Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI TRIYANTO TRIWIKROMO

leave a comment »

Kekecewaan Purochana

 

Di hutan Waranawata telah kubangun istana kematian

dari kayu-kayu yang mudah terbakar. Tetapi atas

perintah Duryudana, selalu kukatakan kepada Pandawa,

itulah surga terindah, tempat peristirahatan termewah

setelah seharian berburu kijang dan satwa-satwa lemah.

 

Aku juga telah meletakkan kursi goyang Kunti

di dekat dinding ranjang Yudistira di dekat

perapian: itulah neraka yang akan menjadikan mereka

sekedar unggun abu. Tubuh Bima akan meleleh, Arjuna

kehilangan kepala, Nakula dan Sadewa jadi arang,

dan burung-burung serta kelinci hangus tanpa sisa.

 

Tentu tak kubangun terowongan rahasia atau semacam

gua gelap yang memungkinkan Dewi Kunti

dan para Pandawa meloloskan diri.

 

Tetapi, siapa yang kini justru membakar lima pengawal

dan pondokku? Siapa yang menghanguskan tubuh

dan rencana-rencanaku?

 

Bisma atau Widura? Tak bisa kujawab pertanyaan itu

hingga Destarasta dan putra-putranya mengenakan

pakaian berkabung untuk para Pandawa yang mereka

kira terbakar bersama segala unggas

dan lukisan-lukisan sepasang ular

di sendang biru.

 

Tetapi mengapa Widura tak bersedih? Jangan-jangan

dialah yang menyelamatkan para Pandawa?

 

Aku tak butuh jawaban atas segala pertanyaanku. Toh

Destarasta tak bisa menyelamatkan aku. Toh

Duryudana hanya akan marah-marah saat tahu Bima

telah membakar aku dan segala keinginan-keinginan

busukku.

 

Kelak aku tahu tak seorang pun boleh terlalu membenci

kejahatan sebagaimana mereka tak boleh juga terlalu

mencintai kebajikan.

 

Aku adalah korban kejahatan majikanku sekaligus

kebajikan musuhku

 

 

 

 

Keranda Sisupala

 

Aku tak dilahirkan

untuk memuja Kresna

sekalipun ia awatara

sekalipun ia ikan bersirip merah

sekalipun ia kura-kura bercangkang hijau

sekalipun ia babi hutan bertaring kuning

sekalipun ia manusia berkepala singa jingga

sekalipun ia manusia kerdil berambut biru

sekalipun ia Rama bersenjata kapak

sekalipun ia kesatria berjubah resi

sekalipun ia putra Basudewa

sekalipun ia Pangeran Siddharta Gautama

sekalipun ia pemusnah segala.

 

Aku tak mau

memuja pengecut

sekalipun ia sungai tanpa ujung

sekalipun ia gunung penuh embun

sekalipun ia rimba sedap malam

sekalipun ia pasir putih

sekalipun ia tebing runcing

sekalipun ia angin lembut

sekalipun ia langit jeruk

sekalipun ia kelam salju

sekalipun ia cakra raib

 

sekalipun ia keranda biru. Penentu kematianku.

 

 

 

 

Agastya

 

Kau bertapa dengan kaki

menginjak Tanah basah. Agastya

 

bersemedi dengan kaki

mengacung ke langit merah. Kau

 

mencari gunung tertinggi

di dasar laut. Agastya

 

memburu kehampaan putih di sayap-sayap api

di pembakaran para dewa

 

yang tersesat di gua-gua.

 

Setelah itu, kau tahu, Agastya kawin dengan hiu

hijau. Hiu yang melahirkan kambing-kambing merah

tua bersisik

bunga-bunga kuning.

 

Pada hari ke-19, makhluk-makhluk hutan

dan laut pun berpesta hanya untuk mendapatkan doa

 

Agastya. Doa resi yang tak pernah ingin memiliki

apa-apa kecuali istri berwajah merah. Tanpa

kecantikan

 

tanpa berahi tak berkesudahan. Doa resi

yang menelan kambing dengan lahap

 

dan tak ingin memuntahkan kembali

ketika hewan bantaian itu berubah kembali

 

jadi raksasa.

 

“Apakah suatu saat kau ingin membunuh hiu

yang akan menelanmu, Agastya?”

“Sejak dulu aku telah ditelan hiu

 

dan kini perempuan cantik itu

tak ingin memuntahkan aku, semesta yang sangat

dicintainya,”

 

Tak lama kemudian Agastya tidur

di kisah-kisah tiruan

 

yang kelak kauanggap sebagai kitab utama. Kitab

para celeng yang berkerumun di sumur tua.

 

Adapun kau, para lelaki haus darah, tergesa-gesa

bergegas ke Kurusetra.

 

 

 

Hujan Risyaringga

 

Hujan adalah cinta rahasia dari hutan. Cinta yang membuat

daun-daun terkutuk basah menunggu berubah menjadi

kupu-kupu penuh warna. Hujan adalah danau rahasia dari

hutan. Danau penuh ikan-ikan hijau. Ikan-ikan yang mengingau,

“Di mana surgaku, di mana surgaku sebelum debu

disaput angin kemarau?” Hujan adalah gua rahasia dari

hutan. Gua berselimut kisah pelukan-pelukan liar pertapa

dengan perempuan penggoda yang merindukan sungai

tumpah dari langit dan laut melimpas dari doa.

 

“Tetapi aku hanya hujan, keajaiban yang kausangka hanya

terbaca di kitab-kitab berlumut. Aku hanya hujan dan harus

bergegas kembali ke hutan,” kata Risyaringga.

 

Lalu Risyaringga, resi ranum itu, kembali ke hutan. Kerajaan,

perempuan, dan anak-anak terbakar. Tanah tandus. Tanpa

humus.

 

 

 

 

Yawakrida

 

Aku lapar dan menggigil di gua yang pengap itu.

Aku mati raga mengharap belas kasih-Mu

“Kau sebenarnya tidak melakukan kebajikan apa

pun, Yawakrida. Kau hanya membaca gelap di dalam

gelap. Kau hanya menafsir api di dalam api.”

Aku bertapa hingga nyaris mati di bukit paling

runcing. Aku hidup di dalam terik neraka seribu

matahari. Aku mengharap Kau memberikanku pengetahuan

Weda sejati.

“Tak sepatah ayat pun yang bisa Kutiupkan ke

telingamu. Kau harus mempelajari arah angin. Kau

harus mempelajari kercik sungai menjelang banjir.”

Tetapi Kau Batara Indra. Apa pun bisa Kaulakukan

untukku. Beri aku kitab-Mu. Beri aku keajaiban kata.

Beri aku Om. Beri aku kebajikan pohon Nirwana-Mu.

“Aku tak bisa memberimu apa-apa, kecuali cinta.”

Aku tak butuh cinta. Aku butuh seluruh penge

tahuan-Mu.

“Belajarlah, Yawakrida. Belajar memahami

mengapa para dewa tak hanya tinggal di delapan pen

juru angin. Mengapa angin tak bertapa untuk menjadi

batu? Mengapa batu tak berguling ke sungai untuk

menjadi ikan? Mengapa ikan tak melompat ke jurang

untuk menjadi sunyi?”

Aku tak ingin menjadi sunyi. Aku ingin menjadi riuh.

Beri aku ruh-Mu. Beri aku kematian-Mu.

“Aku tak bisa mati hanya untuk memberimu hayat.”

Kalau begitu akulah yang akan mati untuk-Mu.

Akan kupotong-poton tubuhku untuk-Mu. Kau me

nyukai sesaji semacam ini bukan?

“Pergilah ke sungai Gangga. Pergilah ke kuburmu.”

Kau ingin membunuhku?

“Aku ingin mempertemukan kau

dengan kesombonganmu.”

Tak ada kesombongan di hutan. Tak ada kicau

teduh burung-burung biru. Tetapi ada desah perempuan

dan kecemasan. Ada merah syahwat dan isak tangis.

“Itulah isyarat kematianmu, Yawakrida. Itulah isyarat kematianmu.”

Dan api itu?

“Dan api itu adalah cinta yang membakar mayatmu.”

di mana ayahku?

“Ia baru saja membakar mayatmu. Ia lalu terjun

ke dalam api yang terus menyala membakar pertapaanmu.”

Ia..

“Ia mati untukmu.”

 

 

Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, Jawa

Tengah, 15 September 1964. Ia menulis buku

puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015) dan

Selir Musim Panas (2016). Puisi-puisi ini

diambil dari Magabathanga yang akan segera terbit.

 

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 6 AGUSTUS 2016

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 8, 2016 pada 1:54 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: