Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Acep Zamzam Noor

leave a comment »

Di Halaman 55

 

Di halaman ini akan kumulai lagi

Menghitung kata dan menyaringnya

Di ruang kosong ini akan kuulangi lagi

Menyusun bunyi dan memainkannya

 

Di bilangan tahun ini akan kumulai lagi

Menjumlah usia dan mengendapkannya

Di angka rawan ini akan kuulangi lagi

Menyerap waktu dan memaknainya

 

2015

Di Sebuah Kuil

 

Cahaya dimulai dari kata-kata

Yang menetaskan denting sunyi

Di atas lantai marmar yang dingin

Lalu udara menangkap getarannya

Menjadi sepasukan kunang-kunang

Yang berterbangan. Cahaya dimulai

Dari ucapan tanpa suara, dari doa

Yang tak mengharapkan apa-apa

 

2017

 

Malam di Ayabe

 

Di dusun yang letaknya tidak termuat dalam peta

Terdapat sebuah kastil. Tiang-tiangnya kayu hitam

Atapnya sirap yang diselimuti guguran daun hinoki

Nampak bunga-bunga momiji berserakan di taman

Di antara bongkahan batu dan butiran kerikil hitam

Sepanjang undakan berjajar bonsai. Tua dan terawat

Udara sejuk dan kabut petang seperti gorden sutera

Yang berjuntai ke bumi. Sesekali terdengar murai

Kericik air mempertegas kesunyian di dusun itu

Asap dupa tercium dari jendela. Nyanyian serangga

Bersahut-sahutan dari arah hutan yang ditumbuhi

Pohon-pohon sugi. Gagak datang tanpa diundang

Melengkapi kekhusyukan malam bersama puisi

 

2017

 

Di Hokuriku

 

1

Jejak pada setapak jalan di lereng bukit

Seakan menyisakan cerita yang tak selesai

Perihal musim yang menyulap warna bunga

 

2

Sendiri berjalan menuju sebuah kuil abad lalu

Menziarahi bangunan kayu yang menyimpan

Rahasia waktu. Wangi dupa tercium dari udara

 

3

Seperti ada yang tertahan di antara deru ombak

Dan kesiur angin pantai. Mungkin sebait haiku

Yang mengendap bersama lapisan terumbu

 

4

Lama mencari satu kata di balik ribuan pasir

Yang terserak. Menjelang rembang petang

Terdengar seruan dari sekelompok gagak

 

2017

 

Jalan Pulang

 

Di jalan pulang

Bulan terlunta-lunta

Lupa alamat

 

2018

 

Pesan dan Gambaran

 

Bagi seorang penyair

Pucuk daun adalah pesan

Yang disampaikan ujung akar

Dari kedalaman tanah

 

Bagi seorang pelukis

Paras bunga adalah gambaran

Yang diungkapkan musim

Saat kuning menjadi kesumba

 

Pagi adalah hamparan kertas

Yang ditaburi bulir-bulir embun

Di tengah kabut yang mengurung

 

Petang adalah bentangan kanvas

Yang dipadati gumpalan mega

Dan suara burung-burung

 

2016

 

Tak Pernah Kutarik Bulan

 

Tak pernah kutarik bulan

Ke arah subuh. Tak pernah kuulur

Layang-layang malam

Meninggalkan langit tak utuh

 

Kenangan kadang melintas

Ingatan kadang terhenti

Kadang aku mengerti batas

Tapi rindu tak mau tahu

 

Bulan adalah layang-layang malam

Ditarik dan diulur benang gaib

Mengitari ruang dan waktu

 

Subuh adalah gema yang mengendap

Ketika suara azan bersahutan

Dari masjid-masjid yang kini jauh

 

2016

 

Lukisan Car Air

buat Tomoko Tominaga

 

1

Percikan warna

Kuntum-kuntum peoni

Semburat fajar

 

2

Suara poksai

Bulir embun di daun

Semilir angin

 

3

Bangkai momiji

Mendarat tanpa sayap

Di kanvas pagi

 

2017

 

Sebuah Peta

buat Sitor Situmorang

 

1

Udara demam

Jalanan batuk-batuk

Gagak berkoak

 

2

Lengkung jembatan

Seine mengalir tenang

Mentari lewat

 

3

Paris menggigil

Di sepertiga malam

Sebelum salju

 

4

Panthoen tegak

Di antara reruntuk

Bangunan waktu

 

5

Angin mengental

Montparnasse terkubur

Guguran poplar

 

6

Monmartre petang

Bagai titik cahaya

Di kejauhan

 

7

Roma terpaku

Pada tiang katedral

Disalib sunyi

 

8

Bagai teratai

Venezia mengambang

Di mangkuk air

 

9

Genova diam

Kapal-kapal bertolak

Ke masa silam

 

2018

 

Selusin Impresi

buat Mikihiro Moriyama

 

1

Pagi mengendap

Dalam cangkir tembikar

Semerbak kopi

 

2

Sepasang murai

Membuka percakapan

Siang menjelang

 

3

Petang di taman

Sakura berguguran

Bersama musim

 

4

Secangkir sake

Di tengah musim gugur

Langit meredup

 

5

Ke mana pergi

Bintang-bintang yang lari

Diusir fajar

 

6

Pagi di teras

Berjajar bonsai tua

Tukang pos lewat

 

7

Siang berangin

Taman ratusan tahun

Angsa di kolam

 

8

Lewat jendela

Seekor gagak terbang

Siluet petang

 

9

Satu per satu

Bintang jatuh ke kolam

Capung menari

 

10

Seekor katak

Melompat dari kolam

Ke arah bulan

 

11

Bulan tersangkut

Di ranting pohon sugi

Angin semilir

 

12

Sekuntum ceri

Di bawah sinar bulan

Terbaring sepi

 

2017

 

Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa

Barat. Ia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan

Komunitas Azan. Death Approaching and Other

Poems (2015) merupakan antologi puisinya dalam

terjemahan Inggris dan Jerman, sedangkan Ailleurs

des Mots (2016) adalah antologi puisinya dalam

terjemahan Perancis.

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 15 DESEMBER 2018

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Desember 17, 2018 pada 11:22 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: