-tembok beragam bangunan,

saling-silang, tak beraturan. Sebuah jalan sempit

terhampar, mungkin hanya cukup dilewati satu orang.

 

Lama, begitu lama, kau tinggal di dalamnya.

 

III.

Seperti perpustakaan tua, tanpa penjaga.

Buku-buku berjajar, bertumpuk, berserak, tersebar.

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang datang,

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang pergi,

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang membaca,

Siang malam, kemarau penghujan, orang-orang menulis:

kisah cinta, nostalgia, malapetaka, insomnia, amnesia, pa-

ranoia.

Kau sadar, engkau salah satu dari mereka.

 

IV.

Seperti sebuah balon karbit yang mengawang

di angkasa.

Seorang (atau sesuatu?) telah melepaskannya

sengaja, atau hanya iseng belaka.

Waktu demi waktu, masa ke masa

dia hanya mengambang

mungkin tanpa tujuan.

Waktu ke waktu, masa demi masa

dia cuma melayang

entah sampai kapan.

 

Kau tahu, dia akan terus di sana,

entah kau ada

atau tiada.

 

V.

Seperti sebuah pertempuran besar.

yang harus dimenangkan.

Musuh demi musuh datang,

menuntut ditaklukkan.

Senjata demi senjata digunakan,

demi memenangkan pertarungan.

 

Kadang kau lelah, ingin sudah. Tapi musuh kecil besar,

telah ada di gerbang halaman.

 

VI.

Seperti dongeng bersambung

pengantar tidur.

Kisah demi kisah disajikan, berjalan, sering di luar per-

hitungan.

Peristiwa demi peristiwa hadir, tanpa sepenuhnya berakhir.

 

Kau bertanya mengapa, lalu, bagaimana.

Tapi si tukang cerita telah pergi

entah ke mana.

 

VII.

Seperti sebuah pentas wayang, tanpa dalang.

 

2012

 

 

Hikayat Bayang-bayang

 

I.

Saat lahir, kau sebenarnya memiliki kembaran. Namun,

sejak mula, dia sadar dirinya penuh kutukan. Dan karena

itu, dia memilih jadi bayang-bayang.

 

II.

Memang dia terlahir hitam, memang dia hanya bisa

memberi kelam. Namun, percayalah, dia sangat bisa

dipercaya, dan mungkin tak ada makhluk yang lebih setia

dibanding dia: saat gelap, dia akan menyatu denganmu;

saat terang, dia akan selalu menyertaimu, mungkin

menjagamu.

 

III.

Dia telah begitu banyak berjasa: sejak awal masa, sejak

pertama matamu mengenal dunia, dia selalu bersamamu,

menemanimu. Tapi kau masih juga tidak tahu, apa yang

sebenarnya dia mau.

 

IV.

Kadang, di pagi atau senja hari, kau bahkan tak perlu

khawatir tentang arah dan rambu jalan, sebab dia telah

hafal semua jurusanmu, dan selalu siap menuntunmu hingga

tempat-tempat yang kau sebut tujuan.

 

V.

Malam ini, matikanlah semua lampu, agar dia sungguh

menyatu denganmu, agar kau sepenuhnya tahu: mengapa

selama ini dia membisu.

 

2011

 

 

Di dalam Penjara

 

Sudah sangat larut

Dan mungkin seluru penghuni bui itu telah lelap.

Tapi jam di dinding itu

masih saja berkata-kata.

Entah untuk apa.

Entah kepada siapa.

 

Tik tak.

 

2011

 

 

Kucing

–          Jacques Derrida

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor

panjang. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor

panjang bermata biru berkilat-kilat. Ia melihat seekor

kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-

kilat seperti kegirangan. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kapala ayam. Ia melihat

seekor kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru

berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap sepotong

kapala ayam di bawah sebuah meja makan.

 

Ia melihat seekor kucing, Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kapala ayam di bawah

sebuah meja makan. Ia melihat seekor kucing berbulu abu

berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kapala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah cafe. Ia melihat seekor

kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-

kilat seperti kegirangan menyantap sepotong kapala ayam

di bawah sebuah meja makan di sebuah cafe di pinggiran

kota. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor

panjang bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan

menyantap sepotong kapala ayam di bawah sebuah meja

makan di sebuah cafe dipinggiran kota di dini hari sehabis

hujan.

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggir kota di

dinihari sehabis hujan. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu

sama lain seolah hendak mengusir dingin. Ia melihat

seekor kucing berbulu abu berekor panjang bermata biru

berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap sepotong

kepala ayam di bawah sebuah meja makan di sebuah kafe

di pinggiran kota didinihari sehabis hujan di antara dua

pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang kadang

mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain.

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu

sama lain seolah hendak mengusir dingin, dan di atasnya,

sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu sama lain. Ia

melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan. Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan.

Ia melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan, di

bawah sebuah lampu bohlam temaram.

 

Ia melihat seekor kucing. Ia melihat seekor kucing berbulu

abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat seperti

kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di bawah

sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran kota di

dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki tanpa

sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus punggung satu

sama lain seolah hendak  mengusir dingin, dan di atasnya,

sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu sama lain  dengan

tangan yang saling bersentuhan, wajah yang kadang saling

didekatkan di bawahsebuah lampu bohlam temaram. Ia

melihat seekor kucing berbulu abu berekor panjang

bermata biru berkilat-kilat seperti kegirangan menyantap

sepotong kepala ayam di bawah sebuah meja makan di

sebuah kafe di pinggiran kota di dinihari sehabis hujan di

antara dua pasang kaki tanpa sandal tanpa sepatu yang

kadang mengelus punggung satu sama lain seolah hendak

mengusir dingin, dan di atasnya, sepasang muda-mudi

berbisik-bisik satu sama lain  dengan tangan yang saling

bersentuhan, wajah yang kadang saling didekatkan di bawah

sebuah lampu bohlam temaram yang menggantung

tepat di tengah-tengah ruangan. Ia melihat seekor kucing

berbulu abu berekor panjang bermata biru berkilat-kilat

seperti kegirangan menyantap sepotong kepala ayam di

bawah sebuah meja makan di sebuah kafe di pinggiran

kota di dinihari sehabis hujan di antara dua pasang kaki

tanpa sandal tanpa sepatu yang kadang mengelus

punggung satu sama lain seolah hendak mengusir dingin,

dan di atasnya, sepasang muda-mudi berbisik-bisik satu

sama lain  dengan tangan yang saling bersentuhan, wajah

yang kadang saling didekatkan di bawah sebuah lampu

bohlam temaram yang menggantung tepat di tengah-

tengah ruangan, sementara di sekitar mereka, meja-meja

telah kosong ditinggalkan.

 

Ia melihat seekor kucing, lalu ia pun mengalihkan

pandangan ke luar, pada jalanan dinihari sehabis hujan

yang tak lagi hingar, pada deretan lampu jalan yang seperti

menyerunya untuk segera pulang.

 

2012

 

 

 

Zaim Rofiqi menulis puisi, cerpen, esai, dan me-

nerjemahkan buku. Kumpulan puisinya adalah Lagu

Cinta Para Pendosa (2009); kumpulan cerpennya

Bertajuk Matinya Seorang Atheis (2011).

Written by Puisi Kompas

Oktober 17, 2012 at 1:16 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI TONI LESMANA

with one comment


Mencintaimu

aku telah menemukanmu, kemudian kasmaran dan mabuk

aku telanjang tanpa masalalu. bercinta siang malam

di atas sajadah, di dingin trotoar, di hangat ranjang

di landai pantai juga puncak gunung. inilah diriku yang bugil

tanpa masa depan, mendekapmu sambil tak henti

menyatakan cinta. kata-kataku melebihi birahi

terus terjaga, memeluk dan menciumi

sekalipun tubuh runtuh dan tertidur

 

tapi mencintaimu juga melebihi tajam pada pedang

hasratku sering kali hanya sampai pada kesunyian

pada sepi atau semacam dingin yang meringgis

bukan tentang wajah yag berpaling, atau penggilan yang

tak berbalas. namun pada masalalu melampauiki

kecemasanmu pada masadepan melompatiku

 

aku seperti jurang yang terus menambah kedalaman

sedangkan kau semakin asing pada kecupan, pada kata-kataku

kata-kataku saling melilit seperti sekumpulan ular

saling mematuk dan menembakkan bisa

lantas mati lemas di hadapan kesangsianmu

tanpa sempat menjadi sajak. barang kali aku harus menggali

dan membangun waktu, untuk mencari kenangan sekaligus

mengenali harapan. tapi aku takn punya apa-apa

selain masakini, cinta yang kutemukan pada dirimu

 

2012

 

 

Jalan Aspal

 

jalan aspal ini seperti pemukiman baru

mobil serupa tenda-tenda darurat

juga mirip akuarium dengan beragam ikan

yang ajaib. tak ada deru. semuanya seperti tidur

dan perlahan lapuk dalam gelap malam

barangkali ini saat yang tepat untuk menyatakan cinta

kau menungguku di sebuah lorong

pada gang yang baru saja tercipta

 

2012

 

 

Di Tembok

 

matahari di tembok

mengukir cahaya yang lenyap itu

aku membaca kata dan nama

 

berdebar sepanjang senja

mengapa wajahmu begitu hidup di tembok

wajahmu itu. wajah yang dirahasiakan sejarah

 

2012

 

 

Mabuk

 

aku masih mencari nikmat tersesat

sebab jalan pulang telah kitangkap

lambaiannya kota demi kota,

nama demi nama, kenangan demi kenangan.

 

sudah sangat mabuk

tapi belum jatuh. aku masih

memburu riuh. sebab hening

adalah pasti, adalah mati

 

2012

 

 

Sajian

 

aku masih mencicipimu

mencernamu dengan perlahan

masih ingin terus melahap kau

sebelum kau kelak mencicipiku,

mencernaku. melahap lebih buas

dari yang mampu kulakukan

 

tapi kau tak terhidang dengan gampang

sementara aku mudah saja kau jadikan sajian

 

2012

 

 

Perempuan

 

telah kuikuti kau sampai

seluruh pintu tertutup

kini ketika pintu-pintu terbuka,

jalan menggeliat, ikutilah aku

menyusuri usia dan rahasia

 

2012

 

 

Toni Lesmana lahir di Sumedang, Jawa

Barat, 25 November 1976. Ia menulis puisi

dan prosa dalam bahasa Sunda dan bahasa

Indonesia.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 7 OKTOBER 2012

Written by Puisi Kompas

Oktober 8, 2012 at 3:30 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUSTOFA W HASYIM

leave a comment »


Makam Penembahan Sinopati

 

Berlayar di antara batu putih batu merah batu hitam,

pohon beringin, kanthil gondhok, kenanga, sawo

kecik, nagasari, pasir rumput pakis dan endapan

waktu. Gerbang luar, dibuka, gerbang dalam sedikit

menganga. Asap mengalir harum, mawar tersaji.

Tenteram. Bangsal-bangsal sunyi. Cungkup-

cungkup agung. Nama-nama dimakamkan

membentuk jejak dalam, tak bisa dihapus. Burung

gelatik wingko, burung mayar, musang dan

kelelawar, tokek purba. Pohon puring dan bunga

selasih. Dingin nisan membekukan kata.

Para penziarah menyerahkan mimpi pada udara,

dijawab arus angin dari dalam. Mereka menjajakan

masalah remeh rumah tangga dan kegamangan

pribadi dalam meniti jembatan peristiwa. Ada duka

sudah diolah menjadi doa, ada amarah dikemas

dalam paket harapan dan ketakutan yang

disembunyikan dalam gerak mata. Langit tidak

terbaca, daun-daun kering gugur. Dan pemandu,

para abdi dalem terus menikmati keheningan ruang.

Pagi hangat, siang menyengat, tak terasa

perubahannya. Pertanyaan memantul kembali. Tidak

ada yang berani bersin atau batuk. Semua seperti

memasuki mesin penghalus jiwa. Kegaduhan dan

gelisah telah dibayar dengan senyuman. Asal usul

tidak lagi penting. Tempat kembali tidak menjadi

penjara. Di sini semua sudah tanpa baju, hanya

kemaluan yang terlindungi agar tidak mengganggu

kepala. Semua sudah menunduk. Menunggu suara-

suara gaib yang belum tentu mereka dengar.

Di tempat parkir di bawah kerimbunan daun pohon

raksasa, para sopir bercanda. Minum es teh dan

mengunyah gorengan sambil melirik isteri penjual

warung yang lupa merapikan daster. Mereka tidak

memaksakan kehendak. Di antara kerdipan mata,

ada yang ingin menerjang celah terbuka. Dan

gemuruh pun menuntun kamar rapuh di dalam

angan. Para sopir menggeleng. Ingat angsuran

rumah belum lunas. Mereka tersenyum, dengan

suara lirih, gemetar, ramai-ramai memesan mie

instant rebus pakai cabai iris tujuh buah. Mereka

menunggu, perut butuh kenangan.

 

Yogyakarta, 2012

 

 

 

Makam Sunan Kudus

 

Batu merah menata benteng, menara dan gapura.

Siapa yang menyusuri lorong, berkelok dan berhenti

di denap nisan? Air kolam masih menetes di dahi,

jejak rumput sampai udara. Gumam-gumam jauh,

dan ucapan, lafal doa yang dalam. Menembus diam,

sendiri dan bersama. Bersimpuh ke arah keabadian.

Yang terbaring di balik barisan batu, mungkin

menyapa, mungkin meneteskan airmata. Kebodohan

dan kekonyolan perjalanan masih dibawa sampai

sini. Bagi yang kenyang nasi jangkrik bisa berbagi

kepada langit dan lembah pantai. Tapi ini adalah

pusaran kota. Pedangang tidak mau rugi dan penziarah

meniti kerumitan masa silam dan hari ini. Pada

seekor kerbau yang dapat mengurai zaman dan

mengutuhkan pesan, “Berjagalah terhadap badai

yang berasal dari satu angin. Bukalah setiap gerbang

dan lepaskan daun pintu karena jiwamu akan

terbebaskan kalau masih ada rindu.” Kemarau

adalah persoalan, cinta akan mengatasi jarak mata

dan jiwa. Bersyukurlah, masih ada sunyi. Jejak

menegas atau mengabur sama saja. Manusia. Terus

berdatangan dan pergi. Bunga harum, dan sampah

menjadi permadani. Para penginjak luka mencoba

merasakan manisnya darah tetapi yang ketemu

hanya asinnya siksa. Lupakan. Mulailah mencari.

Makna cemeti dan keris purba, mirip berita yang

dilipat oleh malaikat i persembunyian semesta.

 

Kudus, 1994

 

Mustofa W Hasyim tinggal di Yogyakarta.

Kumpulan puisinya antara lain Ki Ageng

Miskin (2007).

 

KOMPAS, MINGGU, 7 OKTOBER 2012

 

Written by Puisi Kompas

Oktober 8, 2012 at 2:47 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AHDA IMRAN

with one comment


Brosur Wisata Belanja Kota Bandung

 

Kota ini berasal dari lumpur dasar danau yang menempel di sepatu seorang

Gubernur Jenderal.

 

Lalu tuan-tuan membuat kota ini dari sisa-sisa kecantikan seorang

germo yang didatangkan dari Paris. Kota tempat tuan-tuan perkebunan pelesir.

Belanja dan bergaya. Mereka membawa juga banyak sekolah. Sekolah yang

mengajak anak-anak inlander melihat barisan orang menyerbu penjara

Bastille.

 

Kota ini berangin seperti perempuan yang berbisik di balik daun telingamu

 

Mari belanja. Orang-orang membawa tubuhnya ke toko baju. Menumpuk

tubuhnya dalam troli. Taruh saja tubuhmu di situ. Seorang walikota akan

mendorongnya. Ia memakai sepatu Gubernur Jenderal. Mengajakmu

mengelilingi seluruh toko baju di kota ini. Toko baju yang membuat kota ini

menjadi ruang rias dalam gedung sandiwara. Gedung sandiwara dengan

panggung yang tak punya ingatan.

 

Lihat. Penunjuk arah di kota ini. Semua menuju toko baju, mall, apartemen

yang semua namanya terapung-apung dalam bahasa inggris. Di depan kasir

kau menerima senyuman puas para gadis muda yang manis. Senyum untuk kartu

kredit dan tubuhmu yang terlipat dalam kantung toko baju.

 

Kota ini kuah batagor yang menetes dari ruang sauna dan panti pijat.

 

Mari makan. Udara kota ini membuatmu selalu merasa lapar. Bawa tubuhmu

ke mana saja. Kota ini akan memasak apa saja untuk tubuhmu. Kota ini meja

makan besar. Meja makan yang dipenuhi bunga-bunga plastik, steak dan kuah

batagor yang menetes dari ruang sauna dan panti pijat. Kau bisa makan sambil

mendengar suara angklung atau kerinding underground. Atau suara lemah

anak-anak mengamen yang bernyanyi hanya dengan menepuk-nepuk

tangannya. Memakai kaos persib.

 

2012

 

 

Pembatas Buku

 

Waktu tak punya lagi huruf

sekedar suara lonceng tanda makan siang –

dan aku berjaga di batas ingatan

yang tak pernah kau cari

 

2012

 

 

Tapol

 

Ada malam yang paling kutakutkan –

ketika aku tidur kau datang. Mengambil kuku

jari tangan dan kakiku, ubi jalar yang kusembunyikan

di kolong dipan, botol plastik berisi air cucian kaki ibuku

suara sepatumu yang keras, sepasang matamu yang beku

dan berlubang. Atau kau akan membiarkanku

terus tidur. Setelah merampas seluruh

kata-kata yang tumbuh

 

di atas tubuh anakku…

 

2012

 

 

Sajak Tan Malaka

Kepada Harry A Poeze

 

Poeze, waktu itu tak bertubuh tak berkejadian

orang sekaumku telah membunuhnya. Mengubur

mayatnya di bawah bayang gardu tentara. Waktu

yang berbaju merah. Waktu yang menulis revolusi

dengan tangannya yang sakit. Revolusi.

 

dengan tubuh yang tak utuh

 

ingatan itu, Poeze, tak berkaki tak berkejadian

orang sekaumku telah menebasnya. Ingatan

yang tak mengenal lagi bau jasad tubuhnya

ingatan yang merangkak-rangkak mencari

sisa jejak kakinya

 

di ruang kerjamu

 

2012

 

 

Garut Selatan

 

Melewati jembatan gantung

ada hutan kecil di atas pulau karang

pohon-pohon tua menyimpan arwah

orang dulu. Ular hijau dengan matanya

yang berkilau adalah sepasang matamu

sepasang mata yang menjaga seluruh ingatan –

dendan dan kesedihan

 

Ada juga cahaya mengembang di akar gantung

menyusut di sela rimbun lembab batang kayu

bersama burung-burung laut aku terperangkap

lalu dengan gelap yang lembut

engkau melilit tubuhku

 

Menuruni undakan batu licin

tekstur dinding karang adalah huruf-huruf

yang rumit. Kau membacakannya untukku –

sebelum huruf-huruf itu menjelma abu. Sejak itu

akulah pewaris seluruh ingatan. Berdiam

di hutan kecil atas pulau karang

 

Dengan gelap yang lebih lembut

aku melilit tubuhmu

 

2010-2012

 

 

Hari Ini Tubuhku Terasa Ringan

 

Hari ini tubuhku terasa ringan

bayi-bayi berterbangan dari kedua lenganku

mengelilingi jejak-jejak kaki yang terisi air –

sebelum angin bergerak. Sebelum

burung gagak itu terbangun

 

Kutinggalkan penginapan

dalam tubuhku bayi-bayi itu kembali tidur

berselubung kain hitam aku berjalan dengan sepasang

kaki milik seorang penari. Tak ada lagi yang harus

kupikirkan. Juga pernyataan, mengapa seluruh

kemalangan selalu membuatku merasa lebih

baik dari sebelumnya? Atau kebencianku

pada segala yang menetap

 

di kedai kopi. Angin membawa bau tubuhku

orang-orang menemukanku. Aku adalah segala

yang mereka benci. Seperti tersebut di mulut

kaum paderi. Di bawah langit biru kubiarkan

mereka membunuhku

 

Sepasang mataku memandang

burung gagak itu berputar-putar

 

Hari ini dunia tubuhku terasa ringan

kubiarkan bayi-bayi bermain di jejak-jejak

kaku yang terisi darah. Berselubung juba

para paderi aku menitis di kerling mata

seorang penari. Menggerakkan angin

 

Memanggil ribuan burung gagak

 

2012

 

 

Tan Malaka

 

pejalan jauh

tak bertubuh

pergi datang

tak berbayang

 

2012

 

 

Ahda Imran lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 Agustus.

Penunggang Kuda Negeri Malam (2008) adalah kumpulan puisinya yang telah terbit. Ia tinggal dan bekerja di Bandung.

 

 

KOMPAS, MINGGU, 30 SEPTEMBER 2012

 

 

 

Written by Puisi Kompas

Oktober 3, 2012 at 2:48 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: