Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MASHURI

with 3 comments

Ikan Buruk Rupa

 

Di Lembata, cinta telah menjelma mata tombak

Yang rapuh

Dengarkan deritnya yang mengapung di udara, serak

Seperti kerongkongan yang tersumpal minyak

Tak ada janji dari jejalan yang berlubang, juga mimpi

Yang dibuhul ketandusan

Kita pun seperti bintang laut yang terdampar

Di pasir panas, menggelepar

 

Tapi dari kisah ikan-ikan, dengan buruk wajah, tapi

Berdaging renyah

Terajut rahasia

Seperti rumput-rumput laut yang menenun kesabarannya

Di delta, memberi makna pada keluasan cakrawala

Bahwa di petak sempat, tempat berkubang jejak-jejak keparat

Mimpi bisa menjulang, menjadi kiblat

Bagi rupa yang hilang

 

Mungkin di ujung pulau, dekat dengan kabar ikan paus

Kita bisa mendulang cinta yang lain

Mata lembing tidak bisa mengerling pada waktu

Ia yang harus lurus menghunus sejuta

Rindu

Pada darah, pada teriak, pada mantra penjinak ombak

Dan pada apak selangkang sendiri

Yang bergerak-gerak, seperti angin pagi

Yang tak jinak…

 

Lembata, 2014

 

 

Tirah

 

Darahku tumpah di lumbung kampung Tanjung

Di gigit selat Madura

aku pun disebut rangga, putera wiraraja

tapi kau pernah tak mengerti kenapa aku menuntut janji

tidakkah kau tahu, di tanahku

“lebih baik berputih tulang daripada berputih pandang”

aku seakan kaukutuk sebagai pengikut, seperti rumput

dan debu tempat kaki pengikutmu dan

ladam kaki kuda menyepakkan tinjunya

 

Tidak ingatkah di Terik, ketika rembulan belum terbit

aku telah menyulut karbit, agar buah-buah maja

tak semakin pahit, dan buah-buah yang masih mentah

bisa disajikan di meja jamuan

 

kau menyebut dirimu trah rembulan, karena malam

tak mempersilakan rembulan lain singgah

bintang-bintang kau rakit menjadi gugus

di bentang angkasa – kuasamu

yang mengekalkan dirimu sebagai pusat cahaya

semacam purnama di angkasa raya

rasi itu membentuk mimpi-mimpi

dari satu titik kota ke titik kampung lainnya

dan kau nisbatkan mereka dengan trah bintang

 

Sidoarjo, 2014

 

 

Mashuri lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Kumpulan puisinya yang terbaru adalah Munajat Buaya Darat (2013).

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 25 MEI 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 30, 2014 pada 6:31 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Reblogged this on Muhammad Azamuddin T and commented:
    Puisi Mashuri

    Suka

    Muhammad Azamuddin T

    Juni 5, 2014 at 12:04 pm

  2. tailaso guru bahasa indonesia fuuuuuuuucccccccckkkkkk

    Suka

    ayu

    Oktober 23, 2015 at 2:47 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: