Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI KIKI SULISTYO

leave a comment »

Melihat Komet

 

kukira ia teluh yang menempuh separuh jalan

dari tempat keramat ke pusat keramaian

yang kalau siang banyak orang bersaing saling serang

dan malamnya cuma udara bau cuka

 

saat itu dianjurkan pada siapa saja untuk meminta

agar ekornya yang cemerlang tak tersesat sembarangan tempat

sebab bisa jadi besok pagi ada yang ditemukan mati

tanpa musabab, jadi pengganggu waktu istirahat

 

kukira ia seperti orang alim, yang lintas sebentar lantas hilang

lalu setiap kami akan bercerita dan merasa paling dekat dengannya

meski di belakang, kami paham setiap bibir punya tabir

selubung rahasia yang terbentang bagai ruang tempatnya sirna

 

aku melihatnya kini, lagi atau untuk pertama kali

tak ada bedanya, ia sepenuhnya dekat dengan detak nyawa

meluncur di ketenangan yang dalam, masuk ke ceruk rusuk

melingkar di sana bagai ular yang ingkar dari kitab ajar

 

(Bakarti, 2014)

 

Ajimat Kuku Mayat

 

mata batu, lenyapkan semua penjuru

burung malam, kurung tiap pejam

ini setapak, buat jadi lunak

ringanlah langkah, pecahlah tulah

penjaga makam, makan malam datang

bunyi kalajengking, denging pucuk duri

sampai, telah sampai

tanah lapis bawah, decis cacing merah

kuku-kuku hitam, ibu kunang-kunang

keruk kian dalam, galian dingin nian

jari pencuri, tergenggam jari penggali

dapat, telah dapat

kentungan sayup, pucuk api meletup

lalu anjing, hijau mata anjing

memanggil, orang-orang memanggil

 

(Bakarti, 2014)

 

Kudabatu, Kudawaktu

 

mereka menemukannya, di kedalaman antara pasir dan tekanan air

seekor kuda beku dengan rongga mata menyala biru

berapa abad ia berkubur di situ, cuma waktu, makhluk bisu itu yang tahu

tapi waktu tak membuat tanda di tubuhnya, seakan ia tak tersentuh

seakan ada perjanjian telah dituliskan dengan cara paling diam

 

mereka membuat peta untuk mengangkatnya, menduga berapa tenaga

bakal terkuras agar impas pencarian ditebus harga dan harum-nama

kuda itu berasal dari kurun waktu tak terhitung, tak dicatat kitab

riwayat mana saja yang pernah mereka baca; kudabatu, kuda tanpa waktu

 

maka sebuah sebutan selalu diperlukan bagi tiap penemuan

sebutan yang bila orang menyebutnya akan bisu seketika

lidah jadi batu dan rahang kaku: rahang fosil yang mati menggigil

di gurun salju, di bukit berhantu tempat sering terdengar angin memanggil

 

mereka mengangkatnya, begitu ringan ternyata bagai boneka mainan

di permukaan, cahaya perak pagi hari menyiramnya, lantas menghisapnya perlahan

kuda itu kudabatu, batu yang menguap apabila ada yang melihat

mereka melihatnya habis di udara, tak menyisakan apa-apa

 

betapa sia-sia semuanya, saat mereka teringat hari itu akhir tahun

tahun yang baru datang mengendara kuda; kudawaktu, kuda yang bisu

 

(Bakarti, 2014)

 

 

Kiki Sulistyo lahir di Ampena, Lombok, 15 Januari 1978. Ia bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 30 MARET 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

April 8, 2014 pada 11:30 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: