Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Kurnia Effendi

leave a comment »

Di Bawah Bayang-bayang Jokpin

Aku dan bayang-bayang berjanji
Untuk tidak saling membayangi

Pada malam pekat aku berlari cepat
Menyeberangi mimpi ke tepi pagi
Bernaung bayang-bayang gedung
Kunanti matahari melewati jalusi

Aku dan bayang-bayang akan bersulang
Mencari waktu untuk saling menghilang

Saat matahari mencapai titik kulminasi
Aku menari-nari tanpa mengangkat kaki
Bayanganku kecewa ditipu arah cahaya
Kusembunyikan di bawah telapak kaki

Bayang-bayang pun menghampiri petang
Sejak itu aku tak lagi bisa dipandang orang

Jakarta, 2018

 

Testamen Afrizal, Secangkir yang Lalu

Pagi meledak sebelum pukul dua. Pagi yang kutunggu sejak halaman pertama. Sebuah lagu lama terlunta. Kusebut nama ibu dengan bibir membeku. Jauh aku dibawa kelu, radio yang menyiarkan almarhum biduan tanpa lagu baru.

Kuraba Rabu, secangkir yang lalu. Kegelisahan kusimpan dalam cermin waktu, tumbuh seperti kuping terwelu. Bau kopi melucuti pagi yang melangkah telanjang dengan bom sebelum pukul dua. Tidak ada yang bunuh diri seperti yang sering kualami.

Kutulis Kamis sebagai testamen. Ibu adalah pewaris tunggal kecemasanku. Risau yang memilih hari libur tanpa matahari. Di sebuah toserba kucari makanan kaleng dan banyak minuman. Hari-hari akan menyenangkan sebelum menemukan kematian.

Di kamar dingin penuh debu, secangkir yang lalu. Aku menjadi piatu dalam berita koran maya. Kuingat seseorang membakar testamen. Kuterbitkan pesan sebelum pagi lantak. Kesempatan kutunggu di laci Ibu. Rumah batu yang ditemani tumpukan abu. Di luar rencana, aku sudah jadi piatu. Sekali lagi sebuah lagu lama dari almarhum biduan, giat menumbuhkan pagi baru.

Jakarta, 2018

 

Kehilangan Mantra Sutardji

Mantra yang mengucap dirinya, di luar
lidah dan geligimu:

Tak ada lagi batas antara tanah dan
air, kata dan syair, pisau dan luka, jerit
dan darah, cakar dan kucing, cinta dan
berahi, pemuda dan telur, amuk dan kapak!

Blues yang terlepas dari harmonika,
mencari-cari improvisasi.

Gairah tauhid mengalirkan listrik pada
tubuhmu. Alifbata membubung melampaui
sumber hujan. Alifbata menggali kubur
hingga ke titik hancur. Alifbata memasang
perangkap di gua-gua keramat. Dari aorta:
darah dan doa terus menyembur.

O, mantra merapal dirinya, menghapus
seluruh permohonan. Mengeja dari kanan ke kiri.
Dan satu demi satu huruf gugur

Jakarta, 2018

 

Makan Malam Bersama GM

Pada pokok malam, hanya pokok malam
Menu diantar sepasang peri
Di tilam oval tampak daging memar
Ditabur irisan seledri

Denting pisau dan garpu kami, serupa
bunyi pedang pada sebuah laga anggar
Waktu – sesuai konvensi – perlahan melebar
Di celah itu: alunan piano menawarkan komposisi

Di sini, hanya terjadi di sini
Kastanya tampak menyala, meminjam
kilau tembaga. Wajah yang memerah
bagai menyimpan hangat sekam
Asmara yang senantiasa tertunda

Mari menghitung sisa hari
Sebelum perang saudara terjadi
Hati sudah hangus di sana-sini, tak mempan
dibasuh anggur dari botol gelap ini

Jakarta, 2018

 

Agama Marhalim dalam Kitab Zaini

Percayakan saja peristiwa pada waktu.
Biarkan iman yang mengatur tingkah laku.
Burung berciap saat kelelawar pulang ke dahan.
Tubuh malam bersujud, ketika
raga siang menjadi petualang

Beri kesempatan sesajian melakukan
upacara: mengembuskan aroma cinta,
memanjakan lidah dan langit-langit,
merayakan keluasan lambung, dan
mengakhiri perjalanan dari lubang anus.
Tiga kali sehari, tak hanya kopi
dan gulai rempah wangi.

Membiarkan rantai kehidupan melingkar
tak henti-henti, adalah kewajiban.
Dia kumangsa, lalu kau memangsaku,
sebelum dikerkah sang maha-pemangsa.
Ritual harus kita lalui dengan takzim.

Dosa adalah memuja kecantikan tanpa
menjamahnya. Dosa adalah menghimpun
puisi tanpa membacakannya. Dosa adalah
menampung tragedi untuk diri sendiri.
Dosa adalah membiarkan separuh khuldi
membusuk di altar sunyi.

Beri anak-anakmu nama dengan
bahasa yang kaupahami. Seperti aku
memanggil anak-anakku dengan
diksi dan nubuat yang aku ciptakan.

Jakarta, 2018

 

Kepada Indriyana, Pemilik Hasta

Di piring sarapan pagi, ada aroma
telur yang ditumis dengan setengah api.
Sebetulnya, yang memberi manis kopi
adalah senyum sisa mimpi.

Apakah tanganmu yang mengolah
puisi dalam kuali ini?
Majas itu kemangi, ketumbar, dan
pecahan kemiri.

Malam ini mungkin tersaji jajanan
terang bulan. Kisah pisang dan daun
pandan. Sambil memperpanjang dolanan,
serabi dituangi gurih santan.

Tak usah begadang, ujar lentera
di jantung malam. Biarkan usus dan
pankreas istirah. Air bening mencuci
mulut dan kening, sebelum tidur hening.

Jakarta, 2018

 

Tegar nan Aluih

Seorang ayah mampu berpura-pura jadi gunung karang.
Membisu di tengah gosip ombak yang rambutnya
menampar-nampar seperti ujung cemeti.

Namun ia selalu kalah oleh kabar:
Dendang yang jauh dari tetabuhan berbaring
dalam demam. Panas meninggi melampaui
buih ampas pagi.

Jarak ditisik menjadi doa yang didaras siang dan malam.
Gugus hutan Bukit Barisan lepuh oleh alunan saluang.
Mantra yang melata mencari tikar di rumah gadang.
Sebelum tegak mendaki dengan kepak sayap burung balam.

Seorang ayah rela menghimpun dongeng pada
ceruk tangan yang gemetar. Sejauh ia mengembara,
jiwanya terikat pada manis sari buah yang ditanamnya.
“Aku akan pulang setiap engkau memanggilku, Nak.”

Sebab ia selalu galau oleh desau:
Lirih tajali dan ayat yang lolos dari surau.
Menghampiri kening gunung yang risau.

Jakarta, 2018

 

Mata Air Wisatsana

Sampailah kita di gerbang candi, sebelum waktu mati
Pada halaman batu merah kusam darah ini:
Setanggi di lingkar piring, sesaji telah mengering
Doa kita diraih tangan dewata dari celah awan
Bacalah puisi di sini dengan permainan bunyi, sepanjang pagi
Suaramu akan tergenang bagai sebuah upacara kuningan

Kepada siapa aku bertanya ketika jawaban tak tersedia?

Lupakan amsal yang tersisa di museum, ketika kepala
sebuah arca terpenggal dan tak mau lagi bercerita
Lupakan seluruh muasal, karena darinya kita hanya
mampu menyesal. Bukankah hidup selalu mendua?
Di kiri dan kanan terdapat ribuan pilihan
Kegelapan yang memiliki jalan atau terang
yang senantiasa menipu langkahmu

Membiarkan air membuncah tanpa ingin menadah,
semata dosa. Sebab kenangan tak mungkin ditulis ulang

Wahai sahaja yang mengendap pada dasar cangkir kopi
semalam, melahirkan banyak tera dan bayang
Di dinding-dinding perjalanan, di jejak-jejak pengembaraan
Seturut usia mencapai ambang petang, sebagaimana yang
dituturkan berkali kepada penghuni surga

Mengapa harus mencari ritus bila ingin jadi manusia kudus?
Relakan nujuman masa lalu menunaikan pesan
: Air terus mengalir dari mata yang tak lelah memecah rahasia

Bandung, 2018

Kurnia Effendi telah menerbitkan 22 buku, empat di antaranya kumpulan puisi: Kartunama Putih (1997), Mendaras Cahaya (2012), Senarai Persinggahan (2016), Hujan Kopi dan Ciuman (2017).

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 8 SEPTEMBER 2018

Iklan

Written by Puisi Kompas

September 8, 2018 pada 12:32 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: