Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI ZAIM ROFIQI

leave a comment »

 

Kata

 

Kumasuki sebuah kata yang menghubungkan,

menyatukan kita.

Sekumpulan huruf yang membuat ia, dia, kau

juga mereka, percaya

lalu perlahan mencoba

mengerti dunia.

 

Di dalamnya kau lihat jembatan,

perumahan dan jalanan

berderet, bersisian.

Pohon-pohon tumbuh rindang,

taman dan gang demi gang,

selokan, hamparan halaman, juga beragam pagar

berdiri,

rapi berjajar.

 

Ada juga bebatuan menggerumbul

semak-semak menyembul

kadal, juga ular,

kadang terlihat

berkeliaran

berjalan-jalan.

Kupu dan capung,

kelelawar atau beburung

melesat-lesat

 

Antara satu tepi dan tepi lainnya

selalu ada kali yang menghampar

tenang,

sungai jernih yang mengalir perlahan

– meski kadang bergolak garang

saat penghujan datang:

begitu banyak orang yang mencoba menyeberang,

terseret arus,

dan akhirnya tenggelam.

 

2013

 

 

Aku IV

 

Mungkin namanya bermula di Elba,

dan hanya di Elba:

 

Dengan sabar kutampung serpih-serpih semesta.

Dengan tabah kuhimpun keping-keping marcapada

yang mereka jejalkan ke dalam tubuhku.

Dulu, beribu warsa yang lalu.

 

Dengan kayu atau belati,

kuku atau paku,

mereka koyak dadaku,

rusukku, perutku, lenganku, leherku.

tengkukku, pundakku, sekujur penggungku,

agar membekas semua

tertera segala:

 

maka setiap benda,

setiap rasa,

mimpi, juga khayalan mereka,

akan jadi baka.

 

Lalu, entah apa kehendakk para pelupa gila itu,

bersama masa mereka pun terus

menyiksaku:

hari ke hari, minggu demi minggu, bulan berganti tahun,

semakin sering mereka melukaiku,

makin banyak keping butala yang mereka tumpatkan,

padatkan,

ke dalam tubuhku.

 

Dan kini

inilah diriku:

lembar-lembar lempung, merangkum, menghimpun.

Ceper-ceper lempung, tertangkup, terpumpun.

 

Lalu masa.

mengubah semuanya:

bubur kayu dan bambu

membentuk pori-poriku,

kulitku, seluruh tubuhku.

Tepung terigu dan air tawar,

menyatukanku, membuatku padu.

 

Menjadi dewasa,

aku pun malih rupa:

bercarik, berlembar,

kini aku semakin berkibar;

lahir dan besar di Cina,

aku pun semakin digdaya.

 

Dan pada daur pertama setelah Kristus merupa,

ketika para peniaga Cina tersebar ke penjuru buana,

sampailah aku di negeri seribu dewa.

Di negeri para Titan mandraguna

aku pun paripurna.

Membesar, membesar, membesar,

aku pun jadi sadar:

akulah semesta, sebenarnya.

Dan seperti butala,

aku terus mengembang, memuai,

entah kapan akan selesai.

 

Bersamaku, kau tak perlu ragu:

Itu bekantan atau badak bercula satu.

 

Memecah diriku, kau pun akan tahu:

Bentala itu

adalah kembaranku.

 

2013

 

Zaim Rofiqi menulis puisi dan prosa, serta menerjemahkan buku. Kumpulan puisinya adalah Lagu Cinta Para Pendosa (2009).

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 MEI 2014

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 16, 2014 pada 12:57 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: