Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI RAMOUN APTA

leave a comment »

Menuju Rendang

 

jalan menuju rumahmu tinggi mendaki

sedang langkahku tersandung di ceruk kuali.

 

di atas papan racik ini

rempah-rempah tinggal sampah

 

santan pecah

kayu ditinggal api.

 

denting kelaci tak ada lagi

waktu habis di janji.

 

aku daging puisi

di baskom ini sapiku melenguh lagi.

 

Muarabungo, 2014

 

 

 

Jalan Tikus

 

kau memasukiku seperti memasuki lorong waktu

setelah menikung di simpang-simpang

mengecoh anjing-anjing putih yang dalam episode sebelumnya

telah memenjarakanmu di bilik berdinding rotan itu.

 

di dalam diriku, adakah kau bawa peta?

sebab di dalam diriku, diam-diam, juga terdapat simpang.

yang satu mengarah ke detak jantung.

sedang yang satunya lagi jalan menuju dubur.

 

di salah satu antara dua jalan itu

seekor singa siaga menerkammu.

 

Muarabungo, 2013

 

 

 

Angin yang Santun

-Kiyomi Shinju

 

akulah si penipu!

yang merayu setangkai daun berusia seratus tahun

agar sedia gugur.

 

akulah si perayu!

yang menipu setangkai daun berusia seratus tahun

demi tunas baru.

 

Muarabungo, 2013

 

 

 

Tawar-Menawar di Pasar Pagi

 

Pembeli:

seperti solar yang berlari ke kedai kaki lima

puan hargai bawang sekebat angin ini.

alamat gugur daun ke unggun api.

sedang ranting dan tampuk di ujung masih hijau.

selera masih semburkan getah putih berseri.

 

kami membeli untuk kembali menjual.

di Pasar Gendang lapak datar kami gelar.

tapi pembeli di sana melambai seperti nyiur kelapa ini.

hujan lebat bibir mereka bila tinggi cabe

lebih rendah dari kuduk bawang ini.

 

kalau kami boleh menawar, puan penjual,

mengingat sesama pedagang,

setali bawang tolong lupakan.

 

Pedagang:

kami orang datang di pasar ini.

tebu bertunas di kampung kami.

telur berbagai unggas bergerilya di ladangnya.

 

ini bawang bukan sembarang bawang

Jambi bukan Minang tidak.

naik kapal besar mereka merapat.

ladangnya seluas kubur di masa lampau.

perih takdirnya membogem-mentah ini mata.

orang Batanghari senang menjadikannya lalapan.

 

bawang ini mampu memerdukan desah suami di ranjang

meski kuduknya lebih tinggi dari cabe di sela pahamu

sebab segala sambal dan gulai hilang marwah

bila mereka tiada.

 

Muarabungo, 2013

 

 

 

Ramoun Apta lahir di Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Aktif dalam LPK (Labor Penulis Kreatif). Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang.

 

 

PUISI KOMPAS, MINGU, 8 JUNI 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 11, 2014 pada 7:59 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: