Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI GUNAWAN MARYANTO

leave a comment »

Parasurama

 

apakah kau akan berhenti

jika setiap langkahmu ditumbuhi sepi

atau mengayuhkan kapakmu

sebab malam tak lagi pernah sama

setelah kematian renuka?

 

malam telah mengutukmu

menjadi pembunuh ibu

atau batu di dasar kali

dan tak ada janji kembali

 

apalagi yang ada setelah kematian renuka

: malam panjang tanpa mimpi sedetik juga

 

sementara kematian menjauh

tak mau menyentuhmu

karena bagiku

kaulah kematian itu

 

Jogja, 2014

 

 

 

Renuka

 

tak ada yang tejanjang di bengawan narmada

hanya cinta yang berjatuhan di batu-batu kali

hanya dada yang sejenak terbuka

lalu cepat tertutup kembali

tak ada apa-apa. tak ada yang pernah kutinggalkan

aku di sini dan sebegini saja, yamadagni

 

tak ada yang telanjang di bengawan narmada

hanya darahku yang mengalir di kapakmu, rama

deras seperti cinta yang tak pernah kudaku

 

maka telanjanglah, menarilah di kaki candiku

sebab cinta tak datang sembarang waktu

sebab ada masanya kau hanya selembar daun

—gemetar ditampar hujan

 

Jogja, 2014

 

 

 

 

Yamadagni

 

apa yang pergi tak bakal kembali

apa yang telah kaubunuh mokal tumbuh

: kepala itu telah jatuh

—menggelinding ke ruang tak tersentuh

 

katakan padaku,

mantra macam apa yang bisa menguasai malam

menutup seluruh jalan dendam dan kematian

yang kadung tumbuh di ujung wadung

 

kupinjam seluruh tubuhmu, rama

sebab kau tak akan mati

sebagaimana dendam yang kumiliki

 

Jogja, 2014

 

 

 

Golekan

 

wayang di sebelah sudah selesai

kayon di selesaikan di tengah azan

mungkin kau sudah bangun

dan pelan-pelan menyadari

bayangmu telah lari pergi

tak ada rajah

yang perlu dibaca lagi

 

sementara dua boneka kayu

—sepasang kekasih kaku

manari diburu waktu

 

Jogja, 2014

 

 

Anjani

 

telaga sumala meredam lukamu

menjatuhkan kama berbau perdu

tepat pukul lima pagi yang beku

 

buka saja mulutmu

seperti saat kau memanggilku

bukalah dan lahirkan sesuatu

 

mungkin sebuah puisi

tentang kera betina yang menyendiri

di sebuah telaga hingga ia melahirkan puisi

tentang kera betina yang menyendiri

 

waktu mesti kaubunuh

hingga bulu-bulu di wajahmu gugur

menjelma kera putih

yang akan membopongmu

ke sebuah tempat

yang pernah kaulihat

di cupu astagina

 

atau biarkan saja

telaga sumala

menelanmu

dan kau tak pernah ada

 

Jogja, 2014

 

 

 

Supraba

 

di mana letak kematianmu

di sanalah aku akan berdiam

menunggu datangnya malam

saat aku mesti kembali

menjadi cahaya

 

waktumu tak lebih panjang dari rambutku

ruanganmu tak lebih luas dari tubuhku

bergegaslah. di luar terlalu gaduh

 

aku ingin segera menepi ke sana

di dalam kematianmu yang dingin

dan sebutlah kita pengantin

 

Jogja, 2014

 

 

 

Sumbrada

 

kularung cintamu!

jadilah perempuan itu berlari

menghujamkan diri

pada sepi yang tegak berdiri

layaknya sebuah belati

lalu sungai menerima tubuh

—tongkat kosong rapuh

membawanya pergi jauh

sejauh-jauhnya darimu

 

dan kalaupun kini ia hidup kembali

duduk diam di sebuah tempat

menyaksikanmu yang terus menari

dengan baju pengantin hingga tamat

: ia bukan siapa-siapa

 

Jogja, 2014

 

 

 

Windradi

 

sebut aku batu

sebab kau tahu

tak ada lagi suaraku

tak kubagi cintaku

bahkan kepadamu

 

dalam diam kuhayati

apa yang tak pernah mati

berdiri antara luar-dalam

siang dan malam

akan kusaksikan

semua menua dan sia-sia

 

dan kau yang berendam

di telaga sumala

selembar daun akan jatuh

tepat di mulutmu

sesuatu akan tumbuh

menjadi setapak jalanku

mencair. membahasimu

 

Jogja, 2014

 

 

 

Alap-alap Surtikanti

 

suatu kali aku pernah bersembunyi di gelung rambutmu

berdiamlah di sana, katamu, rumahkan kesepianmu

dan bau lehermu menidurkanku. menjaga kesedihan

yang berkeliaran sepanjang tembok tamansari

tinggallah di sana, katamu, selesaikan pelarianmu

tapi tubuhmu bukan makamku. tak ada namaku di sana

 

aku hanya pencuri yang mesti terus berlari

 

Jogja, 2014

 

 

 

Gojali Suta

 

di batas yang tak lagi jelas

siapakah kamu

yang menyeru namaku

siapakah aku

yang menyusun ranjang besi

dari puisi-puisi tak jadi

 

maka kupecahkan wajahmu

dan tidurkanlah aku

di ranjang yang sepi

agar selesai seluruh cinta

agar selesai perseteruan

yang panjang ini

 

Jogja, 2014

 

 

 

Sambang Juwing

 

ceritakan padaku malam ini

cinta yang tak pernah mati

dan kau pun berhenti

menulis ulam derma – ulam dermi

di sebidang tanah yang sepi

di mana sepasang kekasih

baru saja mati siang tadi

koyak-moyak di tanganmu

yang berkeliaran rindu

 

mereka tak ada katamu

mereka tak tinggal di sni

hanya ada aku dan kamu

dan sebidang tanah sepi

 

dan aku pun memelukmu

tubuh yang tak bisa kukenal

sebab malam begitu rapuh

dan bisa jatuh kapan saja

 

Jogja, 2014

 

 

 

Gunawan Maryanto aktif di Teater Garasi, Yogyakarta. Buku puisinya antara lain The Queen of Pantura (2013).

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 18, 2015 pada 6:22 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: