Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Archive for Februari 2014

PUISI GOENAWAN MOHAMAD

leave a comment »


Marco Polo

 

Hari masih gelap, hari Rabu itu, ketika Marco Polo pulang,

jam 6 pagi di musim gugur, beberapa abad kemudian.

 

I

Di dermaga Ponte Rialto tak dikenalinya lagi

camar pertama. Di parapet jembatan itu

tak bisa ia baca lagi beberapa huruf tua

sepanjang kanal.

 

Hanya dilihatnya seorang perempuan Vietnam

mendaki tangga batu yang bersampah.

 

Dan Marco Polo tak tahu pasti

apakah perempuan itu bernyanyi

di antara desau taksi air.

Apakah ia bahagia.

 

Atau ia hanya ingin menemani seorang hitam

yang berdiri sejak tadi di bawah tiang lampu

di depan kedai pizza, selama angin

merekatkan gerimis.

 

“Kalian datang dari mana?” pengelana Venezia itu bertanya.

 

“Tidak dari jauh,” jawab perempuan itu.

“Tidak dari jauh,” jawab orang hitam itu.

 

Dan camar pertama terbang.

 

Ia pernah kenal pagi seperti ini:

pagi yang dulu tak menghendakinya pergi.

 

II

Bau kopi pada cangkir

sebelum kantin membuka pintunya,

bau lisong pada kursi

yang masih belum disiapkan:

yang tak berumah di kota ini

tak akan pernah memulai hari.

 

III

Dua jam ia coba temukan tanda delima

yang pernah diguratkan di ujung tembok

lorong-lorong sempit.

 

Tapi Venezia, di tahun 2013 Masehi,

tak lagi menengok

ke arahnya.

 

IV

Di Plaza San Marco, dari dinding Basilika

malaikat tak bertubuh

menemukan gamis yang dilepas.

 

“Adakah kau lihat,

seseorang telah menemukan seseorang lain

dan berjalan telanjang

ke arah surga?”

 

Tak ada yang menjawab.

Hanya Marco Polo yang ingin menjawab.

Tapi dari serambi kafe

orkes memainkan La Cumparsita

dan kursi-kursi putih manari

tak kelihatan, sampai jauh malam

Ketika kemudian datang hujan yang seperti tak sengaja,

Seorang turis berkata: “Akan kubeli topi Jepang

yang dijajakan pada rak,

akan kupasang

ke kepala anak yang hilang dari emaknya.”

 

V

Menjelang tengah malam, para pedagang Benggali

masih melontarkan benda bercahaya

ke menara lonceng. “Malam belum selesai,” kata mereka,

“malam belum selesai.”

 

Marco Polo mengerti.

Ia teringat kunang-kunang.

 

VI

Cahaya-cahaya

setengah bersembunyi

pada jarak 3 kilometer dari laut

 

Dan laut itu

terbentang

gelap aneh yang lain.

 

“I must be a mermaid, Rango. I have no fear of dephts

and a great fear of shallow living.” – Anais Nin

 

VII

Esoknya hari Minggu, dan di bilik Basilika padri itu bertanya:

“Tuan yang lama bepergian, apa yang akan tuan akui sebagai dosa?”

 

Marco Polo: “Imam yang tergesa-gesa.”

 

“Saya tak paham.”

 

Marco Polo: “Aku telah menyaksikan kota yang sempurna.

Dindingnya dipahat dengan akses dan peperangan

di mana tuhan tak menangis.”

 

VIII

Di Hotel Firenze yang sempit

Marco Polo bermimpi angin rendah dengan harum kemuning.

 

Ia terbangun.

 

Ia lapar,

ia tak tahu.

Ia kangen,

ia tak tahu.

 

Ia hanya tahu ada yang hilang dari selimutnya:

warna ganih, bau sperma,

dan tujuh remah biskuit

yang pernah terserak

di atas meja.

 

IX

Pada jam makan siang

dari ventilasi kamar

didengarnya imigran-imigran Habsi

bernyanyi,

 

Aku ingin mengangkut hujan di kaki dewa-dewa,

aku ingin datangkan sejuk sebelum tengah hari besok,

aku akan lepaskan perahu dari kering.

 

Di antara doa dan nyanyi itu

derak dayung-dayung gondola mematahkan

sunyinya.

 

X

Sebulan kemudian.

Di hari Senin itu

musim mengeras tua

dan Marco Polo membuka pintu.

 

Cuaca masih gelap.

Jam 6 pagi.

Biduk akan segera berangkat.

 

“Tuanku, Tuhanku,

aku tak ingin pergi.”

Ia berlutut.

 

Ia berlutut tapi dilihatnya laut datang

dengan paras orang mati.

 

2013

 

Goenawan Mohamad menulis puisi, esai, dan lakon. Kumpulan puisinya yang terbaru adalah Gandari dan Sejumlah Sajak (2013)

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 23 Februari 2014

Written by Puisi Kompas

Februari 26, 2014 at 10:06 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI M AAN MANSYUR

leave a comment »


Siput atau Bayi atau Aku yang Tidur

 

Satu-satunya rumah yang tersisa adalah tidurku. Di luar itu,

badai – dan bayangan-bayangan yang mengejar diri sendiri.

Aku tidak lagi menunggu. Jendela telah kehilangan cahaya.

Langit-langit dan atap dan langit dipenuhi perjalanan dan

ketakutan dan bandara.

 

Kuinginkan ini: selimut warisan ibuku adalah cangkang

dan aku melunak jadi bayi. Sudah lama aku jatuh cinta

pada hal-hal yang bisa mengajariku mengerti dan berhenti.

Telingaku tersumbat dan lamat-lamat cuma kudengar

kalimat selamat tidur dari dalam diriku yang baru kembali.

 

Aku siput dan aku bayi dan aku diselaputi tidur yang

damai. Kumakan mimpi-mimpiku: kita ada perih lain yang

kita kira masa depan dan semua yang cuma andai.

 

Kubiarkan semua bayangan di luar rumahku berlari dan

jatuh menabrak diri sendiri. Ikutlah berlari jika kau tak

ingin ke mana-mana lagi. Di dalam cangkang ini, aku riang

bermain. Alamat-alamat yang tidak pernah kudatangi,

pulau-pulau yang pernah menjauh, pulang satu demi satu

menempatiku.

 

Kelak ketika bayangan-bayangan itu, dan kau, menyerah

atau mengalah atau gagal mengalahkan diri sendiri, aku

bangkit. Mataku adalah pintu. Bahkan batu-batu akan

memasukiku sebagai bunga atau matahari terbit.

 

Barmain Petak Umpet

 

Kututup mata di depan, atau barangkali di belakang, pohon

mangga dan menghitung satu dua tiga empat lambat hingga

sepuluh. Kubiarkan kau berlari, menemukan jarak dan

tempat sembunyi. Kutahu, di suatu tempat, kau cemas

menunggu.

 

Rasanya baru dua tiga bulan, bukan sepuluh, anak-anak

belum sempat menggalkan diri dari kita. Tapi, di antara

pohon mangga tempatku terpejam menghitung dan sunyi

tempatmu bersembunyi, telah dibentangkan jalanan. Di

dadanya, orang-orang asing dan mesin-mesin lalu-lalang

lebih cepat dari waktu, saling kejar mencari dan mencari

dan mencari dan mencair jadi apa dan kenapa dan kapan.

Kau, meski tak lagi bersembunyi, tidak juga kutemukan.

 

Barangkali kau suntuk menunggu, dan aku mulai cemas

kehabisan lagu yang untuk kunyanyikan.

 

 

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa di Makassar,

Sulawesi Selatan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Aku

Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan

Kita dalam Satu Cerita (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 Februari 2014

Written by Puisi Kompas

Februari 17, 2014 at 10:17 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI MIRA MM ASTRA

leave a comment »


Tanah Aswa

 

1/

Pertama adalah hutan tua

dan bukit binasa

yang lingkup dan ujung gulita

lelap seperti kukusan

yang tertelungkup di lapisan ingatan

 

2/

Lima ujung

mendekap pundak tebing

di mana delapan raja delapan ratu

menunggu mengisi mulut di tanah

mulut yang tersangga kelabu batu

 

3/

Namun kelabu

adalah timbunan waktu

yang menempa emas dari pecahan petang

yang menurunkan kubur bulan

tempurung kuningan

juga kubur anak kuda

dan pintu patung manusia

lalu berkata pada dirinya:

 

“Berkuasalah atas yang bersayap

yang berkeriapan

yang bergerak

yang merayap merangkak

lalu gantungkanlah dua bulan

dua bintang katai putih

dengan berkendara mata pelangi”

 

/4

Siapa yang menyangka

bintang kitai putih dihembus panas selubung

dan kematian bulan selalu dikenang

maka yang bersayap yang berkeriapan yang bergerak

di atas air berkumpul

menerbangkan siul-siul semerbak

cendana pemilah batas pekat

 

5/

Pada tujuh rentang kedalaman terang

menembus mulut di tanah

yang tak usai berguncang

menggoyang batu-batu

di mana delapan anjing melolong

membangunkan lebah delapan sarang

 

“Beranjaklah, beranjaklah

bawalah ingatan hutan tua  dan bukit binasa

dalam luas dadamu menuju daratan”

 

/6

Di lapisan taman kedelapan

pada halaman rata dan balai bercahaya

dalam bayangan pohon jeruk dan pohon jati

layang kabut dan elang terbang

menghambur ke tanah dan batu

menimbun rumah air

di mana ingatan kembali meniti

tangga besi dan teras kayu

 

“Ambillah segala yang bernyawa

sebelum kau kenal semak dan hujan.”

 

/7

dengan sampan randu dan puli

melampaui lautan dan api

nukuhara telah mencapai daratan

satu-satunya pertahanan

bagi segala penggalan kemungkinan

 

10 Januari 2014

 

 

Upacara Darah

 

Sebab hanya darah

campuhan tempat aku menadah

sesaji dedari dan lingkaran api

 

lingkaran yang bergasing

ketika sebuah nada tertawar

sesayut segala suara

 

nada yang mengeram

seperti ikan bersilangan

menabuh percik-percik arak

ke jurang rahimku

 

dan jika tepat musim

maka kelak akan kuseberangi kau

beralas patawala dan mahisa hitam

dengan seperangkat suci daksina

gantal, buratwangi

juga pisang emas bergula kelapa

dan sekepundan nasi cemani

 

di urat leher

geringsing gedogan telah melingkar

seperti seekor naga yang memulas pupuk gambir

membelit lilit cengkupan kelopak padma yang terakhir

cangkupan seharga kalpika rukmi bermata mulia

pada talam emas beralasan petila sutra

 

dan jika kilat kaki bintang katai mengintai

perabukanlah liat liar mata ini

ke dalam sesaji api;

dan biarkan ketelanjanganku

tertutup juntai dedaun andong

bulu-bulu ayam merah

terlumat di lumpang batu jiwa

tertebus di atas nyiru dan serentang nagasari

berlukis ardanareswari yang bercakap

di kelir pepagan dewandaru

saat raut bulan mengendur

tentang hari yang baru

bagi pupus merahku, merahmu

yang berkelindan

 

21 Januari 2014

 

 

 

Hu

 

Hu, telah aku susupkan kepala

kuncup seroja kuning muda ke dalam cupu

selaka tempat mereka memeram

petikan rambutku yang pertama

saat bulan meminjam pentulan dari ingatan lontar

 

dan janji;

masih saja lihai merunut lintasan

membakar mencari-cari sisa-sisa lautan

 

lautan yang merambat di punggung

menghampar segading kulit mahisa

di natah swecapura

dan yang diam-diam

mengasah suara sebilah candrahasa

dari dasar palungan jiwa

 

sebab mereka telah lama

mengukur-ukur tapak dupa

di sepanjang tubuhku

sambil meringkusi raka bunga

menyusur tepi timur telaga waja

dan sesekali mengayuhku

pada sudut langit yang lain

 

sudut yang sempit

di mana dengung genta

sepersekian cahaya sesekali berkelebat

dan dari celah-celah mimpi

aku mengintip lontaran kilat

dari ladam kuda yang berpacu udara

kuda milik penjaga sabana

yang memelihara kesunyian di usus kepala

dan yang telah mengajariku

letak detak mantra segala puncak

rasa lapar yang telah merobek

berpasang mata dan telinga

 

Hu, sebab di sanalah

tenda kemah akan kudirikan

bagi serdadu kata dan senjataku

menunggu isyarat penyerangan malam

penuh rasa sabar sebelum fajar

 

11 Januari 2014

 

 

Mira MM Astra lahir di Denpasar, Bali, 1978. Ia pernah belajar di Charles University dan Anglo-American University, Praha, Ceko. Puisinya termuat antara lain dalam antologi Langit Terbakar Saat Anak-anak Itu Lapar (2013)

 

PUISI KOMPAS, MINGUU, 16 Februari 2014

Written by Puisi Kompas

Februari 17, 2014 at 10:08 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI A MUTTAQIN

with 2 comments


Percakapan Bolong

 

Aku bangkit dari demam

agar bumi bebas dari belatung kelam.

Kuperam asam, garam dan cukak legam

dan kau sebut aku kuntum zakkum jahanam.

Tidak. Wujudku alum dan aku bukan bagian

kuntum zakkum. Kubuang luka dan lambungku

supaya mataku terbuka seperti malam

yang merembyak rambut rahasia.

Bintang bunting, Bulan bunting.

Seribu belatung melompat dari bulan itu

dan menyerbu lubang punggungku.

Bersama belatung itu kurawat lapar sejati.

Yakni, lapar yang kuwarisi

dari nabi dan orang-orang suci.

Tidak. Tidak. Lapar ini tidaklah

suci seperti lapar para nabi.

Wahai kaum kolot penganut otot,

tak usah kalian kebakaran jenggot.

Jangan marah agar doa-doa kalian tak sia-sia.

Tenang. Jangan mengangkat pedang untuk menebas

wujudku yang pasti jauh dari jangkauanmu.

Laparku hanya lapar iblis

yang (pura-pura) melengos saat dipaksa

bersujud pada selain Maha Wujud. Laparku lapar ular

yang terus menjalar oleh geletar gatal tak terbayar.

Tidak. Tidak. Tak hendak kudekatkan diri

pada yang suci, walau – seperti jubahmu –

dasterku juga putih. Kuramut curut dan tikus got

sebab kami sama-sama makhluk kendor dan kotor.

Kusimpan burung hantu di jantung suwung,

seperti cinta buta yang telah menyatu dengan raga

kosongku. Kucintai burung penyair pemalu itu

agar aku betah merawat insomnia

di mana para pawang dan petualang

mencari sumpal bagi lubang sepi, lubang perih

juga lubang birahi. Itulah tiga

lubang keji,  seperti lekuk lapar ini.

Tidak. Tidak.  Lapar dan lubangku tidaklah keji

biar keduanya tak kunjung tertambal

oleh raga, ragi, apalagi basa-basi.

Mungkin ini lapar tertinggi

yang membuat tubuhku ringan

melayang dan tertawa

menahan gatal gawat

tersebab tabiatmu.

Tidak. Tidak hanya tabiatmu, tapi juga

tabiat sekalian kawanmu yang serba palsu.

Sebut aku sundel bolong, sebutlah,

agar doa-doa kaum palsu pemuja basa-basi itu

tak melayang kosong.

 

 

 

Burung Hantu

 

Aku melihatmu

terbang, melayang, tanpa beban.

Sayap dan bulu bukan bagianmu

tapi kelebatmu lebih ringkih dari buih dan mimpi.

Aku mencintaimu sedalam malam,

seluas insomnia, sebab kau wujud yang

mengajari aku menjauh dari bias cahaya.

Tidak. Tidak. Aku barangkali tidak mencintaimu.

Tapi mencintai sebagian diriku yang terangkut

lubangmu. Yakni, wujud busuk, tawa buruk

juga belatung penguk yang membuat bangkai

dan sampah-sampah di bumi terurai.

Aku bersyukur kita lahir dari kaki dan kotoran.

Agar yang suci terlindung

dan yang bersih terpalung.

Maka, seperti dirimu, diam-diam

kubenamkan bulu-bulu putihku

pada asap gelap, meniru Eyang Sumirang

yang dibuang ke kobaran api.

Tidak. Tidak. Tak berhak kubandingkan diri

dengan Eyang Sumirang yang teguh dan tenang

menggenggam tarkhim Ibrahim yang goyang.

Tarkhim itulah yang terus kulagukan

tak peduli bulan terang atau tak terang.

Aku terus melagu, walau laguku terdengar buruk

dan membusuk di kuping kaum pengkuh.

Aku terus melagu, bahkan ketika kawanku

anjing-anjing pincang dan kucing malang itu digiring

regu berseragam karena meniru laguku kelam.

Tidak. Tidak. Tak ada yang lebih kelam dari tawamu.

Aku mencintaimu dan mencintai tawamu

yang hitam. Aku menepi ke tempat-tempat tinggi

dan sepi, agar bisa terus mencintai tawamu

yang merawat tarkhim yang ditekuk kawanan

serigala berbulu unta. Maka teruslah tertawa.

Datangilah orang-orang malang

dan tak berdaya dengan tawamu.

Boleh kau ajak kolega atau kawan kentalmu,

misalnya gunderuwo, wewe gombel, gendul pringis,

memedi, banaspati, demit, pocong, jenglot,

jerangkong, kemamang, oyot nimang, kubur bajang,

begejil, tuyul, weleg, kuntilanak dan sikil telu.

Bimbing orang-orang susah menertawai dunia.

Ajari mereka meniup lapar dengan

harapan dan nomer-nomer semu.

Ajari mereka menertawai diri

agar tak gampang pura-pura

menjadi suci atas segala tipu-daya busuk itu.

Tidak. Tidak. Tak boleh sekali-kali

mengutuk dan menyebut mereka sebagai busuk

hanya karena tabiat mereka makin bikin geli.

Bukankah yang demikian itu membuat kita

kuat menertawai diri dan mencintai

dengan cara sembunyi?

 

 

 

Rumah

 

Kutampung burung hantu itu, seperti anak malang

yang pulang dari rantau. Ia piawai menggubah

lagu merdu, pelipur luka kayu dan tanah

yang kini menjadi bagian badanku.

Kayu dan tanah – remah yang telah dibakar

jadi batu bata itu – adalah penyangga hidupku.

Dari mereka aku tahu tentang hutan,

tentang petapa, dewa dan sedikit rahasia.

Dari mereka pula aku mendengar kisah

tentang kesucian perawan,

yaitu pacar si burung hantu itu

yang kini kerap gentayangan

mengitari tubuhku.

Tidak. Tidak. Perempuan itu

tidak gentayangan.

Dengan daster melati ia memberi

wangi seliat langit sepi.

Tidak. Tidak. Perempuan itu

tidak gentayangan dan menyeramkan,

apalagi jahat, seperti dongeng

yang dikarang-karang tetangga sekitarku.

Benar kata penghuniku, perempuan itu

memang menyimpan bau wangi dan busuk.

Ia merebakkan melati bau liar

pada orang yang tak menyerah pada lapar.

Tapi ia juga menebar bau busuk,

lebih busuk ketimbang bangkai munyuk

bagi orang yang suka pura-pura suci.

Rupa-rupanya penghuniku yang sepuh itu

orang baik dan bijak. Seperti anak angkatku

– si burung hantu itu – ia begitu rendah hati

dan tak suka bersaing dengan matahari.

Ia memang tak suka keluar rumah siang-siang

apalagi mengumbar cerita kacau

dan menjual khutbah yang tak perlu.

Tapi mengapa penghuniku

malah dituduh sebagai dukun gendam

hanya karena ia suka berdiam menderas diri

dan menghuni aku yang, kata mereka,

berbentuk muram. Tak sama

dengan bentuk tetanggaku yang

berwujud gendong angkuh dan seragam.

Beruntung Tuhan pengasih-penyayang

mengirim burung hantu

yang telah kuanggap anakku.

Puji Tuhan yang mengutus

perempuan bolong itu,

yang tawanya begitu jujur melipur

malam dan sepiku.

(2014)

 

 

 

Tukang Sulap

 

Kubuka topi keramat

seperti membuka pagi dari jerap mimpi.

Kurahasiakan mawar, telur, roti, dan korek api.

Juga ular, merpati dan tikus putih ini,

agar mereka percaya yang gaib masih tersisa

di bumi yang kian brutal dan bebal.

Lihatlah ular ini. Ia tahu, di atas sana

seekor burung hantu dan sundel bolong

bercinta dan bersembunyi dari hari-hari

yang lebih buruk dari dengkur babi.

Tidak. Tidak. Mereka bukan burung hantu.

Bukan sundel bolong. Bukan.

Ketahuilah, si burung hantu

adalah punggawa yang memilih menepi

setelah si paduka membakar petapa

yang dituduh menyebar bidah.

Sedang si sundel bolong

adalah perawan yang memilih mencebur api

meniru si ratu ketika didakwa membuka

gelambir sorga dan bulu-bulu cinta. Begitulah.

Sejarah adalah serangkai rahasia, darah dan api.

Maka dengan gemetar dada dan sangsi

kumainkan sekian atraksi sepi.

Kusembur minyak ke kobar api

agar ia mengembang seperti geletar lapar.

Yakni lapar yang membuat gajah, harimau

ular dan marmut rela menjadi badut. Lapar

yang membuat segala yang liar

jadi jinak dan jamak, seperti para hadirin

yang duduk manis menikmati segala tipuanku itu.

Tak tahu jika menjadi lugu dan tolol begitu

mereka hanyalah bahan lelucon dan tertawaan

sekawanan kelelawar dan burung hantu.

Juga sundel bolong yang tawanya

kian mengerikan itu.

 

 

A Muttaqin tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Buku puisinya yang segera terbit bertajuk Kerucut Rumah Eyang.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 9 FEBRUARI 2014

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 12, 2014 at 10:57 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI SINDU PUTRA

leave a comment »


Di Lombok, Aku Dapatkan Nama

 

batu belig                    batu bolong                 batu basong

batu dawa                   batu godog

batu kumbung             batu kliang                  batu layar

batu luwang                batu nyala                    batu ringgit

 

di Lombok, aku dapatkan nama untuk diriku

untuk mengapungkan aku,                  pada tanjung paling terpencil

: batu dari yang terpojok dalam hidupku

batu kecil yang terbelah dua               : terbuka dan tertutup sendiri

 

2013

 

 

 

Perempuan Itu Menenun Hujan

 

perempuan itu menenun hujan

di Slade.          100 menit dari Rembige

tempat tinggalku.

 

dengan tangan lumpuh layu

perempuan itu mengetuk-ngetuk tanah

sementara tubuhnya basa oleh gelap

: “Saya membuat sayap burung api

dengan benang emas dan serat perak…,” tuturnya

 

1000 tahun dari diriku,                  di Slade

di tengah angin matahari

perempuan itu menenun hujan

hujan musim kemarau

untuk tubuhku yang gelap

 

2013

 

 

 

Aku Takut, Aswattama Bersembunyi dalam Diriku

 

lelaki yang ditusuk kutuk

mengenakan bulan-mati di keningnya

mengembara sepanjang tiga ribu tahun cahaya

 

aku takut

lelaki yang menderita semua penyakit

yang diderita manusia itu

bersembunyi dalam diriku

 

2013

 

 

 

Kupu-kupu Tak Tampak Lagi di Mataram

 

Mataram,                     sunyi dari bunyi padi

Mataram,                     senyap dari gerak tari beaqganggas

 

sebatang pohon asam tua

bicara tentang hujan asam

: “kupu-kupu tak tampak lagi di Mataram…”

 

hanya burung-burung yang marah

hanya burung-burung yang lapar

hanya burung-burung marah yang lapar

membawa bunga api di paruhnya

sehingga hutan kota terbakar

sepi.                 sesendiri televisi yang menyala 24 jam

 

2013

 

 

 

Sindu Putra lahir di Bali, 31 Juli 1968.

Kini ia tinggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Buku puisinya antara lain Dongeng Anjing Api (2008)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 FEBRUARI 2014

Written by Puisi Kompas

Februari 4, 2014 at 9:16 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DEDDY ARSYA

leave a comment »


Kancing Baju Alimaca

 

Dalam topi lakenmu yang bundar

cakrawala tiba-tiba pudar, Alimaca

bukit-bukit baru tumbuh dari balik kabut seperti payudara anak gadis tiga belas tahun

ladam kuda memercikkan api di jalan raya, dulu para rodi bergelimpang mati di situ

tapi sebentar lagi lampu-lampu toko menyala di seberangnya menebar harum

sabun wangi yang tercium dari leher gadis-gadis baru pulang dari pemandian air panas

di jalan besar ke pasar kota itu juga, Alimaca

ada kereta api lewat setiap pagi

membawa keranjang-keranjang penuh kampung-kampung yang terseret

troli ke supermarket, truk-truk tentara penuh muatan pernah berjalan di atasnya

membawa kamu bercelana pendek belacu memotong garis damarkasi

bertanya-tanya dalam hati di mana putar roda hidup ini akan berhenti

tapi kini Alimaca kau dengar suara mereka bukan gemerincing suara sabda

yang sampai ke telinga para anbiya

hanya suara hujan yang berguntur di atas kepala, bukan, Alimaca?

kancing bajumu tinggal seluruhnya

ketika angin tiba-tiba gusar, Alimaca

menyumbul pusarmu yang besar, menyumbul hari depan yang cepat-cepat buyar

rahasia berhamburan keluar seperti keluang-keluang berhamburan dari mulut gua

pada lantai berderak bunyi jatuhnya bagai derak gigi kereta api di jalan menanjak

angin dataran tinggi membawa kabut bikin arah tak tampak, Alimaca

ladam kuda berdentang-dentang di jalan raya, hari lalu bergetar di atas tempat tidur

seperti getar busur

Alimaca, seperti desis ular mendengkur

 

 

 

Cinta Jahanam

Kalau kau tak mau, Uda, terpaksa pada buhul ini aku minta

janji lama hilang lenyap sumpah tinggal gulali merah muda

jangan beri aku harap, Uda, siampa besar di kerak-kerak neraka

jahanam kau, Uda

kakimu terbalik, bibirmu rata

mulutmu gua bersarang biawak berbisa dan komodo purba

kau memelihara babi dalam kepalamu, Cindaku!

aku bisa kembalikan kapal yang tersorong badai ke samudra

tapi tak bisa kembalikan hati yang terseret riak kecil asmara

di tengah malam menjelang malaikat tidur dalam kepalaku

aku sebut-sebut namamu bagai igau iblis dari dasar kawah

cintaku amuk gunung api, Uda

 

 

 

Deddy Arsya tinggal dan bekerja di Sumatera Barat.

Buku puisinya berjudul Odong-odong Fort de Kock (2013)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 FEBRUARI 2014

Written by Puisi Kompas

Februari 4, 2014 at 8:51 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: