Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI MUGYA SYAHREZA SANTOSA

leave a comment »

Ngurek

 

tanpa sebatang gagang

aku masih bisa berkhidmat

di hadapan rahasia lubang.

 

menanti penuh kesabaran

di uluran benang yang bergetaran.

sepanjang mata kail menadah umpan

agar terjerat sang tubuh hitam panjang

si lihai berkelit, belut berlilitan.

 

semoga tangan peka

pada setiap geletar kiriman.

sebelum peluh menetes

berluruhan tak tertampung

ujung hari yang berkesudahan.

 

saling merenggut dan bersikukuh,

sang buruan tak mudah patah

di seberang kelam dan jauh

dari murahan pada rasa menyerah.

 

andaikan tanganku lengah

dan kehilangan arah,

ia pasti menemu celah

kabur dan tak sempat terangkum gugur.

 

tapi kecergasanku

membikin pasrah makin melemah.

setelah tercerabut ke akar pertahanannya

dua-tiga hantaman ke tanah

akan membuatnya jerih

sampai di puncak letih.

 

2013

 

 

Kolecer

 

aku akan kehabisan bumbu

bila harus menyulam bilik pondokmu

untuk menghadang angin barat itu.

 

aku pun akan kehilangan

pohon keramat kampungku,

hanya untuk membangun dinding kayu

pada kamarmu.

 

maka kuhadiahkan sebatang pancang

tubuh gombong bambu.

juga seraut kayu

yang memipih,

mengusik musim yang menepi kini.

 

kau boleh memilih jati, tisuk, bihbul

atau surilem sesukamu.

sebab sungguh luas hasratku

memanggulnya di atas punggung

Galunggung yang kian penuh-peluh.

 

mengaraknya ke pematang sawah

dan menancapkan tepat

ke kedalaman tanah.

tegaknya seperti isyarat pitarah

di mana selalu tertuju pada wibawa.

 

pusarnya yang mengunci

menjagai wajah angkasa yang perkasa.

ekornya melambai

membagikan wajah angin yang tergerai.

 

dan apabila terdengar dengungannya

burung-burung terusir sudah,

padi-padi tumbuh suburlah.

 

anak-anak menyukai suaranya

seperti mendapati teman sejawat

yang setia mengisi tabah

ke tiap rusuk dadanya

dan akan senantiasa terawat

di dalamnya.

 

suatu petang di bawah cahaya jingga

yang semakin mematang,

diriku menghadapinya,

terasa lebih menantangnya.

tapi langit juga terhisap

ke dalam pusarnya.

sehingga teramat gegabah

bilah wajah resah terus saja

kubiarkan tengadah.

 

2013
 

Mugya Syahreza Santosa lahir di 3 Mei 1987 di Ciajur, Jawa Barat. Kini ia tinggal dan bekerja di Bandung. Hikayat Pemanen Kentang (2011) adalah buku puisinya yang pertama.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 2 Maret 2014

Iklan

Written by Puisi Kompas

Maret 5, 2014 pada 6:57 pm

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: