Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI DODY KRISTIANTO

leave a comment »

Tuba

 

Kau yang tak liat beradu

di atas memasrahkan

ketaklukan ini padaku:

 

Tak silap tafsirmu, aku yang

dimunculkan dari pati yang tak

dikehendaki mengerti ihwal

melengoskan perihal berhadapan.

Yang di kejauhan akan berserah

pada pelukan, lebih-lebih,

ciumanku. Apabila berterima,

mampus si musuh utama meski

masih disimpannya gelagat rahasia

yang bisa membuatmu berbalik

arah. Lalu kuputarbalik jalan

darahnya. Kuaduk-aduk semesta

uratnya. Berbaliklah arah amatan.

 

Atas tak bawah, bawah tak atas.

Tak lagi dia tangkas membeda

darah anjing, kuda, kambing, naga,

atau muntahan mambang. Tak

perlu aku mahir berakar di tanah

atau bertopang tiang tegak. Cukup

sedikit kesiur mengudara. Siutku

tak luput menyapa jantung

si perambah yang membuat engkau

patah di awal laga. Dan benar

belaka, kelihaian bersilat mudahlah

padam dalam sekejapan sebar saja.

 

2014

 

 

Bijim

-Hikayat qorinnya Taqin

 

Sementara bergeming. Derap kita damaikan saja

laksana yang bersabar di dahan. Yang berwarna

merah, kuning, hijau, bitu, marun, kembalilah

ke asal.

 

Demi kesabaran qorin dan perewangan yang menaungi,

palagan ini laiklah menemu jedanya. Aku melangkah ke

belakang dengan badan beroleh biru dan jantung yang

dirubung rangrang. Lantas kamu sudah merapat lagi

menambatkan ratap pada tanah. Langkah apa yang

tersimpan bila begitu? Inilah tepat berjeda atau memulakan

pergulatan yang lain. Demi hujan yang turun lamat jelang

petang, berdiam sejenak pas semata. Dengan hujan penyela,

biarkan tatap kita bertabrakan.

 

Kamu, dengan pandangan yang tak hendak mundur, kubaca

bagaimana elang di tubuh bersarang. Kamu umpamakan

aku ular yang patut dibekap. Tak akan bermuslihat dari

terkam meski yang kamu buru ini adalah yang mahir

bersiasat bersama rumput atau tangkas berkalang tanah.

Hakikat cengkerang tentu yang dipapar kitabmu, gerak

layang lesat di udara nun tenang tapi begitu mengumpulkan

yang bergolak ketika badan menghamba ini kamu sasar

seibarat yang gamang disaut orang.

 

Demi hujan yang memisah pula, semoga kamu mendaras

yang kukuar dari pandang. Seamsal sajak, kamulah kata

yang harus aku tuntun ke dalam rangkainya. Agar sari yang

kamu simpan memapar kesungguhannya. Kuburu kamu

hingga ke dalam, ke patimu. Akan kuredam gejolakmu,

kukupas pustakamu. Kupiuhkan kamu sampai keliaran ini

laksana yang abadi dalam ensiklopedi. Pastinya, bakal tak

mudah membekapmu. Ini umpama ikhtiar menafsir firman

yang bertandang kala tengah tak bersemayam ancangan

bersiap dalam badan.

 

Akan menarik perihal berjeda lagi menyimak mata, siapa

yang laik untuk takik akhir sekian jam mendatang.

 

2014

 

 

Dody Kristianto lahir di Surabaya dan tinggal di

Sidoarjo, Jawa Tengah.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 11 MEI 2014.

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 16, 2014 pada 1:34 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: