Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI AJI RAMADHAN

with one comment

Monogram Dua Huruf

 

Meski kau menuduhku sebagai penyamun, tetap

aku berpaling darimu. Dan meski tujuan kita sama,

aku mencoba pikiran kita bertolak belakang.

 

Aku ingat, kau tiba-tiba bertanya padaku:

“Jalan apa yang kau loncati. Bagaimana. Dan

Apakah kau tak terjebak untuk mabuk? Kenapa?”

 

Barangkali kau keliru merabai aku, jika aku ternyata

dapat menjadi si buas yang sopan ketika mendung

belum tercatat sebagai perih. Mungkin kau hanya

 

membaca di sisi luarku, lalu menduga bahwa aku

adalah si kecil yang berlindung di batu gelap sembari

berdoa dijauhi hari sial. Memang tak salah ketika

 

kau menuduhku, sebab kau berkeyakinan seekor

harimau yang kencur belum bisa membedakan

antara mangsa dan kawan. Tapi aku menganggap:

 

Seekor harimau, meski kencur, tetaplah harimau.

Apalagi taring harimau merupakan ruang kerja bagi

dewa maut untuk memulangkan jiwa yang buram.

 

Dan aku akan menjawab pertanyaanmu: “Sebuah

jalan merupakan buku semu. Dan aku tetap selalu

mabuk, meski jalan kita bertolak belakang.”

 

Surakarta, 2014

 

 

Handuk Hangat

 

Uap yang mengepul menandakan

aku telah siap melumat kaku dagingmu.

 

Tujuanku hanya satu, membuatmu

tenang dengan sedikit kejutan tak terduga.

 

Dan keluarlah kotoran lewat pori-porimu,

seperti lava dingin yang merembes.

 

Bahkan, aku tak memaksa kotoran

keluar, tapi aku memanfaatkan tarikan.

 

Dan bersikaplah seolah kau melakukan

kelahiran kembali, biar kau tak sia-sia.

 

Benar, syarafmu akan mengembang dengan

detak jantung melamban secara berurutan.

 

Jika kau mau menjawab, apakah kau

setuju aku akan mencuri keterjagaanmu?

 

Begitu, sayang sekali jika ternyata matamu

tak menyukai kelelapan semurni licinku.

 

Sekarang minumlah susu itu, lalu duduklah

dan pikirkan kenapa kau melewati kilauku.

 

Gresik, 2014

 

 

Dinding Sekarang

 

Aduh, saya tidak asli sini, Mas. Semua orang

di sini kebanyakan berasal dari luar. Cuma,

saya dan semua orang di sini bisa tinggal

 

karena kakek buyut kami pandai membuat

tuan besar senang. Padahal hanya membuatnya

kenyang dan tenang.

 

Saya dan semua orang di sini tahu, jika

tuan besar sangat berjasa. Untuk menghormati

jasanya, tempat ini kami buatkan dinding dan

di dinding itu kami beri tulisan:

 

Kami bahagia

dan tuan besar semoga diberkati Tuhan.

 

Oya, sudah dengar belum, Mas, jika tuan besar

turun tahta? Kami tidak khawatir meski

nanti kami diusir. Kami akan tetap menyambut

tuan besar dan menjamunya hingga muntah.

 

Surakarta, 2014

 

 

Tak Bertuan

: Bawah Tanahnya Dostoyevski

 

Jangan kalungkan koin emas

di leherku. Aku puas dengan deheman palsu,

timbangan keruh dan pergulatan gelapmu.

 

Bahagiakan saja aku, demi

sentuhan tak terarah yang bersembunyi

di kedipan matamu. Tapi simpan dulu

 

serabut hasratmu dan jangan gegabah

untuk membebatku. Karena aku

seorang yang tak mengimamimu.

 

Aku hanya ingin anjing di tubuhmu

liar. Terus menggonggong sampai kita

melihat bintang merekah di langit utara.

 

Lalu kau pun berdoa: Tenang,

tanpa sangsi. Sudah kau jangan

pikirkan hidup, karena kita sudah payah

 

menjalankan alur derita. Mari kita

selesaikan ini, meski kita saling luput

ketika kokok ayam tak patah dan aku

 

melupakan gonggongan anjing di tubuhmu.

 

Surakarta, 2014

 

 

Langit Tampak Mencolok

 

Biarkan langit tampak mencolok setelah kurvanya

kehabisan mekar. Dan biarkan juga langit tak lagi elok,

sebab orarenya telah membayang.

 

Tapi misalkan, langit tak menawarkan pemandangan

tersebut, barangkali aku jadi khawatir jika nanti malah

menampakkan batu-batuan yang beterbangan.

 

Seperti sabda si suci yang memberikan

kuliah umum kepada kaum gemar berhitung.

 

Oh, takutlah aku bahwa langit tak disangga pilar gaib.

 

Dan langit pun rebah di laut, bersama kurva dan

orarenya. Seperti berubahnya gambar karena luntur.

 

Dan motif bunga di bajuku yang semula diam, sekarang

pun bergoyang-goyang ingin menjatuhkan putiknya.

 

Gresik, 2014

 

 

Pesta Minum Teh

 

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.

Beberapa boneka belum meminum

secangkir pun. Si gadis tersenyum

 

melambai-lambai tangannya.

Memainkan pertemuan secara anggun.

 

Di pesta minum teh tadi,

boneka kuda tampak sedih. Si gadis cuek

dan lebih bercerita keluguannya.

 

Boneka lain tampak bahagia melihat aksi

si gadis. Seolah tidak mubazir dihidupkan.

 

“Ibu peri belum datang, kita tunggu

ibu peri dulu,” kata si gadis.

 

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.

Boneka kuda sudah frustasi. Diharapkan

si gadis memberhentikan permainannya.

 

Akhirnya jam pun mendatangkan si mama

menjemput si gadis itu. “Itu, akhirnya ibu peri

datang,” kata boneka kuda dan menyiapkan

diri untuk berlari dalam ilusi.

 

Surakarta, 2014

 

 

Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Tengah, 22 Februari 1994. Ia tinggal di Surakarta. Salah satu buku puisinya adalah Sepatu Kundang (2012).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 1 JUNI 2014

 

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Juni 4, 2014 pada 8:20 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Reblogged this on Muhammad Azamuddin T and commented:
    Puisi Aji Ramadhan.

    Suka

    Muhammad Azamuddin T

    Juni 5, 2014 at 12:00 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: