Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI RIO FITRA SY

with 2 comments

Penumpang

 

Aku selalu ingin berada

di tempat yang tidak tepat.

Stasiun pukul tiga pagi,

bank di tanggal merah,

rumah Belanda di Wonokromo

atau dalam perasaan-perasaan

yang tak kau inginkan.

 

Bagaimana kau yakin

tempatmu di dunia ini

adalah di mana kau

berada sekarang?

Yang aku diami di malam hari

di pagi hari. Yang kau

kenakan di siang hari adalah

yang kau tanggalkan

di sore hari.

 

Satu-satunya cara

untuk pulang adalah

dengan pergi.

Tapi aku tak pernah

berangkat biarpun berada

dalam kereta yang melaju.

Kau tak pernah turun

meski telah sampai

di stasuin tujuan.

 

 

Perang yang Lain

 

Ia siapkan Perang Padri yang lain untukku.

Perang Aceh yang kesekian,

Perang Diponegoro yang terakhir,

atau Perang Bali yang baru.

Tanpa rencong, keris, bedil kokang,

pun tanpa darah. Perang baru

yang hilang tanda.

 

Kami hanya perlu saling menikam tanpa clurit.

Pada jantung dan pada lambung.

 

Kami tak akan pernah

mengalahkan satu sama lain.

Kami hanya akan mengalahkan diri sendiri.

Yang menang adalah desir suara lampu gas,

penghidup kincir, induk semang pelesir.

 

Seperti moyangku dalam Mahabrata,

memperistri aku yang harus terus-menerus

turun ke medan perangNya.

 

 

 

Katakan kepada Maysaroh

 

Katakan kepada Maysaroh

aku memiliki setangan untuk menyeka lelahnya

sehabis menyaksikan layang-layang lupa daratan.

Langit tampak begitu sepele. Dapat diukur

dengan segulung benang.

 

Langit baru di Wonokromo

hanya sekadar warna,

membentangkan pertanyaan-pertanyaan

seorang pengarang kepadaku

seperti seorang mandor

yang belajar menembak

di atas kuda Sumbawa.

 

Maysaroh, ke sini. Jangan ganggu papamu.

Ia sedang melukis peta masa silam.

Peta yang melahirkan jalan-jalan panjang

bagi kaki buntungnya. Peta yang sama

dengan yang kau lihat. Jalan yang sama

dengan yang kau dengar dalam sebuah orkes.

 

Katakan kepada Maysaroh

aku mencintai pertanyaan-pertanyaannya

yang piawai menyingkirkan jawaban.

 

 

Rio Fitra SY lahir di Sungailiku, Pesisir Selatan,

Sumatera Barat, 1986. Sedang menyiapkan buku

puisinya yang berjudul Pasien Terakhir.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 JULI 2016

Written by Puisi Kompas

Juli 18, 2016 pada 1:16 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Srius srius keren bgt puisi penumpangnya. Ada wonokromo jg indah bgt trrharu :’)

    Suka

    Any

    Juli 25, 2016 at 11:38 am

  2. Sent from Yahoo Mail on Android

    Suka

    susthanto thanto

    Agustus 3, 2016 at 1:19 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: