Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Taufik Ikram Jamil

leave a comment »

ke pulau rindu

menuju pulau rindu
saya berharap alunan cahaya
sebab seperti biasa
dia menunggu saya
dengan kisah pantai ketika benderang
memaknainya sebagai cerita pendek
yang tak tersambar angin
kemudian berkata:
“sekarang musim angin
puting beliung acap kali datang
dan pantai kita terus tergerus
tapi waktu menolaknya untuk terkikis
sebab pelaut pun sadar
tak ada kepergian selain pulang.”

menuju pulau rindu
tak saya tentang sebarang cendera hati
pun oleh-oleh sekedar pelipur lara
sebab seperti pantai kepada ombak
saya dengannya tak terpisah tanda
membawa dan menerima tiada makna
seperti dia pernah berujar
“jangan merasa kembali
karena kau tak akan pernah pergi.”

menuju pulau rindu
saya pun sekaligus sampai kepadanya

 

tanya

seberapa jarak perlu untuk rindu
seberapa dekat rindu untuk menujumu
seberapa jauh menujumu untuk bertemu
seberapa lama bertemumu untuk cumbu
kau tak akan tahu
tak akan

tak akan kau tahu
seberapa rindu untuk menjarak
seberapa tuju untuk mendekat
seberapa temu untuk menjauh
seberapa cumbu untuk menemu
tahu kau tak
tak tahu

tapi sudahlah
tahu tak tahu
tak tahu-tahu jugakah

 

menziarahi tengku kamariah

syarat yang tuanku tetapkan
akhirnya memang tidak tertunaikan
cuma bukan hamba yang menangis
tapi airmatalah yang mengucurkan hamba
menguyupi kisah tak sudah-sudah
dari johor dan bintan berpayah-payah
di siak pula tak boleh lengah
meski permaisuri jabatan dipapah
pengorak langkah ke sekolah wilayah

maafkan hamba jika bertanya
adakah yang lebih sakit
jika ayah sendiri tewas di tangan pasukan suami
lalu dimusuhi kakak abang karena takhta
juga terusir dari istana ke rimba sumatera
melahirkan putera mahkota tanpa kuasa
sedih tersisih karena kasih
tunduk kepada suami adalah ibadah
dengan akal budi datang berbakti

lalu bagaimana mungkin
hamba menguburkan semua kisah itu
sebagai syarat menziarahi tuanku

tuanku tengku kamariah
untukmu kukirim ini al-fatihah

Catatan:
Tengku Kamariah, istri pendiri Kerajaan Siak, Raja Kecik.

 

Taufik Ikram Jamil menulis puisi dan prosa fiksi. Ia menetap di Pekanbaru, Riau.

PUISI KOMPAS, SABTU, 27 April 2019

Iklan

Written by Puisi Kompas

April 29, 2019 pada 2:01 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: