Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI JIMMY MARULI ALFIAN

leave a comment »

Terapi Awal Januari

: Pareme

 

Setelah kita sepakat berkomplot dalam sindikat, apakah masih

harus aku katakan bahwa panggulmu dan kuku kelingkingku

adalah bagian dari firman? Padahal di sepanjang Samudra Hindia

yang bising oleh khotbah ombak menubur tebing, kamu berani

menyendiri tanpa jaminan selamat ataupun garansi aku akan

menunaikannya hingga tamat. Perihal siput-siput yang

berkelompok pada bebatu di ujung tanjung, kita selalu punya

alasan untuk tidak menangkapnya lalu membiarkan satu dua

cangkang tinggal di dekat kakimu seperti hendak mendukung

bahwa perantauan akan berlangsung. Tentang padi-padi gendut

yang tubuhnya senang merunduk menghadap laut sepanjang pantai

Krui, aku meyakini itulah bekal yang menyelamatkan perjalanan.

Aku tidak pernah bilang bahwa kita berdua si sakit yang akan

berkelana mencari obat di lekuk-lekuk bukit tapi aku cuma

waspada bahwa cinta pun akan diterpa sejumlah kutuk bersama

ingatan juga pengharapan yang lebih dulu ditanam di sebelah tahi

lalatmu yang membesar itu. Mencintaimu tanpa kecamuk adalah

ilham pertama yang akan memelihara gelora. Lantas adakah

hukum dapat menjangkau perasaan kecut kalau nyatanya ulir

bibirmu bembuatku hanyut? Cuma hening. Mungkin itu nubuat

kalau kita tak akan tobat sekaligus sembuh dari asmara yang kerap

kambuh.

 

2011/2012

 

 

Pencatat Akte Kelahiran

 

Bahkan setelah kau datang berbarengan komet pukul delapan tadi

ia terus mengingatkan bahwa jari-jari panjangmu harus dicap tinta biru:

Pelancong telah tiba dengan batas negara

yang agak meliuk di garis bibirnya

dan selembar peta buta lucu berwarna abu-abu

 

Aku tidak menduga kau datang segera. Di Baturaja, kelok sungainya

sering menyesatkan! Belum lagi batang-batang karet yang rimbun

serapi dan selurus rukuk jemaah sembahyang magrib

itu cukup membuktikan

kalau aku tak bisa menerka setiap kejutan

 

Dengan ramah ia menyarankan agar namamu dicatat

pada register induk bulan ini

 

“Lalu nanti pada bulan kedua belas, ajaklah ia mengamati

kepala-kepala ikan yang timbul tenggelam di pinggir kali

niscaya ubun-ubunnya akan terbuka

lantas lompat seekor naga yang palig lucu

bersisik hijau berkumis merah jambu”

 

Ujarnya saat mencacah

dan menjanjikan takdir dalam bilangan jumlah

 

Siapa yang tahu kalau doa bisa mempan bagi lelaki

yang tengkuknya bergidik lantaran janji?

 

Sebelum pukul 9 malam tubuhmu pun lenyap lalu meronta

seperti hendak tengkurap. Aku ngelantur mabuk dalam harap

separuh percaya suaramu rukun setenang bulat sukun

selebihnya menerka tenggorokanmu kerap tersedak wasangka

 

Maka nama dan tanggal lahirmu harus kudaftarkan secepatnya

agar tahu persis jumlah waris yang bakal diterima

atau berapa jumlah tangis dan sendawa

ketika kau berhasil melongok

betapa surga letaknya beberapa meter dari pondok

 

26 Februari 2013

 

 

 

Jimmy Maruli Alfian lahir dan tumbuh di Bandar Lampung.

Kumpulan puisinya adalah Puan Kecubung (2009)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 16 Maret 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 20, 2014 pada 10:42 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: