Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI FERDI AFRAR

leave a comment »

Luweng

 

berilah kami sepasang kaki, sergahmu

sebelum kau kian berkibar-kibar menjilat

pantat dandang dan asapmu meninggi

di bedeng utara.

 

menyalalah sebagai api pediangan,

saat remang perlahan langsir ke huma

dan berudul awan itu membuat

dahan dan pedukuhan tampak sekedar

bayang-banyang.

 

maka setiap muslihat hawa buruk

akan begitu mudah masuk dan menyamar

sebagai lelaki budiman dengan karung

dan gunting terkapit di pinggang.

 

bila sunyi kerlip lintang tersunggi di pelataran

dan rembulan seperti pijar kekunang,

tiba saatnya bocah-bocah mengitari pokok gayam

sebagai ular naga penunggu rumah.

 

sebelum para pengusung itu tiba

menuruni lembah sebelah barat dengan

sepasang kaki tunjang, melintasi rincik ngarai

dengan langkah goyah.

 

dua puluh tiga depa sebelum beranda

ketika sepandang pepohonan, reranting daun

tampak seperti kalibut, akar menjuntai

seperti pukat waktu. tanah merekah seperti

lindu. maka berkobarlah membakar setiap

sangsi di pelintasanku.

 

Resapombo, 2013

 

 

 

Sangkal Tulang

dari eyag wage

 

aku memasuki duhai pemilik lara, rebahlah

bayangkan dirimu seolah gombal terhampar

teguhkan badan senikmat kesiur daun pandan

 

ihklaskan sepenuhnya, kau dan aku tertangkup

berpilin ngilu dalam jerit tulang beradu

memiuh lebam, menyelaraskan yang sempal

 

mula urut ini berkisaran pada pangkal cedera,

pada segala yang memuntir dan patah. selingkaran

hitam-getar yang tak lagi berurat pada akar

 

pokok yang telah lama purna tunaikan kodratnya,

pun susunan yang telah remuk muasalnya

goyahlah! genjurlah!

 

suwuk ini tak sekedar berpantang gerak

dan kau seolah menerima sabda mustajab

dari arah kertap atap yang bergoyangan.

 

kau dan aku akan terus sabar terjaga,

menjaga damar yang kian bimbang

antara meredup atau cerlang perlahan

 

dan pekikmu makin aus tersedak

di kerongkongan. aku pun terus membalik

dan memutar menggenapi daya kekar kesembuhan.

 

Resapombo, 2013

 

 

Sambiloto

resep untuk meyda

 

peram tekam seluruhku, resap perih pahitku

hingga cerlang perlahan dalam wadahmu

rupa lumut hibuk terjerang ruap angus.

 

kucak peramuku, kucak segantang pesona

setugal kunyit dan menir moyang susup sudah,

sekuyu seduh sedesir bimbang di dadamu.

 

akan luruh, merupa dahi kuali tanah

dijenjang batu bata berpagut gelembung

membumbung ke udara.

 

lekas gayung siapa yang limbung,

sesap setakar tiga perempat cawan

setelah bersantap riang.

 

diamkan segala yang telah melumat

menyusup redup ke lambung.

susut jadi getah, menanjak jadi tulah.

 

dendang gending pelafal mantra

hadang yang hendak menugal tulang,

menghalau urat sempal.

 

Sumokali, 2013

 

 

Kobra

            Menonton film The Indian Tomb 1959

 

keluarlah dari buntelan gombal tuanmu, merayaplah

pun menyelinaplah ke amben pekebun itu

tunaikan kodratmu menggembur-hangatkan kedalamanku.

 

aku sarang peraduanmu, dengan lebar kepung sisik kerang

pun rerumbai cadar menyimpan rahasiaku terdalam

 

aku ada dua gundukan kembar dengan celah karang yang menghempas

tariklah, tariklah kekang kuda pacuanmu yang trengginas

 

jangkar kencang tampar, bukankah kau kerlap lantang

sesiku kursi temali kusir bendi pejantan pilihan

 

dedangkan bebunyian ritmis kendang dan seruling putih gading

itu membikin malam kian agung. aku pasrah menerima dua kuncup

cucupmu yang libas.

 

Sumokali, 2013

 

 

Tapak Liman

resep dari mbah gito

 

akulah gulma, karib liar tak menjalar

nektar yang mengudup rahasia.

 

batangku mendongak lantak

dendang lebah pantunkan hikayat.

 

pucukku mewiru ungu

si pelantun peruwat nafsu

 

tanganku helai terjerembab tanah

seperti pendoa yang merapal khasiat.

 

genggamlah aku, secupak daun secupak madu

perut aku bersama lesung alu,

 

pelan-pelan seliat sekebat adukan terjaga

bauran kuning telur, adas, dan gula merah.

 

ramu padu, lumat hasrat

dalam setiap ulekan peramunya.

 

peramut terwelu, peramut lembu

siapa merawat pegal di ladang dan bunga

 

cukupkan taguk aku, si pahit-sejuk ramuan lampau

yang akan membuatmu giras, tangkas, dan bergairah.

 

Sumokali, 2013

 

 

 

Nanas Kerang Ungu

setelah berkebun

 

seperti gerumbul penusuk bermata ungu

yang berjubah hijau di sekitar taman.

 

pembiak kuntum berparas kerang

berkulit putih melati semirip helai induk nenas,

 

petiklah bila kamu mengindap rasa panas

demam dengan goncangan di dada.

 

nyeri di hulu paru dan kerongkonganmu

yang membuatmu megap-mengkis,

 

mulut yang tak lagi merawi manis

mulut yang meliurkan aroma amis.

 

segeralah cukil daun dan bunga lantak buluhnya

segera potong-potong melintang,

 

kemudian cebur-kuyupkan di kuali tanah

dengan gelembung sedak air terjaga.

 

hingga matang pulen syaratnya

hingga khasiat tersadap sempurna.

 

sajikan selagi suam kuku,

kucurkan perlahan dengan bauran madu alam.

 

di atas ranjang, di atas talam

panjatkan bismillahisy syafi

 

sebelum kamu menyeruput perasannya

sebelum memamah daun,

yang mencairkan berudul dahaknya.

 

Sumokali, 2013

 

 

Ferdi Afrar lahir di Surabaya, 9 April 1983. Kini ia tinggal di Sumokali, Sidoarjo.

 

PUISI KOMPAS MINGGU, 6 APRIL 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

April 8, 2014 pada 11:47 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: