Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARHALIM ZAINI

leave a comment »

solilokui para penunggu hutan

– batu geliga (bezoar)

 

sepulang dari eropa, racun-racun

dalam tubuhku sibuk berkelahi,

berdengung-dengung bagai lebah

bergelayut di jantung,

bagai suara kambing gunung

yang di lehernya lembing bergantung.

suara-suara itu lalu-lalang secepat cahaya

di urat darah kacukanku,

jejaknya menanam sengat silau,

beribu sengat, yang sakitnya lekat

pada setiap kali mataku memandangmu

terhantuk-hantuk di sampan kayu

di pelataran sungai senja

 

maka, kuminta, maniskan darahku,

siapa pun dikau wahai para penunggu hutan,

dengan sebutir batu geliga itu, sebutir saja

atau, kikiskan ke dalam segelas anggur,

agar jadi jimat abad tujuh belas

di limbung mabuk badanku.

 

kau bukan orang asli, Bung

            kau para munsyi yang mualaf

            pergilah ke selat, atau ke tanjung,

            atau hanyutkan saja dirimu ke persia

            ke perdangangan terselubung

 

alahmak,

setengah gelepar ini,

rupanya tak membuatmu patuh,

tak sekejap saja diam dari seranah.

aku orang kota, terbuang dari kampung,

disumpahi orang darat, dikutuki orang laut.

maka darahku kadang pahit,

kadang sepat, kadang kelat.

tapi hati-hati, ujung lidahku asin,

merapal jampi-jampi untuk memikat hatimu,

untuk menciumi aroma gaharu di tubuhmu,

bismillahku masih bersirih,

masih lekat urat pinang merah di bibirku,

andai kelak kusepah semah di bibirmu.

kau ingat, sujud sembahmu di kakiku dulu,

adalah tersebab kata, padam kemilau emas

pada mata.

 

dan ratusan tahun, kau dengar,

doa sejarah yang itu-itu saja,

yang ditadahkan ke pintu langit tenggara.

sampai aku hafal berapa tiang layar

yang tumbang ke cina.

wahai, tak mungkin sembuh,

itu derita,

bahkan jatuh,

itu raja.

 

tapi, batu geliga dari perut gajah telah lenyap,

            dijual ke aceh, diberi nama pedro de porco siacca,

            binatang-binatang hutan merajuk, juga mengamuk

            ke kota, mereka kini makan roti di mal-mal,

            tak lagi suka daun-daun tropis

            yang membangkai di api gambut

 

aku tahu, sepulang dari eropa,

mulutmu mulutku bau jerebu.

yang punah oleh api adalah ranah.

kita tumbuh dari selera orang lapar

yang bangkit dari kuburan hutan.

masa depan kita tinggal sungai,

yang kita minum siang malam,

yang kita tangisi siang petang.

tapi, batu geliga, tak ada di sungai.

perut ikan-ikan hanya menyimpan pasir,

lumut limbah dari pabrik,

dan serpih syair yang terbenam di rawa.

ikan-ikan yang hidup dalam perut kita,

adalah juga ikan puaka,

menjelma racun-racun yang sibuk berkelahi

tentang warna sirip dan sisik,

sibuk mencari mitos-mitos tentang asal-usul

dari kepingan uang logam yang berkarat

di bawah bantal kapuk nenek monyang.

 

maka, tolong, maniskan saja darahku,

dengan batu geliga itu,

yang mungkin, masih tersisa

di dalam degup jantungmu.

 

 

 

– rotan jernang (dragon’s blood)

 

ia hanya tahu, suatu hari,

ia akan menjelma jadi pohon dracaena,

di hutan hitam belakang rumah.

rasanya, ia tak tahan lagi,

tubuhnya dipaku di tiang-tiang sembahyang,

jadi penyebat anak-anak yang tak pandai

mengaji alif-ba-ta,

dijual dibeli di pasar raja-raja,

ditenggak para penyair yang tergagap

kehilangan kuasa kata.

 

konon,

kemenyan merah dibakar di bawah kapur,

saat magrib menabuh bedug di surau-surau,

yang terus memanggil-manggil tuhan

di mata kapak orang kampung,

adalah permaisuri surga yang tak menjadi bini.

tapi sejak lama, ia telah tahu, itu orang bunian

yang tak berumah di surga, tak bertanah di bumi,

tak mungkin ia pagut asap, seperti ia memagut

remang senja yang lindap.

 

pernah,

bagai lepas urat nadinya

dari akar-akar tanah,

saat tak dapat ia ucap alif-lam-mim

di depan madrasah,

tempat ia pernah terhimpit berhari-hari

di halaman-halaman kita suci.

saat itu, yang terdengar oleh daun-daunnya,

adalah gaung hutan, meraung panjang,

bunyi semak yang disibak-sibak,

dan batang-batang getah tua

yang ditetak-tetak.

 

            suara tuhankah itu?

            al-faaatihah…

 

ia hanya tahu,

hari-hari akan lepas dari tubuhnya,

seperti kulit yang terlepas dari dagingnya.

tak pernah ia membenci tukang kayu,

seperti ia membenci tukang tebang.

ia berani bersumpah, atas nama matahari,

yang telah melahirkannya,

bahwa di seluruh dataran rendah,

orang-orang menguliti seluruh hikayat,

seluruh riwayat, dari ujung ke pangkal,

sebagaimana mereka membuang

– dengan rasa benci – duri-duri dari batang.

 

dan, suatu hari, ia tak lagi ingin tahu,

di mana harus mengucap assalamualaikum,

ketika tubuhnya terpanggang,

melelehkan resin merah ke tanah,

bagai melelehkan darah

ke merah darah.

 

 

 

– lebah sialang (apis dorsata)

 

kami tinggi, karena langit tujuan kami,

teriakmu dari atas bukit.

 

tapi orang belanda, sebagaimana juga aku

melihat gumpalan mendung di langit utara,

langitnya orang sumatera,

seperti ribuan sarang lebah

menggantung di rimbun sialang

bersiap jatuh ke jantung ladang.

 

itukah langitmu,

            yang kakinya bengkak-bengkak

            kena sengat teluh

            orang kacuk dari siak.

 

tidak katamu.

orang sakai kebal nujum

tersebab darah madu kami minum,

seperti orang jakarta mereguk limun

dari lambung tanah kami yang tambun.

bahkan kepada inggris, di tahun 1823,

bukankah raja-raja telah menjual silsilah kami

dalam lima ribu karung lilin.

maka kita ini siapa, peramu atau pemburu,

atau binatang-binatang liar abad tujuh belas:

 

yang bertanya kepada hutan,

            jawabnya rumah.

            yang bertanya pada sungai,

            jawabnya tanah.

 

maka kau yang tinggi

atau aku yang terbenam,

adalah adik beradik

yang bermain galah panjang

di halaman belakang.

sebab, di depan, kau tengok,

di sepanjang sungai besar berarus lambat

kapal-kapal tiap petang berbaris

menadahkan periuk bagai pengemis,

bahkan sejak berabad lampau

menanti kau bilang puah,

menunggu aku bilang puih.

 

kami, tak lagi tinggi,

sebab langit adalah tempat tinggal kami,

bisikmu dari dalam tanah.

 

Marhalim Zaini lahir di Bengkalis, Riau, 15 Januari 1976. Buku puisinya yang ketiga, Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu (2013), menerima dua penghargaan: Anugerah Hari Puisi Indonesia 2013 dan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2013.

Iklan

Written by Puisi Kompas

Februari 3, 2015 pada 3:11 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: