Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DADANG ARI MURTONO

with 3 comments

ketika maling caruling memaling

 

pada upaya yang kesekian

ia seperti mendengar nyai itu berkata

segala yang gagal membuatmu menyerah

akan menjadikanmu lebih tabah

 

pada upaya yang kesekian

gerit jendela seret tak beroli ituhanya senyap

ia seakan melihat asmara

menyungkupkan jarit gelap tak berbatik

dan ia tahu

tak bakal ada jerit

sampai esok

sewaktu si demang menyadari dadanya berlubang

dan jantungnya tinggal kantung yang begitu luang

 

 

 

pengakuan nyi demang

(untuk ken andhisti sekali lagi)

 

hatiku kupu-kupu, caluring

dan segala padamu

songkroh penyebrak

atau tongkat berperekat sawang laba-laba kuning

 

telah kau maling, celuring, hatiku

sejak hari pertama kita bertukar kerling

dan di kamar si demang

tubuhku tinggal kepompong kosong

bakal penyebab demam si demang

 

lalu bersama atau tidak, caluring

dalam cinta yang begini

apalah lagi artinya

 

 

 

cak markeso

 

aku penyair bimbang, cak

bimbing aku

aku tak kuat berjalan dengan memanggul

perut lapar, dalam tasku, kata-kata

tak ada yang abadi

maka tunjukkan cak, duniamu itu,

semesta ludruk ontang-antingmu itu, kaki yang tak

lelah menghela langkah, dan bagaimana

apa yang kuucap di depan tukang becak penggemar

atau pinggir kali dengan sedikit pendengar

terus terngiang hingga kini, tak

lungkrah-lungkrah, tak payah-payah

 

aku pencinta bimbang, cak

bimbing aku

 

perempuan-perempuan datang datang

dan pergi meninggalkan bahasa

yang sementara, bahasa yang terlalu

sering diulang orang hingga cepat usang

maka ajari aku bagaimana cara menemukan

supartiku, seperti kau menemukan supartimu

setelah dua kisah cinta murungmu yang

selalu berumur setahun

 

aku tualang bimbang, cak

bimbing aku

 

tidak ada puisi dalam khazanah

masa kecilku, seperti tak ada parikan

dalam keluarga besarmu

tapi kau temukan jula-julimu sendiri, hei

putra kiai, dan kau tempuh pikiranmu sendiri

dan bertahan kau di sana, berdiri gagah

sebagai tualang sejati dalam ludruk garingan

 

lalu kacamata riben itu, cak

apakah sekedar penutup mata julingmu

ataukah kau jadikan tameng

agar suatu bagian dari dirimu

tidak dimasuki apa-apa yang mengajakmu menyerah?

 

 

 

DADANG ARI MURTONO lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Tengah. Puisinya antara lain termuat dalam antologi Pasar yang Terjadi pada Malam Hari (2008).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 Januari 2015

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 13, 2015 pada 7:41 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Keren puisinya! rangkaian kata-katanya sangat menyentuh perasaan!
    Puisi cinta romantis

    Suka

    Pujangga Maya

    Januari 15, 2015 at 10:01 am

  2. Salam. Update rutin setiap pekan?

    Suka

    Ahmad D. Rajiv

    Januari 16, 2015 at 7:57 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: