Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI RAUDAL TANJUNG BANUA

leave a comment »

Barus

 

1.

tak ada jalan lurus ke barus

para pengelana telah lama menembus kabut

mencari celah jalan

ke bekas perigi sultan

hendak mereka gali sumber

mata air yang terlelap

berabad-abad

akan mereka nyalakan kandil

dan lampu damar

di rumah-rumah lampu cahaya

yang tiada terkira ruhnya

o, cahaya, demikian mereka yakin,

engkau tak mungkin tinggal rangka

engkau utuh sejak semula

ibarat kapas lepas di udara

lalu hinggap berbagi-bagi

lesap berbagai-bagai

jadi benang jadi kain

jadi renda jadi perca

di dalam tiap nama

 

maka mereka dirikan bilik kecil

tempat memuja

cahaya maha cahaya

agar jelas yang dipertuan

di masa ini penuh derita

 

2.

kami, pengelana fana, separoh terang

setengah buta, bertahun-tahun kemudian

menyusul mereka menembus kabut

pedalaman sumatera

mencari secercah jejak yang ditinggalkan

sejarah.

 

kami ciumi getah pohon-pohon langka

di sisa hutan bukit barisan

buat mengenal bahasa sumatera

dan batang hayat pohon silsilah

 

kau sebutlah namanya: kamfer

itulah pohon hayat leluhur kami

lebih dari sekedar kapur dari barus,

ia kapur dalam barus

bahkan barus itu sendiri

(serupa nafas bukan sekedar udara yang dihirup

tapi hidup dalam hidup), maka disebut ia kapur barus

sebagaimana cahaya yang tak mungkin tinggal rangka,

wanginya pun tak pudar ditiup-hembus udara

sekalipun kota runtuh penuh derita, kapal-kapal karam

ke dasar samudera

 

o, getah yang mengental dalam pokok batang

adalah darah kami yang dibekukan

kehendak zaman. wanginya hinggap

di tiang perahu dan layar kapal

membawanya pergi jauh

ke lain pulau

ke semenanjung

ujung benua

jadi rempah jadi perancah

di tungku-tungku dapur istana

pengawet ragi kain ibu ratu dan para selir

pengharum ranjang peraduan para sultan

dan kesudahannya merasuk ke kain

para raja

di persemanyam

 

apalagi yang dicemaskan?

pelabuhan besar, bandar berkembang

kota tumbuh bersilang jalan

gudang-gudang dan kongsi dagang

menampung getah darah leluhur kami

hingga siapa pun tahu,

sejak itu, telah ditebang sekalian batang

lebih dari hasrat berladang

getahnya dibawa turun

berbungkul-bungkul, berpikul-pikul

di dalam karung dan kain sarung

dari parliatan, pakkat, kolang, tara bintang,

ona gonjang, parik sinamba, humbang hasandutan

semua dipadatkan dalam lambung

kapal-kapal segala bangsa

dan lambung itu pun menelurkan

keramik antik, barang pecah belah, mata uang dan senjata,

mengeram perangai badai, topan gelombang

penuh amarah

hingga datanglah suatu masa

kapal-kapal angkat jangkar

(atau tak sempat angkat jangkar)

kota hilang dalam semalam

leluhur segala bangsa lenyap

tak tahu rimba

 

kami, pengelana fana,

separoh terang setengah buta

tak mengerti. misteri dan sejarah

sama-sama menyimpan labirin dan teka-teki

meski kami dengar cerita tentu

tentang serangan gergasi dari laut

tapi tak tahu makhluk apa gerangan

sebagian menyebut itu raksasa kiriman langit

yang cemburu pada surga di bumi

ada pula yang setuju itu bajak laut terkutuk

menaklukkan kota dan raja, memutus urat nadinya

dan sebagian paham dalam angguk

itu bangsa kulit putih yang berdagang

dengan senjata dan tahta suci

 

tak ada yang tahu pasti

hingga bertahun-tahun kemudian

bumi berguncang gunung-gunung berguncang. laut mengelucak

seperti tempayan diayak tangan yang terguncang

lalu gelombang besar, lebih dari amarah topan, menghantam pantai

dan kota-kota yang tidur selepas badai

dan ketika terjaga, semua lenyap seketika

manusia ibarat lalat, dengan satu tepukan,

semua senyap terlepas

beterbangan ke sorga

 

kini di bekas pergi sultan yang belum rampung digali

para pendahulu kami (bagi mereka doa puji), kami bermuka-muka

tegak dan berkaca, tegak dan bersila

kami basuh muka dengan cahaya tak bertara

kami nafasi diri dengan wangi

getah darah leluhur kami

 

3.

di pusat makam keramat

papan tinggi seribu tangga

kami pun meninggi

mencari alamat

yang disimpan semesta

turun ke makam mahligai

aksara-aksara gaib

tak usai terbaca

tapi segalanya terkaca

sehening doa. rumput-rumput meninggi

mencari matahari

dalam diri

 

nisa patah, nisan-nisan sebulat gada

arab dan india menyatu di tanah sumatera

batu alam kembang teratai

menyila kami bersila, merasa sangsai,

sia-sia, menghadap yang baqa

 

lalu nisa tuan ibrahim dan tuan mukhudum

di belakang rumah papan setengah bata

dicumbu pucuk enau, dau rumbia

bila malam tiba. tanpa lentera

konon mereka mesra-memesra

satu menggila atas lainnya

 

“apa zikirnya wahai, tuan penjaga?”

memohon kami pada juru kunci

minta amalan perisai diri

tapi ia pura-pura buta, pura-pura tuli

kami pun pura-pura terus meminta

pura-pura terus mencari

 

“ah, apa pula kau kata,” katanya akhirnya

bagai memungkas kitab larangan

pelan-pelan ia sarungkan

dekat ke dada

 

4.

di barus, hamzah fansuri jadi wisma

(adakah bilik kecil tempat memuja)

di antara padi menguning, terentang jalan

ke pasar lengang, pelabuhan lama

benteng hitam, gereja dan mesjid tua

tinggal hening, sejak ditinggal hamzah, si anak dagang

membawa api syair sepenuh badan

 

andam dewi, lobu tua

negeri percintaan pada pengelana

tempat menggali perigi sultan yang tertidur berabad-abad

tapi yang didapat: pecahan keramik, guci keramat, manik-manik

dan bingkai kapal tak dikenal. lebih banyak lagi

kapal-kapal ikan di masa kini

dan jala nelayan teronggok lapuk di kolong rumah

 

ah, tak kutahu setebal ini kabut perjalanan

mencari silsilah dan api syair

tapi kutahu: puisi adalah tindakan terakhir

seorang penyair

setelah kabut dan jalan-jalan

 

/Barus-Yogya, 2013-2014

 

 

Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Kini ia tinggal di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumahlebah dan Akar Indonesia. Buku puisi terbarunya adalah Api Bawah Tanah (2013)

 

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 9 Maret 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 17, 2014 pada 11:28 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: