Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI FARIQ ALFARUQI

with one comment

Di Jalur Harimau

 

Berbaliklah, sebelum sugaku sampai ke lambung.

Sebelum benakku tak lagi bisa menghitung

mana yang patut disebut, mana yang pantas ditebas.

 

Pulanglah selagi jalan para peladang

masih berjejak di pintu rimba.

Selagi berkas cahaya, masih membekas

di kerjap mata.

 

Sebab bila malam telah mengekal

dan suara tetabuh gendang

ditelan rimbun batang jejal berjejal,

yang hilang tak bakal bersua

yang pergi tak akan kembali.

 

“Di tingkah bunyi rasa, aku gamang.

Pada sahutan bansi dan pupuik batang padi

memang dibikinnya aku menoleh ke belakang.

Tapi yang termakan tidak untuk dimuntahkan lagi.

Sekali berjalan, tak laut usai dikayuh, tak gunung habis didaki.”

 

Kalau begitu bahasamu, kau dengarlah aumku:

Penembak jitu bersembunyi di balik rumpun bambu

petarung handal menanti di padang datar

penggulung ulung bersiasat di lembah sempit.

 

“Biar rengkah dadaku, biar dicabik nyawa dari badan

aku tetap bakal lalu, aku akan tempuh itu sekalian jalan.”

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Matinya Kuda Pelajang Bukit

 

Kuda pelajang bukit, di mana kau sembunyikan rasa sakit.

Jika langit yang rubuh kau sibakkan saja dengan kibasan kepala

bumi yang bergetar hanyalah ngilu kuku

sekedar pengelupas lumpur yang mengering di kakimu

dan tak segetar bulu pun mampu memberi tahu

seandai angin tak pernah berhenti mengirim badai.

Mengirim sensai.

 

“Tiba di gurun, telah aku seru angin berdesir

aku himbau lipan, kalajengking, ular segala bisa

agar kami, si kuda dan si penunggang tuba

terkubur selamanya dalam lautan pasir.

Sampai ke padang, sampai di yang lapang dan lengang

berkali aku patah pinggang, berkali pula kaki ini pincang.

Tapi malang sebentar malang, kalian tahu, pepatah

telah mengutukku menjadi seekor kuda

yang tahan dengan segala cuaca.

Segala terpa.

 

Kuda pelajang bukit, beri kami tanda selain rasa sakit.

Seperti stempel tuhan di kening orang-orang suluk

atau serupa rajah yang diguratkan di kulit orang-orang mabuk.

 

Sebab sesudah harimau mati meninggalkan belang

setelah gajah mati meninggalkan gading yang panjang

tak ada lagi umpama baik bagi kami

selain kisah-kisah yang dilantunkan berulang.

 

Sebab telah kami runut jejakmu di sepanjang jalur orang lalu

kami tebar suraimu ketika peraduan angin bertemu

tapi tak juga ada yang bisa kami kenang selain rasa sakit itu.

 

“Kalau begitu inginmu, sebut aku si kuda patah kaki penarik bendi.

Kuda patah pinggang berpacu dalam gelanggang.

Kuda pandai jadi tunggangan, kuda pandir penumpang beban.”

 

Oh kuda perih bahasa.

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Kuda Bendi Pengobat Demam

 

Setelah jeruk purut dikebat benang tujuh warna

tiga butir labu sudah ditanam dalam kubur leluhurnya

dan seulas bawang merah dicampur minyak tanah juga telah bekali

dioleskan ke selingkar pusarnya.

 

Inyiak Talago Batuah itu berkata:

“Meski seribu jin raja alam dipanggil

segala penghuni bunian ambil andil

ikut juga yang halus-halus dan kecil-kecil

tak bakal sembuh ia punya demam panas menggigil.”

 

Oh, ke mana lagi akan aku kadukan

orang pintar di darat sudah aku turut

syekh berjenggut panjang di pesisir sudah aku jalang

serentang tangan telah kujangkau, sekuat bahu sudah kupikul.

Tapi alamat sembuh melayang saja seperti asap dupa.

Memercik saja serupa air kembang sekian rupa.

 

Tapi Inyiak Talago Batuah itu tertawa:

“Panggil mantri, yang berlebih mesti dipangkas

masa kanaknya mesti dilepas.

Kabari orang sekampung, pilin tampuk buat nangka,

Gelegakkan santan air kelapa, sembelih jawi.

Arak ia berkeliling kampung

bakal jadi obat mujarab hati yang murung.”

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Sasaran Harimau

 

Aku tak menyuruhmu mengasah punggung pisau

supaya kelak kau tinggalkan jejakmu

di jalur orang-orang lalu.

Aku tak memintamu menyimpan perca putih

demi alasanmu membentangkan sorban di selingkar negeri.

Ayam hitam tak disembelih

untuk lapar harimau dalam perutmu.

Juga bukan untuk mengundang harum

kemenyan itu dibakar untukmu.

 

“Ini, Engku, sekarung beras untuk kesusahanmu, kegelisahan itu.”

 

Meski ke padang datar kau berguru

dan kau beroleh rusa belang kaki

yang menyimpan seribu langkah

untuk melayang ke atas tanah.

Telah kau khatamkan rimba sempit dan berbukit

hingga diammu tak terbaca mata

terkamanmu tak terlacak arah.

 

Percayalah, sekali saja kau mengaum

akan ada yang menandaimu

sebagai musuh satu kaum.

Sekali saja kau menajam-najamkan kuku

bakal ada yang mengirimkan tinggam

tepat di jantung itu

menyisipkan tuba

pada sisa makan malammu.

Sebab ini ilmu bukan sembarang ajar

dijangkau dari puncak gunung

ditarik dari dasar palung.

 

“Jangan ragu, Engku. Ubun-ubun kepalaku berjumlah genap, Guru.

Kabarnya aku cucu Inyiak Balang.

Delapan harimau berkeliaran dalam tubuh leluhurku.”

 

Aku tak memintamu datang ke ini sasaran

aku tak bakal menahan jika kau memilih pulang.

 

Kandangpadati, 2014

 

 

 

Fariq Alfaruqi lahir di Padang, Sumatera barat,

30 Mei 1991. Sedang belajar di Jurusan

Sastra Indonesia Universitas Andalas. Bergiat

Di Ranah Teater dan Komunitas Kandangpadati.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 4 MEI 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Mei 14, 2014 pada 12:41 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: