Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI AJI RAMADHAN

leave a comment »

Narcissus Tenggelam

 

Wajahmu terlempar ke laut. Ungu

kala merindu. Putih atas meranggas.

Matamu sekarang menuju

ke lemparan pukat.

 

Pedih aku oleh asin.

Pedih aku digunting ombak.

Pedih aku kena kram.

 

Rindu akhirnya ngungun.

Tetas meranggas tak membilangkan

putih. Wajahmu hampir tenggelam.

Di dasar bayang.

Di diri melambang.

 

Sesudah puyeh cinta kepayang,

kau ditangkap pukat.

Terombang-ambing.

Matamu membelah. Kemasukan

siput dan ganggang.

Ditarik juga pukat.

 

Wajahmu belum juga redup.

Laut sedikit menggarami wajahmu.

Ucap laut, wajahmu

terlampau cakap. Tapi gampang

pupus, seperti kembung gapus.

 

Lepaskan aku dari pukat. Gulung

wajahku yang basah.

Jangan sentuh terang wajahku.

 

Surabaya, 2015

 

 

 

Bajak Laut

 

Kapal karam beserta isinya hidup kembali dalam badai

di laut lepas. Si kapten ingin mati lagi dengan cara serupa,

menabrak tajam karang. Tapi kematian, pikir si kapten,

bolehlah berbeda: Disambar puting beliung

atau kena petir nyasar.

 

Apes benar si kapten. Semuanya

sia-sia, sebab tak mampu memulangkan

pada kematian kedua.

 

“Keabadian menyusahkan,” sesal si kapten di hadapan

awak kapal yang menenteng senjata.

 

Surabaya, 2015

 

 

Putaran Kolam

 

Patung di tengah kolam

mengucurkan air di lubang guci

yang digenggamnya dan membikin

geser seolah mati.

 

Ikan-ikan di kolam memutari

patung. Penuh khusuk, melepaskan

gelembung dari mulutnya.

 

Pecahan-pecahan gelembung

membuat penanda setia.

 

Patung ikan-ikan betapa serasi.

 

Kalau purnama kembali hadir,

maka patung dan ikan-ikan

masuk ke dalam waktu tak terukur.

 

Surabaya, 2015

 

 

Membaca Sebagian Wastu Citra

 

Dengan telanjang aku berenang di kanalmu. Seperti ular

yang mengikuti gerak-gerik ilalang. Aku mengunjungimu

tanpa maksud beradu pandang.

 

Akar kita saling menjalar.

Basa-basi bahasa kita bertukar.

Aku diam ketika kau hajar.

Gores lintasmu adalah mahar.

 

Pantunmu aku hapal. Tak ada niat aku merapal apa yang

kau keluarkan. Hanya tertegun. Sesekali melamun.

 

Mungkin takdir kita seperti gambar Mangun: Sepasang

bercahaya, kecuali berpisah. Dan di kanalmu, telanjangku

tersamar arus. Membuat tubuhku melar. Dan berenang

terus pun tertampar.

 

Surabaya, 2015

 

 

Dua Malaikat

: Ali Akhmad Baktsir

 

1.

Tiga malaikat dititahkan Tuhan untuk turun

ke bumi. Tapi satu malaikat takut, maka tinggal

dua malaikat. Dua malaikat bernama

Harut dan Marut, dan mereka tak ingin murtad.

 

2.

Harut dan Marut jengkel kepada malaikat yang

menyerah. Betapa cahaya (sekali lagi) menunduk

kepada tanah. Dan manusia tak lebih sekedar

menara-menara gading yang melambai.

 

3.

Bumi adalah titik. Malaikat layak menjaga bumi,

sehingga titik tak berubah menjadi garis hingga

bidang. Tuhan adalah pusat, pikir Harut Marut,

di mana titik melambungkan satu kesatuan.

 

4.

Harut dan Marut menjelajahi bumi. Mereka heran

mengenal pelbagai manusia, seperti membaca

buku yang direvisi. Betapa akhir hanya gagasan

kosong kalau dirunutkan. Dua malaikat sedih.

 

5.

Harut dan Marut menyamar jadi manusia. Mereka

ikut tidur, makan, bekerja, atau bercinta. Tapi

bercinta mereka sebatas kerak. Kotor dan gelap

sudah merebut cahaya mereka.

 

6.

ketika arak sudah berani diteguk dalam

buaian tawa candu. Harut dan Marut membuka

bayangan sendiri di hadapan manusia. Tapi

mereka dianggap gila oleh manusia.

 

Surakarta, 2016

 

 

Medan Perang

 

Serdadu kami menang. Di atas takhta,

kami bahagia melihat musuh terlarung

ke ujung. “Anak ayam baru

menetas. Tapi induk ayam harus

disantap. Maka tak apalah anak ayam

jadi yatim piatu,” nasehat raja.

 

Tapi serdadu kami gampang

melempem. Akal mereka tak kuat

menahan bisik tukang tenung yang

disewa musuh. Lalu raja

melayangkan jubah

ke aura tukang tenung.

 

“Lihat, serdadu kami pulih kembali. Tapi

jubah raja sobek.”

 

Musuh tak sepenuh kalah. Dikibarkan

mata-matanya untuk mengeker

gerak-gerik kami. “Raja, apa serdadu

kami layak menyerang musuh? Musuh

kelewat lancang mengeker lintas strategi

kami. Apa kami wajib mendahului

sebelum didahului musuh?”

 

“Jubahku sobek, maka tak perlu

mendahului,” bisik raja. “Padamkan api

dengan air, jangan angin. Pemangsa

perlu mundur, jika dimangsa.”

 

Kami gelagapan mendengar

ucapan raja. Serdadu kami kaget

melihat raja. “Anak ayam tak sedih

kehilangan induknya. Sebab anak ayam

capek menangis,” nasehat raja.

 

Surabaya, 2015

 

 

Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Timur, 22 Februari 1994. Ia belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Buku puisinya adalah Sang Perajut Sayap (2011) dan Sepatu Kundang (2012).

 

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 11 Juli 2016

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 13, 2016 pada 1:34 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: