Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

Puisi Acep Zamzam Noor

leave a comment »

Aku Merindukan Wajahmu

 

Aku merindukan wajahmu seperti halnya putik bungur

Menanti datangnya pagi. Di pematang aku memetik kecapi

Ketika burung-burung berkicau bersama hangat matahari

Siang bergerak menapaki gunung yang memanjang ke barat

 

Aku mengenangkan wajahmu seperti halnya bunga kemboja

Rindu pada gundukan tanah. Bukankah cinta dan kematian

Ibarat saudara kembar? Sebelum rembang petang menutup

Rumbai-rumbai kabut mengambang di atas perkebunan teh

 

Kadang aku melukiskan wajahmu seperti halnya bulir embun

Memberikan tekstur pada daun. Aku menyusuri ladang tomat

Membayangkan segala kesegaran di bumi adalah rona pipimu

 

Kadang aku melupakan wajahmu seperti halnya kelelawar

Memilih pohon besar. Berbulan-bulan sembunyi di kuburan

Sambil merumuskan bahwa aku sesungguhnya kembaranmu

 

2016

 

Amanat Galunggung

 

Kuikuti langkah kabut yang samar di antara deretan pinus

Daun-daun yang runcing nampak berserakan di atas tanah

Siang terasa lain dengan bulir-bulir embun yang masih lekat

Pada kulit pohon. Galunggung bagai lemari es yang terbuka

 

Dinding-dinding di sekeliling kepundan gunung seakan

Menunjukkan bahwa magma adalah rindu yang disimpan

Dan akan terus disimpan waktu. Ketika menengok ke bawah

Permukaan telaga nampak hijau di tengah putihnya belerang

 

Di sini aku ingin belajar pada kelembutan kabut yang bergerak

Tanpa mengusik. Aku ingin berguru pada gunung yang tahan

Menyimpan dan merawat kerinduannya bertahun-tahun

 

Aku ingin belajar pada kesabaran magma yang tahu kapan

Saatnya harus bicara. Aku ingin berguru pada ketulusan rindu

Yang tak pernah berontak pada waktu yang memendamnya

 

2016

 

Menyeberang ke Bokori

 

Di pulau tanpa penghuni kudengar musik lamat-lamat

Hamparan pasir menjadi partitur yang mengalirkan waktu

Ketika buih-buih perak berkejaran dengan gelombang lunak

Yang kehijauan. Aku menyeberang ke batas teritorial rindu

 

Meski yang menaungiku hanya nyiur dan cemara angin

Aku merasakan betapa indahnya pagi. Ikan-ikan menyanyi

Camar-camar menari dan awan-awan membentuk komposisi

Di mana aku membayangkan semuanya sebagai orkestra sunyi

 

Jarak yang terbentang antara kita tinggal sejengkal selat

Yang dihuni bunga-bunga karang. Lama aku berkaca pada air

Menyelami kedalamannya seakan memasuki lubuk hatimu

 

Kekasihku, hempasan-hempasan ombak pada pinggangku

Sentuhan-sentuhan terumbu pada tumitku menjadi ungkapan

Yang hanya bisa kumaknai saat kita berjauhan satu sama lain

 

2016

 

Aku Menduga Hujan

 

Aku menduga hujan telah menggenangi matamu

Padahal kesedihanmulah yang membuat gumpalan awan

Bermetamorfosa menjadi airmata. Aku takjub pada senja

Yang memainkan gradasi di antara taram dan terang

 

Aku menduga halilintar telah merasuki nyanyianmu

Padahal suaramulah yang memantulkan gema ke udara

Sebagai pernyataan cinta. Sungguh aku terperangah

Betapa senja telah menciptakan komposisi yang merdu

 

Aku menduga angin telah mengobarkan napsumu

Padahal napasmulah yang mengendalikan badai di laut

Hingga pasang dan surut terjadi. Kembali aku menduga

Senja berada di belakang rembang petang yang redup

 

Aku menduga kabut telah menenangkan pikiranmu

Padahal kerinduanmulah yang menjadikan semesta hening

Sepeninggal senja. Dan aku menduga bahwa langit kesumba

Adalah peristiwa menyatunya semua warna dalam hatimu

 

2016

 

Belantara Tubuhmu

 

Pandanganku menelusuri setiap ceruk tebing karang

Dalam tubuhmu. Cinta yang kugali sering menjelma api

Yang menyalakan sumbu pada lampu-lampu kesadaranku

Dan birahi yang kupadamkan selalu membuatku terpana

 

Aku menyerap mantera sepanjang lorong semadimu

Untuk kurapalkan diam-diam. Kakiku menapaki sunyi

Namun setiap kunaiki stalagmit hingga stalaktit terjauh

Air terjun selalu menenggelamkanku ke dalam sendang

 

Menjelajahi semua kemolekanmu dengan jiwa telanjang

Adalah sembahyang. Keajaiban masih kurasakan getarnya

Seperti retakan-retakan tanah yang membentuk kaligrafi

 

Aku telah menggali sumber cahaya dari balik kegelapan

Ceruk-cerukmu. Keindahan adalah paras lain dari kebutaan

Sambil terpejam kumasuki belantara yang bernama tubuhmu

 

2015

 

Cerita buat Lana

 

Kadang aku ingin seperti burung

Yang suaranya digemakan angin dan awan

Tariannya dinaungi langit dan pohon-pohon

Kebebasannya dirayakan taman dan hutan

 

Kadang aku ingin seperti gerimis

Yang jemarinya disimpan musim dan cuaca

Rambutnya disisir embun dan daun-daun

Kesedihannya dimatangkan matahari

 

Kadang aku ingin seperti ranting

Yang bersahabat dengan angin dan udara

Di tubuhnya yang ramping kupu-kupu datang

 

Dan pergi. Kadang aku ingin seperti senja

Yang cahayanya menyatukan langit dan bumi

Kehadirannya hanya sekejap namun penuh arti

 

2014

 

Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Kumpulan puisinya antara lain Bagian dari Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and Other Poems (2015).

 

PUISI KOMPAS, 4 FEBRUARI 2017

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 4, 2017 pada 9:43 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: