Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Dody Kristianto

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


Tuba

 

Kau yang tak liat beradu

di atas memasrahkan

ketaklukan ini padaku:

 

Tak silap tafsirmu, aku yang

dimunculkan dari pati yang tak

dikehendaki mengerti ihwal

melengoskan perihal berhadapan.

Yang di kejauhan akan berserah

pada pelukan, lebih-lebih,

ciumanku. Apabila berterima,

mampus si musuh utama meski

masih disimpannya gelagat rahasia

yang bisa membuatmu berbalik

arah. Lalu kuputarbalik jalan

darahnya. Kuaduk-aduk semesta

uratnya. Berbaliklah arah amatan.

 

Atas tak bawah, bawah tak atas.

Tak lagi dia tangkas membeda

darah anjing, kuda, kambing, naga,

atau muntahan mambang. Tak

perlu aku mahir berakar di tanah

atau bertopang tiang tegak. Cukup

sedikit kesiur mengudara. Siutku

tak luput menyapa jantung Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 16, 2014 at 1:34 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


PUISI DODY KRISTIANTO

 

Memedi

 

Bissmillahi, aku menunggu dengan tingkah sopan.

Kutaheskan badan lemah gemulai ini agar terbiasa

menerima sembur darimu. Sebagai yang kasat

dan tak kebal dari godaan, kupercaya kegaiban.

Kugedruk bumi tujuh kali dan kutunjuk langit

sesekali.

 

Keluarlah, mentaslah, bertarunglah.

 

Pastinya, aku pantang menyalakan lilin. Tak ada

komat-kamit, bau menyan, hingga darah jago

yang terbelah. Gemetarkah aku? Tidak!

Meski rupamu tak kutangkap dalam cermin

 

Sekali lagi, ini malam Jum’at penghabisan.

 

Kuberucap basmallah pertama. Kusuwukkan

ke dalam kelewang. Agar aku yang lemah belaka

dapat menyigar tubuhmu. Atau jubahmu.

Atau batangmu. Atau segala tampak yang kusangka

kamu. Aduhai, sanak kadang pengganggu.

 

Ingin kutuntaskan kutuk dan sumpah serapahmu dulu.

 

(2013)

 

 

Genderuwo

 

Siapa yang mau menemaniku? Kamu? Atau sesuatu

di luar kamu? Yang menerawang di sebalik kancut?

Yang mengincar dan ingin keluar dari cawat? Serta

menyiapkan kegawatan kunam sebagai serbuan awal.

Ketahuilah, aku perawan yang tak pernah gemetar.

 

Memang, aku pikir pula kita bernama sama. Bertubuh sama.

Dan berasal dari malam sama. Lama aku hindari

segala tarung. Agar tamu malam ini semesra perjamuan lalu.

Kamu peyakin ikhwal awal kewingitan. Aku pemuja yang pasrah

pada yang mengendap. Jangan lagi tergesa. Jangan lagi lewat

dengan cepat.

 

Aku telah mengamankan segala kitab ajian. Aku simpan

agar sempurna semua penyatuan. Serupa sepasang angsa

mengambang pelan. Lepaskan. Lepas segera satu selubungmu

tersisa. Kita akan berjalan berdua. Berjalan menuju pagi

yang tak kembali.

 

(2013)

 

 

Tarung Tenung

 

Puh, berkelit ataukah mengelak, ini hanyalah tingkah sekadar

penggayang yang berserah pada daya kaum gentayang.

 

Kau yang mengimani teluh. Telah pula kau sawur

kembang mawar, melati, kenanga, kantil, hingga

aroma sigaret menyan yang mengundang tentara

tak tampak pandang

 

sebenarnya, ingin kukembalikan semua pada tarung belaka.

Harus melangkah pulang sawan yang kau semburkan,

harus beranjak pisau yang kau tanam dalam badan.

 

Lalu bagaimana semua tuntas bila kita tak beradu?

Tak ada bentur, tak ada gelut, tak ada geliat.

Dan kita serahkan semua pada tiup. Pada anasir

yang menebar ranjau-ranjau di udara

 

Wahai, kau yang menyergap tuba di penghujung liang,

lidahmu berbenih celaka, taringmu mengundang bahaya.

Haruskah kusemayamkan paku ke tengah gedebok pisang.

Agar kelak kau dapat mengerti, tanpa mencakar

dapat tembus logam dalam jantungmu, jantung peniup teluh

yang membangkitkan semut rangrang dalam lambungku.

 

(2013

 

 

Menyambut Jenglot

 

Kamu kelana dan kami menyergap

Kamukah sesungguh jantung hati?

Tak maukan berubah selayak kami?

 

Tapi diammu langgam mengancam

Harus jeli kami memahami perilaku rahasia,

Penganut langkah rahasia dari kitab rahasia.

Juga pengucap doa rahasia dalam ayat rahasia.

 

Kemarilah,

Bersepakatlah dengan sebatang dupa

sebatang yang gemar mengantar

segala rupa tak ada.

 

Kami mengamini. Perjumpaan berdua bukan perkara

menumpahkan darah. Tanpa perlu bimbang, kami rela

bertukar rupa. Masuklah, berapa banyak menyan

yang kami sembahkan agar kamu yang diam

mau bertandang?

 

Kemarilah,

sebelum pagi menunjuk pukul dua.

sebelum kami gedruk tanah dalam gerak

tujuh langkah

 

(2013)

 

 

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya dan tinggal di

Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini bergiat bersama

di Komunitas Saparatos

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 MEI 2013

Written by Puisi Kompas

Mei 13, 2013 at 6:36 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


Jurus Menjelang Tumbang

 

Inilah jurus menjelang tumbang:

 

kau terpuruk di pojokan. setelah terhempas

tonjokan tangal kidal. tapi kau ingin membalas

dengan sisa tenaga selembut tisu

dengan ancangan sekuat lidi

dengan pukulan selesat siput

di atasmu, bintang-bintang datang mendekat

di matamu, bulan merah pudar setengah kelam

 

tapi, kau tak ingin malu oleh pesilat muka tikus

kau tak mau takluk oleh jurus sapuan

bangau ngantuk. kau ingin tetap menghajarnya,

meski wajahmu tak tercetak di depan cermin lagi

berkuda-kudalah. siapkan seribu pukulan

pukulan dua tiga empat hanya lewat di badan

sang penantang. tepatkan juga tendangan,

tendang yang melesat jauh di atas kepala sang penghajar

 

mengertilah, kau hanya tinggal menunggu ia

mendaratkan jotos pemungkas. jotos yang ingin berpulang

tepat di jantung. di tempat yang tak lagi dapat kau lindungi

dengan gelibat bertahanmu

 

(2012)

 

 

Menangkal Sawan

 

Yang kutakutkan adalah kau.

Telah jitu kutangkal gerak gelak naga air.

Juga dapat kuringkus macan geni

yang memberiku seribu tikam pada badan.

 

Tapi untukmu, pergulatan beralih liat.

Kau teramat lihai menaruh beling di perutku.

Atau paku di jantungku. Membuatnya bergoyang,

bergelantungan saat kuancang sebuah tinjuan.

 

Kuda-kudaku bolehlah terpasang tegap,

tapi kau cukup meniup sawan. Anasir angin

akan mengantar yang rawan itu masuk ke dalam,

lalu pencar di luaran. Mereka akan berubah

semacam pendekat ganas yang mengincar.

 

Aih, kau penebar kejahatan di udara.

Petenung yang tak habis kugayang

dalam satu tonjokan tajam.

 

(2012)

 

 

Jurus Menunggang

 

Bahasamu adalah mengangkangi,

menumpangi. Maka tuntaskanlah beberapa

siasat:

 

siasat tenang, siasat mengekang, siasat

diam, hingga siasat berdendang agar tak

sampai segala kesetanan bertandang.

Segalanya tak lebih dari siasat singkat.

 

Semua semata untukmu, yang membuatnya

di bawah dan tertaklukkan. Jangan

menunggunya hingga giras dan

melontarmu ke segala arah.

 

Kuatkan pula ancangan yang telah

diwariskan para moyang. Pandangan ke

depan, sesekali melirik kiri dan kanan.

Jangan pernah kau palingkan muka

ke belakang. Jangan pernah.

 

Semua demi segala demit yang

menunggumu. Demit yang menjebak dan

menyiapkan sial agar kau yang menyimpan

kebaikan gerak tak banyak berlagak.

 

Mulakan semua dengan ketenangan,

mulakan dengan sikap seumpama kapal

karam. Agar ia tak sampai berontak, lagi

tak menyentak dengan lenggam badan

mahagalak.

 

(2012)

 

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya,

3 April 1986, dan kini tinggal di Sidoarjo.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 13 JANUARI 2012

Written by Puisi Kompas

Januari 16, 2013 at 1:28 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »


Mengamati Tiga Jurus

kau yang belia, pendaras kitab yang setia

tidak sia-sia jika jawara tua itu

menghardik namamu dengan lantang

sembari menunjukkan tiga ancangan

menghajar

 

agar kau yang muda senantiasa berjaga

dan menerka mana jurus yang kelak

dapat kau ikat dalam raga

 

dia guru dan seteru yang sempurna

persiapkan dirimu

sebab kau akan tahu

bagaimana cakaran elang

kehilangan koyakannya

atau ketenangan siasat ular

tak berdaya di depan kekangannya

berjagalah, buat tatapanmu siaga

dan menerka kuda-kuda apa

yang ia tunjukan

 

mungkin ancangan ekor naga

gerak gelebat gesit liat

yang tak mudah dibebat

meski tombak terpanjang

mengancam di hadapan

ia sunggu tak dapat diredam

dan diredakan

gerak yang sungguh tangguh

yang dipungkasi dengan sekian

rangkai tinju

 

bisa juga, ia membimbingmu

dengan kekukuhan tapak beruang

geraknya yang lambat, yang amat

mengingat langkah dengan cermat

percayalah, segala pukulan tak berdaya

di depan tubuh maha kuat,

dengan urat-uratnya yang tegap

yang sanggup melumpuhkan

tindakan segerombolan penyerang

 

tak akan lengkap jika tak kau tangkap

satu jurus pamungkas: tingkah lihai kera

yang tangkas dan sukar ditebak

kau tak akan tahu dengan cara apa

tiba-tiba dia mengelak

kemudian tanpa duga melakukan hentak

kau tak akan mengira, sebab inilah siasat

yang mahir menyimpan segala gamparan,

tendangan, atau pitingan

kala cecunguk yang sesumbar

mencoba menyerang, menusukmu

dengan sebilah kelewang

(2012)

 

Di Depan Petarung Tanggung

Tahan. Redam ancangan dan jurusmu menjelang

sabetan pertama itu tiba. Jangan lupa menyimpan satu

pitingan secepat kerjap yang membuat para jawara

 

terbangun dari tidurnya. Kuda-kudamu tentu matang

sungguh. Kau yang telah menjalani pertarungan tanpa

jeda dengan pesilat berjurus munyuk dan pendekar

bertoya buluk

 

telah kau jalani

hingga kau mengerti benar arti menerima pukulan atau

bagaimana menjamu tendangan yang bertandang telak

di tepi wajahmu. Kau yang belajar

 

tentang sakitnya kalah. Tentu bukan ancaman,

sekumpulan cecunguk dungu yang mengumbar

kelewang dan sesumbar menyeru namamu.

(2012)

 

Kunyuk Melempar Buah

yang tentu matang

bersama kuda-kuda

adalah segala tenaga

yang berlintasan

di sekitar

 

yang tak diurai

yang telah dipecah

dan siap dihempaskan

di depan jemawa

yang menantang

 

kau yang mengenal

segala ihwal pencak

dari kembaran gila itu

juga satu siasatnya

yang dapat melumpuhkan

para penyerbu dari langkah

sekian jauh

 

tentu ia tuntunkan padamu

putaran untuk menjinakkan

angin

ia ajarkan perihal memutir

gerak tiba-tiba itu

lantas amati bagaimana

sepasang kaki melangkah

lincah

memijak dan mengentak

tanah

 

agar yang di bawah

mengirim dayanya

daya yang memberi

sebuah kekukuhan

pada lesatan pukulan

yang akan diarahkan

ke semua arah

(2012)

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya, 3 April

1986. Saat ini tinggal d Sidoarjo.

 

KOMPAS, MINGGU, 12 AGUSTUS 2012

Written by Puisi Kompas

Agustus 15, 2012 at 3:39 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: