Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »

Getik Ikan Bethik

                     di kali jambe

 

mataku genangan mata air tawar

sirahku kuncung mekar merengkuh luar latar

 

sisikku mantel silap penyamar pandang

punggungku pun hijau ganggang pengecoh

 

senar para penjoran. getik manggar,

getik pelepah gedang, getik batang merang

 

getik apung kiambang, getik kangkung lanjaran

getik lumut akar poh bapang, sebab lagakku

 

acap tak tertakar. luput jerat, luput pikat

mana pinggang, mana pusar

 

terus mengumpan, urang rebon, cacing uker,

kepal nasi liwet, yuyu mbes, paha kodok,

 

jangkrik upo, kroto rangrang, terus mengumpan

sampai matamu mulur ke pangkal, ke sarang

 

sampai gelagar jadi goyang, pingkalmu menanjak

aku mengelak, rengkuhmu pun kian sesak, kian gelak

 

Jambe, 2014-2016

 

 

 

Getting Ikan Keting

 

dengan tuba berburu kau sudahi seteru

mengakhiriku dengan wulu wiru

 

menyembul dari balik sebongkah batu

betapa para penepuk sorak itu kian rindu

 

umpan yang diulurnya, jauh melewati

gerumbul pokok waru itu lindap dalam kecapku

 

menancap ke lubang dalamku

kian lalu kian seru membelit arus

 

dan geliat gempalku membekuk siasatmu

memperdaya kail dan senar

 

menekuri buih dan pecahan kayu

sungguh kau karib-seteru sejauh sendang

 

yang lagi tak dapat kau temu

karena hulu makin mengasingkanku

 

langit-langit makin meninggi, aku terjebak

ke dasar gelap jurang, dan perusuh itu datang

 

membawa pengap dan kepul asap

yang tak dapat diterka arah geraknya

 

selain melambungkanku ke udara

menghamburkanku kembali ke tanah

 

Sumokali, 2016

 

 

 

Sekat Ikan Sepat

                       sumur kebun cak wakiyi

 

dengan tubuh jorong, pun moncong runcingku

dengan duri kecil, pun kelihaianku

 

kelit-serong,

 

menyusup ke hulu rimbun, menghela setiap kutuk

dan reruntuk, menyusur lumpur, mengurai jalur

 

hampir terkubur,

 

bagaimana pun kami gandrung menata bilah keruh

mengukur maut ke tiap lengkung

 

sumur,

 

mengamini riwayat pun menakar umur

menafsir jarak pun mengintai cebur

 

bila terang,

 

bila bersua akan tersungkur

sungguh aku tak ingin kau mengakhriku,

 

seperti kembang apung terkental-kentul

di bibir sumur

 

bila

 

Sudo Kidul, 2014-2016

 

 

 

Seser Ikan Bader

                              dam sumokali

 

lambungku limbung terpiuh para penikung

mulutku megap terseruak gelungan ombak

 

gumpil retak akar semak tercebur  ke pinggir kolam,

keruh kian menjebakku dalam gejolak

 

duh gusti, seberang kian rupa gendam tak tertawar

langgam renangku mercusuar padam dalam remang

 

hinggar setinggi kuduk, lambai ditampik-ciut

sorak-sorai para penepuk, aku kian surut

 

duh gusti, telah kuselam lubuk sunyi agar aku

seteguh arus kali, telah kukerah sirip nyali

 

pun kemilau sisikku menyamar birahi

tapi gontai dayungku kian terhuyung,

 

haluanku serupa baling-baling tertekuk lumpur

aku meluncur, aku melucut, pun terkubur dalam arung

 

Sumokali, 2014-2016

 

 

 

Lekuk Ikan Kutuk

                         kolam paklik majid

 

lamatkan langkah, tungkai merendah

dalam kubangan sepanjang hentak bergelungan

 

tak beda benar antara lumpur dan rupanya yang legam

pun sisik lumut dan lendir siripnya yang kambang

 

ke rindang semak, ke bonggol akar gayam

lihailah ia merupa alur peranakan ular

 

kujur badannya tak juga nampak,

meski genang telah menghilir ke seberang

 

tapi rogohlah semata dengan jemari tenang

rasakan denyut yang berdentang dikeruh endapan

 

meski serangga berdengung membikin gatal pinggang

kian gesitkan lengan bila ada yang melintas serampangan

 

seperti menguncupkan dua telapak tangan, menukik ibu jari menggenggam

kencangkan lekat ikat, tolak lesat ke arah rumpun, rerumputan

 

Sidodadi, 2014

 

 

 

Pepaya

 

adakah aku sekantung peria yang iri akan kucir pahitnya

sedang dagingku kuning-jingga manga madu penatarsewu

 

sukacita ataukah duka terlara saat pemanjat itu merengkuhku,

melepasku dari buhulnya

 

seperti nasib yang akan mempertemukan kembali

saat-saat lumat dan senyap di rongga lidah

 

duhai tuan, bujang ataukah duda sudi merayuku,

ketimbang tinggal dalam keranjang saudagar

 

mending tuan membawaku serta ke meja jamuan

aku yang kian matang dalam timbangan, timanglah tuan!

 

sebelum penebang menabuh gendang sumbang

di pedukuhan, dan serak penawar kian kerontang di pematang

 

akan kuingat saat itu tuan, setelah subuh usai

ketika pengiris itu menanggalkan tudungku

 

memisahkan siasat-pahitku di atas talenan sajian

kemudian menumbangkanku dalam penggorengan

 

atau di atas talam bergambar mawar buram,

aku menyilang manis dalam hidangan

 

bukankan aku mula, dari sebulir getir belahan buah

kemudian tergelincir ke lekuk Tanah

 

Sumokali, 2014-2016

 

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Ia kini tinggal dan bekerja di Sumokali, Sidoarjo, Jawa Timur. Buku puisinya bertajuk Nanas Kerang Ungu (akan terbit)

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 30 JULI 2016

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 1, 2016 pada 12:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: