Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI ASEP ZAMZAM NOOR

leave a comment »

Pelabuhan Ampenan

 

Sebuah jalan membelah kebisuan siang

Udara panas serta debu mengepul ke udara

Aku menyusuri pedestrian, melewati deretan toko

Yang sudah menjadi reruntuhan di antara gudang tua

Rumah tanpa penghuni dan biara sepi. Ke sanalah

Aku berjalan sendiri sambil menundukkan kepala

Berjalan dengan membawa sebongkah batu

Di dalam dada. Aku mencari kedai kopi

 

Sebuah dermaga mengiris keheningan pantai

Matahari masih di puncak kemegahannya

Perahu-perahu membisu, juga tiang-tiang kayu.

Bentangan tambang serta beberapa pemuda

Yang tampak termangu. Ke sanalah aku berjalan

Sambil mengutuki betapa cepatnya putaran waktu

Lalu memanggil kembali tahun-tahun yang pergi

Dan menenggelamkannya di lubuk hati

 

Sebuah bangku dengan guguran daun kering

Yang beterbangan karena dipermainkan angin

Kelompok kecil awan membubarkan diri di udara

Langit bersih seperti kulit telor asin, sesekali ombak

Membentur tembok dermaga. Ke sanalah aku berjalan

Dengan mempercayakan langkah pada ujung kaki

Ke sanalah aku berjalan menyeret ingatan yang tersisa

Lalu menginjaknya dengan sepatu. Aku haus sekali

 

Sebuah kedai kopi jauh di ujung dermaga

Di antara pondok-pondok nelayan yang kusam

Tenda-tenda rumbia serta dinding-dinding papan

Yang mulai dimakan usia.  Ke sanalah aku berjalan

Berjalan sambil melepaskan pakaian satu demi satu

Membuang lembar demi lembar keyakinanku ke laut

Ke sanalah aku berjalan sendiri menemui kembaranku

Yang merana. Menjumpai kesepianku yang sempurna

 

2014

 

 

 

Di Gunung Lokon

 

Sebuah resonansi

Digetarkan cahaya pagi

Ujung dari doa yang murung

mengendap di keheningan

Lereng gunung

 

Monumen kabut

Yang menjulang tanpa tiang

Menjadi gerbang sunyi

Angin tanpa arah

Dingin tanpa muasal

Mengental

Seperti amsal

 

Sebuah vibrasi

Yang diletupkan lava

Menepi di akhir mazmur

Dari udara tercium

Harum sulfur

 

Kaldera waktu

Yang bergolak tanpa suara

Menjelma daratan baru

Kuburan tanpa nisan

Luka tanpa jejak

Menguap

Bersama epitaf

 

2015

 

 

 

Natal di Sintesa Peninsula

 

Aku meninggalkan kamar dan pergi ke puncak bukit

Jalan menanjak dan melingkar adalah rute resmi

Menuju pagi. Kabut berkerumun di tengah udara dingin

Dan matahari belum sepenuhnya terbit dari tingkap langit

 

Di atas hamparan kampung di atas lereng gunung

Atap-atap seng seperti deretan nisan tua yang ramping

Tapi pagar-pagar gamping mengungkapkan gambaran lain

Kematian bukan terminal terakhir bagi penempuh batin

 

Aku bersandar pada sebuah patung dengan sisa ingatan

Yang masih tergantung. Pohon-pohon meredam deru angin

Lampu-lampu natal menebarkan sinarnya yang gemetar

 

Mungkin aku tak tahu atau lupa untuk apa mencintaimu

Dengan melukai dada. Tapi celah waktu selalu terbuka

Juga bagi hadirnya takwil baru mengenai penebusan dosa.

 

2015

 

 

 

Mendaki Bukit Doa

 

Cinta adalah palang kayu

Yang kupanggul dari lembah

Ke puncak bukit. Ada tetesan darah

Jejak pengusiran yang terukir

Sepanjang retakan tanah

Dan pecahan gamping

 

Tapi kenangan lewat dari pikiran

Dan perasaan letih. Waktu seakan mengendap

Ingatan tak ada lagi dan doa yang kuseret

Tersangkut pada baris-baris nubuat

Lalu aku membayangkan sorga

Yang penuh parodi

 

Cinta adalah sejumlah luka

Yang nyerinya masih kutampung

Di dada dan lambung. Tak ada yang berubah

Hanya malam yang bersekutu dengan sepi

Lalu kau dan aku tercipta kembali

Dilepas mengembara ke bumi

 

Tapi sejarahnya hanya mencatat adegan

Yang terjadi di luar kita. Dawat telah kering

Pena sudah patah dan doa yang kugelindingkan

Tersandung bongkahan-bongkahan batu

Yang tengah ditatah seorang rahib

Menyerupai anatomiku

 

2015

 

 

 

Tangga ke Mahawu

 

Aku hanya menghitung sejumlah jari

Pada tanganku. Tak ada Rosario lapis lazuli

Atau tasbih pandan suji dalam genggamanku

Dingin udara memperlambat langkah hari

 

Aku hanya membilang detik dan menit

Pada tangga usiaku. Lalu mencatat nyeri

yang ditancapkan paku berkarat ke daging kayu

Dari telapak tanganku menetes darah sunyi

 

Aku hanya menghitung butiran kancing

Pada kemejaku. Tak ada lagi semerbak sulfur

Atau harum ambar yang tercium dalam semadiku

Waktu terkubur bersama lembar-lembar amsal

 

Aku hanya membilang bulan dan tahun

Pada jadwal kematianku. Lalu mengekalkan luka

Yang dulu dibenturkan pahat baja ke sebongkah batu

Tanpa terasa ada yang mengalir dari sudut lambungku

 

2015

 

 

 

Doa Petani Bunga

 

Wahai malam yang memperpendek jarak

Dengan misa pagi. Beri kami orkestra yang ramai

Hingga pentas sunyi usai dan kuntum-kuntum peoni

Tercium semerbaknya di awal pergantian musim

 

Wahai musim yang mengurapi lapisan tanah

Dengan sakramen hujan. Beri kamu alegro rasa syukur

Kegembiraan yang mengalirkan nada pada lembar partitur

Hingga putik-putik krisan mekar sebelum paskah tiba

 

Wahai paskah yang memberkati daun-daun gugur

Dengan tembang mazmur. Beri kami rekuim yang panjang

Hingga segala duka mengendap dan akar-akar magnolia

Kembali mengalirkan cahayanya pada paras bunga

 

2015

 

 

 

Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas

Azan. Kumpulan puisinya antara lain Bagian dari

Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and

Other Poems (2015).

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 9 JULI 2016

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juli 14, 2016 pada 1:38 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: