Kumpulan Puisi Kompas

Arsip Puisi Mingguan Kompas Terbaru

PUISI CYPRIANUS BITIN BEREK

leave a comment »

 

 

Kain (4)

            harapan

 

Malam mendatanginya dalam mimpi.

Malam yang gelisah, mengajaknya

Menunggangi rumah masa kecil.

Terbawa pula perdu, rumputan padang

pohonan akasia. Juga burung dan kupu

yang bergerak selalu, mengantarnya

ke barat. Ke kampung asal.

Malam yang penuh pengertian itu

mengiring mimpinya, renta dalam duka

menjenguk masa lalu.

 

Mimpi juga pernah membawa tubuhnya

lunglai ke atas tembok kota,

kepayang arak rindu:

–          Datanglah dan jemput aku!

Seru saja damba bersua kepadaku.

Tolong bujuk aku dengan memelas

sementara pura-pura kutolak permintaanmu itu.

Terlalu malu berbalik diriku

setelah tak pamit kala berangkat.

Katakan dulu sesuatu yang manis:

gumam bunda di celah doa

merajut bayang wajah dan namaku

menjadi harap menjadi khayal

menjadi terkasih lagi. Atau

ayah yang sakit-sakitan atau

masa lalu yang sebenarnya tak (perlu) ada.

Ayo, tanamkan benih haru padaku

agar kutemukan alasan pulang, karena

sebenarnya rindu ini terlampau ruah.

 

– Ranting mimpi bertunas lantas mengering:

Sungguh, lebih celaka pelarian ini dibandingkan mati.

Kabur belaka wajah sanak.

Kadang terjaga aku di sunyi malam

antara takut dan ingin dipergok.

Wahai, nikmatnya wajah masa lalu

menabur rindu pada lelapku

sebelum mengabu dipanggang hari.

 

-Habel, Habel!

Biang segala mimpi paling celaka

Sudah manyat busuk, masih mengusik kau!

Terkutuk segala tanah bagi darahmu!

Hantu jahat kau di mimpiku resah!

Mengapa padamu hanya Allah memihak?

Sungguh hidup paling sialan mesti kujalani!

 

Dia menanti. Ditanam jua damba sebatang

Di dadanya kiri, di jantung berdenyut merih.

Dipercikan selalu air mata dan rintih.

Hingga memuncak jadi hasrat:

menjenguk tanah asal.

Tapi terus saja diulur-ulur. Selalu.

Menanti alasan terbaik yang tak pernah ada.

Dan kembali memang tak pernah

kecuali dalam impian paling purba

: jiwa yang terhilang.

 

Agustus 2013

 

 

Kain (6)

            kota Henokh

 

Mimpi yang selalu ketakutan itu

membangun kota berkubu dari peluhmu.

kau namai Henokh seperti putramu sulung.

Karena berharap kelam berganti cahaya baru.

 

Kecemasan membangun tembok dan organ tubuhmu

menjelma antara bayaran, bersiaga:

serangan gelap musuh itu

mengganggu tidurmu senantiasa

dengan berisik suara mereka.

 

Padahal kau sadar sungguh,

tertoreh sudah tanda suaka di dahimu.

Tetapi kota terus membanjiri tubuh

dengan amis peluhmu

sementara tetap kau mengira

itu teriakan darah adikmu.

 

Malam ini mendadak kau berpikir tentang Habel

yang terselip di antara hingar tentaramu

lalu diam-diam menyusup

dan menikam belati ke jantungmu.

 

Mimpimu sering melihat sepasang kasut

yang berlari sendiri diteriaki darah

yang mengering di belukar itu.

Kadang kasut itu memaksa tubuhmu

berjalan ke kampung halaman.

Sementara kau sampirkan jubah di bahu

tersedu mengenang ayahmu.

 

Lihatlah, bulan pun lembayung

Pada malam kau diam-diam rindukan adikmu.

 

 

Kain (8)

 

Kecemasan yang mulai letih

berkata pada suatu malam:

Cukup sudah. Pelarian perlu berbatas.

Tak mungkin terus berpindah.

 

-Di Tanah Nod – di timur Eden aku berbiak.

Di tanah yang punah berkat, lahirlah anak-anakku.

Berlusin-lusin, bagai buah ara diguncangkan.

Tapi takut dan sepi ini sungguh siluman.

Menakut-takuti mimpi dengan cakarnya.

Cukup sudah! Cukup segala telunjuk menunding!

 

Dengan cadas kecewa dan sakit hati dibangun kota

berlumur getah angkuh tersisa. Mengapa perlu sesal

sesudah Tuhan sembunyikan wajah?

Dinamainya kota Henokh seperti putranya sulung

karena merekalah masa depan.

 

-Selamat berpisah mimpi buruk

pula segala kenangan cengeng.

Selamat tinggal Tuhan!

Biar kucipta tuhanku sendiri.

Kuukir indah patungnya lantas kusembah.

Karena tak ingin kutengok lagi

masa lalu itu.

Apakah Kau iri dan menyesal?

 

-Di sini, keresahan terasing.

Terlampau hingar pesta-pora.

Terlalu sibuk untuk menyesal

selain si palung sepi malam.

Di sini kuingin tenteram belaka

Memisah diri dari segala

juga ancaman nyawaku tunggal.

 

(- Di sini, di kokoh kota bertembok

sesungguhnya bersembunyi aku

dalam penjara kubangun sendiri.

Ah bunda, dosa ini ternyata

cuma melahirkan keterasingan.

Sebenarnya sudah mati aku

lama sebelum disergap ajal.)

 

Oktober 2013

 

 

Kain (9)

 

Kini mimpi membawanya ke ladang.

Mengulang cerita persembahan itu.

Mimpi yang sudah tak setia itu

memaksa pandangnya kepada mezbah Habel

pada domba bakaran terlalap habis.

Lalu nampak bertunas kayu berpalang

dan sesosok tubuh bergantung berdarah.

Tapi sajian ladangnya asap pekat hanya

bagai jerami basah terbakar.

 

Ia tak mengerti maknanya:

Eden bisa diraih kembali

dengan korban darah.

Bahwa dosa perlu tebusan darah.

Karena sebenarnya ia

penghuni neraka lantaran dosa.

 

Ia tak mengerti dan tak ingin mengerti

tapi merasa perlu membunuh mimpi

yang bersekongkol melukai tidurnya itu.

Barangkali dengan mengusir lelap tidur

yang kerap mengundang mimpi.

 

 

 

Cyprianus Bitin Berek adalah lulusan Fakultas Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.Ia pernah bekerja sebagai reporter pada beberapa media massa lokal di Timor, Nusa Tenggara Timur, dan kini tinggal di Makassar.

 

PUISI KOMPAS, MINGGU, 12 Januari 2014

 

Iklan

Written by Puisi Kompas

Januari 13, 2014 pada 8:25 am

Ditulis dalam Puisi

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: