Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Alizar Tanjung

PUISI ALIZAR TANJUNG

leave a comment »


Limau Hanyut

 

aku butuh sebuah limau parut

limau itu harus limau hanyut

hanyut limau di air deras

 

aku butuh sekerat kain putih

kain putih harus tidak berjahit

 

aku butuh sebuah pisau

pisau harus pisau bersepuh

 

aku potong limau parut tiga bagian

setiap potongan harus saling bertaut Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 1, 2016 at 12:35 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ALIZAR TANJUNG

with one comment


SATU BELAHAN BULUH BUAT SATU BATANG TOMAT

 

buluh ini aku ambil dari tepian sungai yang mengalir

di tanahkuning, tepat matahari di tengah ubun, tepat murai

batu berkicau berkali-kali, aku ambil buluh yang beruyung

biar kuat dia diterpa angin, panas, hujan karangsadah.

 

buluh ini aku tebang dengan parang yang paling tajam,

parang yang telah meyakinkan matanya dengan luka

yang menganga di perut. ketajaman mata parang

membutuhkan sakit batu asahan yang tak pernah usai.

 

aku buat dia sepanjang 2 meter 10 sentimeter. aku potong

ujung yang merupakan kepala, aku potong pangkal

yang merupakan kaki, tak apa tak berujung tak apa

tak berpangkal, sebab dia akan aku tanam sendiri.

 

buluh ini aku tancapkan di satu batang tomat, tomat jelang

berbunga pertama, menampung angin, menampung panas,

menampung hujan, menampung kegelisahan harapan

orang yang menanam, menampung kehancuran dirinya.

 

perlahan dan pasti kulitnya mengkerut.

 

buah tomat berbuah ranum,.ditawar seharga 4000 rupiah

sebatang, menunggu 4 bulan, menunggu air kerongkongan

penanam yang tak kering di karangsadah ini.

 

(2013)

 

 

LADO SUNGAI PUA

 

berkunjung ke sungai pua, mengikuti garis kerikil, pasir, runduk

ujung daun yang melengkung ke batang tubuh, kuat jalaran

akar yang mengikat ke pangkal batang, serbuk benang sari

yang mengikat diri ke kepala putik, aku temukan lado orang

sungai pua.

 

lado orang sungai pua, ditanam di sebidang tanah di depan rumah.

diselingi bawang perai, seledri, lobak sawi. pupuknya tahi ayam.

racunnya air liur pagi hari. hujannya kumpulan embun merapi.

di satu kaki merapi, di satu ladang, di satu batang, di satu buah

lado merah sungai pua, aku temukan diriku, melengkung

 

memeluk jantung. diriku akar yang menjalar dalam biji lado

sungai pua, bunga yang mengendap di pangkal daun yang

mencintai batang, buah yang matang di meja makan dengan

tambahan irisan bawang perai, taburan garam, seledri sungai pua,

lezatnya.

 

(2013)

*lado (cabai)

** Sungai Pua (nama asli daerah Sungai Puar)

 

 

KAYU API DI GARIS TANGAN

 

Bah, aku si penghuni rumah:

di halaman rumah ini kau carah kayu, kau pasang mata baji,

marete itu memukul baji, pukulan pertama pukulan lunak

selunak jalan pikiranmu, pukulan kedua pukulan keras,

sekeras garis tanganmu, pukulan berikutnya pukulan entah,

entah pada pukulan berapa kayu ini keping. kayu keping

lepas sakit mata baji,  kau susun kepingan itu serupa

menyusun kepingan dirimu yang entah ribu detik ke berapa

usiamu menjadi daging kayu ini.

 

tidak apa, aku masih penghuni rumah ini:

kayu ini kayu rimba, kayu bernama kayu paniang

hutan tanahkuning, lunak ke dalam keras keluar, lunaknya

telah kau uji di mata baji, kerasnya telah kau palu di kepala

marete, sempurna kayu ini kau keping sempurna garis

tanganmu memecah kayu, di hari pakan kayu api kau jual,

kau tukar dengan beras solok, kelapa pariaman, ikan padang,

kau tersenyum, kau masak nasi, kau hidangkan padaku,

makanlah.

 

(karangsadah, 2013)

 

 

 

ALIZAR TANJUNG lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN

Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 MARET 2014

Written by Puisi Kompas

Maret 4, 2014 at 9:54 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ALIZAR TANJUNG

leave a comment »


Sampai Ujung

 

Jalan ini sudah sampai pada ujungnya,

sesudahnya rumput liar, tumpukan batu,

jurang terjal, dirimu yang bergantung

pada jalar akar kulit manis

menyembul di bibir tebing.

 

kau takut jatuh,

matamu juga,

bibirmu apalagi,

tapi hatimu telah jatuh dahulu

ke jurang,

tempat di mana hatiku jadi cakar

jantungku jadi taring.

 

aku gigit hatimu itu,

di tebing kau menjerit

angin menghempas dirinya,

bukit tiba-tiba menggandengmu,

tahukah kau itu, bukit itu juga aku.

 

(Padang, 2013)

 

 

 

Satu Kenangan Mengikat Jantung

 

aku telah belajar memetik daun mati

tomat ini, Su, meracun ulat, memupuk tanah,

menyimpul tali ke bilah betung,

memetik buah, mencicipi daging paling manis,

sebelum menjamu kau

menjadi tamu di ladangku.

 

aku rancang segala yang perlu,

mengajarkan kau memegang pompa,

menyimpul tali, menyemai urea,

menyentuh tanah yang manis ini,

berulang kali aku sayat tipis

tomat-tomat merah,

mencicipi di lidah, kelak ketika

kau menjadi tamu, lidahmu

tetap lembut di irisan tomat

yang kau petik sendiri.

 

kau datang, hatiku terpinang,

jantungku terikat, daun tomat gugur

di jarimu, tanah subur, lidahmu

tetap lembut,

Su, telah senang sebagai tamu.

 

ah, Su, kiranya kau tamu,

ya, kau tamu yang akan pergi,

kau ikat jantungku, kau bawa sepanjang jalan.

 

(Padang, 2013)

 

 

 

Tomat Orang Hilir

 

di hilir tomatornag besar-besar, pemiliknya etek,

pak etek, mamak. orang pupuk bersama tahi sapi,

tahi ayam, sepuluh karung buat memupuk serupa

menyambung hidupmu yang sekarat, setelah perut

petani dibanting harga murah di pasar bukitsileh.

 

di hilir ini ulat tomatnya juga besar-besar, orang racun

di pagi dan sore hari, gugur ulat menyuburkan batang,

batang subur dahan berbuah, orang petik tomat ini.

 

peti ini telah dipaku lima sisi, padanya pada lempung

yang kosong tomat-tomat telah dibariskan serupa

membariskan hidupmu pada lempung itu, kau paku sisi

atas, lengkap enam sisi itu dipaku rapat,

lengkap hidupmu, kau lingkari

kau bawa tomat itu ke pakan, tempat berdagang

segala hidup, pakan orang karangsadah.

 

(Karangsadah, 2013)

 

 

 

Alizar Tanjung lahir di Solok, Sumatera Barat, 10 April 1987.

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di

IAIN Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU 15 September 2013

Written by Puisi Kompas

September 19, 2013 at 4:41 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ALIZAR TANJUNG

leave a comment »


Rokok, Asap, Api

 

rokok;

asap, kau si senang,

lahir dari tubuhku,

dari tiada jadi ada,

bebas mengembara ke udara,

yang kau inginkan,

aku si celaka,

perlahan-lahan membakar diri sendiri,

lenyap jadi abu.

 

asap;

rokok, kau si senang,

dipakai dan digunakan penghilang suntuk,

pada kepalamu cahaya,

pada pangkalmu ciuman.

aku si sakit yang tak diterima,

dikibaskan dari abu

dan pandangan mengganggu,

terbang ke udara,

lenyap begitu saja.

 

api:

asap, kau si beruntung,

tak perlu sampai ke pangkal bibir,

telah bebas jadi angin,

seperti rokok yang setia,

pada tubuhnya dia menikmati tubuhku,

aku si malang dipaksa hidup

tidak pada tubuh sendiri,

panasku tak sampai,

dinginku tak pucat,

belum samapi ke bibir dimatikan dalam asbak.

 

2012

 

 

Api Pulang ke Suluh

 

api meminta pulang ke suluh,

suluh meminta pulang ke bilah,

sabuk terbuang dari buluh,

buluh terbuang dari bahasa kata.

 

api angin terang jalan pulang,

seterang alif sampai tubuh ya,

tetapi titik ya segelap arang sabuk,

jalan melintang di tubuh alif,

sabuk jadi abu sepanjang pulang.

 

2012

 

 

Pitatah dan Pemiliknya

 

si pemilik pitatah

telah puas belajar pitatah,

“si tuli peletus senapan”

letus itu tak perlu membuatnya menutup telinga,

“si buta peniup salung api”

besar api di tungku tak perlu masuk ke matanya,

“si lumpuh penghalau ayam”

duduk di rumah berselonjor kaki.

 

tapi si pemilik pitatah telah jadi pemilik murung

di jantung yang sesak,

“si tuli telah jadi pelomba lari”

hilang peletus senapan,

“si buta jadi penerka bentuk warna”

siapa penghidup api di tungku,

“anak ayam sudah datang”

hilang sudah pekerjaan si lumpuh..

 

pemilik petitak beralih profesi

pemilik sunyi, bahasa kata tidak pulang ke lidah,

seperti perantau yang merantau seputar di luar

lingkaran dirinya, di sana-sana saja.

 

2012

 

 

Lima Kuku Si Pincang

 

di dalam kamar itu kau menonjok dengan kaki pincang,

lima kuku kakimu menacap daging, menanam gigil,

lima kuku kakimu satu lagi tidak menentu,

sepuluh kuku tanganmu di angkuh yang tak mau tahu.

 

tetapi sebelah matamu mengatakan lima kuku itu

melompat keluar jendela yang kacanya pecah

tepat di depanmu,

sebelahnya lagi hanya mengatakan seperti melihat,

tentu kau tidak ingin berpegang pada si ragu dungu.

 

Mencangkung dengan kaki pincang tak serta merta

membuatmu menjadi si sakit yang dilupakan,

ada sakit yang tidak tertanggungkan di sebelah kakimu yang lain

dan di bibir jendela yang pecah, pada kuku mencakam daging

itu juga.

 

(Karangsadah 2012)

 

 

Benang Celana Robek dan Dengkul

 

benang celana robek:

terlepas dari dengkul itu tidak membuat aku

terlepas dari daging sakit,

pucatnya dingin,

aku si tubuh yang ditanam dalam benang sajak,

lahir  dan gugur dalam sakit sajak.

 

dengkul:

selain tubuh ini apa yang aku miliki

selain pangkal rambut yang sakit,

aku si daging yang dilecuti tubuhmu,

lahir dan gugur dalam ngilu sajak.

 

(Karangsadah 2012)

 

 

Alizar Tanjung lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Saat ini ia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan

Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, MINGGU, 16 DESEMBER 2012

Written by Puisi Kompas

Desember 17, 2012 at 6:06 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI Alizar Tanjung

leave a comment »


Gulai Jantung

 

dirimu jantung pisang, diriku seongok danging yang beruas dan

berpilin ujung ke ujung, ditumbuhkan darah jantungmu dan

jatungku. aku menyaksikan jantungku kumpulan darah sedangkan

jantungmu kumpulan warna.

 

jantungmu dari tebasan parang, ke pangkal tubuhmu, tentu saja

luka itu adalah busuk, tumbuh itu adalah pucuk, sebeb itu kau biak

dari dua tubuh, satu dari jantung batang, satu dari urat

pangkal.

 

dalam kelopak bidukmu yang karam ke dalam daging jantung,

dirimu menyimpan anak-anak udang yang bengkok, bercangkang

lunak, hidangan makan malam, menikmatimu di lidah menikmati

bibir. dalam cerup jantungku yang berbibuk bungkuk,

akan aku simpan jantung yang lain.

 

pada bidang meja yang sama, sendok dan garpu tertelungkup,

gelas kristal kosong, serbet melipat ujung ke ujung di kotak plastik,

dirimu menyelami santan menyelami rasa lidahku, menyelami

kenikmatan keluar dubur. diriku menikmati keterasingan makan malam.

 

sebab itu kita berbeda

 

2011

 

Tangga Menuju Ular

 

di kayu kendur aku turun dari tangga cahaya

paling atas, meneruni lereng kerikil terjal perut

ular betina. katanya di bawah jembatan sana,

di penurunan ketujuh di rumpun pisang, seekor

ular siap menghisap selembar kain panjang ukiran

batik, melingkar di balik lapisan batu.

 

konon katanya ular yang berdiam ratusan tahun,

menghisap segala yang lewat dalam tubuh,

dan aku benar-benar sampai di pangkal cahaya.

rumpun batang pisang tua, bunga rumput teki,

jalar akar bunga bakung, hidup di parit batu.

 

entah pada penurunan keberapa lepas

dari cahaya, aku sampai di sarang ular betina,

lapisan-lapisan batu, akar-akar pakis rasan, aku

terlahir baru di rahang ular betina – batu-batu

melengkung dari tangan tetua. ular betina

menghisap daun-daun pisang muda, ular betina

menghisap puting jantung pisang.

 

Padang, 2011

 

 

 

Ruang Rumah Masa Lalu

 

kapan terakhir kali kita bertengkar?

 

aku menemukanmu sebagai batang kayu mati, menjalar

sebagai dinding, lantai, jendela-jendela tertutup, lae.

tubuhmu kumpulan warna kusam rayap di atap, bunyi siul

temali jemuran, denting seng siang hari, lubang atap, sebab itu

kutemukan dirimu adalah cahaya jahat yang menyediakan

lubang hujan. kamu sediakan tubuh bagi angin, masuk dari

lubang dinding, aku sadari ini sudah sangat lama.

 

kita sudah lama tak bertemu, terakhir kali kita ketemu, kau

menjelma akar kayu, membelit masa lalu, akar serabutmu

menjulai ke masa depan, lalu masa depan telah masa lalu.

aku foto-foto di dinding, warna-warna kabur, kaca-kaca

etalase, akarmu membelit akar tubuhku. lalu hujan adalah

tamu kenangan yang menginap minum kopu, tandas candu

itu.

 

kau kemudian pecahkan kayu dalam tungku, yang aku

temukan abu tungku, tiga buah batu, bulu-bulu kucing yang

tidur semalam, kencingnya yang amis, jaring-jaring lawah

tua, nyamuk-nyamuk yang terperangkap, sisa-sisa

penggorengan di kawah kuali. aku masa lalu.

 

2011

Kehilangan Tebu

 

Kas

Kita berbahagia di kilangan tebu, menampung air di

paraku, mendorong kayu bersama sapi gemuk, seperti

mengelilingi lingkaran bumi yang kecil, kita tertawa,

membiarkan bibir kita beruap air tebu, sungt-sungut putih

tumbuh di lengkung bibir atas kita, sampai siang tengah

hari kita berjalan sepanjang putaran sepanjang bundaran.

 

Membesarkan masa lalu membesarkan rumpun tebu dari

potongan-potongan batang tua, menanamnya di tanah,

bertunas dan menjulang ke langit, beruas-ruas buhul, ada

yang begitu ruang di krisik daun. Air-air temu mengangkut

ke kuali, mematangkan gula, kita membuat acuan betung

dan lingkaran daun tebu. Meneteskan gula hangat.

 

Acuan-acuan kecil itu acuan gula-gula tebu mungil di hari

bermain senja hari, menikmati kelereng, gambar, kajai,

tanek-tanek, mobil-mobil kayu, gatal-gatal miang tebu.

melewati jalan-jalan setapak ladang tebu itu kita membau

aroma sepelah-sepelah tebu, lumpur-lumpur sehabis hujan.

 

2011

 

 

 

ALIZAR TANJUNG lahir di Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat,

10 April 1987. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN

Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

 

KOMPAS, 15 JULI 2012

Written by Puisi Kompas

Juli 16, 2012 at 11:08 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: