Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Arsip Penulis

Puisi Joko Pinurbo

leave a comment »


Kopi Koplo

Kamu yakin
yang kamu minum
dari cangkir cantik itu
kopi?
Itu racun rindu
yang mengandung aku.

(Jokpin, 2018)

Belajar Berdoa

Enggak usah crigis.
Mingkem saja dulu,
bereskan hatimu
yang amburadul.

(Jokpin, 2018)

Kakus

Tega sekali
kaujadikan
dirimu yang wah
kakus
kumuh
berwajah
rumah ibadah.

(Jokpin, 2018)

Bonus

Langit
membagikan
bonus
air mata
kepada
pelanggan
banjir
yang setia.

(Jokpin, 2018)

Buku Hantu

Untuk apa
kamu menyita buku
yang belum/tidak
kamu baca?

Untuk menghormati
hantu tercinta.

(Jokpin, 2018)

 

Malam Minggu di Angkringan

Telah kugelar
hatiku yang jembar
di tengah zaman
yang kian sangar.
Monggo lenggah
menikmati langit
yang kinclong,
malam yang jingglang,
lupakan politik
yang bingar dan barbar.
Mau minum kopi
atau minum aku?
Atau bersandarlah
di punggungku
yang hangat dan liberal
sebelum punggungku
berubah menjadi
punggung negara
yang dingin perkasa.

(Jokpin, 2018)

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 12, 2019 at 3:43 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Dadang Ari Murtono

leave a comment »


dongeng sangkelat

sepi yang ia cintai barangkali tak ada lagi,
tepat ketika sunan kali memindahkannya dari akadiyat
ke tengah babad yang benderang, dan empu supa,
dengan tiga kali pijitan, mengubahnya dari biji kemiri
jadi sebilah keris penanggung wahyu

ia mabuk, ia benci
tapi pada halaman itu, pembaca mulai tidak sabar
”masukkan ambisi kekuasaan, masukkan nujum-nujum,
beri kami perang yang meriah”

*
bau maut pada tembok batu bata
ketika malam jatuh seperti dibanting
ia ingin lelap, sebenarnya, dalam warangka
tapi kiai condongcatur memanggil-manggilnya
ke sebuah paragraf berisi pertempuran singkat

”tapi aku tak mau,” katanya
”tapi pembaca menginginkannya”
”tapi aku tak peduli dengan pembaca”
”tapi kau harus menghentikan kali yang menaburkan
bibit mati lewat lekuk pamorku”

* Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Januari 5, 2019 at 7:48 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Toni Lesmana

leave a comment »


Kawih Angin Kawali
: Godi Suwarna

1
Kawih angin, kawih angin Kawali
Tak letih menenun halimun ngungun
Rumpun mendung ratusan tahun limbung
Kandungan tunggul berselimut lumut

Kawih angin yang barangkali sudah
Compang-camping. Ingin singgah
Ingin istirah. Di tubuh yang melulu
Menghitung belatung luka

Samar paras hutan renta berkaca pada
Jejak air di batu. Seperti mencari
Jirim yang terus bernyanyi
Melilitkan tangis

Pohon-pohon menggugurkan daun
Menabuh batu menabuh tanah
Menabuh akar menabuh urat
Patilasan. Bunyi berlumuran

Memburu wujud
Waktu memercik perih
Tubuh tugur ke kubur
Tabur abu

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Januari 5, 2019 at 7:45 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Riki Dhamparan Putra

leave a comment »


Membaca Susi untuk Ayu di Payakumbuh

Susi yang sekarat
Tak akan tamat karena puisi mengunjungimu
di Payakumbuh
Marilah kita ucapkan salam
Kita jamu dengan sekepal lumut masik
batih jerami
getar sayap kumbang papan

Andai andai-andai
Andai anai-anai yang memahat tangga ke rumah gadang lama itu
melepas bebannya
Apakah Susi akan runtuh
Tentu Susi tak akan runtuh
Kecuali kita hanya punya satu leluhur saja yang jenaka
Ialah yang menukar besi jembatan
dengan mayat pekerja rodi
kegembiraan dengan riwayat perang
sawah ladang dengan potongan bambu
berani mati
Bagi leluhur yang seperti itu
hanya ada satu pembebasan saja di dunia
: lagu puja kepada bunga-bunga

Untunglah tanah ini tak pernah kekurangan kata-kata
Kata-kata tak pernah selesai
Tiap orang bagai gelanggang bagi menempa kata-kata
yang tak selesai-selesai

Tapi aku masih saja ragu semua itu bakal mengantarku padamu
Apakah engkau akan rela bila kukata batang Agam
bukan lagi batang Agam namanya
bila aku di Tambun Ijuk, tapi kukata aku tak melihat pohon enau
Apakah engkau rela
bila aku hanya segenggam abu pendiangan
di tungku yang pucat pasi
pemanas antikarat
panci teflon berisi kotoran Susi?

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Desember 29, 2018 at 7:32 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Irma Agryanti

leave a comment »


Laron

dari bawah tanah, seekor rayap mengubah diri sebagai kelahiran baru,
sayap baru, tubuh baru, nama baru untuk mengenalkan dirinya
dengan banyak kembaran

pada seberkas cahaya, ia lupakan melankoli dari sebuah petang
untuk melepaskan gigil pejantan
sebab musim hujan tiba tiba-tiba

tapi tak ada yang mudah bagi mata buta dan telinga tuli
untuk mendapati arah yang benar menuju keriangan
juga kemampuan mengepung terang

maka ia tinggikan sayap menjauhi pantulan air dan berseru
waktu adalah maut bagi malam yang lekas
dan ia mulai berputar searah jarum jam

maka bersihkan serbuk kayu agar ia tak tergoda dan
berpaling menjauhi sinar atau
lenyapkanlah katak juga cicak jika rasa lapar
membuat dirinya jadi santapan

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Desember 24, 2018 at 9:28 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Boy Riza Utama

leave a comment »


Pulang ke Tengah Sawah

Ancaman akan dikutuk sebagai cimolok
Yang merangkak dari tembok ke tembok
Tak melurutkan keinginannya buat pulang
Menghapus garis silsilah yang disandang

Ia kini di tengah sawah, menjangkau pokok
Jambak yang putiknya malu-malu buat rontok
Sebab angin, di pusat pengekangan ini, jarang
Datang sebagai badai – peruntuh batang gadang

Menyusuri garis-garis pematang, matanya bersirobok
Papan-kayu para pelancong yang sudah menjadi pondok
“Apakah yang pasti, selain ketakutan tiba mengadang,”
Ia bertanya, “Sebab sungai diampang, rimba ditebang?”

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Desember 24, 2018 at 9:25 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Acep Zamzam Noor

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Desember 17, 2018 at 11:22 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Nermi Silaban

leave a comment »


Kenangan Aroma Honje
– untuk Rasmi Naibaho

Kaubekali aku ingatan
tentang hikayat Si Mardan
sebab dalam angan remajaku
tersimpan cetak-biru suatu kota.

Sebuah kereta bersiap pergi
dan penantianmu di sana akan
berulang: kabut pagi, hujan, kemarau,
ekor meteor, rumput liar, dan
bunga-bunga kebun yang rekah dan layu.

Tak banyak yang kubawa,
hanya keteguhan dan kenangan,
meski telah kugenggam secarik tiket,
kadang derit rem kereta, lengking peluit
membuat rencanaku bergetar.

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Desember 8, 2018 at 9:32 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Goenawan Mohamad

leave a comment »

Written by Puisi Kompas

Desember 1, 2018 at 9:36 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Kurnia Effendi

leave a comment »


Di Bawah Bayang-bayang Jokpin

Aku dan bayang-bayang berjanji
Untuk tidak saling membayangi

Pada malam pekat aku berlari cepat
Menyeberangi mimpi ke tepi pagi
Bernaung bayang-bayang gedung
Kunanti matahari melewati jalusi

Aku dan bayang-bayang akan bersulang
Mencari waktu untuk saling menghilang

Saat matahari mencapai titik kulminasi
Aku menari-nari tanpa mengangkat kaki
Bayanganku kecewa ditipu arah cahaya
Kusembunyikan di bawah telapak kaki

Bayang-bayang pun menghampiri petang
Sejak itu aku tak lagi bisa dipandang orang

Jakarta, 2018

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

September 8, 2018 at 12:32 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: