Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »

rantai babi

 

yang bertaring mesti bertarung dengan yang berdengking, yakni si anjing

tapi hela dulu ke hulu ladang, ke gatal bulu batang pohon birak

 

pabila ia siluman akan terdengar siulan dari balik bilik si tuan

dian tak sekali-kali padam, uang logam direndam di pemandian

 

lalu orang bikin sandi, orang bikin sandiwara bagi penghuni candi

pandai besi gaib, ini rantai, sepandai-pandai pantun bikin andai

mesti sampai ke leher tambun, supaya tercekik, supaya mendelik mata si rabun

dan rampung tarung dalam sekali gulung, meninggalkan yang mati, yakni palasik

 

penyebab paceklik, paku picik di dinding bilik, memercik darah, biji-biji jadah

lalu orang bikin gawai, orang ramai-ramai menggadai, tanah, rumah, hasil sawah

 

tukang joged bersiap, tukang pelet bersiap-siap, ke gelanggang, gemerincing gelang

satu perawan untuk satu tiupan, satu tiupan satu siluman diberi makan

 

di bilik si tuan tinggal terdengar bunyi nguik, babi pulang kandang, demikian kanjang

berkampuh apa yang tak bisa disentuh jari, apa yang menyepuh caya bagi sigi, yakni api

 

(Bakarti-Pagesangan, 2016)

 

 

jimat qiu

 

tidak ada jin di gili ini, hanya ada makam tanpa jisim

jadi tak sangkil kami kalaupun di pasar pagi orang ramai bagai tersepai

menyebut-nyebut kami dengan bulu tengkuk tak mau runduk

di meja-meja judi kami selekas kulacino, lenyap oleh gelas berikutnya

 

tapi di tidur kaum perenung, kami ini gunung, gunung sembilan tampuk

 

sembilan tampuk jumlah kami, sembilan wali tersampuk di batas akli

orang mencari kami agar peruntungan datang sedulang-dulang

meski marka kejut bikin murka mereka dan sawala menjalar kemana saja

di birai tempat pandai ramal memberi amal, kami semata candala

 

tak mangkus dan selalu pupus oleh debu dari kulit kitab tua

 

kemana lenyapnya manzil ulama kalamana rasi menyala di barat daya

gugusan terang, kilau benang-benang terjulur ke luas wahana

serta komet yang melintas cepat antara mata kanak

dan hari terakhir seorang budak, seorang budak tak bernama

 

malam diserpihkan garam laguna, makam dibersihkan caram pemuja

 

setelah purnama melepaskan unsur-unsur cahayanya

ke dalam mantra, tepat saat genta dipukul kali ketiga

mengikat kami, jadi sekali jadi, didaki, didaki setanggi-tanggi

sampai sembilan, sembilan kali sembilan kali sembilan kali

 

(Bakarti, 2016)

 

 

 

 

 

pertempuran bakarti

 

mendarat. tepat di hari kabisat. pecahan roket. seringan perca songket.

pembungkus pelet. para rompak sapi. tombak api. tegak di cadas-cadas sungai

ikan mati. di bawah. ikan mati. sebab darah. racun dari keping maja

melarutkan sisa merah. sisa ramuan. setelah perjamuan. sebelum pertempuran penghabisan

menggeser garis peta. menunjuk tempat yang tak pernah ada

 

ini bakarti. tiga jemari lagi. seluruh jampi tak lagi berarti

sabak batu bersinar. kapak batu berpendar. serangga-serangga padam sayapnya.

kobar dari gerumbul. kibar umbul-umbul. untuk tuan guru yang kalah.

dengan kain berlumur sumpah: kami juga akan mati. tapi mati kami.

menyalakan mata kami. bagi mereka yang nanti kembali.

 

roket-roket dilepaskan. roket-roket pelet. terus dilepaskan.

 

(Bakarti, 2016)

 

 

bakarti: setelah pertempuran

 

mereka yang kembali. telah mencuci sumpah kami. hingga putih.

seperti daging srikaya. seperti lengking anjing buta.

tangan mereka tak bergaris. dingin dan dingin. setiap pergantian rasi

menukar rupa dan nama-nama

 

kami lihat dua belas konstelasi. menaungi apa yang pernah terjadi.

bermilyar kali. agar hidup yang sia-sia.

 

tetap sia-sia

 

sementara kami. terus bermimpi. melihat piring terbang mendarat di ladang kacang.

cacing-cacing bercahaya di permukaan samudera. satu persatu. lelaki berlalu.

lelaki menyeberang. lelaki merenggut ringgit. dari sawit ke sawit.

 

siapa lagi yang bakal datang ke tanah ini

dengan pedang di bahu kiri

memanggil-manggil penunggang bumi.

 

rumah-rumah kami. telah penuh oleh kisah orang mati

maka dengarlah. sebelum kunci malam diputar ke kanan

akan kami nanti. komet melintas di ambang pagi.

saat dua belas konstelasi bersalin tali. dan yang lahir kembali

terlahir lagi bermilyar kali.

 

(Bakarti, 2016)

 

 

 

 

 

 

 

asmara dua serampai

: Maywin

 

1.

itu lingkaran, dimana kita tak tahu mana mulai

mana mulai lagi. itu ujung, dimana kita tak kunjung

rampung, atau berhenti mengitari garis yang makin

tebal menambal kesalahan, menambah kebebalan

kecup sebintik rintik di rambut perdumu

membasahi jalan bercabang antara aku,

kusut baju dan anggur merah untuk ibu

juga pagi perunggu yang bisu di payung kayu

kau hidup untuk bertandang atau berkandang padaku

setelah binatang itu keluar dari tubuhmu, menyisakan

ragu dan hantu yang bersiap di tiap jalan menujuku

di palungmu tumbuh benalu berbulu

di betingku lumut melumat bening getahku

 

2.

dirundung ragu kau lagu yang membunyikanku lagi

bunyi dingin di seberang tidurmu, rusukmu,  ruh birumu

ciumanmu tiang yang kepalang pada simpang-simpang

manakala aku pulang dan berpaling dari semua pelukan

kemarin kemarau, sekarang tali-tali air berpukang

tanganmu rindang melindungi aku dari kebisingan

kukira orang mati-matian untuk hidup, berharap maut

luput menyebut, surut sebelum sempat mencabut

tapi seluruh yang bisa luruh ada pada tubuh yang tak

bisa utuh, tubuhmu yang berhantu,

tubuhku yang runtuh

setiap kali tumbuh.

 

(2015)

 

 

Kiki Sulistyo lahir di Ampena, Lombok, 15 Januari 1978. Ia bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

PUISI KOMPAS, SABTU, 7 MEI 2016

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 22, 2016 pada 11:42 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: