Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI INGGIT PUTRIA MARGA

with one comment

Sesaat Sebelum Pergi

 

usai mengucapkan beberapa kalimat padaku

ia ajak aku ke batang jati yang tepekur tak jauh dari tempat kami berdiri

di dahan terendah dan terkokoh ia ikatkan tali, melingkarkan ke leher

seperti memakai sehelai kalung emas yang tak pernah mampu ia beli

 

aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu saat itu

merah fajar yang mengenang di langit telah abu-abu

merah fajar yang kerap menitik di sudut bibir ibuku yang batu

merah fajar yang mengalir di tubuhku seketika mendebu

 

anak, tubuh fajar yang terbelit tali malam telah terlepas

di depan rumah yang bukan rumah kita, tubuh merah itu tergelepar; membesar

lalu bangkit. ada seperti sepasang sayap menyeruak dari bagian tubuhnya

yang entah apa namanya. ia pun terbang, begitu tinggi, seperti harapanku

pada kehidupan saat tangis pertamamu kudengar di suatu pagi

 

di gerbang cakrawala ia berhenti, semacam berharap aku tau kamu

menyusulnya ke kerajaan tuhan, yang mungkin tak sesempurna dalam mimpi

lama ia mengambang di sana, tubuh merahnya makin nyala

bagai warna darah pertama yang keluar dari kakimu, saat tajam batu-batu

adalah kenyataan pertama yang mesti kau temui, di langkah pertamamu

di atas bumi

 

bias merah tubuh sang fajar membuat laut awan cemar, bintang pudar

bulan sabit samar. seluruh tali malam terbakar, tapi ruang pagi

rapat tertutup layar. di atas ubun-ubun kita segalanya merah, segala darah

mengapa kau memelukku? jangan takut pada darah, jangan pernah takut

sebab bila aku hilang, kau masih dapat terus hidup dan memiliki darah di tubuhmu.

tapi jangan darahmu hilang, tak ada hidup dan tak ada aku untukmu

 

berdirilah di sampingku, namun jangan genggam tangaku

 

lihat tubuh fajar yang perlahan lumer dan menggenang di langit, darah hari

yang sesaat lagi kering oleh satu makhluk yang disebut matahari

bila fajar yang menggenangi langit itu telah pergi, lihat fajar yang lain

yang kerap menitik di sudut bibirku, darah dari mulut istri yang setiap malam

terhantam tangan satu makhluk yang disebut suami

lalu andai fajar yang menitik di sudut bibirku pun pergi

ingat fajar lain pula dalam tubuhmu

 

miliaran keping darah yang tak henti mengalir

tempat cintaku padamu tiap hari terlahir

 

jauh di atas kepalaku, bagai kelopak teratai hampir mekar

matahari sedikit berpijar. di sekeliling kakiku, embun di rumput-rumput teki

bersinar.

 

2014

 

 

 

Selain Empat Burung Gereja

 

persetubuhan rel dan roda kereta melahirkan sekaligus mengusir debu-debu

angin sore pertengahan tahun mencampur mereka dengan udara

menyesakkan paru-paru siapa saja, namun gagal mengusik

ia yang duduk di beranda, melihat empat burung gereja hinggap

di setumpuk pecahan bata. seperti tata kota di tanjungkarang

begitulah bata-bata itu tersusun

tumpang tindih: satu menumpang, yang lain menindih

 

empat burung gereja hingga di posisi berbeda

 

yang pertama di tumpukan tertinggi, kepala menoleh ke sana ke mari

kaki sesekali bergerak ke kanan ke kiri. sepertinya, ia jenis burung gereja

yang kurang punya ketetapan hati. agak jauh, di sebelah kanan burung yang

labil ini, burung kedua mengambil posisi, kepala lebih sering menunduk,

kepada kaki, paruh kadang mematuk. tampaknya, ada sejumlah perjalanan

yang sungguh terkutuk

 

yang ketiga dan keempat, hingga di pecahan bata yang paling dekat

dengan bentala. mereka berhadapan, mengangguk-anggukkan kepala

beradu ricau tanpa jeda. entah bertengkar entah bertukar cerita, keduanya

mengingatkanku pada aku dan anakku. sengit pertengkaran atau

riuh percakapan: tanda kami sedang jumpa: jiwa raga

 

hari kini warna kopi. empat burung gereja pergi meninggalkan tahi

di setumpuk rekahan bata. bagai rel yang diam menunggu cumbu roda kereta

lelaki itu tetap duduk di beranda. ia lihat dua lelaki berseragam dan berpentungan

melintas, menoleh sejenak padanya sambil tetap berjalan entah kemana.

sepasang suami istri menggotong kasur, malam ini entah di mana mereka tidur

satu per satu rumah di tepi rel jadi puing. tempat tinggal bagi kenangan, kini

barangkali hanya di darah, cuma di daging

 

di sela tidur panjangku

di bawah rengkahan bata yang tertumpuk

di depan rumah tua itu

selalu kusempatkan waktu untuk melihatnya, sekadar memastikan bahwa anakku

(setidaknya sebelum rumah kami pun berlalu) baik-baik saja

 

2014

 

 

Inggit Putria Marga lahir dan menetap di Bandar Lampung. Buku puisinya bertajuk Penyeret Babi (2010).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 OKTOBER 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Oktober 14, 2014 pada 10:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bagus

    Suka

    firmansick

    Oktober 23, 2014 at 11:43 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: