Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI A MUTTAQIN

leave a comment »

Bermain Bola

 

Sejak Forrest Gump mengenal Gendon

siswa asal Jawa di sekolah itu

ia tahu bedanya suling dan harmonika.

Dari Gendon pula Forrest Gump tahu

bahwa football bukan bal-balan.

 

Dengan dengkul tebal dan badan gempal

Forrest memang tak jago menggiring

maupun menggoreng bola.

 

Seperti kerbau mabuk

Forrest Gump menabrak dan menginjak apa saja

termasuk para gelandang

kubu penyerang

bagian bek

sang kiper

dan jaring gawang.

 

Ia tabrak pula hakim garis

wasit yang sengit meniup semprit

dan tembok-tembok

di mana iklan dan polisi dipasang.

 

Sambil mengangkat dua jempol

Gendon menyebut Forrest Gump

sebagai pendekar bal-balan.

 

Forrest Gump mengangguk bangga

dan Gendon teringat kerbau kakeknya

yang dulu pernah dipermainkan lalat-lalat

saat berkubang.

 

(2016)

 

 

Hari Penghabisan Letnan Dan

 

Di pondok pelacur itu

ia isap cerutu buntu.

 

Di pondok pelacuran itu

ia sesap candu keluh.

 

lalu bernyanyi-nyanyi ia

tentang buntung kakinya

tentang buntung nasibnya

tentang tititnya yang layu

sejak dirajam serpihan bom jahanam itu.

 

Ingin menari-nari ia

dengan buntung kakinya

menginjak-nginjak takdir

menginjak-nginjak gedung pemerintah

menginjak-nginjak markas tentara

lalu berteriak serak

seperti Louis Armstrong

 

yang gelap melolong

memanggil tuhan

memanggil setan

memanggil perempuan.

 

Tidak, si Letnan tak hendak memanggil perempuan

sebab di pangkuannya

perempuan muda tengah mengejang

dengan dada terbuka

dengan birahi terbata-bata.

 

Di lantai tujuh pondok pelacuran itu

sekonyong-konyong ia melihat Forrest Gump

seperti jin semprul

menyembul dan melambai dari jendela.

 

Ke sana Letnan Dan menerjunkan diri

dan badannya yang remuk

tergilas mobil patroli.

 

(2016)

 

 

 

The Cracked Eggs

 

Tirai panggung dibuka:

 

dalam siluet remang

sebutir telur berangsur retak

menetaskan kunang-kunang

 

menetaskan kunang-kunang

 

Tidak, tidak, itu bukan kunang-kunang

mereka adalah tujuh pemuda gondrong

kurus dan korengan

 

ditambah seorang pemudi

ringkih dan berantakan.

 

Mereka berjingkrak serempak

menyanyikan lagu-lagu perjuangan

 

menyanyikan lagu-lagu kenangan

menyanyikan lagu-lagu kekalahan

menyanyikan lagu-lagu penghabisan

menyanyikan lagu semprul untuk tuhan.

 

Mereka meraung dan mencakar-cakar

 

sampai habis malam

sampai habis segala pisuhan

sampai berlepas semua pakaian.

 

Sehelai kutang dilambai-lambaikan

 

dan hadirin bersuit dan bertepuk tangan.

 

(2016)

 

 

A Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya.

Buku puisinya adalah Pembuangan Phoenix (2010) dan

Tetralogi Kerucut (2014)

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 16 JULI 2016

 

 

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 18, 2016 pada 1:13 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: