Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Zelfeni Wimra

leave a comment »

jantung pisang dan kamus peribahasa

sebelum mematri langkah sebagai perantau
aku lukai sebatang pisang
aku pancung tandan di hulu jantungnya
hingga terburai, bercerai-berai
nasib serupa juga ditanggung kamus peribahasa warisan ibu
lenyai digigit rayap, seolah belorong labirin kini mengurung
petuah lama di halamannya

aku nyanyikan ini sebagai puisi pindah rumah
tanpa pernah mengenali alasannya
pisang dan kamus peribahasa itu melepasku
melenggangkan lengang
juga ngiangan kaba maharjo dirajo
mengirim daro pitok dan daro jinggo
ke tanah jawo

seketika, aku lihat wajah anak perempuanku berkilau
melawan kedipan lampu odong-odong
di alun-alun selatan
apakah ia juga sedang tergoda
membakar darah titisan ninik
anak-anak yang muda
anak-anak yang aditia

sepi begitu lain mengaliri perantauan ini
mengantar diri mencangkungi angkringan
perempuan berkebaya yang kerutan jidatnya
renyah tawanya mirip dengan mendiang ibuku
sebungkus nasi kucing bersayur jantung pisang
menjadi peribahsa pertemuan kami
yang mungkin hanya sekali

2018

 

ke dalam kelambu suluk ia menyuruk

bertemu air ia nak berenang
menginjak tanah dirinya ingin tumbuh
bersua api dia mau terbakar
melihat udara ia ingin terbang
bertemu nasi dirinya hendak makan
berdepan-tatap dengan pasangan
ia pun berhasrat kawin

padahal sesungguhnya ia
menyuruk ke dalam kelambu suluk
hanya ingin bertemu engkau
hanya engkau
bukan eng bukan pula kau

2018

 

sebagai apa aku dapat memasukimu

sebagai ruh yang dingin; sebagai suluh yang hampir padam; sebagai angin bertiup risau;
sebagai darah bergairah; atau sebagai hujan brengsek yang akan mengusutkan tepi gaunmu?
atau tidak sebagai siapa-siapa. ibarat pada sebuah perjalanan sebentar yang hambar.
kita hanya teman perjalanan, katamu. di antara orang-orang tersesat, berlalu-lalang
kita termasuk bagian diri yang sempat bertemu, berjabat tangan,
dalam hati yang pahit kita pun akhirnya menutup perjumpaan
dari kejauhan kita lihat rekaman tangan kita terkulai mengayuh lambaian.

2018

 

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Luak Limopuluah Koto, Sumatera Barat, 5
Oktober 1979. Sedang menyelesaikan studi doktoral di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Buku puisinya bertajuk Air Tulang Ibu (2013).

PUISI KOMPAS, SABUTU, 30 MARET 2019

Written by Puisi Kompas

April 1, 2019 pada 6:13 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: