Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Posts Tagged ‘Dadang Ari Murtono

Puisi Dadang Ari Murtono

leave a comment »


dongeng sangkelat

sepi yang ia cintai barangkali tak ada lagi,
tepat ketika sunan kali memindahkannya dari akadiyat
ke tengah babad yang benderang, dan empu supa,
dengan tiga kali pijitan, mengubahnya dari biji kemiri
jadi sebilah keris penanggung wahyu

ia mabuk, ia benci
tapi pada halaman itu, pembaca mulai tidak sabar
”masukkan ambisi kekuasaan, masukkan nujum-nujum,
beri kami perang yang meriah”

*
bau maut pada tembok batu bata
ketika malam jatuh seperti dibanting
ia ingin lelap, sebenarnya, dalam warangka
tapi kiai condongcatur memanggil-manggilnya
ke sebuah paragraf berisi pertempuran singkat

”tapi aku tak mau,” katanya
”tapi pembaca menginginkannya”
”tapi aku tak peduli dengan pembaca”
”tapi kau harus menghentikan kali yang menaburkan
bibit mati lewat lekuk pamorku”

* Baca entri selengkapnya »

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 5, 2019 at 7:48 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Puisi Dadang Ari Murtono

leave a comment »


ajisaka

 

”jangan sentimentil, dora,” junjungan kaum shaka

itu berkata, panggung panjang dan lengang, cahaya

menyanyikan madah dari negeri kematian

dan tiga detik sebelumnya, dora berujar, ”aku tak

tahu bila cahaya bisa bernyanyi”

 

sementara di tapal pemberangkatan, sembada

menambal kapal yang berlubang, ia sudah habis airmata,

ia sudah habis kata-kata

meski sejak jauh hari, ajisaka telah berulang mengingatkan

”kelak kau harus berkata keras dan berhati keras dan berkepala

keras dan menendang keras”

Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Februari 11, 2017 at 9:51 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

PUISI DADANG ARI MURTONO

with 3 comments


ketika maling caruling memaling

 

pada upaya yang kesekian

ia seperti mendengar nyai itu berkata

segala yang gagal membuatmu menyerah

akan menjadikanmu lebih tabah

 

pada upaya yang kesekian

gerit jendela seret tak beroli ituhanya senyap

ia seakan melihat asmara

menyungkupkan jarit gelap tak berbatik

dan ia tahu

tak bakal ada jerit

sampai esok

sewaktu si demang menyadari dadanya berlubang

dan jantungnya tinggal kantung yang begitu luang Baca entri selengkapnya »

Written by Puisi Kompas

Januari 13, 2015 at 7:41 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

%d blogger menyukai ini: