Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Juli 2013

PUISI MARDI LUHUNG

with one comment


Dan

 

Aku turun ke tepi laut. Mendekatkan telinga ke permukaan

ombaknya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan siapa yang

menggulung-gulungkan arah di dedasaran sana?” Dan ada ruang,

cahaya-remang, juga ganggang-ganggang yang menjulur seperti

rumbai. Juga yang selalu suntuk tertunduk. Dengan kening yang

menukik ke bawah. Seperti tak ingin menengadah. Hanya

geseran lumpur, koral dan karang-lembut-pucat yang ingin

ditatapnya. Selebihnya, memang untuk senyap dan lenyap.

 

Dan aku bergegas ke dataran bukit. Mendekatkan telinga ke

dedaunan dan bebunganya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan

siapa yang senerik itu leluasa menyanyikan lagu hijau dan

merah?” Lagu yang meniupkan kerjap-butiran-embun. Kerjap

yang nanti akan merambat pelan di kerongkongan si jenazah

yang terpilih. Si jenazah yang ingin sekali merentangkan

langannya. Sambil berseru (meski tak mungkin), tentang

punggung langit, jembatan gaib dan kenaikan yang lebih ke atas.

 

Dan aku beranjak ke rahang jurang. mendekatkan telinga

ke nganga dalamnya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan siapa yang

mencelupkan ujung-ujung jari ke udara? Terus memancurkan air

dari ujung-ujung jari yang telah dicelupkan itu?” Banyangan

mana lagi yang akan menadahinya. Dan kenapa juga, gaung itu

ingin terbang dan menyeruak. Seperti seruakan gaun teja yang

berkilau. Gaun teja yang segera berguguran, ketika rahang

jurang sedikit menyunggingkan hasrat malu-malunya?

 

Dan di antara bolak-balik semacam ini, betapa tak terduganya,

apa dan siapa yang ingin didengar oleh telinga.

 

(Gresik, 2013)

 

 

Majenun Hijau

 

Panggil saja aku si hijau. Hijau seperti rumput segar di rahang

kuda. Dan hijau seperti jarak pandangan yang terulur sampai ke

matahari. Dan menjadikan para terusik itu mengibas.

 

Dan menyangka, jika aku telah mengawinkan sorga dan neraka

di balik lembah. Sambil menuduh: “Bagaimana majenun ini

mengaku dirinya benar? Bagaimana pula kita jadi terlena?

Bagaimana pula, dia gampang menyebut kita tak becus?”

 

Memang, panggil saja aku si hijau. Hijau yang terbentang luas

Mengemuli angkasa. Hijau yang terentang lebar menutupi

lautan. Dan hijau yang bersembunyi di balik jubah. Seperti

anak-anak yang bersembunyi dari mata jahat. Ketika aku

digelandang dan diteriaki:

 

Mata-mata, Mata-mata, butakan saja matanya!” Dan ya, aku

tersenyum ketika ditimpuk batu. Tapi mengaduh ketika diusap

setangkai mawar. Sebab, salib itu, untukku, bukan?

 

Memang, geser ladam, sepatu serdadu serta ujung tombak dan

pinggiran tameng di cadas jalan adalah irama yang membuat aku

menari. Adalah saat ketika semua yang ada terperangah. Terus

menimpal:

 

“Kemarin, salib itu kita beri warna hitam. Sebab ada bekas

darah si sebelumnya. Kemarin, salib itu kita tancapkan tanpa

apa-apa, kenapa kini dirambati dedaunan? Dedaunan yang hijau!

Hijau!”

 

Ya, ya, sekali lagi, panggil saja aku si hijau. Hijau yang

melimpah!

 

(Gresik, 2013)

 

 

Morse

 

Kini, saatnya kita bertempur. Aku yang menunggang bintang

merah. Dan kau yang mengendarai meteor ungu, saling

berhadapan. “Apa yang kau pikirkan. Sebagian yang ada di

langit telah bergeser. Terus padam.” Dan aku tahu, jawabanmu

akan terulur jauh. Sampai ke batas yang tak terduga. Batas gelap

yang tak mungkin membuat siapa saja kembali. Mungkin jatuh

ke ruang hampa. Ya, kau sebarkan biji-biji cahaya. Aku hadang

dengan lingkaran tabir yang teramat luas. Teror bukan lagi

sebuah kengerian. Tapi, kecerdasan yang membuat kita jadi si

peluncur. Si peluncur yang berlompatan di antara keluasan.

Yang menyeret jarak jadi begitu sederhana dan luwes. Seluwes

peta semesta yang gampang mengubah bentuk dan

kebutuhannya. Peta semesta yang menakjubkan itu. Aduh, kau

lepaskan juga gelombang penidur. Apa maumu? Apa kau

merasa gampang memenangkan ini? Lihat, ayunan kabut suara

yang aku pasang. Betapa sepadan untuk menahannya, bukan?

Memang, ini adalah pertempuran yang terakhir. Sebab hanya

kita yang tersisa. Dan hanya kita yang akan menentukan: “Ke

mana lagi arah langit yang disusun? Dan kemana pula hidup

yang baru mesti ditabur?” Sementara, kenangan dan harapan

pastilah tetap kita genggam. Sedang keindahan? Ya, keindahan,

akan selalu mengabarkan tentang sebuah ledakan yang besar

tapi lembut. Ledakan yang kita berikan lewat pertempuran yang

terakhir.

 

(Gresik, 2013)

Amsal Tidur

 

Aku mencari pantai yang hilang. Ketika cuaca sedap. Dan ketika

aku menemukan jendela di lubang-belakang-kepalaku terbuka.

Dan dari lubang itu, aku berkata: “Wahai, pantai yang hilang.

Pantai yang ingin aku temukan lagi.”

 

Pantai yang ombaknya pelan. Airnya jernih. Dan pantai yang di

atasnya, burung-burung hitam beterbangan. Dan di

dedasarannya, ikan-ikan warna-warni berselipan. Berselipan

penuh semangat. Aku merasa, di sinilah aku perenang yang riang.

 

Timbul-tenggelam. Menarik-melepas. Tanpa lelah. Tanpa bosan.

Dan aku tahu, memang ada tiga sahabatku yang terus

mengikutiku. Mengikuti dengan berlari di atas ombak. Tiga

sahabatku yang saling susul-menyusul. Tiga sahabatku yang

berbeda.

 

Yang pertama si tubuh bening. Yang kedua si punya cangkang

di punggung. Dan yang ketiga, yang mudah bermalih jadi apa

saja. Dan yang sering, bermalih jadi si kucing kecil. Si kucing

kecil dengan bulu-bulu tebal, halus, merah dan agak keriting.

 

“Jangan terlalu cepat, hei!” teriak si kucing kecil. Si tubuh

bening tertawa. Si punya cangkang tersenyum. Dan aku, pun

berhenti dan menoleh. Waktu itu, ada juga benda terbang yang

turun pelan-pelan dari ketinggian. Suaranya seperti dengkuran.

 

Kami berempat menatapnya. Dan kami tahu ada yang terbuka di

satu sisi benda terbang itu. Dan ada makhluk yang menyeruak.

Makhluk dengan perawakan kecil abu-abu. Dengan tiga mata.

Dua hidung. Tanpa mulut. Tapi, kami tahu dia ingin apa. Mau

apa?

 

“Kami cuma bermain-main. Setelah itu pulang. Jadi maaf, tak

bisa ikut denganmu,” ini kataku menjawab keinginan makhluk

itu. Makhluk pun mengangguk. Terus menyentuhkan

telunjuknya ke keningku. Dan seketika segalanya pun jadi gelap.

 

Dan itu membuat jendela di lubang-belakang-kepalaku tertutup.

Aku pun terlempar ke dalam lorong. Lalu muncul di atas

ranjang. Di dalam sebuah ruangan. Dan terdengarlah satu suara:

“Lihat, penyair itu mulai bangun dari tidurnya.”

 

Tapi aku merasa di sekelilingku tak ada siapa-siapa. Ruangan ini

pun kosong. Yang jelas, entah bagaimana, rembulan yang

tinggal setengah pun berputaran di langit-langit. Aku ingin

menangkapnya. Tapi kedua tanganku kaku tak bergerak.

 

“Lihat penyair itu mungkin ingin menulis puisi!” kembali suara

itu aku dengar. Tapi apa yang dapat aku tulis? Taka da. Dan

ahai, tiba-tiba rembulan yang tinggal setengah itu membuka

kantung perutnya. Menghamburkan apa saja yang disimpannya:

 

Pohon, gunung, jalan, rumput, sepur, kantor, kebun, uang,

bengkel, bedug, mistar, obeng, botol, setrika, got, televisi,

sepatu, sisir, kopi, kapas, obat, pulpen, gajah, bunga, koran,

biawak, madu, politik, negara, kapal, mercusuar, hujan dan

panas.

 

Semuanya menghambur. Dan semuanya menguruk diriku. Aku

Megap-megap. Ingin menolak. Tetapi tak bisa. Dan aku terjebak

Di dalam urukan yang tak terkira. Antara bernapas dan tidak,

serasa tenggorokkanku tersumbat.

 

“Lihat penyair itu ingin tidur lagi. barangkali, 3.000 tahun ke

depan dan bangun. Bangun di dalam sebuah hari. Di dalam

sebuah kisah, ketika segala apa yang dipunyainya menjadi kuno.

Dan mestinya hidup di waktu yang berbeda.”

 

Waktu: ketika perairan sudah jadi daratan. Dan daratan pun

Sudah jadi perairan.

 

(Gresik, 2013)

 

 

Mardi Luhung tinggal di Gresik, Jawa Timur. Buku

Puisinya, Buwun (2010), mendapatkan

Khatulistiwa Literary 2010.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 28 Juli 2013

 

 

 

 

 

Written by Puisi Kompas

Juli 30, 2013 at 9:04 pm

Ditulis dalam Puisi

PUISI FRICSHA ASWARINI

leave a comment »


Di Kepala Lima

 

Malam di Kepala Lima

laut bertukar tegur dengan laut gamal

daunnya jatuh pada gelas minumanmu

 

Kau yang urung menyelesaikan cerita

tentang seorang pria

menghitung hujan di negeri timur

dan bocah yang tertidur

setelah mengingat lambai ayah di perbatasan

 

Malam di Kelapa Lima

tergenang cahaya kota Kupang

dan tarian yang meniru angin

meniru getir kisahmu

 

Bayang-bayang pohon gamal

tampak dalam gelas kita

bunga-bunganya terbang

di antara nyanyi seorang nona

 

Ceritalah, ujarkan segala ingatan

seperti penari kataga

tak ragu dengan parangnya

Di Kepala Lima

Tuanglah riang dalam gelasmu

dan bayangkan diri sebagai pohon tinggi

kelak tumbuh di atas karang terpilih

 

 

 

Di Katyn

 

            : Lech Kaczynski

 

Layangkan sayapmu

di keluasan Smolensk

hingga kabut lenyap

melesat ke hutan

atau larilah ke kapel

mencari pengharapan

 

Seperti laba-laba meluncur dari sarang

melilit tangan sebuah patung,

mengintai kupu-kupu liar

terbang sendiri di hutan sunyi

 

Apa yang tersulut dalam benakmu

menuju angkasa Rusia

untuk 70 tahun sejarah kelam

sementara di awan tak tertera tanda bahaya

dan setiap nujum terabaikan?

 

Apa yang tersisa dari ingatan

menjelang datangnya kematian?

Kenangan klasik di waktu kanak,

masa gemilang saat dewasa

atau ribuan ruh rakyat

yang hendak kau akrabi kini?

 

Seekor laba-laba tersengat lebah yang mabuk

keduanya mati

tak sempat mengingat pohon pertama

tempatnya dulu dilahirkan

 

Pada batu dan tebing

tersirat segala kisah

juga senyap suara senapan

dan desing waktu

 

Melaju di keluasan Smolensk

Kau dengar suara sungai dari kejauhan

Seperti ribuan tawanan perang

menyaksikan cahaya pagi

tanpa rasa sakit

tanpa luapan harapan

 

Di Katyn

setiap kisah punya makam

di mana kupu-kupu istirah

menunggu kabut lenyap

atau sarang laba-laba penjerat

 

 

Frischa Aswarini belajar Ilmu Sejarah di Universitas Udayana, Bali.

Ia aktif di Komunitas Sahaja, Denpasar.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 21 Juli 2013

Written by Puisi Kompas

Juli 24, 2013 at 6:12 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI AHMAD YULDEN ERWIN

leave a comment »


Improvisasi

Aku pergi

-Tanza

 

1

Hujan belum turun pada baris sajakmu,

juga ke jalan berbatu dan atap rumahmu.

Malam yang tersangkut ranting kering

 

tak juga bergeming oleh tatap matamu.

Kau tahu, semua mesti berakhir, seperti

bangkai capung yang terinjak sepatumu.

 

Pintu. Debu. Remah roti. Semut-semut

merayap di toples gula. Segalanya adalah

mimpi yang terbakar di telapak tanganmu.

 

Tak ada yang kekal, juga bayangan bulan

yang terpantul pada kedua bola matamu.

Sepatu kautaruh di raknya. Baju, celana,

 

singlet, sempak: kaugantung di samping

jendela. Kautatap tubuhmu di depan kaca:

Bukan sabda. Bukan kata. Bukan tanda.

 

2

Tak ada satori saat kautatap percik hujan

di nako jendela kamarmu. Tak ada kensho

saat petir menyergap gendang telingamu.

 

Kau tersenyum memandang kotak sampah

di pojok ruang tamu. Waktu telah menjadi

segelas air bening yang mengalir perlahan

 

di dinding ususmu. Kau tak lagi menatap

arloji di tangan kirimu. Kaubiarkan saja

detik-detik memercik pada tiga larik haiku.

 

Kautatap bunga-bunga krisan di meja tamu.

Kau tertawa. Semua menjelma metafora:

Bukan suara. Bukan udara. Bukan cahaya.

 

 

 

Perawi

 

Di Portland yang dingin, sepasang gagak

menolak menjadi angin. Matamu tersedak

mencari langit yang lain. Fajar musim semi

 

mematuki embun di putik kuntum cherry.

Hitam paruh gagak mengendap ke batang

pohon oak. Kuning napas waktu merayap

 

di kerah jaketmu. Matamu telah terjepit

di ruang tunggu. Derit kereta menjemput

jerit gagak. Para penumpang menjemput

 

jerit yang lain, senyap yang lain. Tak ada

angin akan menjemput hitam sayap gagak

di bukit hijau itu. Sebuah teluk terbentang

 

ke dalam matamu. Kausesap bau ombak

dengan kulitmu. Kautangkap jerit-senyap

dengan bibirmu. Langit menjadi lidahmu.

 

 

 

Kitab Angin

 

Dharma bermula di sini, di entah yang berujung

di kini. Langit menjelma tulpa: Seorang sadhu

di kuil air mata – duka sebelum sepuluh kalpa

 

biji-biji waktu kini tumbuh di kening sramana,

mekar perlahan menjadi sunya. Setangkai soka

di jantung nebula: Kesatuan dalam setiap benda,

 

urat syaraf semesta. Yang tak dikenal menyusup

sebagai huruf – menjelma taman-taman bunga,

sebelum pikiran tercipta. Biji-biji waktu tumbuh

 

sebagai matamu. Yang terbakar di malam hari

mekar di pagi hari. Yang terbakar di pagi hari

mekar di siang hari. Yang terhapus di batin ini

 

tak lain biji-biji angin, tunas angin, ladang angin.

Putik-putik angin pecah di tepi kuala, melayang

bersama sabda: Advaita! Bukan satu, bukan dua.

 

 

 

Ahmad Yulden Erwin lahir di Tanjung Karang, Lampung, 15 Juli 1972. Puisinya termuat dalam sejumah antologi, antara lain Mimbar Penyair Abad 21 (1997) dan Cetik (1999).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 21 Juli 2013

Written by Puisi Kompas

Juli 24, 2013 at 5:50 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »


Dan Waktu Seperti Tertidur

 

Waktu seperti kasir yang sibuk menghitung

perniagaan kita sehari-hari rugi dan untung

 

Kita bandar besar, kapal dagang dan kapal barakan

berlabuh di dermaganya. Di gerbang, pengemis dan

pelacur menunggu keajaiban datang.

 

Lonceng berdentang. Dupa dan korban barakan

dihidang di atas altar. Mayat gelandangan tergeletak

di trotoar. Pemabuk menyintir khotbah para pembesar:

Kita tak boleh merugi. Rakyat harus dilecut berkali-kali!

 

Waktu lelah. Wajahnya kuyu seperti kurang tidur

dan catatannya kotor, terkena tinta luntur.

 

Kita kubah dan balkon istana. Tambur dan terompet

berkali-kali bergema di sana. Di alun-alun, penjaja buah

dari negeri asing beradu mulut dengan penjual minuman.

Menerka hujan datang tak sesuai musim.

 

Sekawan burung vultur berkerumun. Barangkali

ada sisa makanan di dekat dapur. Seekor anjing

melintasi pemakaman, habis menggali belulang.

 

Dan waktu seperti tertidur. Di sudut kafetaria,

seseorang tampak terpekur. Ada hal-hal yang

belum selesai dia bilang; awan itu biru atau gelap,

dan bayang siapa lenyap pada pintu berwarna

pucat, di sebelah kios penjual jamur.

 

2013

 

 

Piano

 

Kurasa, kau tak akan pernah menduga

apa yang kurasakan saat jemarimu menyentuh.

Aku seperti tangga kecil panjang, merah menyala.

Kau adalah deretan rumah berwarna teduh,

yang membagi dunia dengan tiga lapisan:

awan mendung, pegunungan berwarna pucat,

dan padang pasir dengan benda-benda seperti logam

bertebaran dalam waktu yang semakin larat.

 

Kurasa, kau tak akan pernah mengerti

apa yang kuinginkan ketika angin mengukir

jejaknya di atas pasir, pada rumput teki

yang sejumput-jumputnya di sela-sela pasir.

Aku piano dengan ruang gema terbuka,

kau daun-daun hijau yang mendesak ke langit,

mengundang burung-burung – bahkan jika

mungkin – hujan yang bergulung begitu sengit.

 

Hanya kali ini, aku tak ingin kau menebak. Kubiarkan

kau duduk dengan jenak, sementara ada yang terbang

lebih tinggi daripada burung dan jatuh lebih debam

daripada hujan. Semacam jarak yang kian merapat.

Lalu habis suara.

 

2013

 

 

Dilarang Membanting Pintu

 

Perjalananmu begitu jauh. Dipayungi deretan tiang listrik

dan pemandangan gurun yang kian terik.

 

Kanopi pepohonan di sekitar atap rumah kita tetap rimbun,

bahkan ketika kau pulang setelah mengembara bertahun-tahun.

 

Hanya satu yang aku kuatirkan. Bukit ini masih sakit.

Gerowok besar menyisakan dinding penopang sedikit.

 

Kalau nanti kau datang kembali, berjalanlah memutar.

Jangan lewat dekat sumur. Tali timba itu tak panjang benar.

 

Aku kini kesulitan mengambil air. Dasar sumur itu jauh

dan gelap. Seperti perkiraan harapan yang bakal runtuh.

 

Hanya ada jembatan kecil dekat gurun.

Tempat dulu kita pernah memungut sehelai daun.

 

Dan menuliskan harapan akan hujan.

Perjalanan dari satu ke lain daratan.

 

Seperti bunyi guruh dan awan mendung yang datang.

Kau mendengarnya? Kukira hanya suara derit mengambang,

 

Setelah cahaya itu mencair dan jatuh.

Menimpa sesuatu yang angkuh dan lumuh.

Pintu yang terbuka separuh.

 

2013

 

 

Apel Kedua

 

(1)

Kalau aku terjatuh, bukan karena

kau rapuh, atau tak tabah pada

hal-hal yang membuatmu melepaskan aku.

 

Kau tetaplah pokok yang teguh

dan kurasa begitu teduh, daun-daunmu

lebih dulu mengantarku pada kejatuhan ini.

 

Aku setia pada yang ranum, juga yang alum,

seperti sepasang kekasih yang sama-sama maklum

pada sebuah perpisahan.

 

(2)

Aku tak pernah berjanji,  selain memberi bebiji.

Kubiarkan dagingku hancur dan berjamur,

hingga selalu ada perdu yang bersemi.

Perdu yang berulang kali diceritakan di ambang

tidur kanak, yang digemari oleh ternak, dan

pada sebuah taman, dijagai beludak.

 

(3)

Kalau aku terjatuh,

anggaplah sebagai bagian

dari mimpimu saja.

Dan kau hanya akan

mengingat sebuah kisah

yang mengekalkan

tidur tadi malam.

 

2013

 

 

Berlayar di Langit

Ahmad Yulden Erwiin

 

Di tangan Kush, kapal berlayar

di tengah meja. Taplak putih,

tak berbuih. Kayu keras datar.

Di mata Paz, dermaga adalah tubuh,

melengkung dalam diri. Kau,

penyeberang yang bimbang. Sungguh.

Tapi, tak ada kapal berlayar di

langit. Hanya burung-burung hitam

dalam sangkar mirip kepala seseorang

tengan membaca puisi. Dunia sepi.

Penyair dan pelukis sama-sama diam.

Di kepala meraka, malam berenang.

Ombak adalah tangan terentang,

dan ikan-ikan seperti burung balam,

duduk meratapi seseorang yang mati.

Yang wajahnya tercetak pada uang

kertas, di atas meja loket, di mana

seseorang seperti engkau mengantri

saat keberangkatan.

 

2013

 

 

Sebelum Kita Tertidur

 

Kau memulai dongeng malam ini dengan

pertanyaan, “Sudahkah kau mencuci tangan?”

Aku jadi teringat Pilatus. Dia yang mencuci

tangannya sambil berkata, “Itu urusan kamu sendiri!”

Sebelum kita tertidur, selalu saja ada cerita

bahwa tubuh seperti rumah ibadah di mana

kita tak boleh meniagakan atau menganggapnya

tempat sampah. Dan kau menyanggah, “Mengapa

di lengan kirimu kau rajah simbol derita?”

Bagiku, tidur dan mimpi hanyalah cerita

yang tercipta dari derita sepanjang hari,

sedang kau menganggap semuanya

sebagai harapan akan hal-hal baik, yang belum terjadi.

Karena itu, kau akan mengamini kalimat

di setiap akhir doa yang kita panjatkan

bersama sebelum mata kita merapat

lalu mengalirlah cerita tentang malam

di sebuah taman, di dekat pohon, di mana

Kristus berdoa dan berpeluh, sementara murid-muridnya

tertidur, sedangkan Ia berkata, “Berjaga-jagalah!”

Sebab tidur adalah berjaga dari kemungkinan

mimpi buruk. Dari hal yang kita rasakan begitu teruk.

Maka sebelum kita tidur, kukatakan

apa yang kupikirkan sebagai cerita, teruntuk

kau saja. Ya. Kau saja.

 

2013

 

 

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di

Jakarta. Ia bergabung di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR

Malam). Buku puisinya adalah Gelembung (2011)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 14 JULI 2013

Written by Puisi Kompas

Juli 16, 2013 at 5:55 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MAY MOON NASUTION

with one comment


Begu Ganjang

 

dalam darahmu yang dendam,

kau menggiring cahaya diam-diam,

menuju bayang-bayang kelam

 

kau merapal segala doa gunung,

agar jadi mantra paling agung,

dalam jantungmu yang buntung

 

dalam darahmu yang membuih,

kaunyalakan api jadi pemantik birahi

 

birahi dari segala jampi pamungkas.

jadi pemupuk dendam yang buas,

yang senantiasa menakuti kami dalam bagas

 

Pekanbaru, 2013

 

 

Gergaji

 

tukang itu lihai menggesekkan matamu yang tajam,

dan tangannya menggeram serupa luapan dendam

 

gerigi majal menjejal segegar debar,

dan kau cemburu mendengar gemetar,

dari taring-taringmu yang bergegar

 

matamu terus menggerung maju-mundur,

menggetarkan nyali kayu jadi ciut yang akut,

barangkali kau takut matamu akan luput

bagai menikam dengan geraham dendam

yang belum mahir ia pelajari dengan mahfum

 

lalu tukang kayu itu tiba-tiba jadi si peragu

yang terus menggesekkan gerigimu.

 

Pekanbaru, 2013

 

 

Bagaimana

 

aku ingin melupakanmu, usai kau mengasah tubuhmu,

pisau yang tak percaya dengan ketajamannya

aku ingin melupakanmu, usai kau membakar,

api yang tak tahu ke mana jilatan hendak dilekatkan

aku ingin melupakanmu, usai kau mengalir,

air yang tak paham ke mana ia menghilir

aku ingin melupakanmu, usai bertiup,

angin yang ragu ke mana menghembuskan nafasnya

aku ingin melupakanmu, usai kau diam dengan den-

dammu,

batu yang alpa dengan diamnya yang dingin-beku

aku ingin melupakanmu, usai kau menuliskan lukamu,

penyair yang membakar sajak-sajaknya sendiri

aku ingin melupakanmu, usai kau melukis wajahmu,

pelukis yang tak mahfum, ke mana kanvas hendak di-

kuaskan

aku ingin melupakanmu, usai kau mengeras beku,

garam yang tak paham, dengan asinnya sendiri

akhirnya, aku melupakan dan tak mengingatmu lagi,

usai seluruh dunia, luruh jadi jerebu.

 

Pekanbaru, 2013

 

May Moon Nasution lahir di Mandailing Natal, Sumatera

Utara, 2 Maret 1988. Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra

Indonesia Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Bergiat di

Komunitas Paragraf.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 7 JULI 2013

Written by Puisi Kompas

Juli 11, 2013 at 6:06 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »


Jampi Menebar Ikan

 

jangan hendak kau ke hilir

bisa kail nanti menemu bibir.

jangan hendak kau ke hulu

bisa kilat menuju dahimu

 

2013

 

Jampi Menyergap Belut

 

pupuri tangan kawula Gusti,

getahnya tanah sawah

kukunya tajam runcing jerami

 

cengkeram terhindar lepas kabur.

genggam lekas menemu labur.

 

pipih di sela jemari,

letih di kepal ini.

 

2013

 

 

Jampi Dihadang Ular

 

dahan menghadang, ranting melintang

jangan menjegal jalan Nabi,

berpagutlah pada genggam-cakar diri.

dahan datang, ranting merintang,

tercerabutlah, patahlah!

jalan badak terseok karena kilat

jalanku tersuruk karenamu.

 

dingin sempurna,

di lekuk jalan setapak,

di tiap tanah berjejak.

 

enyah,

ampuhlah azimatku!

 

2013

 

 

Jampi Memandikan Domba

Sebelum Diadu

 

kumohon pada air basuhan ini,

selanggeng takbir menyimbahi rautmu.

tumbuh dari sejuknya, manjur ke ubunnya.

sari dari penciptanya,

sari jisimnya,

sampai sari sukmanya.

 

daging bagai ruap kembang

darah bagai rekahan mahkotanya.

urat dari sumsum ningrat,

sumsum terisi penuh air mawar.

 

serumpun kulit,

bambuku bergulung di tanah

satu alif luhur, kuncuplah!

 

2013

 

 

Jampi Ayam Adu

 

sehelai bulu gugur ke tanah,

ditempa cahaya jadi memerah.

jangan sungkan wibawa pitarah,

tersisihlah dendam juga amarah.

 

tajinya setikan belati,

paruhnya setangguh gergaji.

mengirap cakrawala,

mengerjap membuka laga.

 

kulit seliat getah,

darah sesubur tanah,

kuku sekukuh batuh.

 

kalaulah harus camping mahkotanya,

tumbuhlah pucuk mawar di esok harinya.

 

2013

 

 

Mugya Syahreza lahir 3 Mei 1987 di Cianjur, Jawa Barat.

Buku puisinya bertajuk Hikayat Pemanen Kentang (2011).

Kini bekerja dan tinggal di Bandung, Jawa Barat.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 7 JULI 2013

 

Written by Puisi Kompas

Juli 11, 2013 at 5:41 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI ESHA TEGAR PUTRA

with 3 comments


Tentang Mangkuto

 

Kota lama, kota hitam, malam selalu naik serupa bulan sempatbelas

kita memandang harilalu dari balik jatuhan kersik daun ampelas

ah, lambungku Mangkuto, di dalamnya serasa asam terus diperam.

 

Tapi aku serupa orang kena tenung, gerabah-gerabah berjatuhan dari

Pagu kepalaku, segala api dilarikan jauh dari mataku, siapa kaum yang

Membenamkan tinggam ke dalam ususku! Ah, lambungku Mangkuto

tuah siapa pula yang membuat nasi dingin ditelan serasa sekam tajam.

 

Kota lama, kota hitam, orang-orang berabad memasang perangkap

untuk menjatuhkan kida jantan, menggali lubang untuk merubuhkan

induk harimau, membangun kapal-kapal gadang buat menunggangi

air gila; tapi jantung-hati mereka terus dibuat remuk cerlang suasa.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Ombak Laut Sailan

 

Ombak laut sailan, sibakkan gerbang gelombang

sebab kibaran selempangku akan membuat langit gelap.

 

Dari pusar arus telah aku tunggangi belasan mambang, telah

aku suruh mereka memanggil segala angin segala dingin, aku

seraya mereka meruntuhkan tebing runcing segala pulau.

 

Dari gelanggang penyabungan ayam di Sungai Geringging

aku datang buat merompak urat jantung seseorang dari kaum

penggila selawat, kaum penggila nubuat.

 

“Nan Tongga, aku inginkan seekor nuri pandai bernyanyi

juga sehelai kain cindai berjambul kuning yang tak basah

direndam air, kain yang jika dikembangkan akan selebar

alam, yang jika dilipat seukuran kuku kelingkingku.”

 

“Tapi Gondoriah, telur burung di sarang manakah yang

telah menyembunyikan cindai seperti itu?”

 

Ombak laut Sailan, sibakkan pintu gelombang, berilah jalan

bagi para mambang. Maka aku akan tunai sebagai petualang.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Tentang Gondoriah

 

Telah kusesap pati pangkal tabu agar seketika memicingkan mata

aku tahu sedingin apa dasar terumbu. Aku panggil gelombang, aku

seru limbubu, aku tunggangi air gadang, ddan kubayangkan maut seakan

burung-burung dengan paruh bergetar dihisap samudra hitam.

 

Sebab tak kutakut berumah di pangkal pantai, tidak kukalut karang

membenam. Sebab pasang akan susut dan bulan jatuh ditutup awan.

 

Dendangkanlah lagu itu, lagu tentang beruk pandai berkecapi, tentang

siamang penabuh gendang dan tentang burung kuau dengan paruhnya

lihai menenun selendang.

 

Dan aku tahu, kelewang di pinggang akan patah dengan sendiri

kita akan menjerit untuk maut yang tak sudah. Maut yang terjepit

di antara pasak pintu hari depan dan pasak pintu hari lalu.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Pada Tunggul Terbakar Itu

 

Pada tunggul terbakar itu

aku temukan nasibku, Upik.

 

Seakan kudengar sayup-sampai suara tukang

dendang memainkan lagu tentang para pengilang

tebu di pinggang gunung Singgalang, tentang kuda

pacuan patah pinggang, tentang kisah anak dagang

hidup bergantungan dari kemarahan induk semang

 

Hari ke hari adalah patahan nasib baik

seranting demi seranting, dan aku terus

membayangkan ke depan adalah mimpi buruk

 

Beri aku dendang lain, Upik. Tak ada

maut, tak ada pendakian, tak ada segala

yang buruk. Tapi tunggul terbakar

itu terus aku temukan nasibku.

 

Hari baru barangkali seperti kehendak ingin

ke pasar, membeli seulas kain, lantas

menghantarkannya ke tukang jahit. Hari baru

lebih serupa baju baru, sebab kain lamaku

serasa kian tipis di badan, berhujan-berpanas

terus dibiarkan melekat seperti itu.

 

Beri aku dendang lain, seperti tarian selendang

atau gamad orang seberang dengan lagu

berkasih sepanjang hayat. Oh, telah aku temukan

nasibku di tunggul terbakar itu, Upik. Nasib

tunggul kayu berurat singkat, tidak lagi menancap

tak lagi menggapai.

 

Kandangpadati, 2013

 

 

Lumut Suliki Hijau Sutera

 

Aku ke pasar raya mengasah batu lumut Suliki

corak hijau sutera pemberian seorang kerabar dari darek.

 

Cincin perak seperti biji petai membuat mataku

rusuh di cerlang kilauannya. “Engkau berdada panas,

Tuan. Dudukkan batu lumut Saliki itu dekat dengan

kulit di jari manis, jangan beri jarak sehelai rambutpun,”

seorang pandai perak dalam dialek Kotagadang

menggoda membeli dagangannya berbagai cara.

 

“Engkau sungguh gaga, Uda. Mataku dingin

memandangmu, jantungku roboh menghadapimu.”

 

Berbilang hari kami jalan seiring dan kini

kubayangkan kekasih jantung-hatiku akan

memuji setelah cincin lekat di jari.

 

“Asahkan bapak, aku beli cincin perakmu, dudukkan

Batuku ke liang seperti biji petai itu!”

 

Kandangpadati, 2013

 

 

 

Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera

Barat, 29 April 1985. Kini, ia mengajar di Jurusan

Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 30 JUNI 2013

Written by Puisi Kompas

Juli 3, 2013 at 1:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: