Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI SINDU PUTRA

with one comment

Rumah Tembakau

Menunggumu

rumah tembakau ini menunggumu

tanganmu yang kelam, mengetukkan salam

lima Maulid berselang

kau tak kunjung pulang

melanglang sebagai buruh migran

ke negeri jiran

lima Lebaran topat berlalu

dedare rumah sebelah tamat madrasah

lelah menantimu, berangkat ke akad nikah

namun, kau pergi ke negeri tanpa hujan

ke mana menghapus berkas

dari hitam pasir kali mati

namun, kau pergi ke negeri tanpa bulan

memendam dalam-dalam

angan membawakan aku bunga tembakau

di atas tembikar, membakarnya hingga layu

guna mendapatkan wangi tanahnya

namun, kau pergi menghapus janji

membawaku sampai ke Tanjung luar

membawaku sampai ke Tanjung unjung langit

2016

Sajak Main Catur

aku hanya ingin menjadi raja

bertakhta di tempat gelap,

karena tubuhku hitam

aku bersinggasana di istana putih

aku cuma melangkah, selangkah

karena ancaman pembunuhan atau

tawaran kematian

aku tinggal mengorbankan

para penjaga yang setia

bidak-bidak yang bergerak ke masa depan saja

aku hanya ingin jadi raja

di sebuah kerajaan seluas 8×8 tahun cahaya,

menjadi orang terakhir

yang membunuh atau dibunuh

2016

29 April 2016, Sebatang Pohon

untuk Asvin Janottama

siapakah nama sebatang pohon

yang tumbuh

dalam lukisan taman kanak-kanakmu!

pohon yang tumbuh ke langit

dan mata akarnya menikam bumi

di setiap lembar daunnya

tertulis nama tuhan

yang tak sanggup kau eja

ke dalam lukisan kanak-kanakmu itu

aku tanam pohon mudra

aku tanam pohon samsara

pohon yang berdoa sepanjang hidupnya

hingga, sejak hari tuaku pun

kehabisan kata-kata

untuk membacanya

2016

Pantai Pelabuhan Tua

Ampena

tiada puisi, di tengah sajakku

kata-kata basah kuyup, kehilangan raut

di Ampena

memasuki bagian malam yang paling gelap

penyair bisu itu

menuliskan syair pada basah pasir:

laut beku, bulan biru, dan di kejauhan

seorang nelayan dengan cahaya di tangan

menyelami palung paling rahasia

baca? penyair itu berseru

aku jualah nelayan itu!

tetapi, tetap saja, tak aku temukan puisi

dalam sajakku

kata-kata menopause, kehabisan birahi

sanggupkah lagi, aku berbagi daun-daun

mengenakan warna bunga naga, dan

meraih bintang tanah

yang cahayanya meraup wajahku yang menggigil,

tinggal tanganku yang masih meludah

api itu membasahi tubuhku yang menyala-nyala

tempat aku kumpulkan benda-benda mati,

meski, nama tuhan di mana-mana

hanya nama tuhan, namun

bukan dalam sajakku

2016

 

Penari Topeng: CS

aku hanya ingin menjadi raja

membisu sepanjang pertunjukan

aku sembunyikan wajahku

di balik topeng kayu

yang tersenyum sepanjang hayat

segala hasratku

aku isyaratkan dengan gerakan tangan

tangan yang lumpuh layu

karena aku

raja dari sebuah kerajaan pentas

yang berperang sepanjang sejarahnya

2016

 

 

Sindu Putra lahir di Denpasar, Bali, 31 Juli 1968. Kini tinggal di Mataram, Lombok. Kumpulan puisinya antara lain Biografi Burung (2013).

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 18 JUNI 2016

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 21, 2016 pada 10:01 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. puisi yang keren kak.

    Suka

    cara membuat website

    Juni 30, 2016 at 11:21 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: