Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MARDI LUHUNG

with one comment

Telur Asin

Aku memakan telur asin. Dengan kuning yang berminyak.
Dan aku teringat padamu. Yang pernah berseloroh: “Kau
tahu, waktu lahir, aku menetas dari telur asin. Telur asin
yang kebiru-biruan. Agak lonjong. Dan bercangkang kuat.”
Dan ketika telur asin telah habis, aku juga teringat, kau
memang lentur. Dan bagi yang ingin menelisiknya, mesti
diterawangkan ke sinar lampu. Agar terlihat gurat tipis atau
tebalnya urat. Lain itu, pada setiap desirmu, aku mendengar debur
lautan yang riang. Debur lautan yang tak pernah lelah
mengusung bakal garam. Sambil merentangkan apa saja
yang ada. Lalu berkebatan di ujung-ujung ombak:
“Tangkaplah aku, tangkaplah juga asin yang abadi yang melekat
di langit-langit mulutku!” Dan waktu itu, betapa aku (juga
mereka yang sempat melihatmu) menduga, jika kami berani
memasuki mulutmu, pasti keluarnya akan terurai dalam
butiran garam yang mutih. Butiran garam yang kelak
tersaput di setiap kerahasiaan rasa telur asin yang
terhidang. Seperti tersaputnya kabut dalam asap.

(Gresik, 2014)

 

 

Nyala

Di laptop ada yang selalu memanggil nama kita. Dan suara
panggilannya seperti denah rabun. Kadang lurus. Kadang
tebal. Dan kadang tak jelas. Apakah itu garis untuk rel
kereta, arah sungai atau halte bis. Dan di laptop,
sepertinya ada wajah yang nongol. Wajah yang penuh
warna. Dengan rambut kelimis tipis. Terus menyela: Apa
kalian mau menjawab balik atau tidak. Dan menambah:
Sehat juga kan? Memang, ada sebatang lorong. Dan
Wajah yang penuh warna itu berlagak di tengahnya.
Sesekali kukuh berkacak pinggang. Dan sesekali yang lain
pun berlarian ke sana ke mari. Tak lelah menaburkan
noktah pelangi di layar monitor. Agar yang pintar menata
pun dapat menatanya untuk jadi siapa saja. Juga apa saja
yang senantiasa mengawasi tanpa henti. Tanpa kedip. Dan
di laptop, memang ada yang selalu memanggil nama kita.
Dan kita pun jadi terpana, ketika pusat listrik dimatikan.
Tapi layar monitor tetap saja menyala. Dan sebentang
lorong yang ada tadi pun tiba-tiba menyeruak. Gesit, lincah
dan tangkas. Seperti ketangkasan sang tafsir atas
bergulirnya telur-telur unduh yang tak pernah terduga
begitu adanya. Bagaimana ini semua nanti direhatkan?

(Gresik, 2014)

 
Sedak

Penonton gelap. Latar gelap. Lantai panggung mengkilat.
Dan si penari berbaju tipis tersenyum. Mengibaskan
selendangnya yang juga tipis. Dan bibirnya? Bibirnya yang
menyala itu menembangkan sesuatu. Sesuatu bagi si
pengembara. Si pengembara yang baru saja pulang.

Si pengembara yang mengusung karung yang penuh
dengan buah tangan. Bagi siapa saja yang dulu ditinggal di
lubang sumur. “Tapi. Ibu.” kata si pengembara, “mengapa
semua yang ada kini tinggal bekas?” Dan si ibu (yang tak
lepas dari geser sandal itu) cuma terdiam.

Tapi terus mengelus kening si pengembara. Elusan yang
entah kenapa dan untuk apa. Lalu sepasang laron dan tiga
codot terbang. Sedang, lima kambing di kandang seperti
bantal keriting yang bergerak. Tak ditengok. Hanya bibir
si penari menembangkan sesuatu yang kembali terdengar.

Dan kembali pula penonton gelap. Latar gelap. Dan si
waktu, ya, si waktu, tiba-tiba mengurai wujudnya sendiri.
Untuk kemudian menyusunnya balik. Dalam bentuk ember
yang penuh kelenjar ungu. Yang sebelum panggung ditutup,
setiap penonton mencelupkan kakinya ke ember itu.

“Ibu, Ibu, aku melihat, ada jejak-jejak ungu yang tiba-tiba
bertebaran,” potong si pengembara dengan sedikit tersedak.

(Gresik, 2014)

 
Tutul

Dulu, setelah dibersihkan, bumi tampak elok. Air pun
mengalir. Gunung berjejak. Angin bertiup pelan. Dan
yang jalan, terbang dan berenang dibiarkan bertempat.

Dulu, setelah hari berganti, ada juga yang membuang
warna. Semula cuma tutul kecil. Lalu membesar. Dan
berpusaran. Mengingatkan pusaran kaki badai dan topan.

Dulu, setelah pusaran kaki badai dan topan reda, bumi
elok jadi kelabu. Malam jadi agak berat. Relung terbuka.
Dan gua dan terowongan jadi memanjang dan telanjang.

Dulu, yang berdiri tegak, pun segera belajar menunjuk.
Menggaris. Memetak. Lalu menjinakkan si mamalia
untuk dihela dan ditunggangi. Juga dinikmati susunya.

Dulu, dan dulu, dan dulu, mulailah perembutan itu. Dan
bumi elok pun disergap gerhana, gempa, bandang. Juga
bergantinya yang awal menitah dan yang dititahkan.

Atau yang mesti terusir dan mengusir. Atau yang tidak lalai
mengetuki pintu-rumah-depan sebagai pengingat. Tapi,
sayangnya, kami selalu acuh tak acuh, seperti hasrat kisut.

Yang pelan-pelan mengerut. Dan perputaran di punggung
kura-kura tua yang oleng.

(Gresik, 2014)

 
Weton
: cerita mirammastra

Jika esok malam laut pasang datang, tolong pandanglah
dengan jelas. Sebab, pada laut pasang, aku akan
menyerahkan umurku. Umur yang telah terpakai. Umur
yang berkibar. Seperti kibaran bendera yang tertancap di
karang. Karang keling yang disorot cahaya. Cahaya kuning
keemasan.

Dan jangan terkejut, jika di saat yang tak terduga, akan ada
si buaya putih yang menyembul dari laut pasang. Si buaya
putih yang punya kelebat aneka warna. Si buaya putih yang
bahagia ketika memasuki meja pengorbanan. Meja sesaji.
Meja yang penuh dengan bunga, beras, buah dan bumbu.

Seperti kebahagiaan si wanita ketika menyerahkan
miliknya pada si lelaki impian. Meski (setelah itu), arah-
arah ombak tetap saja terambing dan terguncang. Dan para
pelayar, para pelayar yang hebat sekali pun, hanya bisa
melayari sambil menjambaki rambut sendiri.

Padahal, si empu batas-muasal-lautan selalu demikian
dekat. Seperti dekatnya urat pada leher. Urat yang selama
isi perairan dan perabotannya dijaga, tak lelah meniupkan
denyut. Lalu, seperti penanti yang melabaikan sapu
tangannya di pantai, tolong lambaikan juga sapu tanganmu.

Biar nanti setelah aku serahkan umurku pada laut pasang,
selalu ada ingatan: “Jika apa yang ada, tidaklah pernah
cuma-cuma. Meski itu, untuk sebuah penyerahan.”

(Gresik, 2014)

 
Gandum

Dia adalah keturunan kedua-belas dari si penjaga kitab.
Kitab yang mengajari siapa saja agar mempercayai yang
gaib. Juga meluruskan arah kiblat agar sampai pada hasrat.
Dan dia juga yang menyambung bisik. Tentang sepiring
gandum bagi si buta yang galak. Yang tak bosan mencaci
maki si hati dunia. (Padahal, si hati dunia telah menyamar
jadi si lain. dan menyuapinya setiap pagi dengan penuh
adab). Sepiring gandung yang akan ditukar air mata. Ketika
si hati dunia wafat. Dan ketika si buta galak tahu, jika si
lain, yang telah menyuapinya setiap pagi itu, tak lain adalah
si hati dunia sendiri.

Dan aku bertemu dia pada sebuah siang. Di sebuah pantai
tradisional. Dan dari jenggotnya yang lembut, aku merasa,
dia juga yang dulu membuat perahu yang teberkahi. Lalu
mewarnainya dengan hijau, biru dan kuning. Dan
membiarkan buritan agak lapang. Tempat sujud bagi kening
setelah dihantam ombak. Akh, betapa rahasianya jika
sudah di tengah keluasan? “Apakah kau juga suka berburu
ikan?” itu tanyanya padaku. Dan aku mengernyit. Mengapa
kok berburu? Mengapa tidak menjaring atau memancing?
Entahlah. Tapi, aku tetap mengangguk.

Lalu, dia tersenyum. Dari senyumnya, aku melihat seekor
ikan raksasa melompat. Perutnya yang lebar terlihat
tembus-pandang. Dan terlihat apa-apa yang ada di
dalamnya. “Berburulah. Dan cari tahu apa yang ada di
dalam perut ikan itu,” tambahnya. Terus lenyap.
Meninggalkan aku yang sendiri. Aku yang tercekat. Dan
aku yang langsung menebak: Apa sebenarnya yang ada di
dalam perut ikan itu? Makhluk hidup ataukan sekerumunan
renik? Atau cuma semacam sisa makanan yang tak terurai?
Atau malah sebaris doa ampuh, yang dulu pernah
Dilantunkan oleh pelari?

Hmm, ini tentunya tebakan yang tak biasa. Dan barangkali,
si buta yang galak yang dapat menjawabnya. Si buta yang
kini kerap aku temui di sudut kampung. Dengan air mata
terurai. Dan dengan kepiluan seperti ini:

“Wahai, si hati dunia, kapan lagi kau datang padaku dengan
sepiring gandum?”

(Gresik, 2014)

 
Mardi Luhung tinggal diGresik, Jawa Timur. Buku Puisinya, Buwun (2010). Mendapat Khatulistiawa Literaty Award 2010.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 23 Maret, 2014

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 29, 2014 pada 1:45 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. saya suka. ijin kopas dblog saya bwt koleksi. 🙂

    Suka

    azad

    September 22, 2014 at 6:53 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: