Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

with 3 comments

Dendam Absalom

Nyanyian kepada Daud

 

Engkau adalah masa lalu tak selesai

yang harus dibereskan. Yang tumbuh

dan melahap hidupku hingga sumsum.

Bertumbuh kau seperti tumor

menjalar dan mematikan

sebagai kanibal.

 

Aku harus membunuhmu, Ayah,

kendati kuhormati dan kucintai engkau.

Sangat. Karena ampunanmu sebatas jarak

sedangkan hadirku tak lagi kau anggap.

Sedekat pandang kau tempatkan aku

untuk berjumpa tak boleh – agar rinduku

sebatas bisul tanpa mata.

 

Kepadamu seorang tertakik luka

paling perih. Tertanam akar

paling pahit. Engkaulah siksaku, awan pekat

halangi mataku tuk menatap wajah Allah.

 

Malam ini harus kubunuh engkau

Sementara kubayangkan diriku bocah kecil

dalam dekapanmu. Sementara kusesali diriku,

sumber segala dosa. Tapi kenapa kau harus

beristri banyak? Mengapa padaku ampun

kauberi untuk kau abaikan hanya?

 

Namaku Absalom: Bapa perdamaian.

Keindahan dari semua yang elok.

(Kau sendiri yang menamai, bukan?)

Namaku Absalom. Tapi damai tak lagi padaku.

 

September, 2014

 

 

 

Ratapan Daud

Kematian Absalom

 

Akhirnya pergi jugam kau. Tanpa berpamit.

Tanpa restu kecuali kesumat. Karena kau

kupanggil pulang untuk tak kuampuni.

 

Betapa sakit dan sepi.

Betapa malam-malam penuh hantu,

penuh mimpi berduri, anakku.

 

Barangkali tanpa setahuku,

sering kau terbangun tengah malam

berpeluh lalu berteriak ngeri.

 

Dulu kau akan memanggilku

dan kuusap kepalamu

sementara kau dekap pinggangku erat.

 

Akulah hantu itu bagimu.

Betapa perih diremehkan

dan dianggap tiada ayah sendiri.

 

Lebih daripada tak diampuni sekalian.

Jiwamu tergantung antara ampunanku

dan rindumu berjumpa.

 

Ada tapi tiada. Pernah kau titip isyarat

mendekatkan diri sebelum akhirnya

pahit hatimu, bertahun kuabaikan.

 

Akulah hantu bagimu.

Engkau yang terindah dari semua,

tapi engkau tiada. Terhilang.

 

September, 2014

 

 

 

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Kini tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 Januari 2015

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 13, 2015 pada 7:12 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dendam Absalom, pengakuan dosa paling indah nan sarkas.

    Suka …

    Suka

    firmansick

    Januari 15, 2015 at 1:16 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: