Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARIO F LAWI

with one comment

Sepasang Hikayat

 

Semestinya tak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta. Di sisi Nuh, Lot ikut menengadah. Anggur dalam tempayan terakhir telah habis ditenggak. Setelah air setelah api, mereka sama menanti, apa lagi yang akan dimuntahkan langit ke atas mezbah yang kehilangan puja-puji?

 

(Naimata, 2011-2014)

 

 

Memandangmu

 

Suaramu yang berderak akhirnya patah ketika

Daun-daun zaitun ditiup angin ke pinggang bukit.

Takdir tidak ditancapkan pada tembok seperti

Bingkai sebuah lukisan yang tua dan berdebu.

Kirmizi yang belum menjadi salju terus tumpah

Dan menujukan belati ke perut maut yang lembut.

 

Aku mengusap punggungmu yang penuh noda

Dan membiarkan terik mengepung kita. Derit roda

Penggiling tua terdengar di kejauhan. Para pekerja

Yang purna mulai berjalan menyusuri pelahan

Setapak sambil membayangkan kantong dinar dan

Sekerat roti bagi perjamuan malam yang seadanya.

 

“Sebentar lagi,” aku menirukan sabda seorang sahabat

Di atas sebuah perahu yang bergolak, “badai akan

Kuredakan. Berhentilah merengek seperti anak kecil!”

 

Danau bergelombang melukiskan wajah rahasiamu

Sebelum menjadi begitu bening. Tiga belas ekor ikan

Melintas tenang. Matahari yang muncul dari bawah

Danau mengecup lambungmu ketika gemetarku

Yang malu tak lagi cukup mengarahkan perahu

Ke pantai yang mulai dikepung para serdadu.

 

(Penfui, 2014)

 

Kesaksian Seorang Murid

 

Jubahnya merah terkebas kemarau sebelum terkulai dalam tangan seorang perempuan. Enggan ia menengadah ketika berjalan sebab hidup yang menancapkan diri tak pernah bisa dipanggul. Tingkap yang terbuka menurunkan orang lumpuh di atas sepasang kakinya yang fasih menapak dan hampir tak lagi ia gunakan. Tilam yang tergelar telah sempurna menjadi alas bagi pinggan dan pialanya. Ia memang masih menapak dalam bentuk ketika si lumpuh mulai berjalan dan para tahir sekejap melupakannya. Langit di atas menjadi atap yang terpuji ketika menyembulkan tiang-tiang awan. Laut di bawah menjadi kesedihan yang lengkap ketika menyembunyikan duka nestapa Yunus. Mulailah ia mengambang di tengah-tengah dengan kaki yang terkepung dua belas bintang dan mahkota matahari yang lembut dan keemasan. Para nelayan yang sebentar lagi menebar jala sekejap tersadar bahwa ia tak benar-benar menapak ketika melaju di atas air sambil menjaga agar batu karang yang turut tidak tenggelam.

 

Ia menumbuhkan rumput bagi sisi kambing yang gersang, mengusap tanduk di kepala kemarau yang lembut dan mengisi penuh anggur ke dalam tempayan tuan pesta yang kosong. Ia menyisihkan air dari tempayan pembasuhan untuk menenggelamkan kota ketika para pembangkang mencoba mengacungkan pedang. Buluh yang terkulai memang tidak akan dipatahkan sebab ia menciptakan tanpa menyentuh dan melenyapkan hanya dengan memejam. Rohnya ia tinggalkan dalam tubuh pelacur terakhir yang disentuhnya sebelum ia memilih meninggikan diri untuk menegaskan bahwa kenisah tiga puluh tiga tahun yang rubuh memang dapat dibangun kembali oleh tukang bangunan yang cermat dan batu penjuru yang tepat hanya dalam tiga hari.

 

(Naimata, 2013)

 

 

 

 

Luna, 1

 

Suaramu yang pasrah terdengar seperti doa orang-orang asing yang letih di tanah terjanji setelah menaklukkan daerah yang mereka lalui dengan menegakkan pedang. Tuhan adalah dongeng yang diciptakan untuk menyertai mereka. Kau dan aku adalah sepasang tokoh yang terjebak di dalam dongeng itu. Bumi dan langit diciptakan secara terpisah, tapi sebagai bagian dari dongeng, mereka selalu ditempatkan berpasangan. Sebagai sepasang tokoh, kita tahu, surga, para malaikat dan para kudus adalah juga bagian dari dongeng yang disembunyikan di dalam sarung pedang. Sedangkan kebahagiaan adalah keadaan lain yang tak tersentuh tutur para pendongeng. Ia berjalan di luar Tuhan, langit dan bumi, surga, para malaikat, para kudus, dan sepasang kita yang tak benar-benar ada.

 

(Naimata, 2014)

 

 

Kamis Putih

 

Diperjamuan paling kudus

Kuciumkakimu.

 

Kudengardenting menggelindingi

Dindingtelingaku.

 

Entahini milik senyummu

Ataukahberasal dari hikayat

Anggurayahku yang memabukkan.

 

(Naimata,2012)

 

 

 

Ruang Tunggu,3

 

Ular yang telah melata

Hanya bisa menyaksikan dari jauh.

Kain pun telah diberi tanda

Saat Eva menatap Adam

Sambil tersedu, “Itulah tulang dari tulangmu!”

 

(El Tari, sebuah dinihari 2013)

 

 

 

Sajak Terakhir

 

Surga adalah gelembung sabun

Yang penuh udara

Karena dijejali keluh-kesah orang-orang

Pasrah yang malas berusaha.

 

Di sebuah taman, engkau pernah

Mewariskan hujah yang kini tak lagi cukup

Untuk menumbuhkan sebutir padi

Di dalam petakmu.

 

“Mencintai sesederhana menerima,” katamu.

Aku ingin percaya,

Tapi tubuh yang patah di atas salib itu

Menusukkan cahaya matanya ke celah-celah rusukku.

 

Aku memberi segala

Yang ada pada diriku

Hingga pemberianku tak lagi

Cukup di hadapanmu.

 

Pohon yang tumbuh dari sebutir kecil

Iman tak bisa dihinggapi burung

Yang malas terbang dan memasrahkan tubuhnya

Pada aliran udara.

 

Percayalah, Sayang, surga hanya akan menjelma

Puing-puing bagi doamu yang penuh beban.

 

Labirin yang berliku tidak akan meloloskanmu

Dengan sendirinya, dan jika engkau memilih

Berhenti bergerak, sulur-sulurnya akan menyeretmu

Ke dalam kegelapan.

 

Engkau tentu percaya, makanan yang dideretkan

Di atas meja jamuan diubah dari batu-batu

Yang berserakan di padang gurun, meski begitu banyak

Pundi-pundi telah diselipkan ke balik

Jubah-tenunan-tanpa-jahitan milik para imammu.

 

(Naimata, 2014)

 

Mario F Lawi dilahirkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 18 Februari 1991. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana ini bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flambora.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU 20 APRIL 2014

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

April 23, 2014 pada 10:02 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Sumber: PUISI MARIO F LAWI […]

    Suka


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: