Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI TRIYANTO TRIWIKROMO

with one comment

Muslihat Membunuh Hikayat Hujan

(Variasi untuk film Reign of Assasins)

 

-Biksu Bodhi

 

aku datang dari benua mimpi gelap. Aku tak akan mati

di Pegunungan Jinhua yang pangap.

 

kau boleh saja menyangka aku mati

di Pegunungan Xionger penuh duri, tetapi sesungguhnya kisahku

baru dimulai saat jasadku dicuri.

 

saat itu juga aku menjadi ibu yang melahirkan cerita-cerita baru,

melahirkan gerombolan Batu Gelap yang dipimpin oleh Raja Roda

(kasim yang selalu ingin punya kumis melintang), menghidupkan

Hujan Rintik, ratu pedang berbahaya yang sepanjang waktu takut

pada hujan, membangkitkan Zhang Renfeng dari kuburan di bawah

 

tetapi mengertilah aku sesungguhnya hanya kabut. Teka-teki kecil

sebelum kausebut nirwana dalam sembahyang-sembahyang angkuhmu

menjelang pertempuran.

 

kau tak akan terbunuh oleh siapapun yang menganggapmu hanya

sebagai kupu-kupu lamur. Semua pembunuh hanyalah angin.

Angin tanpa mata. Angin menuju Nanjing

 

tetapi tetap saja kau akan mati pada hari ke-15

hari ketika jasadku kehilangan hakikat

ketika aku tak ada

ketika apapun

menjadi sia-sia

 

 

 

-Zhang Renfeng

 

telah kau tusuk aku dengan pedang laknat itu

hingga aku melayang bagai kapas

ke sungai berlumpur. Kepalaku tak pecah

 

aku tak mati.

 

kudengar kau kemudian bertemu dengan calon Biksu Bijak.

Kudengar ia mengajakmu

bertarung

 

dan dalam denting pedang ia berbisik, “Kenalilah surga. Kenalilah

cahaya. Kenanilah sunyi.”

 

kau tetap berusaha menghujamkan pedang di dada

dan dia tetap mendesah sedentang cinta, “Pelajari kejelasan

dan kekaburan. Pelajarilah kekuatan dan kelemahan. Menyerahlah

pada saat kau merasa menang.”

 

jadi, tak ada kemenangan sejati bukan? Kau bisa terbunuh

kapanpun

 

meski telah kautusuk Biksu Bijak

meski telah kaupetik puncak pengetahuan kematian

dari rahim Angan-angan

 

baik sekarang kenalilah aku: kurir dari neraka. Utusan cinta yang gagal

 

aku dilahirkan kembali dari sebuah jembatan. Jembatan Perkabungan

 

dari sinilah kumulai Rahasia itu. Rahasia musuh sejatimu. Rahasia, tujuh rahasia,

yang kusembunyikan di sepatu rombeng:

 

(1)   aku punya sepasang pedang. Pedang yang akan kutusukkan

ke lambungmu. Pelan-pelan.

(2)   aku bisa menghindar dari jarum maut Lei Bin yang

mematikan. Mematikan. Pelan-pelan.

(3)   aku akan membiarkanmu tidur saat aku bertempur. Saat

aku makan bakmi. Pelan-pelan.

(4)   aku tak sembahyang di Kuil Yunshe. Tapi akan

kutunjukkan ada Tuhan di sembarang nisan. Pelan-pelan.

(5)   aku bisa membunuhmu saat asyik masyuk dalam

percumbuan. Aku bisa mencekikmu

sesaat setelah kupeluk kau dari belakang, istriku.

(6)   aku tak pernah mencintaimu karena telah kaubunuh ayahku

pada saat hujan

belajar menjadi hujan.

(7)   aku adalah kunci kematianmu. Tetapi kau menyangka aku

jendela kehidupan.

 

jadi izinkan aku membunuhmu

dengan tanpa membunuh

 

pedang tak harus dilawan

dengan pedang

 

kekuatan tak harus dilawan

dengan kekuatan

 

karena itu

sembunyikan kebencian

dalam cinta

 

sembunyikan kegelapan

dalam cahaya

 

sembunyikan kabut

dalam kekaburan

 

menyerahlah pada keheningan dendam

menyerahlah pada keheningan ciuman

 

 

 

-Raja Roda

 

aku kasim yang sial

kau ratu pedang binal

 

aku ajarkan kepadamu mengalah pada kematian

kau ajarkan padaku merontokkan taring maut

yang tajam

 

kau memang tak terkalahkan. Tetapi aku tahu cari membunuhmu

sepanjang waktu sepanjang zaman

 

mengapa kau mudah dikalahkan? Karena Tuhan menciptakanmu

dengan empat kesalahan

 

mengapa kau mudah dikalahkan? Karena iblis membuatmu

hanya menjadi ular dalam sewindu kegelapan

 

mengapa kau mudah dikalahkan? Karena hujan

hanya memberimu sedikit kegaiban

 

maka aku akan sangat mudah membunuhmu. Mengapa tak

pernah kaucemaskan?

 

kaucemaskan betapa aku hanya guru sial

dan kau pelajar busuk

yang selalu karib dengan ajal

 

 

 

-Turquoise

 

perempuan hanya akan terbunuh

oleh perempuan. Hujan

terbunuh oleh hujan.

 

aku pernah mati. Aku tak takut

mati

 

aku pernah gila. Aku tak takut

gila pada saat menusukkan pedang

ke rahim busukmu

 

kau tak bisa membunuhku. Tetapi aku bisa

meminta siapa pun membunuhmu

 

aku bahkan dilahirkan oleh Batu gelap, ibuku

dan Raja Roda, ayahku

hanya untuk membunuhmu

 

perempuan hanya akan terbunuh

oleh perempuan. Bulan

terbunuh oleh bulan

 

aku bukan bulan. Aku bukan hujan

 

aku pedang yang berkilau

di kegelapan

 

apakah kau berani membunuhku

sekarang?

 

 

 

 

-John Woo

 

Seseorang harus mengelupas wajah

untuk sembunyi dari ketakutan

seseorang harus pura-pura mati

untuk menghindar dari tusukan pedang

 

aku akan mudah membunuh

siapa pun pada saat makan malam

pada saat sandiwara

tak jadi dimainkan

 

apakah kau akan menziarahi

makamku sebelum sarapan?

 

 

 

Triyanto Triwikromo telah menghasilakn antara lain kumpulan puisi Pertempuran Rahasia (2010) dan buku cerita Surga Sungsang (2014)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 18 MEI 2014

 

 

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 23, 2014 pada 3:15 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Reblogged this on ARSITEKS and commented:
    Muslihat Membunuh Hikayat Hujan

    Suka

    Muhammad Azamuddin T

    Mei 23, 2014 at 5:37 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: