Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for November 2012

PUISI GOENAWAN MOHAMAD

leave a comment »


Tentang Usinara

 

Usinara, yang menyerahkan jagat dan darahnya untuk

menyelamatkan seekor punai yang terancam kematian,

tahu dewa-dewa tak pernah siap. Mereka makin tua.

Langit menggantungkan dacin pada tiang lapuk Neraka

sejak cinta dibunuh. Timbangan terlambat. Telah tujuh

zaman asap & api penyiksaan mengaburkan mata siapa

saja.

 

Di manakah batas belas, Baginda? “Mungkin tak ada,”

jawab Usirna. Ia hanya menahan perih di rusuknya

ketika tujuh burung nasar sibuk di kamar itu, (tujuh,

bukan satu), merenggut dagingnya, selapis demi

selapis.

 

Sering aku bayangkan raja yang baik hati itu tergeletak

di lantai, memandang ke luar pintu, melihat debu sore

dan daun-daun yang pelan-pelan berubah ungu. Ia ingin

punai itu segera lepas. “Ayo, terbang. Aku telah

menebus nyawamu,” ia ingin berkata. Tapi suaranya

tak terdengar.

 

Sementara itu, di sudut, si punai menangis: “Tak ada

dewa yang datang dan mengubah adegan ini jadi

dongeng!” Usirna hanya menutup matanya. Ia tahu

kahyangan adalah cerita yang belum jadi.

 

2012

 

 

Tentang Maut

 

Di ujung bait itu mulai tampak sebuah titik

yang kemudian runtuh, 5 menit setelah itu.

 

Di ujung ruang itu mulai tampak sederet jari

yang ingin memungutnya kembali.

 

Tapi mungkin

itu tak akan pernah terjadi.

 

Ini jam yang amat biasa: Maut memarkir keretanya

di ujung gang dan berjalan tak menentu.

 

Langkahnya tak seperti yang kau bayangkan: tak ada

gempa, tak ada hujan asam, tak ada parit

yang meluap.

 

Hanya sebuah sajak, seperti kabel yang putus.

 

Atau hampir putus.

2012

 

 

Di Antara Kanal

 

Jarimu menandai sebuah percakapan

yang tak hendak kita rekam

di hitam sotong dan gelas sauvignon blanc

yang akan ditinggalkan.

 

Di kiri kita kanal menyusup

dari laut. Di jalan para kelasi

malam seakan-akan biru.

“Meskipun esok lazuardi,” katamu.

 

Aku dengar. Kita kenal

kegaduhan di aspal ini.

Kita tahu banyak hal.

Kita tahu apa yang sebentar.

 

Seorang pernah mengatakan

kita telah disandingkan

sejak penghuni pertama ghetto Yahudi

membangun kedai.

 

Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,

tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.

“Kota ini,” katamu, “adalah jam

yang digantikan matahari.”

 

2012

 

Tentang Chopin

 

Kembali ke nokturno, katamu. Aku inginkan Chopin.

Seperempat jam kemudian, tuts hitam pada piano itu

Menganga.

Malam telah melukai mereka.

 

Mungkin itu sebabnya kau selalu merasa bersalah,

seakan-akan sedih adalah bagian dari ketidaktahuan.

Atau kecengengan. Tapi setiap malam, ada jalan batu

dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi, dan kau,

yang mencoba mengenangnya dari cinta yang pendek,

yang terburu, akan gagal. Di mana kota itu? Siapa yang

meletakkan tubuh itu di sisi tubuhmu?

Semua yang kembali

hanya menemuimu

pada mimpi yang tersisa

di ruas kamar…

 

Coba dengar, katamu lagi,

apa yang datang dalam No. 2 ini?

 

Di piano itu seseorang memandang ke luar

dan mencoba menjawab:

Mungkin hujan. Hanya hujan.

 

Tapi tak ada hujan dalam C-Sharp Minor, katamu.

 

2012

 

 

Aktor

–         untuk Moh, Sunjaya

 

Aktor terakhir menutup pintu.

“Cesar, aku pulang.”

Dan ruang-rias kosong. Cermin jadi dingin

seperti wajah tua yang ditinggalkan.

 

Siapapun pulang. Meski pada jas

dengan punggung yang berlobang

ia masih rasakan ujung pisau itu

menikam dan akordeon bernyanyi

 

pada saat kematian. Ia masih ingat

kalimat di adegan ke-4,

tentu saja. Tapi tak ingin

mengulangnya.

 

“Teater,” sutradara selalu bergumam,

“hanya kehidupan dua malam.”

“Tapi tetap kehidupan,” ia ingin menjawab.

Ia selalu merasa bisa menjawab.

 

Ia menyukai suaranya sendiri

dan beberapa kata-kata.

Tapi pada tiap reruntukan panggung

ia lupa kata-kata.

 

Pada tiap reruntukan panggung

ia hanya ingin tiga detik – tiga detik yang yakin:

dalam lorong Kapai-Kapai, Abu tak berhenti

hanya karena cahaya tak ada lagi.

 

Ia tak menyukai melankoli.

 

2012

 

 

Rite of Spring

 

Tari itu melintas pada cermin:

bagian terakhir Ritus Musim.

Gerak daun – paras putih –

tapak kaki yang melepas lantai…

 

23 tahun kemudia di kaca ia temukan

wajahnya. Sendiri. Terpisah dari ruang.

Lekang, seperti warna waktu

pada kertas koreografi.

 

Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.

“Aku tak seperti dulu,” katanya,

“tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.

Aku – hantu salju.”

 

Suaranya pelan. Seperti decak tulang

ketika di ruang latihan itu

tak ada lagi adegan.

Hanya napas. Mungkin ia masih di situ.

 

2012

 

 

Yang Tak Menarik Dari Mati

 

Yang tak menarik dari mati

adalah kebisuan sungai

ketika aku

menemuinya.

 

Yang menghibur dari mati

adalah sejuk batu-batu,

patahan-patahan kayu

pada arus itu.

 

2012

 

 

Goenawan Mohamad baru-baru ini

Menerbitkan naskah L’Histoire du Soldat

(2012), saduran dalam bahasa Indonesia yang

Ia kerjakan atas teks CF Ramuz untuk musik

Igor Stravinski.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 25 NOVEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

November 27, 2012 at 2:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI JOKO PINURBO

leave a comment »


Hujan Kecil

 

Hujan tumbuh di kepalaku.

Hujan penyegar waktu.

 

Memancur kecil-kecil.

Merincik kecil-kecl.

Dihiasi petir kecil-kecil.

 

Hujan masa kecil.

 

(2012)

 

 

Airmata

 

Biarkan hujan yang haus itu

melahap airmata

yang mendidih

di cangkirmu.

 

(2012)

 

 

Sungai

 

Ibu membekaliku sebuah sungai

yang jernih dan berkecipak-cipak airnya.

Sungai itu ditanam di telapak tanganku,

mimpi ibu terbawa dalam arusnya.

 

Bila aku tidur, sungaiku berkelana

Menyusuri garis-garis nasibku.

Gemercik di tengah hutan.

Gemuruh di malam jauh.

 

Bila rindu meluap dan aku banjir

jari-jari tanganku mengucurkan air.

 

(2012)

 

 

Keranjang

 

Perempuan itu membuat keranjang

dari benang-benang hujan

dan menggantungnya di beranda

 

di dalam keranjang ia tidurkan bayinya,

bayi yang rahim dari rahim senja.

 

Bila malam haus cahaya,

bayi mungil itu menyala

dan keranjang dirubung sepi di beranda.

 

(2012)

 

 

Batu Hujan

 

Menjelang subuh lelaki tua itu

keluar dari tidurnya, kemudian masuk

ke dalam batu besar di depan rumahnya.

 

Di dalam batu ia temukan

bongkahan bening dan biru;

hati hujan yang matang diperam waktu.

 

(2012)

 

 

Petir

 

Petir yang pecicilan itu

terkapar dihajar sepi

yang sedang mabuk

di atas sajakku.

 

(2012)

 

 

Doa Malam

 

Tuhan yang merdu

terimalah kicau burung

dalam kepalaku.

 

(2012)

 

 

Keringat

 

Tiap hari ayah memasukkan

butiran keringat ke dalam botol

dan menyimpannya dalam kulkas.

 

Bila saya dilanda demam yang ganas,

ayah menuang keringat dinginnya

ke dalam gelas, saya minum hingga tandas.

 

Cenguk. Cenguk. Asunya amblas.

 

(2012)

 

 

Mengenang Asu

 

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.

Saya torehkan kata asu dan tanda seru

pada punggung batu besar dan hitam

dengan pisau pemberian ayah.

 

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya

untuk menggenapkan pesan terakhir ayah;

“Hidup ini memang asu, anakku.

Kau harus keras dan sedingin batu.”

 

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi

batu hitam besar itu dan saya bertemu

dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

 

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu

sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.

Tanda serunya mungkin diambil ayah.

 

(2012)

 

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; tinggal

di Yogyakarta. Buku puisi terbarunya; Tahilalat (2012). Kumpulan

tweet-nya akan terbit dalam waktu dekat.

 

KOMPAS, MINGGU 18 NOVEMBER 2012.

 

 

Written by Puisi Kompas

November 19, 2012 at 3:50 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »


Pemandian Badak Putih

 

Mereka datang tanpa tembang

hanya mengokan senapan

menakuti kami

demi pala, lada dan kopi

 

dengan tubuh jangkung

mereka merasa paling tinggi

membalas santun kami

dengan mendepak kepala berpeci ini.

 

dengan tubuhnya yang putih

dan seragam berdasi.

mereka menumbuhkan kumin

mengusapnya, seraya mendesiskan

bahwa kami tidak lebih berharga

dari pelor panas di atau darah di ujung belati.

katanya, hiduplah dengan berbakti

padanya, demi kehormatan melayani.

 

seperti badak dengan tubuh berpetak

mereka memamerkan diri

setiap hari, di bawah matahari

mandi dari sumur tempat moyang kami

minum dan belajar mengaji.

dan kami tinggal budak, kini

seorang tiri di rumahnya sendiri.

 

dinaungi pohon beringin

mata air itu terus tak pernah kering

bagai sudah terlampau nyeri juga perih

untuk berhenti mengaliri.

 

tubuh mereka yang semakin hari

memutih tersepuh serapah kami.

menggilap disembunyikan jas

dan menghirup cengkeh dari kebun kami.

 

dari jauh kami menatap-nanap

ke arah sumber pembikin pelangi

yang memancar dari lubang sumur itu.

 

tapi mereka dengan kuda-kuda besi

melintasi jalanan yang kami bangun sendiri.

angkuh, tak mau peduli

kalau kami nanti mati

karena haus dan terlindas

kaki-kai baja, tertabrak sengaja

oleh culas-culas mereka.

 

(2012)

 

 

Variasi Pupuh Balakbak

 

/a/

ada geletar sukma ditangan fana; asmara

santun digembalakan ke padang doa; aura

selalu, selalu sampai pada ruang tanpa sisa; niscaya

 

/b/

ada sunyi dijatuhkan dari langit; puisi

sesekali kuas nafsunya meningkahi; pelangi

katanya, katanya berisi ingatan tentang hujan; abadi

 

/c/

ada kamboja jatuh ke dada makan; ingatan

melepas ruap, meletup dari dosa; impian

perlahan, perlahan mencecar kesenyapan; kenangan

 

/d/

ada bara dilipatan ingatan; amarah

seperti dahaga tak sampai tandas; gairah

setia, setia menjaga sekam dalam kenangan; musibah

 

/e/

ada kepak kelelawar langit petang; sengsara

sayapnya runtuhkan pecahan duka; derita

seakan, seakan tak lagi bisa terbang bayang; petaka

(2012)

 

Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, Jawa Barat, 3 Mei 1987.

Buku puisinya adalah Hikayat Pemanen Kentang (2011). Kini ia

Tinggal dan bekerja di kaki Gunung Wayang, Bandung Selatan.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 18 NOVEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

November 19, 2012 at 3:44 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »


Ular Dalam Gelas

 

Aku ingin menjadi ular dalam gelasmu, Sessaria.

meliuk-liuk, melingkari pinggulmu dengan kelembaban.

sebagaimana kebetahan akar menjaga kerapuhan dahan.

 

sebagaimana Ariphron yang malu-malu mengupas kulit batu,

di gelas itu, aku ingin membelit dan mabuk menikmati anggurmu.

anggur Hygeia, anggur yang membutakan mata Hippocrates

setiap kali menghimnekan tetesan itu.

 

dalam setiap pergantian cuaca, terberkatilah kau sebagai

tuah bagi influenzaku, Sessaria. sebab di setiap tetesan

yang jatuh di gelas itu, ada lidahku, dan nafasmu yang tak

henti-henti mengurai segala sakit di sekujur demamku.

 

 

 

Beri Aku Rahimmu

 

beri aku rahim yang kesemutan itu, Sessaria.

meskipun palsu, aku inginkan reinkarnasi di sana sebagai

jiwa suci yang hanya mengena cintamu.

 

hanya cintamu, dan cukup. beri aku rahim itu,

Sessaria. meski di kemudian

kelahiran bermaksud

menggugurkan aku.

 

 

 

Gugur Bunga

            buat Romi Zarman

 

di muka pintu

ia duduk

memandang bunga

berguguran di halaman

 

ia bayangkan

angin dari timur berhembus

guguran kelopak itu

bertebaran

 

bergulir-gulir

bagai matahari pagi

dalam kemarau

menuju barat

tertahan pada tembok

gang jalan di luar rumah

 

jatuh ke selokan

dihanyut air

menuju kulah hitam

di ujung pertemuan

 

ia bayangkan

kelopak bunga itu

hilang merahnya

 

hancur

bercampur batang sisa sayur

membaur sampah

meluluk comberan

menghumus eceng gondok

dan gulma.

 

di muka pintu

ia duduk

memandang si tangkai

sepi di halaman

 

ia bayangkan

kedatangan tiba-tiba

angin dari barat mengembalikan

hakikat kelopak bunga itu

 

sebagaimana membelokkan

jalan waktu.

seketika terkenang burung-burung

terbang keluar hutan terbakar

ia berdiri

 

kelopak murung bunga itu

ia tankap

ia sisihkan dari dedebu

dari sisa cinta si tangkai.

 

ia bayangkan

kelopak bunga itu

adalah nasibnya.

 

 

Ramoun Apta lahir di Sungai Binjai, Muara Bungo,

Jambi, 26 Oktober 1991. Mahasiswa Sastra Indonesia

Universitas Andalas, Padang. Bergiat di LPK (Labor

Penulisan Kreatif) Sajak Sore.

 

KOMPAS, MINGGU, 4 NOVEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

November 8, 2012 at 4:16 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI FAISAL KAMANDOBAT

with 5 comments


Drama Tengah Malam

 

Lihat, bagaimana aku menjadi hantu:

Untuk menjelajahi bumi dan langit,

Jiwaku mesti mengendalikan

Jasa ketakutanku.

Kukenakan jubah putih

Sebagai sayap, sekaligus tanda

Aku berasal dari alam setengah abadi.

Seperti angin, wajahku penuh lamunan;

Aku menghuni dunia yang hampir mustahil,

Dan dari sanalah aku datang padamu.

 

Aku suka berdiam di pohon-pohon

Yang lebih besar dari pikiran manusia;

Atau berkemah di tanah-tanah kosong,

Rumah-rumah kosong, jiwa-jiwa kosong.

Seperti malam kelam tanpa batas,

Tanah airku segala yang membuat

Manusia merasa kecil dan terpencil.

 

Panggil aku dengan mantra dan sesaji!

Kutuk aku dengan mantra dan sesaji!

Aku ratu khayali, antara ada dan tiada,

Menguasai jagad sempit dan sementara

Kejajaan manusia.

 

Lakon yang kuperankan usai sudah.

Saatnya kakiku menginjak tanah,

Turun dari ranjang kecil kamarku.

 

2012

 

 

Kelahiran

 

Aku puisi yang belum dituliskan;

Wujud gaib, tak berwajah, tak berkaki,

Seluruh diriku jantung yang tembus pandang;

Sayapku mengembang penuh cinta,

Sehangat nafas, selembut angin,

Seluruh semesta tempat tinggalku.

 

Lihat, planet-planet tergelincir

Ke dalam nadaku;

Segala apa dan siapa, jejak langkahku.

Aku telah menjelajah wilayah

Yang sama luasnya dengan Tuhan,

Aku ingin berbagi rahasia

Yang sama ganjilnya dengan igauan;

Adakah kau mendengar?

 

Derita ini memanjat menara daging tubuhmu

Hasrat ini menyala di ubun-ubun;

O, neraka di ketinggian!

Kuangkat dunia yang sekarat

Menahan manyat waktu,

Kubungkus jeritannya dengan

Lambang suci kemusnahanku,

Ke dalam sungai darah mengalirlah aku

Ke dalam matamu sirnalah aku.

 

Dan kau bukan sejarah

Aku telah menjelma pagi dalam peristiwa matimu;

Menjumpai setiap wujud, membakarnya,

Menyulut batu matahari di otakmu;

Adakah kau mendengar ledakanku?

 

Aku puisi yang belum dituliskan;

Wujud gaib, tak berwajah, tak berkaki,

Seluruh diriku jantung yang tembus pandang,

Memohon sepotong kata dari jiwamu

Untuk kukenakan dalam pesta

Kelahiran dunia ini.

 

2012

 

Faisal Kamandobat sedang menyelesaikan studi di

Departemen Antropologi Universitas Indonesia. Buku

Puisinya adalah Alangkah Tolol Patung Ini (2007)

 

KOMPAS, MINGGU, 4 NOVEMBER 2012

 

Written by Puisi Kompas

November 8, 2012 at 4:14 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: