Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI ZELFENI WIMRA

with 6 comments

ode liris inyiak guru

 

jalan ini tak lagi sunyi, nyiak

langkah kami kadang mirip derap duka perang yang berlari kencang

tapi jiwa kami, entah mengapa, memendam rintihnya sendiri

meredam ringkihnya sendiri

 

melengkapi hidup di sini adalah menyulam wajah iba guru tuo

menggenggam gigil di ujung jarinya

denyut yang canggung

kitab-kitab kuning telah memutih

gema suara debat mengabu di rusuk surau

tahlil dan kunut ditabukan

segalanya bertaburan jadi bid’ah

memenuhi udara bagi paru-paru kami yang sesak

dan dongeng tentang surau yang roboh menjadi dendang

menghiasi irama siul menjelang kami membuka pintu toko

 

seperti eskalator yang kami tapaki setiap berkunjung ke pusat perbelanjaan

madrasahmu berputar-putar mengantar santri mengaji laba-rugi

gambar mihrab hangus terbakar menato kuduk kami

lalu namamu terukir di buah kalung yang kami pakai ketika bernyanyi

dari panggung ke panggung

dari televisi ke televisi

di dada dan punggung kaos oblong kami

dari situs ke situs

dari dinding ke dinding

dari halaman ke halaman akun sosial kami

 

ya, jalan ini memang tak lagi sunyi, nyiak

kami sudah pandai meramaikannya

dengan desiran rintih dan ringkik

pada artefak akal kami

 

2014

 

 

 

menu kandang tiga binatang

 

kucing tanahdata:

di ranahku, menu ayam berserakan

menu itik dalam peraku

menu anjing tersaji depan pintu

menu kelinci langsung ke dipan

hanya menu untukku yang bisa berdekatan

dengan wajah makanan majikan

 

harimau agam:

sejak dikandangkan, aku kehilangan petualangan

aku tak lagi sempat menunjukkan martabat raja hutan

bertarung di rimba raya memburu santapan

di kandang kebun berbintang ini makananku selalu disediakan

aku tinggal meladani pengunjung dengan auman dan taring disunggingkan

agar mereka mengira itulah senyuman

 

kambing limapuluh kota:

mengumpulkan makanan bagiku gampang

tanah di ranah ini menumbuhkan seribu satu daun untukku

daun di ladang, daun di hutan,

daun di jalanan bahkan daun di halaman

tidak pantas ada cemas, selama masih mampu mengayuh tubuh

sedikit pun aku tiada ragu

aku akan terus menjelajah

mencari dan mencuri daun demi daun

 

2014

 

 

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Luak Limopuluah kota Minangkabau, Sumatera Barat, 26 Oktober 1979. Buku puisinya berjudul Air Tulang Ibu (2012).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGUU, 8 JUNI 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2014 pada 8:05 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Salam kenal. Saya selalu membaca blog puisi Kompas, setiap pekan. Tapi sayangnya sering terlambat. Saya juga punya blog puisi di http://www.puisisuaramerdeka.wordpress.com

    Suka

    Lanskap Senja

    Juni 11, 2014 at 10:13 pm

    • Terima kasih Pak atas kunjungan hangatnya ke blog ini. Keterlambatan itu sendiri saya sengajakan untuk menghargai harian kompas. Saya update 3 hari berselang setelah harian kompas memuat puisi-puisi minggu.

      Suka

      puisi kompas

      Juni 12, 2014 at 11:42 pm

  2. Saya akan selalu berkunjung ke blog anda kok. Terlambat tidak masalah heheheheh saya sepakat seperti kata Anda, untuk menghargai harian Kompas. Salam kreatif.

    Suka

    Lanskap Senja

    Juni 13, 2014 at 12:03 am

  3. kompas mantap-
    lanjutkan!
    “like puisi”

    Suka

    mas fatur

    September 19, 2014 at 11:50 pm

  4. kompas mantap…!!!
    lanjutkan “like puisi”

    Suka

    mas fatur

    September 19, 2014 at 11:52 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: