Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

with 2 comments

Hikayat Jamarun

 

(seribu burung akan mengepung langit yang tiba-tiba mendung

dan paruh mereka sibuk menyasar biji matamu)

 

angin tak pernah berubah menjadi sari padi

hingga terasa sengat ruap pandan wangi.

dan musim belum menampakkan panen cengkih

apalagi memanen kopi untuk ditumbuk dan dibagi.

 

jadi apalah arti serbuan aroma dari tubuh bangkainya

yang tak pernah terasa seharum ini,

selain dari tubuh para nabi dan mereka yang terkasih.

 

tetapi janji dengan telak ia tepati,

tak bisa mengelak apalagi meyakini

mereka yang bermata fana terbelalak

dan mereka yang bermulut dusta

sekedar bisa menganga.

 

coba kau cium lagi

dengan hidung belakamu,

dan sesaplah sepuasnya.

 

sungai bisu yang melarikan tubuh

prasangka yang menenggelamkannya.

oh gema rimba yang memantulkan

rasa laparnya,

enggan juga jarak memendek dalam jauh.

 

seharusnya mulut ikan yang tersesat di mata kail itu

bukan tuduh yang terhunus begitu ampuh,

sedang tak ia kenali bayang wajahnya sendiri.

 

“aku sebatas mencari alas untuk perih

lambungku, demi memerah waktu

sekadar memanjangkan usiaku.”

 

tapi tak ada yang percaya pada rasa lapar

sebab tubuh lunglai dalam pangkuannya

tak bisa membenarkan kesaksiannya.

 

setiap pandang yang menyapu wajahnya

terasa membasahi dengan dengki.

setiap kali jantungnya berdegup

para punggawa siap menyusupinya duri.

 

“bawa ia ke hadapan kanjeng dalem

biar neraka mudah diterima baginya!”

 

ia merasa langit sepenuhnya pongah

tegak dan tak bisa lagi ia menganggit doa

sepatah kata sekalipun.

 

pasir dan darah bercampur di mulutnya

hampir saja gigi dan lidah tak dirasai lagi.

 

gemetar tubuh berangsur menyergap

begitu saja,

saat punggawa dengan mudahnya

menggusur tubuhnya ke jalanan bersemak

tak bergalur.

 

tanah terasa mengambang dalam tatapannya

pohon-pohon goyah.

bumi kembali bukan pijakan ramah baginya.

 

depan singgasana yang bunga mawarnya

dari emas dan tembaga,

ia begitu percaya kanjeng dalem

akan mengenangkan padanya

bagaimana memperlakukan petani

seperti para pelayan

seorang dewi kelembutan.

 

tapi lelaki yang angkuh, sorotan mata merah

dan mulut menahan tetesan bisa

tak pernah menganggapnya berharga.

 

“ini kotaku tak bisa kau berbuat dosa

tanpa penghakimanku.”

 

kanjeng dalem dengan tubuh bersih

nan rupawan telah begitu menyilaukan matanya.

tak ada sebab mengapa tiba-tiba matanya begitu sembab

bukan kerena pukulan punggawa

melainkan kata yang bersarang jauh dari rasa iba.

 

ia terasa jalang jelata, mengapa kasih terasa melorot

dari genggam begitu mudahnya.

 

tak ada tanda-tanda bahwa

hari esok masih ia punya.

 

seluruh gempita tinggal gagap

terkulum di mulut seketika.

 

“bawa ia ke tiang gantungan!”

 

dosa apa yang mudah diterka

doa apa yang mudah musnahnya.

 

ia membayangkan alun-alun

yang dahulu mengajarinya menangkap capung.

menggambar punggung kupu-kupu

dengan lamunan tentang istri dan anak-anaknya.

 

oh pagar hidup dari salur sirih

serasa baru saja ia tumbus.

ia melihat anaknya berdiri

membawa kolocer di tangan.

ia melihat istrinya bersimpul senyum

merekatkan kasih merah delima di dada.

 

tapi mengapa semua bayang berubah hitam.

Orang-orang mengepungnya, melempar

kesumat yang tak pernah ia sulut sepercik pun.

 

angin enggan menyejukkan pucuk mimpinya.

dahan harap terasa gemertak terinjak-injak.

 

“bila aku tak pernah membunuh anak malang itu

kalian akan merasakan malam begitu cepat

dilepaskan.”

 

dan orang-orang masih terkesima

pada luruhan peluh dari tubuhnya.

saat tali dikalungkan ke lehernya

dan ia berdiri di atas sana sendiri

tanpa pengakuan dosa

yang pernah dimulainya.

 

“kalian akan merasa paling busuk

setelah rupa burukku menghalangi

matahati yang terlanjur dibenamkan nafsu.”

 

juga tak membuat orang-orang

menyisihkan lengan keangkuhannya.

hanya dada yang membusung

seperti busur memanahkan dendam

dan entah menyasar apa sebenarnya.

 

pada hentakan pertama pada lehernya,

ia menelan udara dari celah sempit dunia.

pada tarikan yang makin mencekiknya

ia menghisap aroma surga

tanpa kata-kata yang diumbarnya.

 

seribu burung menghalangi langitmu

dan udara yang membumbung dipenuhi aroma

pandan wangi, sesekali berganti terasa bubuk kopi.

selebihnya aroma berjatuhan.

 

warna malam tiba-tiba menyergap

dalam kepak gagak yang mengerubungi

mata dan lidah fitnah.

di tanah, di mana ia tergantung sepi

cahaya seakan miliknya seorang diri.

 

(2014)

 

Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, Jawa Barat, 3 Mei 1987. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang (2011). Tinggal dan bekerja sebagai penulis lepas di Bandung.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 8 FEBRUARI 2015

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 9, 2015 pada 7:58 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dalam sekali 😀

    Suka

    Mas Djie

    Februari 10, 2015 at 9:48 am

  2. […] Sumber: PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA […]

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: