Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI BRESMAN MARPAUNG

leave a comment »

Kematian Hang di Payau Deli

 

1)

para tengku bersama hulubalang

barangkali juga angin keramat

selepas tumbuh musim berburu laba

jatuh dibabat penyusup bernafsu pengerat

 

babah dan tuan kota pandai menyimpan rupa

memetik-metik rancak gelegak ombak

dihempang di kubang melintang

memetiki kelong, merongrong parang garang

gedebum! sejak kerontang jadi arang

rumah panggung malu berkaki panjang

diserbu rayap bersayap gemerincing, berhati kering

petuah di tiang datuk dihempas berguling-guling

raungnya diraun-raun pantun

 

ikan-ikan gagal menanam silsilah

pulang di tengah musim

bersama arus-arus pembawa kepiting

dipalang dada tanjung

terusir ke seberang

punah di palung

 

2)

payau segera mengubur rupa

dibunuh berbatang-batang hantu perantau

dibawa pemuja musim khalwat

tenar sekarang bergelagat di baris pantai

cepat dan pandai mengisi pundi

menguras masa lampau sekukuh mpu

penghulu ikut terpukau

pemburu laut ramai-ramai diserbu racau

dirasuk pelarian hantu bakau

Hang pun terkurung

gagu di lorong lereng karang

berjaga tak segigih pasukan kekar pelebur debur

sia-sia menunggu peziarah bertandang

 

siapa orang kampung kagum memandang

kalau tak bisa berkacak pendekar

sejantan dua pemarang memuncak perang?

pendekar hanyalah nama

jika terhuyung membawa takdir

tinggal tulang bergemilang gamang

pelan-pelan dikikis habis gerimis tangis

 

pengakar itikad sepanjang lengan

kekal bermusim-musim menyekap perjalanan selat

menggantang cermat tiap rampasan sebunting tandan

segagah armada bertaji maut, serakus gerigis

menyeruput kering air tubuh negeri

terkubur si buyung lupa berniat laksamana

 

3)

selagak-lagak lanun berguru di pangkal

tuan Damang ikut berakal dangkal

serupa koloni tumbuh bermuslihat nakal

sepakat meliang-liang maksud menggoyang hikayat

sunguh tak disangka pendek tarikat

nakal berbisik-bisik mengguling Hang

menggulung jasadnya serahasia payau hilang

lihat, mesti banyak serempak doa berkalang

dalam sekejab tak ada kubur penanda maut dapat kau susur

ombak terperangkap tak mau menunjuk sisa bencana

di tanjung yang kau pikir asal hikayat

hanya kabar-kabar burung mati mengapung

 

penghulu kampung takkan membawa sesaji

tanda sepakat menyanjung ruh jembalang laut

menghujat Hang dan laut sekedar menepi

pecahan sekutu imbak tak setia di musim maut

penyebab lambung sekampung borok berkarat

tak patut disanjung, sebab mengiring

hanya sekerat berkat dapat dijerat

di muara ramai pengerat

 

pada kolono menggantung pundi berikat-ikat

tuan demang, penghulu dan sekampung sungguh kepincut

genap menyerah sembah, mau dipasung mengusung-usung mimpi

gadis-gadis penunggu emas pun rela menanggal cemas

bosan menunggu Hang berjuang tiba

pulang paling merayu di pantun purnama

 

 

 

Catur Volksraad Nusantara

 

menabalkan akal, dia mengangkat kuli

raja tuli memunggut siasat Sisah

percaturan satu serdadu dituntun jadi tujuan

tujuh bidak jelata sudah kurban membuka jalan

dua gajah mati di sisi petak satu dan delapan

dihimpit benteng idaman di langkah sembunyi tiran

 

delapan tumbal gugur satu-satu

menggenapi sejarah jengah rubuh masa lalu

tak satu sempat menagih-nagih

janji semusim upah

 

di atas dua barak rubuh, dikubur para serdadu

tumbuh kastil penggiring penjuru

bidak tanggal berlulang dikurung waktu

raja berkilah itu menara dituju

jelma kemakmuran upah serdadu

dua tempat raja dan ratu bercumbu

di dua persil menteri perdana memetak ragu

bermain umpet dan dadu

menakar-nakar peluang tak tentu

dikawal dua jago tega sekebal batu penjuru

berkuda inkarnasi bayangan

 

tak nampak murung mesti dibedaki

mata berlinang dan melarung daki

hitam-putih di petak tampak tumbuh serasi

sudah punah dataran hijau-kuning

dua raja di luar kastil akur bermain seluncur kalbu

mengulur-ulur waktu

dalam perang tak kalah-kalah menunggang ragu

kemenangan tak jadi mangsa diburu-buru

dipakat cincai separo-separo

 

 

Bresman Marpaung lahir di Pemantang Siantar, Sumatera Utara, 15 April 1968. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Manjarmasin. Kini tinggal dan bekerja di Medan.

 

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 4 JUNI 2016

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 5, 2016 pada 10:54 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: