Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DEDY TRI RIYADI

leave a comment »

Ninabobo

 

1/

Tidurlah, Lautku,

jenak ombak teduh badai

dengung angin setelah rinai.

 

Aku camar pencari ketam,

ingin terbang dari sarang ke lautan,

menyuruk ke tubuh gelombang.

 

2/

Tidurlah, Lautku,

jadi latu hilang bara

hitam arang tanpa nyala.

 

Aku jejak terik di pucuk waru

ingin berteduh pada bayangan,

O, betapa memabukkan cahaya!

 

3/

Jika kau tertidur, Lautku

mimpimu hanyut perahu

jala yang dibiarkan mengembang

dan menjaring ikan-ikan.

 

Jika kau tertidur, Lautku

malamku kalut kulit gaharu

dahan yang menguar heharuman

dan menahan sarang balam.

 

Kita tak saling mengenal,

bahkan tak akan mengekalkan.

 

4/

Pada suatu masa,

kau dan aku sama merasa

: bagian dari semesta.

 

Maka, malam ini,

kita mencari makna jauh

ke dalam diri.

 

Mengasingkan yang akan kita cari,

dan yang telah kita sangka

sebagai lagu menjelang bermimpi.

 

2014

 

 

 

Lagu Pantai

 

Irikah lidah ombak

pada lentik embun

di daun waru?

 

Bahagiakah

ketam yang basah

di ceruk karang?

 

Di pantai ini, kerinduan harum pasir.

Di pantai ini, kebekuan gagal berdesir.

 

Sebuah pulau terpencil memanggil.

Elang laut mengepak hal-hal yang mustahil

dimengerti awan jauh.

 

Di cakrawala, cinta seperti rona senja

yang mampir. Sebentar lagi gelap, katamu.

Dan aku menurut pada rentang dekap dermaga.

 

Di mana perahu dan jukung seolah kanak yang manja.

 

2014

 

 

 

Embun

 

Akulah embun, jeritnya

memekik di atas daun.

 

Pada pagi buta, dia menuntun

ke ujung lamun.

 

Bukankah, kau, cahaya?

Yang disembunyikan mata

 

dan disentuhkan ke telapak ini.

Sejak pagi menjadi dalam diri.

 

Akulah embun, jeritnya

seperti menolak ditenun

 

waktu. Aku setuju.

Sebab nanti, di siang hari,

ada yang mesti pergi.

Atau kembali?

 

2014

 

 

 

Falseto

 

Pergilah, Tuan, karena pergi

adalah cara terbaik untuk kembali.

 

Jangan dengarkan kata-kata dan

bahasa cinta yang berguguran.

 

Tapi lihatlah dataran yang murung

dan langit yang selalu mendung.

 

Perhatikan juga tunas-tunas hitam

dari pengharapan yang tak lekang.

 

Mereka yang tumbuh seolah tak

ingin lurus, tak ingin berjarak.

 

Merapatkan diri seperti makna

yang menjaga kata-kata kita.

 

Meratapkan mimpi-mimpi sepanjang

lagu dari pikiran kita tentang

 

bagaimana seharusnya cinta diungkapkan

dan ditangkupkan dalam suara yang sopan.

 

Dan kerinduan adalah cara paling halus

untuk membentang jarak dengan tulus.

 

Karena itu, pergilah Tuan, pergilah!

Jangan lagi dengarkan aku yang resah

 

dan membuncahkan kata-kata seperti

bunyi yang keluar dari gramafon tua ini.

 

2014

 

 

 

Membaca Buku di Perpustakaan

 

Seperti menguliti apel dengan pisau,

sebuah buku kau buka dengan risau

 

“Bukan makan malam mewah, jika kau tak

sediakan pisau, garpu, dan sendok perak,”

gerutumu pada sebuah halaman persembahan.

 

Barangkali, aku harus angkat topi,

pada semua tindakmu yang begitu hati-hati.

 

“Ah, ini sekedar perayaan sebelum pergi.

Jubah panjang musim dingin tak lagi

pantas kukenakan saat tidur,” celotehmu.

 

Seperti mereka musim di mana apel itu jatuh,

pada halaman berikutnya, jemarimu terasa rapuh.

 

Saat itu aku mengira: perpustakaan adalah

sebuah kafe mewah untuk lapar yang begitu sederhana.

 

2014

 

 

 

Mencintaimu

 

Mencintaimu adalah berpikir bagaimana mendirikan

sebuah tongkat kayu yang berat. Dan bila aku memandang

persis di tengahnya, dunia seolah terbelah dua. Kiri dan

kanan. Baik dan buruk. Masa lalu dan masa depan.

 

Mencintaimu adalah memandang ke depan. Melihat langit

dengan awan menyisih, di bagian atas, dan juga melihat

jalan berbatu, di bagian bawah. Memandang apa yang

sebenarnya hanya dugaan dan perkiraan. Meskipun

tongkat kayu itu seolah telunjuk yang mantap menuju engkau.

 

Mencintaimu juga berarti membicarakan bunga dan tunas.

Sekaligus. Bunga, betapa merah dan berduri, kadang

tampak pongah dengan selubung yang hijau. Sedangkan

Tunas, pucat dan ingin segera masuk dalam ruang berwarna

seperti otak. Dua gambaran yang begitu abstrak namun semarak.

 

Mencintaimu, sebenarnya lebih menyoal aku. Menyoal cara

berdiriku yang agak miring, menyoal warna kulitku,

menyoal di sisi mana aku berdiri di depan tongkat kayu

yang berat itu. Tongkat yang serat kayunya seolah tengah

dipelintir waktu.

 

2014

 

 

DEDY TRI RIYADI adalah seorang pekerja iklan. Ia tinggal di Jakarta dan bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 10 AGUSTUS 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Agustus 12, 2014 pada 1:56 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: